Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 27


__ADS_3

"Rey.. Coba kau lihat. Bagus tidak?". Ujar Farah seraya melangkah ke arah Reynald bersama Anggi di sebelahnya.


Reynald yang sedari tadi sibuk dengan ponsel lantas mendongakkan kepala. Ia menatap Anggi dengan lekat tanpa berkedip. Tak lama. Hanya beberapa detik lalu Ia menguasai diri nya kembali.


"Itu cocok untuk nya". Ucap Reynald seraya tersenyum.


Anggi menunduk malu. Farah memilihkan satu dress berbahan tweed dengan motif houndstooth di atas lutut. Rambut nya tetap di biarkan tergerai dengan riasan natural di lengkapi lipstick berwarna coral.


Walau busana yang membalut tubuh nya cukup santai, namun saat ini Anggi terlihat lebih trendi dari biasanya yang hanya memakai celana jeans atau kulot di padu dengan kemeja atau t-shirt.


Reynald beranjak dari duduk nya dan melangkah menuju ke etalase sepatu. Ia mengedarkan pandangan nya melihat ke beberapa model sepatu yang terpajang cantik dan mengambil satu model sepatu setinggi 3 cm berwarna broken white.


"Berapa nomor sepatu mu?". Tanya Reynald menoleh pada Anggi.


"39". Ucap Anggi.


"Apa kau ada nomor 39 dengan model seperti ini?". Tanya Reynald pada Farah seraya memberikan sepatu yang di pegang nya.


Farah mengangguk lalu meminta asisten nya untuk mengambil di gudang. Tak lama menunggu sepatu yang di inginkan oleh Reynald pun datang dan Anggi langsung di minta untuk mencoba nya.


Reynald melangkah mundur dan menelisik tampilan Anggi dari atas hingga bawah. Pria itu pun tersenyum.


"Perfect. Kau hitung berapa semua nya, Far.." Ucap Reynald pada Farah.


Wanita itu pun segera ke kasir meninggalkan Reynald dan Anggi.


Anggi diam terpaku. Ia bingung dengan situasi saat ini. Hanya pergi makan, kenapa ribet sekali? Begitulah pikirnya.


Setelah Reynald selesai membayar, keduanya pun segera pergi dari butik tersebut. Anggi hanya diam mengikuti saja kemana pria itu membawa dirinya tanpa banyak bertanya.


•••


Hotel Grandstar


Anggi melongo saat Ia sadar kemana Reynald membawa dirinya untuk sekedar makan. Ia mengelus dada nya merasa lega.


Beruntung tadi dia hanya bercanda minta aku mentraktirnya.. Kalau makan di sini mana sanggup aku membayarnya...


Anggi bermonolog dengan dirinya sendiri seraya meringis geli.


Keduanya memasuki sebuah restoran privat yang menyajikan berbagai makanan mewah dan tentu harganya selangit.


"Pesan lah apapun yang ingin kau makan". Ucap Reynald setelah keduanya duduk.

__ADS_1


Anggi mengangguk lalu membuka buku menu. Satu per satu di buka nya. Namun sebanyak yang Ia baca, Ia hanya bisa mengerutkan kening. Sungguh daftar makanan di buku menu itu tak ada yang familiar di lidah nya.


"Kau mau apa?". Tanya Reynald.


Anggi menggigit bibir bawah nya tak tau harus terus tetang atau tidak kalau Ia sama sekali tidak familiar dengan makanani restoran yand sedang mereka sambangi saat ini.


"Mmmm.. Itu.. Aku...." Ucap Anggi terbata-bata seraya mata nya melihat daftar menu.


Anggi menghembuskan nafas kasar dan menutup buku menu begitu saja. Reynald yang melihat tingkah Anggi pun mengangkat sebelah alisnya heran.


"Kau belum menyebutkan pesanan mu. Kau mau makan apa?". Ulang Reynald.


"Yang paling enak saja aku pesan". Ucap Anggi.


Reynald lalu melihat daftar menu dan menyebutkan beberapa makanan yang dia pesan pada waitress.


"Goose liver ravioli, florentine butter chicken, caviar lalu minumnya......"


"Kau mau tiramisu cake untuk dessert?". Reynald beralih sejenak pada Anggi yang di tanggapi anggukan oleh gadis itu.


"Oke.. Tiramisu cake 2 dan minuman nya sugar baby savana 2". Ucap Reynald sembari menutup buku menu.


Waitress pun segera berlalu untuk memproses pesanan keduanya. Selepas kepergian waitress, Reynald tersenyum geli seraya menatap Anggi. Reynald sebenarnya tau jika Anggi tidak paham cukup paham dengan daftar makanan yang ada di buku menu.


Reynald menggelengkan kepala. "Tidak.. Tidak ada apa-apa". Sahut Reynald.


"Apa tidak berlebihan mengajak ku makan di resto mewah seperti ini? Lalu mendandani ku seperti ini? Kita tidak sedang merayakan sesuatu yang spesial". Ucap Anggi heran.


"Kau akan sidang skripsi itu hal yang spesial".


"Tapi tidak harus kesini. Makan steak saja sudah cukup untuk merayakannya". Ujar Anggi.


"Astaga.. Ternyata kau bawel sekali. Jadi seperti ini diri mu? Kemana gadis cengeng dan malu-malu itu?". Ledek Reynald.


Anggi mencebikkan mulut nya. "Aku hanya merasa ini berlebihan saja dan rasanya seperti mimpi aku bisa makan berdua dengan seorang CEO muda di resto mewah seperti ini". Anggi mengedarkan pandangan nya ke seluruh sudut resto.


"Kita seperti sedang kencan.. Hehehe". Anggi terkekeh pelan.


Reynald hanya diam menatap Anggi dengan lekat. Tatapan nya tak terbaca sama sekali.


"Apa kau ingin mewujudkan itu?". Tanya Reynald ambigu.


"Mewujudkan apa?". Anggi mengalihkan pandangan nya kembali menatap Reynald.

__ADS_1


"Kencan dengan ku".


Anggi seketika diam. Jantung nya berdegup dengan cepat. Ia menautkan jari jemari nya satu sama lain di bawah meja.


"Kenapa kau diam? Aku sedang bertanya padamu". Ucap Reynald menatap lurus ke manik mata Anggi.


"Itu.. Hmm.. Siapa yang tidak mau berkencan dengan pria seperti mu hehe". Anggi terkekeh pelan.


"Lalu apa kau mau berkencan dengan ku?". Tanya Reynald lagi.


Anggi mengedikkan bahu. "Anggap saja sekarang kita sedang kencan. Suasana nya pas dan aku pun sedang memakai baju yang bagus". Ujar Anggi.


"Maksud ku....."


Reynald menjeda ucapan nya namun manik mata pria itu mengunci menatap Anggi.


"Kita berkencan yang sebenarnya... Jadi lah kekasih ku". Ucap Reynald akhirmya.


Anggi sontak saja diam membeku. Tangan nya berkeringat dingin. Hatinya membuncah tak karuan. Rasa senang, terkejut, dan gugup semua menjadi satu.


Apa ini nyata?


Benarkah?


Apa aku tidak bermimpi?


Namun tiba-tiba ingatan tentang ucapan Renata 2 bulan yang lalu menyentak dirinya begitu saja.


"Reynald sedang labil dan patah hati".


Anggi memberanikan diri menatap Reynald yang sedari tadi menatap ke arah nya.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu pada mu?".


Reynald lantas mengangguk pelan.


"Silakan.. Kau boleh bertanya apapun padaku".


Anggi menghirup udara dan menghembuskan nya perlahan berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.


"Apa sebelumnya kamu mempunyai kekasih?".


••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••

__ADS_1


__ADS_2