
Hotel Room 1812
Reynald dan Anggi baru saja memasuki kamar hotel tepat pukul 11 malam. Sanak keluarga maupun kerabat serta relasi pun sudah di sediakan masing-masing kamar untuk beristirahat. Hiasan kelopak bunga mawar merah sejak Anggi melangkah masuk tak luput dari perhatiannya.
Lilin-lilin aromatheraphy yang lembut semakin membuat suasana menjadi tenang dan sensual. Reynald menggenggam tangan Anggi menuju kamar utama dan melihat hiasan kelopak bunga mawar merah di hias dengan sangat cantik. Reynald lalu menyalakan musik instrumental membuat suasana semakin romantis.
Reynald memeluk tubuh Anggi, menyisipkan wajahnya ke ceruk leher Anggi. "Kau tahu? Aku sangat bahagia". Gumam Reynald pelan.
Anggi membalas pelukan Reynald dengan tersenyum. "Aku juga... Hari ini akhirnya datang untuk kita.. Berjanjilah kamu tidak akan meninggalkanku".
Reynald mengulur pelukannya dan menatap Anggi dengan kening bertaut. "Kenapa kau bicara seperti itu? Aku tidak memiliki alasan apapun untuk meninggalkanmu"
Keduanya saling menatap dengan sangat dalam hingga perlahan wajah Reynald mendekat. Anggi yang mengetahui maksud Reynald mengulum senyum dan memegang kedua sisi wajah pria itu. "Apa kamu tidak lelah? Kamu harus istirahat.. Aku kuatir kamu-......"
Reynald menarik pinggang Anggi hingga tubuh wanita itu menempel pada tubuhnya. "Aku sudah sangat sehat untuk menggempurmu malam ini..." Bisik Reynald di telinga Anggi hingga hembusan napas pria itu membuat tubuh Anggi meremang seketika.
"Bersihkanlah dirimu. Kau pasti sudah tidak nyaman memakai gaun pengantin ini". Ujar Reynald seraya menurunkan resleting di bagian sisi gaun dengan begitu mudah hingga menampilkan lekuk tubuh Anggi yang menggoda.
"Rey!" Teriak Anggi terkejut.
"Apa sayang? Aku sekarang suamimu... Kau harus mulai membiasakan dirimu hehehehe" Reynald terkekeh geli.
Tak lama Anggi segera masuk ke dalam bathroom untuk membersihkan dirinya. Tak butuh waktu lama untuk mandi namun Anggi butuh waktu lama untuk menenangkan jantungnya yang terus berdetak kencang membayangkan apa yang akan terjadi ketika Ia keluar dari bathroom.
Dengan gugup Anggi melangkah keluar bathroom hanya dengan memakai bathrobe dan handuk kecil yang membelit rambutnya yang basah. Anggi menatap Reynald yang sedang duduk di sofa sambil menyesap secangkir teh hangat.
"Keringkanlah dulu rambutmu.. Nanti masuk angin. Aku mandi dulu" Ujar Reynald berdiri dan mengecup kening Anggi seraya berlalu masuk menuju bathroom.
Anggi duduk di depan meja rias dan menyalakan hair dryer. Ia menatap wajahnya yang polos tanpa make up di cermin.
Apa aku harus memakai lipstick agar terlihat segar? Atau sedikit bedak?
Anggi bermonolog dalam hatinya. Namun ujung-ujungnya semua yang terbesit dalam pikirannya urung Ia lakukan. Ia hanya akan mengikuti saja arahan suaminya. Tiba-tiba Anggi merasa malu. Ia mencubit kecil pipinya seakan masih tidak percaya bahwa Reynald adalah suaminya saat ini.
__ADS_1
Reynald terlihat keluar dari bathroom sama seperti Anggi, pria itu pun hanya memakai bathrobe.
Anggi mematikan hair dryer dan melirik Reynald melalui cermin yang tengah berdiri di belakangnya. "A-ada apa? Kenapa kamu melihatku begitu?". Tanya Anggi gugup.
Reynald memegang kedua sisi bahu Anggi membuat wanita itu berdiri menghadap ke arahnya. "Kenapa kau gugup sekali? Aku jadi ikut merasa canggung" Reynald mengelus pipi Anggi dengan lembut.
"Kita nikmati saja malam ini sayang..." Ujar Reynald pelan seraya mengecup bibir Anggi.
Awalnya hanya sebuah kecupan-kecupan lembut yang Reynald lakukan hingga akhirnya di balut ******* yang membuat Anggi terkadang melenguh. Reynald menyisir rongga mulut Anggi dengan lidahnya. Sesekali menarik bibir kemerahan istrinya dengan gemas, menyesapnya penuh gairah.
Reynald pun turun menyusuri leher jenjang Anggi. Memberikan kecupan kecil di setiap incinya hingga membuat Anggi merasa kegelian. Ia menjilat ceruk leher Anggi. Reynald melakukannya dengan perlahan. Berusaha memberikan getaran nikmat hingga tubuh Anggi bisa mempersiapkan diri untuk menerima tubuhnya.
Reynald membuka tali pengikat bathrobe Anggi dan melepasnya perlahan. Anggi yang di landa rasa malu sempat menahannya. "Tidak apa-apa sayang.. Kau memperlihatkan tubuhmu hanya untukku, suamimu" Ujar Reynald dengan suara rendah menahan gejolak gairah dalam diri.
Anggi pun sukarela melepas bathrobe hingga akhirnya tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang benar-benar terlihat di pelupuk mata Reynald. Anggi melipat kedua tangannya di dada berusaha menutupi gundukan kenyal yang padat belum terjamah oleh siapapun.
Reynald yang sudah di kuasai oleh hasrat yang menggebu lantas dengan perlahan menggiring Anggi untuk berbaring di atas kasur dengan hamparan kelopak bunga mawar merah. Tanpa basa basi kini bukan hanya bibir Anggi saja yang menjadi sasaran, tapi kini Reynald mulai menyusuri area gundukan yang menantang dengan lembut tapi beringas.
Reynald semakin agresif, di saat lidahnya sedang asik bermain di pucuk gunung, tangannya yang bebas pun mulai ikut memilin pucuk gunung yang lain dengan lembut.
"Aaahhh.. Mmmmhhh" Anggi semakin di buat terbang ke nirwana tertinggi. Tanpa sadar tangan Anggi menekan kepala Reynald lebih dalam pada gundukannya. Reynald menyeringai, rintihan kenikmatan yang keluar dari mulut Anggi semakin menambah semangat Reynald untuk menjelajahi pucuk gunung yang ada di hadapan wajahnya.
Kedua tangan Reynald bergerak, meraih dan menggenggam dua gundukan kenyal dan memijatnya pelan dengan penuh perasaan.
"Aku menyukainya..." Gumam Reynald seakan seperti anak kecil yang menemukan mainan favoritnya. Anggi tersipu malu.
Cukup lama Reynald memainkan dada istrinya, hingga akhirnya perlahan pria itu turun semakin ke bawah. Menciumi perut, pusar hingga semakin ke bawah dan akhirnya berada tepat di bagian paling sensitif. Pria itu langsung memberi ciuman bertubi tubi pada area itu. Membuat tubuh Anggi menggelinjang hebat.
"Rey.. Oh tidak... Apa yang kamu lakukan?" Racau Anggi.
"Nikmati saja sayang..." Ucap Reynald seraya menatap area milik istrinya dengan takjub.
Reynald kembali menciumi gundukan daging terbelah yang rapi tanpa di tumbuhi rerumputan. Tanpa rasa jijik, bibir Reynald terus menyerang semua bagian daging tersebut. Walau area itu sudah sangat basah karena ulahnya, Reynald tidak peduli. Reynald merasa ketagihan.
__ADS_1
Anggi yang sudah merasa tidak tahan lagi akhirnya menarik tubuh Reynald. Mata keduanya bertatapan. Anggi menyusuri wajah Reynald dan Ia di landa rasa malu yang begitu hebat saat melihat bibir Reynald yang basah karena habis bermain di area feminisnya.
"Lakukanlah, Rey...." Ucap Anggi akhirnya.
Reynald menyeringai, saatnya permainan inti di mulai. Reynald melepas bathrobenya dan merangkak kembali mengungkung tubuh Anggi.
Reynald mengulum senyum, pria itu kembali menciumi Anggi hingga kemudian Reynald duduk diantara dua kaki Anggi yang membentang.Tangan kiri Reynald mengelus lembah lembab yang masih sangat rapat milik istrinya itu.
Reynald mulai mengarahkan ujung senjata menegang miliknya di depan pintu lembah dan menggeseknya perlahan seakan memberikan sebuah sapaan perkenalan. Setelah puas berkenalan dengan kepala senjatanya, Reynald mulai mencoba memasukan senjatanya dengan perlahan.
Sulit. Reynald merasa sangat kesulitan karena lembah milik Anggi sangat sempit. Namun insting kelelakiannya membuat Reynald tidak menyerah.Reynald terus memasukkan senjata miliknya hingga akhirnya di tengah jalan, Reynald merasa ada yang menghalangi.
"Ini akan sakit sayang.. Sebentar saja..." Ucap Reynald seraya menatap penyatuan tubuh keduanya.
Reynald beralih menatap Anggi seraya menghentakkan pinggangnya hingga membuat Anggi menjerit tertahan. Reynald memandang wajah istrinya dengan perasaan campur aduk. Ditariknya senjata menegang miliknya dari dalam lembah dan Ia melihat sedikit darah dalam senjatanya itu.
Reynald lantas memasukkan kembali senjatanya dengan perlahan. Mengatur gerakannya pinggangnya dengan sangat pelan membiarkan tubuh Anggi beradaptasi dengan senjatanya.
Hingga Reynald perlahan menaikkan tempo permainannya. Dalam.. Lebih dalam... Mulut Anggi terbuka lebar dengan mata yang nyaris terpejam. Ekspresi Anggi merupakan ekspresi paling mengagumkan bagi Reynald. Napas Anggi semakin memburu, meresapi setiap hentakan di pusat lembahnya dengan irama yang semakin meningkat.
Reynald menundukkan kepala menghisap pucuk gundukan kenyalnya dengan buas. Reynald lantas menatap mata Anggi seraya masih memberikan hentakan demi hentakan yang membuai tubuh Anggi. Keduanya saling menatap. Anggi mengalungkan kedua tangannya ke leher Reynald. Menatap ekspresi wajah suaminya yang berkabut gairah, mengundang lebih banyak lagi denyutan liar di pusat lembahnya.
Wajah Reynald sedikit berkeringat menambah kesan menggoda sekaligus menawan dengan sempurna. Rambutnya terurai berantakanbberayun menutupi sebagian kening pria itu. Sungguh melihat hal itu semakin menambah kegagahan suaminya yang kini tengah menggagahi dirinya.
Anggi meracau kenikmatan. Saat ini pusat lembahnya sudah benar-benar basah dan menerima sepenuhnya senjata milik suaminya. Mulut Reynald mengeluarkan lenguhan nikmat. Lembah hangat yang memberikannya sensasi kuatnya jepitan itu sangat membuat hasratnya menggelora. Matanya terpejam meresapi sensasi yang di rasakannya. Otot dalam senjata milik Reynald semakin kencang, pinggang Reynald bergerak dengan tempo yang semakin cepat membuat Anggi menjerit kenikmatan. Reynald merasakan akan ada yang segera meledak dari dalam dirinya. Erangan seraknya pun tak luput keluar manakala pusat lembah istrinya berdenyut secara luar biasa menjepit senjatanya.
Reynald terus memompa tubuh Anggi. Memberi hentakan kenikmatan tiada tara. Anggi meremas punggung Reynald, mencengkram punggung pria itu. Kakinya sudah terbentang sangat lebar berusaha meraup semua kenikmatan yang sedang di lakukan oleh Reynald.
"Aaahhhhh... Aaaahhh.." Akhirnya gelombang puncak pun menerpa. Reynald menumpahkan lahar panasnya di dalam lembah yang sempit dan hangat.
Dengan wajah berkeringat dan kelopak mata yang sayu, Reynald tersenyum menatap Anggi dan mengecup bibir istrinya dengan sangat lembut. "Aku mencintaimu sayang".
••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••
__ADS_1