Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 86


__ADS_3

Suasana ruang kerja Hendra yang tadinya hangat tiba-tiba terasa hening. Hendra yang bersikukuh mengajak putrinya, Anggi untuk bergabung makan siang bersama dengan Reynald mau tak mau menyetujuinya. Reynald pun sedari tadi hanya diam saja tak banyak berbicara pada Anggi.


"Tadi kau belum menuntaskan perkataanmu tentang project baru yang kau tawarkan padaku" Sahut Hendra memecah keheningan.


"Nanti saja kita bicarakan. Ada putrimu" Ujar Reynald seraya meraih segelas air mineral yang sudah tersedia di atas meja.


"Memang kenapa? Apa kau takut kalau putriku akan ikut ke dalam tender itu?"


Reynad tertawa pelan hingga wajah tampan duda 1 anak itu terlihat semakin rupawan.


"Aku bahkan tidak berpikir ke arah sana. Perusahaan putrimu di Abu Dhabi, dan sektor bisnisnya sangat berbeda dengan bisnis yang kita jalankan. Kau ada-ada saja!"


"Aku hanya tidak nyaman berbicara bisnis jika ada orang lain yang tidak ada kaitannya. Itu sangat tidak sopan". Ujar Reynald seraya menatap ke arah Anggi.


Anggi terlihat menyudahi aktifitas makannya dan mengelap pelan bibirnya dengan sebuah tissue. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.


"Ayah, lebih baik aku pulang saja sekarang. Besok aku akan kemari lagi kalau Ayah tidak sibuk" Ujar Anggi sambil menatap pada Hendra.


"Kenapa cepat sekali?"


"Aku hanya tidak ingin kehadiranku yang mendadak di sini jadi mengganggumu" Sahut Anggi melempar tatapannya pada Reynald yang sedari tadi menatap ke arahnya juga.


"Baiklah kalau kau mau pulang. Besok aku akan ke rumahmu. Kau pakai apa tadi ke sini?"


"Aku pakai taksi, Ayah" Ujar Anggi seraya beranjak duduknya.


"Tunggu sebentar. Aku minta Indah persiapkan supir untuk mengantarmu pulang"


Anggi segera menahan Hendra berdiri dari tempatnya. "Tidak perlu. Aku akan mampir dulu ke suatu tempat dari sini" Anggi lantas sedikit membungkukkan badan dan mencium tangan serta kedua pipi Sang Ayah.


Ia lalu menoleh ke arah Reynald yang dari tadi hanya diam saja. "Aku pamit lebih dulu". Sahut Anggi sedikit menundukkan kepala pada Reynald. Tak lama Anggi pun segera berlalu keluar dari ruang kerja Hendra Wibrata.


Anggi berjalan cukup cepat menuju lift. Saat pintu lift tertutup sempurna Ia pun menghembuskan nafas lega seraya bersandar di dinding lift seperti orang yang baru saja berhasil menghindar dari kejaran penjahat.


Tak lama pintu lift pun terbuka di lobby. Anggi segera melangkah menuju pintu keluar.


"Anggi!"


Sebuah seruan terdengar dari arah belakang tubuhnya hingga membuat Anggi berhenti begitu saja namun tak membalikkan badan. Ia tahu persis siapa yang memanggil dirinya saat ini.


"Biarkan aku mengantarmu pulang" Seru Reynald saat sudah di sisi Anggi.

__ADS_1


Anggi mendongakkan kepala menatap pada Reynald. Ah.. Pria ini tetap saja tampan dengan kemeja putih bodyfit serta jas navy yang di sampirkannya di lengan kekar sebelah kiri.


"Apa kamu tidak mendengar di atas tadi? Aku akan pergi ke suatu tempat lebih dulu, bukan mau pulang ke rumah". Ujar Anggi berusaha terdengar ketus.


Reynald menyunggingkan senyum tipis. "Aku sudah mendengarnya maka dari itu aku mau mengantarmu"


Anggi lantas melangkah lagi menuju pintu keluar. "Lebih baik aku memakai taksi saja"


"Hey.. Lebih nyaman pakai mobilku daripada kau memakai taksi!". Sanggah Reynald tak menyerah.


Anggi berhenti sesaat seraya mengerutkan keningnya menatap ke arah Reynald. Kata-kata itu.... Kenapa seperti familiar? Anggi bergumam dalam hatinya.


"Aku tidak mau.Aku pakai taksi saja. Terima kasih atas penawaranmu". Anggi memalingkan wajahnya dan berjalan kembali.


Reynald menarik pelan lengan Anggi hingga mau tak mau wanita itu pun menatapnya kembali. "Apa kau menghindariku?" Tanya Reynald dengan raut wajah yang sangat serius.


Anggi melirik ke sekelilingnya dan mendapatkan berbagai tatapan mata memperhatikan ke arah dirinya dan Reynald.


"Kau ini terkenal ya sekarang? Coba lihat sekitar kita sekarang...."


Reynald melempar pandangannya ke seluruh penjuru lobby Maverick Company dan melihat banyak karyawan yang mengamati. Reynald menghembuskan napas kasar merasa kesal karena efek perceraiannya dengan Clara belum reda sepenuhnya.


Anggi menghampiri seorang security meminta tolong untuk memanggilkan taksi yang biasa antri di area gedung. Saat sang security akan memanggil taksi, sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di depan Anggi. Seorang petugas valet khusus turun dari sedan mewah itu.


Tangan Anggi di tarik pelan oleh Reynald yang dengan cepat meminta petugas valet mengambil mobilnya di area parkir depan lobby. "Ayo masuk". Reynald berganti memegang kedua sisi bahu Anggi sedikit memaksa wanita keras kepala itu untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Reynald!" Anggi mendongakkan kepala menatap Reynald dengan tatapan tajam namun tentu saja tak membuat pria itu gentar sedikitpun.


"Ayolah.. Jangan membuat ini semakin sulit. Aku hanya ingin mengantarmu" Ucap Reynald sedikit memohon.


Terdengar helaan napas Anggi pasrah dan Ia pun lantas masuk ke dalam mobil Reynald.


Dari kejauhan tepatnya dari depan lift khusus direksi, Hendra melihat semuanya. Ia segera turun ke lobby saat Reynald menelfonnya agar dapat membungkam para karyawan yang melihat pria itu dengan Anggi di lobby. Reynald tak ingin nama baik Anggi tercoreng dan di beritakan dengan hal-hal negatif.


Pria paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis. Entah bagaimana Tuhan akan menata jalan hidupmu bersanding dengan siapa pada akhirnya, Nak...


Sepanjang jalan Anggi melipat kedua tangannya seraya menekuk raut wajahnya. Sungguh Ia merasa kesal pada Reynald yang selalu saja memaksanya. Sesekali Reynald melirik Anggi dan menahan senyum geli.


"Apa kita hanya akan berputar mengelilingi kota Jakarta? Aku sih tidak keberatan..." Ujar Reynald berusaha membuka obrolan. Lagipula Ia juga memang belum tahu kemana tujuan Anggi.


"Anggi"

__ADS_1


Reynald memanggil Anggi namun wanita itu diam tak menyahut. "Ya sudah kita ke penthouseku saja" Gumam Reynald seraya melirik Anggi dan menekan pedal gas semakin dalam.


"Tidak!" Sahut Anggi cepat melotot ke arah Reynald.


Reynald bersorak dalam hati penuh kemenangan namun berusaha nampak tenang dalam sikapnya. "Lantas kau mau kemana? Kau belum bilang tujuanmu... Kemana aku harus mengantarmu..."


Anggi terlihat diam sejenak seolah enggan untuk memberitahu.


"Mmmm... Bisakah kamu turunkan aku saja di sini?"


Reynald mengeraskan rahangnya. "Kau tinggal bilang akan kemana, aku yang akan mengantarmu dan aku janji aku langsung pergi setelah itu"


"Tapi tujuanku jauh dari sini. Tidak mungkin kamu mengantarku kesana" Sahut Anggi bersikeras.


Reynald terdiam. Ia berpikir kemana kira-kira tujuan Anggi.


"Apa kau akan ke rumah mendiang Ibu mu yang di Bogor itu?"


"Karena hanya itu yang terpikirkan olehku...atau kemana lagi hmmm...." Reynald bergumam seraya berpikir menatap lurus ke depan.


"Aku memang akan ke sana tapi tidak hari ini. Jadi tebakanmu salah".


"Kalau kau terus keras kepala tidak mau memberitahuku, aku benar-benar akan membawamu berputar mengelilingi kota ini saja". Ucap Reynald.


"Itu hanya alasanku saja..." Gumam Anggi pelan.


"Hah? Apa katamu barusan?" Reynald menoleh pada Anggi berulang kali.


"Aku bilang itu hanya alasanku saja! Aku tidak mempunyai tujuan kemanapun sebenarnya! Puas kamu?"


Mendengar penuturan dengan raut wajah kesal Anggi malah membuat Reynald menyeringai lebar. "Sudah kuduga.."


"Kenapa kau bohong pada Ayahmu?"


"Apa kau tidak nyaman berlama-lama dekat denganku?" Reynald melirik Anggi.


"Menurutmu?" Tanya Anggi ketus.


Reynald mengangguk-anggukkan kepala seraya mengatup rapat bibirnya. "Baiklah... Kurasa aku tahu tempat yang cocok untuk kita mengobrol empat mata secara pribadi". Ujar Reynald tersenyum simpul.


•••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••

__ADS_1


__ADS_2