
Meski tidak bisa dalam berbisnis tapi Amin telah memahami apa isi dalam kontrak itu , jika kedua belah pihak telah menanda tangani surat kontrak itu . Maka pihak kedua akan menyerahkan semua urusan kepada pihak pertama . kontrak ini bukan lah kerja sama lebih ke ingin mengakusisi Rojak kontruksi .
Rojak kontruksi telah di rintis oleh Abu rijal jailani semenjak ia mengetahui bila dendam nya terhadap menteng adalah kesalahan . Sehingga setelah menteng jatuh ke tangan pemilik aslinya ia masih punya bekal untuk anak cucunya nanti .
Sekarang King melakukan ini apakah Rojak kontruksi mau menerima syarat tersebut ?
Fikran benar benar bimbang , dia merasa di hadapkan pada dua buah pilihan , pilihan kematian .terlebih ini menyangkut masa depan perusahaan , ia harus membicarakan ini dengan atasan nya .
"Presdir King , ini saya tidak bisa mengambil keputusan sendiri karena saya tidak memiliki kuasa , jadi saya harus bicarakan ini terlebih dahulu dengan atasan saya ." ucap Fikran .
King tidak menjawab tapi dia memberikan satu anggukan sebagai jawaban . Fikran ijin untuk keluar menelpon atasan nya , tidak lama kemudian fikran masuk dan kembali duduk di tempat duduknya semula.
"Saya telah menyampaikan keinginan anda kepada atasan saya , dan kebetulan atasan saya ada di dekat sini , sedang di mall sebrang jalan ,sebentar lagi akan sampai jadi mohon presdir sabar menunggu ." ucap fikran yang tersirat rasa ketakutan dalam mengucapkan kata kata .
Sebagai orang yang berkecimpung dalam usaha bisnis ia tau siapa king presdir menteng group , sosok kejam yang di takuti oleh pesaing pesaingnya . Kejadian yang menimpa nenek moyang nya membuatnya tidak sembarang bermain wanita .
 Seperti pepatah mengatakan lebih baik menyinggung iblis dari pada menyinggung atau berurusan dengan king rafael putra samudra menteng group .
"Sepuluh menit ." jawab King .
Fikran menghela nafas lega sambil mengusap keringat yang telah ." Terimakasih banyak Presdir king . Presdir kami akan segera datang " membanjiri keningnya .
Mendengar atasan Rojak kontruksi akan datang , Amin tidak bisa tidak memikirkan abu rijal rojak . Pria tua itu dulu pernah sangat baik kepadanya , saat masih bersama dengan Ridwan .Bahkan amin bisa mendapatkan surat rekomondasi beasiswa ke luar negeri juga karena Pria tua itu .
"Maaf telah membuat kalian semua lama menunggu ." suara seseorang yang baru sampai dari arah pintu . Seketika badan amin menegang . Walau sudah beberapa tahun tidak mendengar lagi suara itu .Mustahil bagi nya untuk tidak suara itu .
"Ridwan ...? Gumam Amin dalam hati dan segera mengangkat wajahnya dan segera menoleh ke belakang . Sesuai dugaan nya , dia benar benar Ridwan .
__ADS_1
"Presdir king , senang kita bisa bertemu ." ucap Ridwan sambil duduk di samping fikran . dia mengulurkan tangan nya kepada King sebagai tanda perjumpaan , tapi siapa yang mengira King hanya menatapnya dan tidak bermaksud untuk menyambut nya , sehingga terjadi kecanggungan , dan Ridwan langsung mengarahkan tangan nya kepada Amin.
Saat amin menyambut tangan Ridwan seketika mata Ridwan terbuka lebar . Dan tanpa sadar ia mengumamkan nama .
"Amin ..."
Amin hampir terperanjat saat mendengar gumamam Ridwan yang menyebut namanya , cepat cepat ia segera menarik tangan nya dari genggaman tangan Ridwan .yang kian mengenggamnya .
King melihat ada keanehan dari kedua insan itu , matanya melirik mereka satu persatu secara bergantian .
" kalian berdua sepertinya sedikit akrap , saling mengenal ." tanya king .
"ya."
"Tidak ."
"Kami berasal dari sekolahan yang sama sehingga kami cukup akrab dan kenal .-..
"Siapa yang bertanya ." potong King , ridwan langsung menutup mulutnya saat mendengar ucapan King . Ridwan ingin menceritakan kisahnya dengan Aminah , seketika suasana menjadi canggung . Ridwan langsung buru buru menoleh pada Fikran .
"Mana kontraknya ." tanya Ridwan kemudian . Fikran segera memberikan kontrak itu pada Ridwan . Tak lama kemudian setelah membaca isi kontrak , Ridwan meletakkan kontrak itu ke atas meja . Tadi yang wajahnya berseri merasa senang berubah jadi merah padam .
"Presdir King apa kah ini tidak keterlaluan , kita masih keluarga ." ucap Ridwan .
"Dalam bisnis tidak ada yang namanya keluarga dan saudara . Yang ada hanya setuju atau selesai ." jawab King .
Ridwan mengepalkan tangan dan mengertak kan giginya dengan perasaan kesal yang membuncah .
__ADS_1
"Presdir king ,kami tau Rojak kontruksi memang tidak bisa di bandingkan dengan menteng group , tapi kamu tidak bisa lakukan ini pada kami ." Ridwan buru buru menemui King dengan perasaan hati yang sangat senang . Ia mengira fikran menelpon nya karena kerja sama nya telah menemui kata final.
Dan kedatangan nya di butuhkan untuk menanda tangani kontrak kerja sama , siapa yang tau , kalau menteng group tidak pernah menganggap Rojak kontruksi sebagai rekan kerja atau saudara . Menteng group memaksa Rojak kontruksi bekerja untuknya ,dan kalau ada kegagalan maka Rojak kontruksi siap untuk di akusisi .
King menertawakan , Ridwan yang kelihatan konyol di matanya ." setuju atau selesai ." tetap itu yang di ucapkan oleh King .
Lagi lagi Ridwan mengepalkan tangan ,namun dengan kondisi sulit yang sedang di alami oleh Rojak kontruksi. Dia sungguh tidak berani mengambil keputusan dengan gegabah . Karena proyek dari menteng group sangat penting . jika berhasil mempertahankannya maka Rojak kontruksi bisa melewati masa krisis .
"Presdir King , bisa kah Anda memberi kami waktu ? , masalah besar seperti ini , saya juga butuh persetujuan dari para tetua ." ucap Ridwan .
"Tiga hari ." jawab King mengangkat dagunnya .
"Dalam tiga hari jika Rojak kontruksi tidak memberi jawaban , maka urusan ini tidak perlu di lanjutkan lagi ." ucap King .
"Tuan ." sapa Haris yang lebih dulu meninggalkan restoran , telah menunggunya di depan restoran dengan mobilnya yang sudah siap di depan pintu restoran . Amin dan King juga baru saja keluar dari testoran .
"Apa kita kembali ke kantor ." tanya Haris .King memberikan Anggukan . Haris membuka kan pintu untuk King dan langsung menuju ke kursi kemudi .
" amin." Amin menghentikan gerakan tangan dan kaki nya saat akan masuk ke mobil . Sebuah suara datang dari pintu restoran memanggilnya .
"Tunggu sebentar Min . " Ridwan berlari dan dalam sekejap telah berada di samping Amin .tangan nya meraih lengan Amin yang ada di pintu mobil dan berusaha menariknya .
"Apa yang kamu lakukan ? Lepaskan ." ucap Amin yang berusaha melepaskan tangan Ridwan dari lengan nya . Tapi cengkeraman Ridwan terlalu kuat sehingga tak mudah untuk amin melepaskan nya .
"Amin jangan pergi dulu , kita perlu bicara ." Ridwan mengatakan dengan nada memohon . Ada gurat penyesalan di wajahnya .
"Tidak ada yang perlu di bicarakan ?,lepaskan aku harus pergi bekerja ." ucap Amin , tapi Ridwan kekeh tidak mau melepaskan Amin sama sekali .
__ADS_1