
Anggi mengedarkan pandangannya ke sekitar melalui jendela mobil. Ia berkerut heran saat Reynald membelokkan mobil mewahnya masuk ke dalam perumahan yang tak lain adalah perumahan di mana rumah mungil Anggi berada. Tak lama keduanya pun telah sampai di depan rumah Anggi. Reynald mematikan mesin mobilnya dan membuka seatbelt.
"Kenapa ke sini?" Tanya Anggi dengan kening bertaut menatap Reynald keheranan.
Reynald mengangkat kedua bahunya. "Aku hanya berpikir rumahmu adalah tempat yang cocok untuk kita berdua mengobrol empat mata".
"Kenapa kamu berpikir seperti itu? Lagipula siapa yang mau bicara empat mata denganmu?"
Reynald merubah posisi tubuhnya menghadap Anggi. "Aku mengajakmu ke penthouseku, kau tidak mau... Dan kalau aku mengajakmu ke restoran, suasana di sana tidak begitu kondusif untuk bicara privasi"
"Banyak hal yang perlu kita berdua bicarakan..."
Anggi terdiam sejenak menatap Reynald lalu Ia segera membuka pintu mobil seraya berucap.. "Terima kasih sudah mengantarku"
Anggi menutup pintu mobil dengan sedikit kencang. Reynald menyusul keluar dengan tergesa-gesa dan menahan lengan Anggi.
"Jika tidak ada apa-apa, sikapmu tidak akan dingin seperti ini padaku"
Anggi menepis pelan lengan Reynald. Ia menatap pria tampan di hadapannya dengan serius. "Ada atau tidak ada hal, itu urusanku. Bukan urusanmu".
"Apa kau marah padaku?"
"Kesal? Atau kau malah berpikir kalau aku menghasut mantan mu untuk membatalkan pernikahan kalian?" Cecar Reynald.
"Bagaimana kamu tahu kalau aku dan Rashaad batal menikah?" Selidik Anggi seraya menyipitkan matanya.
"Mantan mu adalah rekan bisnisku. Kolegaku. Jadi aku pasti mengetahuinya"
"Apa kau bersikap dingin padaku karena hal itu? Apa kau benar-benar marah?" Lanjut Reynald menatap Anggi.
__ADS_1
"Ya! Aku marah padamu sialan! Kenapa setiap kali aku melangkah, akan selalu berakhir bertemu denganmu hah?" Anggi melotot menatap Reynald dengan kesal.
Reynald tertegun dan bibirnya mengulum sebuah senyuman. "Nah... Apa kubilang? Kalau aku mengajakmu ke restoran dan kau berteriak seperti ini, pasti kau akan di lihat banyak orang. Dan.... Sejak kapan kau berani mengumpatku?" Reynald melontarkan sebuah guyonan.
Anggi mendengus seraya menghentakkan kakinya ke arah teras rumah dan memasukkan deretan password di daun pintu.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk?!" Tanya Anggi saat Reynald mengekorinya masuk ke dalam rumah.
"Kau" Reynald dengan acuh langsung saja duduk di atas sofa.
"Reynald!"
"Yaaa.... Ada apa?" Sahut Reynald dengan santai.
Anggi menghembuskan napas dengan kasar. Ia lalu menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.
"Baiklah. Apa yang mau kamu bicarakan padaku?" Tanya Anggi setelah cukup mereda rasa kesalnya.
"Untuk apa kamu bicara seperti itu pada Rashaad? Harusnya kamu diam saja saat dia menanyakan tentang masa lalu kita berdua! Gara-gara itu dia berpikir ulang dan akhirnya membatalkan rencana pernikahan".
"Anggi...." Reynald menggantung ucapannya sejenak berpikir apa yang akan Ia katakan selanjutnya.
"Rashaad menanyakan kebenaran tentang kita berdua. Aku hanya memberitahu yang sebenarnya tanpa ada yang di kurangi atau di lebihkan. Sebagai pria, aku mengakui dia lebih baik dan layak untuk menjagamu. Maka dari itu aku memintanya untuk menjagamu dengan baik lebih dari penjagaanku di masa lalu. Dia layak mendampingimu dan aku memintanya untuk jangan menyakitimu.. Hanya itu"
Hening. Anggi tidak menyahut sepatah katapun. Menoleh pun tidak.
"Aku hanya ingin kau bahagia... Sungguh. Dengan siapapun kau, asal pria itu lebih baik dariku. Aku cukup tenang walau egoku memberontak tidak terima".
"Ya... Kamu egois..."
__ADS_1
"Kamu menyakiti wanita yang telah melahirkan anakmu, kamu merusak pernikahanmu sendiri demi kenangan 3 bulan di masa lalu yang seharusnya tidak akan meninggalkan kesan mendalam" Ujar Anggi menatap Reynald yang tengah menatapnya juga.
Reynald menggeser posisi tubuhnya hingga sempurma menghadap Anggi. "Aku memang egois. Tapi setidaknya aku tidak pernah berpura-pura dalam mencintai seseorang. Aku tidak bisa berpura-pura bahagia jika itu tidak dalam hatiku. Kau tidak akan mengerti apa yang aku rasakan...."
"Aku mengerti...." Gumam Anggi pelan membuang pandangannya ke arah lantai.
"Tapi tetap saja kamu egois. Kamu bahkan menikahi seorang wanita. Lalu aku? Belum ke arah sana saja sudah di batalkan. Lelucon macam apa ini? Aku hanya berpikir keadaan tak pernah memihakku..."
Keduanya beradu pandang. Saling melemparkan sebuah asa yang tak mampu terucap atau mungkin sungkan untuk di ucap. Jika kita kembali ke belakang, dua insan manusia yang tengah beradu pandang ini pernah saling mencintai dengan tulus, pernah saling berbagi hari-hari bahagia dan mengukir cerita indah bersama.
Namun keduanya terpisah karena keadaan. Saling menjauh dan menapaki jalan kehidupan masing-masing, berusaha menerima apa yang sudah terjadi. Namun lagi-lagi semesta mempertemukan keduanya kembali di iringi dengan kisah asmara singkat dari masa lalu yang tenyata masih menggoreskan sebuah penyesalan dalam benak Reynald dan sebuah luka untuk Anggi.
"Aku tahu.. Aku tidak bisa menghilangkan kenangan menyakitkan yang telah aku torehkan padamu. Aku melepaskanmu dan aku tersiksa bertahun-tahun. Aku hanya berharap kau mengerti bahwa sekarang aku ingin merubah pandanganmu padaku. Di masa lalu mungkin aku seorang pria yang brengsek dan pengecut yang telah melukaimu, tapi sekarang aku mohon padamu untuk memberikanku kesempatan agar aku bisa membenahi semuanya. Membenahi kembali rasa yang tertinggal di antara kita"
Anggi bergeming melihat sebuah kesungguhan yang berasal dari pancaran mata Reynald kepadanya.Namun Anggi akhirnya membuang muka.
"Kamu sudah tak waras..." Gumam Anggi.
"Kamu belum lama bercerai dengan istrimu dan aku pun belum lama ini kembali sendiri setelah di buang tunanganku. Dan sekarang kamu memintaku untuk kembali bersama?"
"Kamu mau menjadikan aku bulan-bulanan warganet negara ini? Lagipula kamu benar. Kamu sudah menorehkan luka padaku, jadi bagaimana bisa kamu begitu percaya diri jika aku akan memberimu kesempatan?". Cecar Anggi dengan nada ketus.
"Karena aku tahu kau masih mencintaiku"
"Berikan aku kesempatan untuk menggali kembali cintamu. Bahkan jika aku harus mengais serpihan-serpihannya pun akan kulakukan asal kau kembali bersamaku." Ujar Reynald dengan sungguh-sungguh.
Anggi menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan Reynald. "Kamu adalah racun untukku. Racun yang sangat berbahaya dan bisa membunuhku". Ujar Anggi menatap Reynald tepat pada manik mata cokelat pria itu.
"Aku racun sekaligus penawarnya, kan?"
__ADS_1
••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••