Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 36


__ADS_3

"Halo Ayah.." Ucap Anggi setelah memutuskan untuk menerima panggilan masuk dari Ayah nya, Hendra Wibrata.


"Ada di mana? Aku mau bertemu denganmu".


Pria itu tanpa berbasa-basi langsung berkata ke tujuan utamanya. Anggi terdiam sejenak.


"Kalau begitu aku akan datang ke rumah Ayah.." Ujar Anggi seraya menggigit bibir. Sejujurnya Ia tak kerasan untuk datang ke rumah Ayah nya karena di sana sudah pasti Ia tidak pernah merasa di terima dengan hangat.


"Jangan ke rumah. Istri dan putri ku sedang berada di rumah. Kalau kamu ada di rumah, aku yang akan datang ke sana"


Hati Anggi sungguh mencelos. Apakah aku ini bukan putri nya hingga tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan Mama Linda dan saudara tiri nya? Pikiran Anggi berkelana kemana-mana.


"Halo? Apa kau mendengarku?"


Anggi mengerjap dan menghela napas pelan.


"Pintu rumahku selalu terbuka. Aku akan menunggu Ayah datang".


Klik!


Sambungan telfon terputus begitu saja tanpa ada ucapan apapun lagi dari sang Ayah. Anggi menatap nanar layar ponselnya. Baru saja Ia begitu bahagia saat Reynald menelfon nya, namun dalam waktu yang hampir bersamaan Ia di buat sedih lagi oleh sikap sang Ayah.


Anggi lantas menaruh ponselnya kembali ke atas nakas dan segera membersihkan diri. Ia bersyukur setidaknya rumah nya baru saja Ia bersihkan sehingga sang Ayah akan merasa nyaman.


Dua jam kemudian


Tok.. Tok.. Tok..


Terdengar suara ketukan di pintu teras. Anggi segera berlari dari dapur untuk membuka pintu. Ia yakin yang datang adalah sang Ayah.


Anggi memasang wajah gembira dan senyuman lebar terukir di wajahnya yang manis.

__ADS_1


"Ayo masuk, Yah..." Ajak Anggi seraya membuka pintu lebar-lebar mempersilakan sang Ayah masuk ke dalam.


Hendra mengedarkan pandangan nya dengan raut wajah terkejut dan kebingungan menjadi satu manakala Ia melihat tampilan rumah Anggi begitu berbeda jauh pada saat Ia datang terakhir kali.


Pria itu melangkah menuju dapur dan membuka pintu belakang yang terdapat sepetak lahan kosong untuk menjemur. Lahan itu menjadi sebuah taman kecil yang di tanami dengan rumput jepang dan barisan pot bunga yang cantik.


Hendra mengingat kembali terakhir kali lahan di belakang tersebut hanyalah tanah yang jika hujan akan menjadi licin untuk di pijak. Ia berjalan kembali ke luar dan melihat begitu banyak perbedaan yang kontras. Ia mengamati semua material bahan yang di pakai di teras rumah dan Ia paham betul bahwa semuanya adalah material yang terbaik.


Hendra membalikkan badan dan melangkah masuk kembali.


"Silakan di minum dulu teh nya, Yah". Ujar Anggi seraya meletakkan secangkir teh hangat di meja.


"Aku juga membuat puding cokelat khusus kesukaan Ayah. Tunggu sebentar aku akan mengambilnya".Lanjut Anggi hendak melangkah kembali ke dapur.


"Tidak perlu. Aku kesini bukan untuk itu. Kau duduk lah". Ucap Hendra bernada dingin dan menatap Anggi dengan tajam.


Anggi lantas duduk dengan canggung di sebelah Hendra. Ia menunduk tak berani membalas tatapan sang ayah yang seakan mampu menusuk pupil matanya.


"Siapa yang merenovasi rumah mu menjadi seperti ini?". Tanya Hendra.


"Itu.... Aku... mmmm" Anggi berusaha menyusun kata demi kata di otaknya.


"Apa kau mengkuti jejak ibu mu? Menjadi simpanan seseorang? Jawab!". Tuduh Hendra.


Anggi menggelengkan kepala nya berulang kali. "Tidak.. Aku tidak seperti itu..." Sanggah Anggi.


"Lalu bagaimana bisa kau merenovasi setiap sudut di rumah ini kalau bukan menjadi simpanan pria kaya? Aku tidak pernah memberimu uang saku. Kau bekerja hanya sebagai waitress. Dapat uang dari mana hah?".Cecar Hendra.


Anggi diam membisu. Ia tidak bisa menjelaskan apapun pada sang ayah. Ia ingat ucapan Reynald untuk tidak memberitahu siapapun tentang hubungan keduanya. Toh, Anggi berpikir sang ayah pun tdak akan percaya jika di beritahu.


"Inilah maksudku kenapa aku mengasingkan mu dari istri dan putri ku. Karena kau bisa mempermalukan ku!".

__ADS_1


"Aku sempat berpikir bahwa kau berbeda dari ibu mu, tapi ternyata tidak. Rumah ini memang kubeli untukmu, aku menyekolahkan mu hingga pendidikan tinggi, semua itu sebagai bentuk tanggung jawab ku sebagai seorang ayah".


"Tapi aku harap setelah kau selesai kuliah, kita tidak perlu berhubungan lagi. Hiduplah dengan caramu sendiri. Aku tidak akan peduli bahkan jika kau mengikuti jejak ibu mu".


Hendra bicara dengan panjang lebar. Setiap kalimat yang keluar dari mulut sang ayah benar-benar meremukkan hatinya hingga berkeping-keping. Entah salah apa dirinya hingga membuat sang ayah terlihat sangat membencinya.


Anggi mengusap air mata yang jatuh begitu saja di pipi. Ia menahan tangisnya begitu kuat. Anggi tidak ingin jika Hendra melihatnya rapuh.


Anggi menghembuskan napas pelan berusaha menguasai dirinya kembali. Ia menoleh ke arah Hendra dan mengulas senyum manis.


"Ayah tidak perlu kuatir. Aku tidak pernah berniat untuk mengikuti jejak Ibu. Aku akan hidup dengan baik". Ujar Anggi.


"Oh ya tunggu sebentar...." Anggi beranjak berdiri dari sofa menuju kamar tidurnya.


Tak lama Ia keluar dengan membawa sebuah bingkisan kado di tangan. Ia duduk kembali di sebelah Hendra dan menyerahkan bingkisan tersebut pada sang ayah.


Hendra tentu saja mengerutkan dahi.


"Ini kado ulang tahun untuk ayah. Aku ingat kalau dua hari lagi adalah ulang tahun mu, jadi aku membeli itu".


"Ayah tenang saja.. Kado itu ku beli dengan uang yang halal". Anggi tersenyum sembari menatap Hendra.


"Tolong terima kado dari ku.. Aku tidak meminta apapun dari mu. Hanya terima lah kado ini..."


Hendra lantas menerima kado tersebut dari tangan Anggi. Tak lama pria itu pun langsung bangkit dan segera berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun untuk berpamitan.


Anggi hanya bisa berdiri terpaku menatap pungguh sang ayah yang pergi begitu saja.


Anggi menatap secangkir teh yang sudah Ia buat untuk sang ayah namun tidak di sentuh sama sekali. Anggi mengambil cangkir tersebut dan melangkah ke dapur.


Ia semakin termenung saat melihat sebuah puding cokelat dengan bentuk yang cantik berada di meja dapur. Anggi sengaja membuat puding tersebut dengan cepat khusus untuk sang ayah. Namun ternyata sesendok pun tidak pernah masuk ke mulut ayahnya.

__ADS_1


Pertahanan diri Anggi yang sedadi tadi di tahan nya hancur begitu saja. Ia berjongkok sembari memeluk dirinya sendiri dengan erat. Menenggelamkan kepalanya ke paha dan menangis tersedu-sedu. Saat ini ketika Ia menangis dan hancur karena sang ayah, untuk pertama kalinya Ia mengharapkan dekapan seseorang untuk menenangkannya. Untuk pertama kalinya juga otaknya berlari memikirkan seseorang. Untuk pertama kalinya Ia mempunyai harapan pada seseorang. Anggi memikirkan Reynald. Ya. Hanya pria itu.


•••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••


__ADS_2