
King cukup puas dengan jawaban Amin , ia segera beranjak dari sofa dan merapikan kemejanya .
"Bersiap siaplah aku akan mengantar kamu pulang ." ucap King .
Amin tidak bisa menolak pada akhirnya dan mengikuti apa kata king yang akan mengantarnya pulang . malam itu Amin di antar pulang oleh King seperti biasa hanya bisa sampai di ujung gang Amin turun dan berjalan kaki untuk sampai ke rumah .
***
Malam itu setelah makan malam bersama Maxsim Amin membawa Maxsim ke luar rumah menyaksikan malam yang bertaburkan bintang . Maxsim sangat bahagia dan bisa membuatnya cepat terlelap .
"Amin , bagaimana dengan lukamu apa masih terasa sakit ." tanya bibi Indah . Yang datang dari dalam dengan membawa swcangkir teh . Setelah teh ia taruh di meja bibi indah mendekati Amin .
"sudah tidak sakit bi , mungkin beberapa hari lagi perbannya sudah bisa di lepas ." ucap amin .
"Apa kamu membawanya ke rumah sakit . Ini seperti bukan perban an bibi deh ." tanya Bibi indah melihat perban itu kelihatan lebih rapi .
"Ia tadi di kantor sempat ke mampir ." tidak berani Amin mengatakan sikap konyol Bosnya . Amin mengusap punggung putranya yang baru berumur tiga setengah tahun itu . Ia tiup tiup wajahnya tapi kelihatan nya Maxsim tidur begitu nyenyak mungkin ia terlalu capek bermain .
"Bibi aku baringkan Maxsim ke dalam dulu ." ucap amin dan berdiri membawa Maxsim ke kamarnya . Pelan pelan ia baringkan putranya itu dan menyelimutinya , ia keluar setelah memberi kecupan di kening putranya .
"Mimpi indah sayang." amin segera keluar dan kembali duduk mendekati bibi indah .
"Sepertinya ada yang ingin kamu ceritakan ." ucap Bibi Indah melihat raut wajah Amin .
"Aku bingung bi ." sambil mengangguk samar , ia meraih secangkir teh yang di siapkan bi indah dengan roti .
"Bingung kenapa ." tanya bibi indah .
Amin berdiam sejenak ia gigit roti yang ada di tangan nya sedikit ." Andai ada seorang pria yang mendekatimu , apa yang akan bibi lakukan , bila bibi ada di posisi aku ."
__ADS_1
Bibi Indah mengangkat alisnya , dan paham maksud amin ." Apa pria itu menyukai kamu ." amin mengangkat bahunya .
"Apa dia tau dengan posisimu sekarang ? Bagaimana dengan Maxsim .? Apa dia mengetahui keberadaan Maxsim ." tambah bibi Indah .
Lagi lagi Amin diam . Bibi Indah menghela nafas ." Amin kamu harus berhati hati dalam memilih pasangan . Pria itu menyukaimu jelas penting untukmu . Tapi yang lebih penting dia harus bisa menerima masa lalumu . Tentu juga harus bisa menerima keberadaan Maxsim . "
Kalimat yang di ucapkan Bibi Indah membuat Amin termenung . Benar ! ia tidak boleh lupa dengan statusnya . Dia wanita dari kalangan bawah , seorang ibu satu anak , sementara King dia seorang Presdir Direktur pemilik perusahaan menteng group .
Sikap dia Akhir akhir ini terhadap dirinya mungkin hanya rasa tertarik yang hanya sementara saja . Ketika dia mengetahui tentang keberadaan Maxsim , dia pasti akan menjauh darinya . Untuk berharap ada sebuah hubungan itu tidak mungkin , kecuali sebuah keajaiban .
Setelah berbincang cukup lama dengan bibi Indah . Amin kini mempunyai pandangan dan pembelajaran baru dalam menjalani hidup.kedepan nya .
***
Keesokan harinya tepat 7 pagi seperti biasa Amin sudah mempersiapkan semuanya . Maxsim juga sudah mandi sudah ia buatkan susu juga .
"Axcim , mama berangkat kerja dulu . Baik baik di rumah nurut apa kata nenek ya . Tunggu mama pulang ." ucap Amin pada putranya .
Bibi Indah datang dari dapur membawa satu kotak makan ." Tadi bibi buat nasi goreng terlalu banyak . Kamu bawa ke kantor ya untuk bekal makan siang kamu ."ucap Bi indah .
"Bolwh bik ." jawab Amin sambil menerima bekal yang sudah di siapkan oleh bi Indah .
"Timun nya sedikit pahit jadi ngak usah di bawa , hanya ada telur dadar sama bawang goreng ." tambah bi indah .
"Tidak apa apa.,bi ." Amin menyimpan bekalnya dan langsung pamitan .
Bi Indah menggendong Maxsim mengantar kepergian Amin .setelah Amin hilang dari pandangan nya bibi indah ingin menutup pintu , tapi arah lain ia melihat wanita tua berpakaian sari datang dengan dua orang pengawal di belakangnya . Memasuki pekarangan rumahnya .
Kening Bibi Indah mengerut , ia tidak jadi menutup pintunya , tapi ia tetap menunggu kedatangan mereka . Dengan jarak yang semakin dekat , bibi indah baru bisa melihat siapa wanita tua itu yang berpakaian muslimah itu .wanita tua yang dia temui di pusat perbelanjaan kemarin .
__ADS_1
"Nyonya , benarkah ini anda . Bagaimana anda bisa menemukan rumah kami ." sapa bibi Indah dengan ramah .
Uti Aisyah tersenyum . Tidak sulit bagi dia mengetahui tempat tinggal bibi Indah . Ia memerintah erik menyuruh orang orang kepercayaan keluarga samudra untuk melacak cctv di mall dan mencari tau plat taxsi yang di tumpangi oleh Bibi indah kemarin .
Dan dari sopir taxsi itulah mereka mendapatkan alamat rumah bibi Indah .
Sejak kembalinya King keluarga menteng merubah marganya menjadi marga samudra bukan lagi menteng . Keluarga menteng telah banyak menorehkan luka di hati keluarga mereka .
"Saya datang untuk.bertemu dengan ..."uti Aisyah diam tidak tau nama anak kecil itu .
"Oh nyonya perkenalkan dulu , nama saya Indah pemilik kos kosan di sini .dan ini bernama Maxsim , mari silahkan masuk kita ngobrol di dalam ." ucap bi Indah .
Uti Aisyah mengangguk kan kepalanya ." Kita duduk di sini saja ." akhirnya mereka duduk di teras rumah bi indah .
"Maxsim , masih ingat dengan nenek buyut ." tanya Uti Aisyah .
Maxsim berpikir sebentar sambil menaruh jari telunjuknya di dagu sambilmdi ketuk ketukan .kemudian ia menganggukan kepalanya .
"Nenek buyut yang ponselnya jatuh ." jawab Maxsim .
"Ya betul , ponsel nenek buyut jatuh dan Maxsim yang menemukan nya ."ucap Uti Aisyah sambil mengelus kepala Maxsim .
"Anak yang baik mau bermain dengan Nenek buyut ." tanya Uti Aisyah .
Maxsim mengangkat wajahnya menatap bibi Indah seakan minta jawaban .
"Tentu ,kamu boleh . Tapi ingat jangan terlalu capek ya ." ucap bibi Indah sambil menurunkan Maxsim dari gendongan nya .
Maxsim meraih tangan Uti Aisyah dan ia tuntun ke arah ayunan yang ada di halaman rumah . Wanita tua yang sudah merindukan cicit dari cucunya itu sangat bahagia . Ia mendudukan Maxsim di ayunan dan ia mendorongnya dari belakang .
__ADS_1
Maxsim tertawa histeris . Uti Aisyah sangat bahagia tawa seperti inilah yang ia rindukan . Sejak kepergian suaminya hidupnya kembali hampa . Benar malik mendapatkan donor hati , tapi sebelum masuk ruangan operasi melakukan pantangan dari dokter sehingga hati yang dia donorkan bukan menyelamatkan nyawa malik tapi hanya memberi waktu berkumpul dengan nya beberapa tahun saja .
Erik sopir pribadi Uti Aisyah sangat cemas melihat nya mendorong Ayunan itu , usianya sudah terlalu tua kalau sampai kelelahan dia pingsan .