Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 41


__ADS_3

"Benarkah? Kau merindukan ku?". Tanya Anggi dengan nada skeptis.


"Pertanyaan konyol macam apa itu?". Tanya Reynald mengerutkan dahi seraya menyipitkan matanya menatap Anggi.


"Tentu saja aku merindukanmu!".


Anggi menatap tepat ke dalam manik mata Reynald. Menelisik raut wajah pria itu di bawah temaramnya lampu taman kota yang menyelinap masuk ke dalam mobil. Mencoba mencari sebuah kejujuran yang dapat Ia percaya.


Terdengar helaan napas dari Reynald. Ia kembali membetulkan posisi duduknya dan menatap ke depan.


"Aku paham kalau kau masih ragu dengan hubungan yang sedang kita jalani ini..." Ucap Reynald.


"Kita baru satu bulan menjalaninya.. Mencoba saling mengenal lebih dalam satu sama lain.."


"Tapi kau jangan meragukan perasaanku padamu..." Ujar Reynald seraya menoleh ke arah Anggi.


Anggi hanya diam membisu tak menyahut apapun. Banyak sekali pertanyaan yang ingin Ia tanyakan pada Reynald namun kenapa lidahnya terasa kelu.


Reynald lantas menggenggam tangan Anggi dengan erat hingga membuat gadis itu tertegun melihat tangan keduanya yang bertaut.


"Katakan padaku... Apa yang membuatmu tidak menghiraukan ku selama satu minggu? Apa aku melakukan kesalahan?". Tanya Reynald lagi mencoba memastikan.


Anggi menghembuskan napas kasar dan melirik takut.


"Aku........"


Anggi mencoba merangkai kata dalam otaknya.


"Apa?". Reynald bertanya tak sabar.


"Aku hanya mendengar kalau kamu sangat mencintai mantan kekasihmu..."


"Aku jadi berpikir bagaimana bisa kamu tiba-tiba beralih dengan mudahnya dari mantanmu dan menyukaiku". Anggi akhirnya mengeluarkan uneg-uneg yang di tahan selama satu minggu ini.


"Jadi karena hal itu kau tidak menghiraukan ku?".


"Apa kau sedang cemburu, hmm?". Reynald tersenyum miring.


Anggi menggelengkan kepala pelan seraya menunduk. "Aku hanya merasa kesal.. Bukan cemburu".


Reynald meraih dagu Anggi dan menariknya hingga keduanya saling menatap.


"Kenapa kau mempersoalkan masa laluku yang sudah selesai? Aku saja tidak memikirkannya lagi. Kenapa kau harus repot-repot memikirkannya?". Tanya Reynald pelan.


"Karena aku takut kau hanya menjadikan aku sebagai hiburan dari patah hati mu saja". Ucap Anggi lugas.


Reynald tersenyum hingga membuat wajah tampan itu semakin terlihat tampan. Reynald menarik Anggi ke dalam dekapannya. Memegang belakang kepala Anggi dan mengelusnya dengan lembut.

__ADS_1


"Satu hal yang aku sadari...."


"Ketika aku bersamamu, aku lupa dengan segala hal tentang masa laluku. Kau memberi warna baru yang belum pernah aku lihat sepanjang kehidupanku".


"Benarkah?". Tanya Anggi pelan.


Reynald menganggukkan kepala di ceruk leher Anggi. "Tentu saja benar. Aku tidak berbohong".


"Bisakah kau hentikan sikap cemburumu ini.. Kau tahu.. Aku sangat lelah.. Aku seperti orang gila dari bandara langsung pergi ke club untuk menemuimu tapi sikapmu dingin padaku".


"Bukankah seharusnya kita saling melepas rindu setelah satu minggu tidak bertemu?". Reynald mengeratkan pelukannya dan Anggi membalas memeluk pria itu.


"Maafkan aku.. Sikap ku masih kekanakan". Ucap Anggi pelan.


Reynald mengulur pelukannnya dan terkekeh pelan.


"Kau memang masih anak-anak. Gadis muda yang polos hehehe".


Anggi memukul bahu Reynald pelan. "Enak saja! Usiaku sudah 23 tahun". Sahut Anggi.


"Tetap saja kau masih jauh di bawahku. Dua bulan lagi aku bahkan berusia 30 tahun kau tahu!". Ledek Reynald.


"Tapi aku sangat bahagia karena aku adalah cinta pertama untukmu hehehe".Reynald tertawa pelan.


"Benar kan aku cinta pertama mu?". Ucap Reynald menggoda Anggi seraya memiringkan kepalanya ke arah Anggi.


"Bukan!". Anggi mengelak.


"Ituuu hmmm....." Anggi terlihat ragu untuk menjawab.


"Siapa?".


"Siapa?".


"Siapaaaaaaaa?".


Reynald bertanya berulang-ulang hingga membuat Anggi kikuk. Reynald lantas segera meraih wajah Anggi dan secepat kilat mengecup bibir ranum gadis itu.


"Kau tidak bisa mengelak. Bahkan ciuman pertamamu saja aku yang mengajarinya". Reynald menyeringai dan dengan perlahan kembali mencium Anggi.


Reynald mencium dengan penuh kelembutan. M3ngulumnya dan sesekali menarik bibir bawah gadis itu dengan pelan. Lidahnya lihai menari menjelajah rongga mulut Anggi yang beraroma permen cherry.


Salah satu tangan Reynald menahan kepala Anggi. Lum@tan demi lum@tan Ia lakukan dengan lembut dan decakan terdengar dari bibir mereka karena pertukaran saliva keduanya. Hingga tak sadar membuat Anggi mengeluarkan l3nguhan.


Reynald lantas melepas tautan bibir keduanya. Ibu jari pria itu mengusap sisa-sisa saliva di bibir Anggi. Reynald lalu mencium dahi Anggi cukup lama seraya mengusap rambut panjang gadis itu.


"Maafkan aku". Ucap Reynald.

__ADS_1


Anggi menatap bingung pada Reynald. "Kenapa kamu minta maaf?".


"Bibirmu selalu menggoda untuk ku cium". Sahut Reynald terkekeh.


Anggi menunduk malu. Jika saja penerangan di dalam mobil baik, Reynald bisa dengan mudah melihat semburat merah yang muncul di pipi kekasihnya.


"Kau tahu.. Aku ingin menjagamu sebisaku.." Ucap Reynald ambigu.


"Maksud kamu apa?". Tanya Anggi.


"Maksud ku..."


"Hmm.. Aku pria normal hehe. Jika suatu hari aku kelewat batas padamu, jangan segan-segan untuk memukulku atau apapun itu".


"Aku tidak ingin melakukan suatu hal yang di luar batas denganmu.. Aku yakin tidak akan sih... Tapi kurasa setan di sekeliling kita tidak akan pernah berhenti menggoda kan? Aah.. Tapi tidak akan.. Pengendalian diriku selama ini cukup baik". Ujar Reynald panjang lebar sembari meyakinkan dirinya sendiri hingga membuat Anggi menatap heran.


"Kamu bicara tentang apa sebenarnya? Aku tidak mengerti".


"Aku bicara tentang ****! Astaga... Kau sudah 23 tahun! Jangan buat aku seperti seorang pedofil tolong..." Reynald memelas.


Anggi melongo dan sedetik kemudian tertawa keras.


"Hahahahhaha ya ampun kamu lucu sekali!".


Reynald memberengut kesal.


"Aku... Hahaha.. Maaf aku tidak mengira kalau kamu akan berkata terus terang tentang hal itu". Lanjut Anggi masih tertawa.


Anggi menarik napasnya dalam-dalam berusaha mengendalikan tawanya.


"Apa kamu bisa libur hingga hari senin dari pekerjaan mu?". Tanya Anggi akhirnya serius.


"Apa kau berusaha membujuk CEO sibuk sepertiku untuk membolos?". Tanya Reynald mengangkat sebelah alisnya menatap pada Anggi.


"Ah ya.. Aku lupa kalau kamu CEO... Maaf". Sahut Anggi menunduk.


Reynald menarik tubuh Anggi hingga menghadap ke arahnya.


"Kau mau kemana? mengajakku ke suatu tempat selama dua hari hmm?".


"Rencananya begitu... Tapi lupakan saja. Aku tidak mungkin memintamu untuk membolos. Tidak sepantasnya aku seperti itu..." Ujar Anggi.


"Hey.. Tidak bisa begitu! Aku sudah terlanjur membayangkan jalan berdua denganmu".


"Jangankan dua hari.. Setiap hari pun aku selalu punya waktu luang untukmu". Lanjut Reynald seraya mengedipkan sebelah matanya.


Tak bisa di pungkiri raut wajah Anggi berbinar bahagia mendengar penuturan Reynald. Besok Ia memang berencana ingin mengajak Reynald untuk berkencan demi menebus waktu yang Ia buang secara cuma-cuma selama satu minggu karena cemburu yang tak beralasan.

__ADS_1


"Kurasa lebih baik kita pergi dari sini... Aku takut di kira orang lain ini adalah mobil bergoyang..." Ujar Reynald kembali ambigu sembari menstarter mobilnya.


•••••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••••••


__ADS_2