Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 10


__ADS_3

"Kau mau kemana Reynald?! Sebentar lagi kau harus menghadiri meeting dengan para investor!". Ujar Renata mengingatkan ketika melihat Reynald hendak pergi setelah menerima sebuah telfon entah dari siapa.


"Ini lebih penting di bandingkan dengan meeting itu. Minggir!". Ujar Reynald.


Renata merentangkan tangan di hadapan Reynald. Tatapan nya menghunus tajam seakan memancarkan sinar laser tepat ke arah sepupu nya yang semena-mena itu.


"Tidak! Kau tidak akan ku biarkan pergi begitu saja dan melepas tanggung jawab mu!". Ucap Renata kesal.


"Kau!". Reynald melotot marah.


"Apa?!". Renata tak kalah melotot pada Reynald. Kini ta berkacak pinggang sembari masih menatap tajam pada Reynald.


"Kau berubah semenjak kepergian wanita itu! Kau menomor duakan pekerjaan mu. Ingat Reynald, kau ini CEO! Perusahaan bergantung pada mu! Apa sekarang kau mau pergi berkaitan dengan wanita itu?!". Lanjut Renata.


Reynald menghela napas kasar dan menatap Renata. "Detektif yang ku sewa bilang kalau ada aktifitas dari Black Card milik ku di sebuah rumah sakit yang berada di Lombok. Black Card itu ku berikan pada Clara sejak awal kami berpacaran. Siapa lagi yang menggunakan kartu itu kalau bukan dia?". Jelas Reynald.


"Kali ini saja Ren.. Kali ini saja aku janji pada mu. Jika dia tidak ku temukan di sana, aku akan berhenti mencari nya". Lanjut Reynald dengan tatapan memohon pada sepupu nya.


Renata menatap Reynald dengan intens. Ia sungguh muak melihat sepupu nya terlihat lemah karena seorang wanita.


"Kau yakin info ini valid? Detektif yang aku sewa selama 5 bulan ini belum memberi info apapun pada ku!". Ucap Renata.


"Ini kabar terbaru 10 menit yang lalu! Kau tunggu saja sebentar lagi pasti ada yang melapor pada mu".


Dan benar saja, tak lama ponsel Renata pun berdering. Renata lantas mengangkat telfon tersebut dan mendengarkan seseorang yang bicara pada nya melalui sambungan telfon itu. Mata nya seketika menatap ke arah Reynald dan pria tampan itu hanya mengangkat sebelah alis nya seraya tersenyum miring.


Renata lalu mengakhiri sambungan telfon itu dan menghela napas kasar. "Baiklah.. baiklah.. Kau harus tepati ucapan mu, Rey. Hanya kali ini. Jika kau gagal menemukan nya, berhenti mencari nya atau akan aku laporkan pada Uncle Dave kalau kau menelantarkan perusahaan selama berbulan-bulan!". Ancam Renata.

__ADS_1


Dave adalah ayah dari Reynald yang tinggal di Jerman dan selalu meminta kabar putra nya pada Renata seperti mata-mata. Namun selama ini Renata selalu berbaik hati menutupi tingkah Reynald dan tidak mengatakan sepatah kata pun tentang Reynald yang memiliki kekasih atau bahkan seperti saat ini....kehilangan kekasih dan menggila karena patah hati.


Reynald menggenggam kedua bahu Renata dengan raut wajah bahagia. "Terima kasih, Ren! Akan aku pastikan kau mendapatkan hadiah setimpal untuk ini".


Renata memutarkan bola mata jengah. "Ya.. Ya.. Terserah kau..."


Reynald segera beranjak pergi seraya menelfon seseorang untuk menyiapkan pesawat jet nya. Ia pikir lebih cepat memakai jet pribadi di banding pesawat komersil kala terburu-buru dalam keadaan mendesak seperti sekarang.


Reynald melangkah di lobby dengan cepat. Para karyawan yang sadar bahwa CEO mereka ada di sekitar lantas saja berusaha menyapa dan membungkukkan badan sedikit. Namun Reynald tak menggubris sapaan semua orang dan berlalu begitu saja ke arah mobil nya dengan sang supir yang sudah berdiri menunggu.


"Pak, kita ke airport. Cepat ya pak!". Ujar Reynald ketika sudah masuk ke dalam mobil dan memberikan intruksi pada supir nya.


"Baik, Pak".


Mobil pun melaju membelah jalanan Ibu Kota. Siang hari seperti sekarang lalu lintas cukup lengang dan lancar sehingga membuat Reynald bisa sampai dengan cepat ke airport sesuai keinginan nya.


•••


Reynald mempekerjakan Pilot dan juga pramugari yang handal dan terbaik untuk melayani nya di kala Ia bepergian. Hanya orang-orang terpilih dan tentu terpercaya yang bisa melayani langsung seorang Reynald.


"Apa kah di sana sudah ada mobil yang menunggu kita?". Tanya Reynald membuyarkan keheningan.


"Ya. Aku sudah mengaturnya". Ujar Andre singkat.


Andre, seorang pria berusia 28 tahun yang merupakan asisten kedua setelah Renata sekaligus teman kecil Reynald. Jika Renata lebih banyak mengurus hal-hal personal Reynald, Andre di pekerjakan untuk lebih banyak mengurus keperluan Reynald di kantor. Namun kali ini Andre di minta oleh Renata untuk menemani Reynald pergi berjaga-jaga jika Reynald menggila ketika diri nya tidak menemukan Clara di Lombok.


"Kau langsung ke hotel saja tidak perlu mengikutiku ke Rumah Sakit". Ujar Reynald.

__ADS_1


"Tidak. Aku akan ikut ke Rumah Sakit". Ucap Andre seraya menyandarkan punggung nya ke belakang.


"Aku bukan anak kecil yang harus selalu di ikuti" Reynald menggerutu tak terima.


"Tapi kau memang seperti anak kecil jika menyangkut Clara. Kau tidak ingat apa yang telah kau perbuat selama 5 bulan ini?". Ucap Andre.


Reynald mengangkat bahu acuh. Ia tak peduli. Orang lain pun bahkan tak peduli dan merasa empati kepada nya di kala Ia merasa kehilangan dan putus asa dalam mencari kekasih nya itu.


"Di sini siapa yang menjadi bos nya? Kau atau aku?". Ujar Reynald kesal.


"Memang kau bos nya. Tapi aku juga tidak mau kehilangan pekerjaan ku jika perusahaan tempat ku bekerja tiba-tiba bangkrut karena CEO-nya tidak becus memimpin perusahaan hanya karena wanita". Jelas Andre lugas.


"Perusahaan ku tidak akan semudah itu bangkrut!". Ucap Reynald seraya melemparkan 1 butir kacang almond ke arah Andre.


"Bisa saja terjadi jika kau terus menerus seperti ini".


"Atau mungkin yang lebih parah kau akan di lengserkan oleh Ayah mu sendiri jika tau semuanya". Lanjut Andre menakut-nakuti Reynald.


"Sudah lah! Oke kau boleh mengikutiku ke Rumah Sakit. Puas? Kau dan Renata sama saja. Tidak ada empati nya sama sekali dengan keadaan ku. Dasar jomblo!". Umpar Reynald kesal.


Reynald lalu beralih menatap keluar jendela memandangi gumpalan awan putih seperti kapas. Andai ada doraemon, rasa nya menarik jika bisa merubah gumpalan awan yang indah itu menjadi sebuah hamparan kasur yanh luas dan berbaring di atasnya tanpa beban.


Semoga aku menemukan mu kali ini, Clara. Tolong lah.. Ini kesempatan terakhir ku untuk mencari mu.


Reynald membatin tatkala menikmati pemandangan awan dari jendela pesawat jet pribadi nya.


•••••••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••••••••

__ADS_1


Like, Komen dan tambahkan ke favorit ya agar ternotifikasi ketika bab-bab baru update! Terima kasih 🥰🙏


__ADS_2