
4 Bulan sebelumnya, Rumah Sakit.
"Anggi!" Rashaad yang berdiri di ujung pintu ruang operasi segera berlari saat melihat Anggi jatuh pingsan.
"Dokter! Dokter!" Teriak Rashaad panik seraya mengangkat tubuh Anggi ke dalam gendongannya.
Beberapa dokter yang memang sedang menunggu di ruang sebelah lantas dengan cekatan menghampiri Rashaad dan mengarahkan pria itu ke ruangan sebelah yang di mana terdapat 1 brankar kosong.
Rashaad segera membaringkan tubuh Anggi dengan perlahan dan membiarkan dokter mengambil alih setelahnya. Tiba-tiba dari ruang operasi di mana tubuh Reynald masih terbaring terdengar bunyi sesuatu.
Tit.. Tit.. Tit..
Seorang suster berlari memeriksa monitor yang masih terhubung dengan tubuh Reynad. Terlihat grafik yang bergerak naik walau tidak signifikan. Sang suster pun segera tergopoh-gopoh berlari menghampiri dokter yang sedang memeriksa Anggi.
"Dok! Detak jantung pasien terdeteksi kembali!". Teriak sang suster.
"Cepat hubungi dokter yang lain! Cepat!" Dokter itu pun segera meninggalkan Anggi yang terindikasi pingsan karena shock dan akan kembali sadar dalam beberapa jam kedepan.
Renata dan Andre yang sedari tadi berdiri di luar terkejut bukan main saat melihat beberapa dokter masuk kembali ke dalam ruang operasi.
"Ada apa ini sus?" Tanya Renata menghentikan langkah seorang suster.
"Jantung pasien kembali berdetak, maaf saya permisi" Ujar sang suster berjalan cepat meninggalkan Renata yang terkejut.
"Andre.. Kau dengar itu? Reynald, ndre.. Reynald... Sepupuku itu... Kembali.. Kau dengar kan? Sial. Dia pria yang tangguh!" Ucap Renata seraya terisak haru.
Andre menepuk pundak Renata dengan mulut tertutup tak mampu menjawab apapun. Namun pria yang terkenal dingin itu pun diam-diam menitikkan air mata. Ini sebuah keajaiban. Reynald, sahabat kecilnya kembali adalah sebuah keajaiban baginya. Andre tahu.. Reynald tidak akan pernah menyerah pada kehidupan!
Rashaad yang masih menemani Anggi di ruang sebelah terlihat mengintip dari balik kaca yang memperlihatkan langsung kegiatan tim dokter yang tengah berusaha. Ia beralih menatap Anggi yang masih terbaring tak sadarkan diri, lalu Rashaad kembali beralih menatap tubuh Reynald.
Rashaad menghela napasnya pelan. Ia menadahkan kepalanya ke atas menatap langit-langit. Tuhan... Biarkanlah mereka berdua bersama dan bahagia. Setelah berbagai hal pedih yang mereka lewati terpisah, izinkan dua insan manusia ini bersatu dalam kebahagiaan.
"Sudah berapa lama jantungnyq berhenti?" Tanya salah seorang dokter.
"Sekitar 8 menit sejak di hentikan CPR dan di nyatakan meninggal, dok". Jawab seorang ahli anestesi dari balik monitor.
Seorang dokter memberikan kejut jantung dalam kekuatan rendah, dan yang lain memasangkan oksigen pada wajah Reynald.
__ADS_1
Tak lama terdengar helaan napas dari tim dokter. Beberapa dari mereka terlihat mengusap wajahnya pelan. Rashaad mengintip dari balik kaca dan bergerak ke kanan ke kiri berusaha mengintip. Ia berusaha melihat Reynald yang terhalang oleh beberapa tubuh dokter yang hanya berdiam diri tak melakukan apapun.
Dilanda rasa penasaran dan kuatir, akhirnya Rashaad memberanikan diri membuka pintu yang menghubungkan langsung pada ruang operasi.
Salah seorang tim dokter menghampiri Rashaad. "Tuan Reynald kembali. Kini kami harus melakukan pemeriksaan menyeluruh pada sistem neurologisnya".
Rashaad mendesah lega. Ia bahagia. Tentu Ia dengan tulus merasa bahagia.
"Apa yang sebenarnya terjadi dokter?" Tanya Rashaad.
Sang dokter pun segera mengarahkan Rashaad untuk keluar dari ruang operasi, karena bagaimanapun seharusnya ruang operasi adalah ruang yang steril.
"Tuan Reynald mengalami traumatic cardiac arrest. Trauma yang menyebabkan jantung seseorang berhenti berdetak karena trauma tumpul atau tusuk. Pada kasus pasien, saya bisa perkirakan ini trauma tumpul yang di akibatkan oleh benturan sangat keras di dada. Kami telah melakukan CPR sebelumnya pada saat jantungnya berhenti saat menjahit luka robek pada kepalanya, namun itu tidak berhasil dan pada akhirnya kami menyatakan pasien meninggal".
Rashaad mengerutkan kening kebingungan. "Lalu bagaimana jantungnya bisa berdetak kembali? Jangan kau bilang itu adalah kuasa Tuhan. Karena jika kalian bahkan tidak lebih berusaha, bisa saja temanku itu benar-benar tidak terselamatkan. Jadi aku butuh penjelasan yang masuk akal selain kuasa Tuhan". Ujar Rashaad menatap sang dokter dengan sangat serius.
Sang dokter pun terkekeh kecil. "Saya sebagai dokter, telah banyak melihat kuasa Tuhan pada para pasien yang selama ini saya rawat".
"Seorang dokter bisa saja memvonis usia pasien, namun jika kehendak Tuhan berlainan maka bukan berarti dokter keliru. Kami hanya berusaha, namun yang menentukan tetap Sang Pemilik Kehidupan, bukan?"
Rashaad terdiam berusaha mencerna penjelasan dokter. "Lalu apakah kematian suri ini bisa memberi efek buruk pada pasien? Jantungnya berhenti, semua organnya berhenti. Apa dia akan baik-baik saja setelah sadar? Apa dia bisa hidup normal kembali?"
"Kami akan mengetahuinya sebentar lagi karena tim dokter sedang melakukan observasi".
•••
Ya. Selama 4 bulan Reynald di rawat intensif. Karena pria itu sempat mengalami kelumpuhan sementara pada bagian tubuh kirinya yang memang mendapatkan benturan paling besar saat kecelakaan.
Selama 4 bulan pula Anggi merawat Reynald dengan sepenuh hati. Ia berharap Reynald bisa kembali pada kehidupannya sedia kala. Reynald yang gagah dan menawan di matanya. 4 bulan Anggi selalu menangis sendirian karena kalut. Ia sangat bahagia melihat Reynald kembali namun Ia juga tidak sampai hati melihat Reynald yang tidak berdaya.
Rose, Ibu Reynald menemani Anggi seraya ikut serta merawat putranya. Selama 4 bulan itu pula keduanya saling mengenal karena setiap hari menghabiskan waktu bersama di rumah sakit hingga akhirnya hari bahagia pun datang.
Hari ini di mana hari Anggi akan menjadi nyonya Reynald. Pria yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kali.
Anggi menatap Reynald dengan mata sembab seraya mengulas senyum manis.
"Aku berjanji akan mencintaimu sampai akhir hidupku, menemanimu dalam suka dan duka, menyayangimu, membimbingmu, melindungimu dengan seluruh jiwa ragaku, aku akan selalu bertahan di sisimu apapun yang akan terjadi nanti, aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan menjadi penerang dalam hidupmu, sekalipun kita berada dalam kegelapan, aku akan tetap menggenggam tanganmu dan tidak akan pernah melepaskannya, percayalah janjiku ini. Aku tidak akan menodai cinta suci yang kita punya." Ucap Reynald menatap lembut tepat ke manik mata Anggi.
__ADS_1
Pria itu mengusap air mata yang jatuh ke pipi Anggi dan mengulas senyum. "Terima kasih kau sudah bertahan di sisiku dan menemaniku saat aku melalui masa-masa yang sulit"
Anggi menangis tersedu-sedu. Sungguh ini adalah hari yang di impikannya. Hari yang tidak pernah terpikirkan akan terjadi namun takdir berkata lain.
Reynald mendekatkan wajahnya ke arah Anggi. Hembusan napas pria itu terasa hangat menerpa pipi Anggi hingga menimbulkan semburat rona kemerahan.
Anggi lantas menutup matanya dan terasa bibir Reynald yang lembut mengecup bibirnya cukup lama hingga akhirnya tedengar suara tepuk tangan dari seluruh tamu yang hadir.
Reynald melepas tautan bibir mereka dan tersenyum melihat Anggi yang tersipu malu. Reynald mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Melihat satu per satu orang yang hadir. Ia melemparkan senyuman tulus dari lubuk hatinya yang terdalam. Reynald maupun Anggi memilih untuk mengadakan pesta privat yang hanya di hadiri oleh keluarga dan kerabat serta relasi yang sangat akrab salah satunya seperti Rashaad.
"Mama?" Terdengar suara yang menginterupsi Reynald dan Anggi. Keduanya lalu menunduk menatap Jessy yang tengah menatap Anggi dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Aku harus panggil Aunty Anggi dengan mama sekarang, Dad?" Tanya Jessy beralih menatap Reynald.
Reynald berdiri bersimpuh dengan lututnya mensejajarkan dirinya dengan Jessy. Ia mengelus rambut putrinya dengan penuh kasih sayang. "Ya. Kau bisa memanggilnya dengan Mama"
"Mama seperti Mommy? Kenapa tidak di samakan saja memanggil Mommy?"
"Mommy tetap untuk Mommy Clara. Dia yang melahirkanmu. Dia tetap Ibu mu. Jadi untuk Aunty Anggi, kau harus bedakan. Entah dengan Mama atau Ibu, itu terserah padamu sayang. Sekarang Aunty Anggi pun menjadi Mama mu"
Jessy lalu menatap Anggi dengan seksama. Gadis kecil yang sebentar lagi akan menginjak usia 7 tahun. "Mama! Ini Mama Anggi dan itu Mommy Clara!" Sahut Jessy seraya tersenyum lebar dan beralih menatap Clara yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Reynald lantas berdiri dan menatap Clara. Wanita itu pun melangkah mendekat dan berhenti tepat di hadapan Reynald. Ia mengulurkan tangannya pada Reynald.
"Selamat Rey... Aku harap kali ini kau benar-benar bahagia" Ucap Clara dengan tulus. Reynald mengangguk dan berjabat tangan dengan Clara.
"Terima kasih Clara. Untuk... Semuanya". Ujar Reynald yang di angguki oleh Clara.
Clara lantas beralih pada Anggi. "Boleh aku memelukmu?" Tanya Clara seraya tersenyum. Anggi mengangguk dan keduanya pun berpelukan.
"Maafkan aku atas sikapku dahulu. Berbahagialah. Cintai Reynald dengan sepenuh hatimu. Dia pria yang baik. Dan.... Aku menitipkan putriku padamu.. Aku tidak bisa selalu menemaninya. Aku tidak keberatan kau memberikan figur seorang Ibu untuknya... Jessy juga menyayangimu..." Ucap Clara pelan dari balik tubuh Anggi.
Clara mengulur pelukannya dan menatap Anggi dengan mata berkaca-kaca. Ia lantas tersenyum seraya melangkah meninggalkan Reynald dan Anggi.
"Bro.. Apa tubuhmu benar-benar sudah kuat untuk membelah sesuatu malam ini?" Bisik Gavin yang tiba-tiba saja berada di belakang tubuh Reynald.
••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••
__ADS_1