Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 53


__ADS_3

Sepulang dari rumah Anggi, Reynald lantas segera menuju apartemen Clara. Sepanjang perjalanan Ia benar-benar mengumpat tak ada hentinya pada situasi rumit yang menimpanya.


"Sial! Kenapa aku jadi sembunyi-sembunyi seperti ini di antara mereka?".


"Sampai kapan aku bisa menyembunyikannya?".


"Apa yang harus aku lakukan pada mereka berdua? astaga.. Ini memusingkan!".


Reynald bermonolog dengan dirinya sendiri sembari menekan pedal gas semakin dalam dan mencengkram kuat stir mobil.


Kurang dari satu jam, Reynald sudah sampai di apartemen Clara namun pria itu tidak memarkirkan mobilnya ke basement melainkan mengarahkan mobilnya tepat di area pick up di depan lobby.


Ia sudah meminta Clara untuk menunggunya langsung di area pick up lobby daripada Ia harus menyusul ke atas. Hingga tak lama kemudian, Clara terlihat oleh Reynald sedang berjalan dengan mendorong stroller.


Reynald tersenyum tipis saat melihat penampilan Clara yang serba tertutup hingga tak menyisakan satupun sisi kulit wajah wanita itu.


Bagaimana Reynald bisa tahu jika itu Clara?


Entahlah. Hanya saja mata Reynald sudah terbiasa selama bertahun-tahun melihat Clara. Hingga mungkin hanya dengan menutup mata pun Reynald bisa mengenalinya.


Reynald segera turun dari mobil saat Clara sudah berada di dekatnya. Ia menggendong Jessy, putrinya sementara Clara melipat stroller dan memasukkannya ke dalam bagasi.


Clara lantas segera meraih Jessy dari gendongan Reynald dan keduanya pun segera masuk ke dalam mobil.


"Apa kita perlu beli sesuatu untuk di bawa ke orang tuamu, Rey?". Tanya Clara saat mobil sudah melaju.


Reynald menggeleng pelan. "Tidak perlu. Mereka hanya ingin melihat cucunya. Itu sudah cukup".


"Benarkah? Tapi aku tidak enak jika berkunjung dengan tangan kosong ke orang tuamu".


Reynald melirik Clara dan mengulas senyum tipis.


"Tidak apa-apa. Kau tidak perlu kuatir".


Reynald lalu mengelus pipi Jessy dengan tangannya yang bebas dari kemudi.


"Apa dia memang selalu tidur seperti ini?".


"Kenapa setiap kali aku bertemu dengannya dia selalu tidur?".


"Dia tidak sakit kan?".


Clara tersenyum hangat sembari menatap putrinya.

__ADS_1


"Seorang bayi memang lebih banyak tidur di banding orang dewasa. Nanti ada masanya dia akan selalu ingin bermain dan menggemaskan". Ujar Clara terkekeh.


"Apa kau lelah mengurusnya?". Tanya Reynald.


Clara menatap Reynald dengan bingung. "Dia anakku. Anak yang aku kandung dalam rahimku selama 9 bulan. Lelah mengurus bayi itu wajar, Rey. Tapi aku justru lebih banyak menikmatinya".


Reynald melirik Clara dan menggenggam tangan wanita itu.


"Terima kasih kau telah melahirkannya".


"Walau situasi ini cukup rumit untukku, tapi aku juga berusaha memahami perjuanganmu yang seorang diri dari masa kehamilan hingga melahirkan anakku tanpa ada aku di sisimu".


Clara tersenyum hangat pada Reynald. "Aku melakukannya karena aku selalu mencintaimu, Rey".


Reynald hanya diam tak menjawab namun tangannya tetap menggenggam tangan Clara.


"Rey... Aku boleh bertanya sesuatu padamu?".


Reynald menoleh sekilas pada Clara dan menganggukkan kepala.


"Kau selalu bilang padaku kalau situasi mu menjadi rumit, Apa maksudnya? Kau bilang padaku andai aku tidak pergi dari dirimu, maka itu lebih mudah untukmu".


"Memangnya apa yang terjadi selama aku pergi?".


Clara melemparkan pertanyaan yang membuat Reynald membeku seketika dan menarik genggaman tangannya dari tangan Clara begitu saja.


"Rey?".


Reynald mengetatkan rahangnya dan mencengkram kemudi hingga jari jemarinya memutih.


"Tidak ada apa-apa. Kau tak perlu memikirkan itu". Ucap Reynald dingin tanpa menoleh pada Clara.


Satu jam kemudian, Mobil Reynald sudah memasuki sebuah kawasan perumahan elit yang nampak jejeran rumah bak istana terlihat.


Clara mengedarkan pandangannya ke sekitar lalu Ia menoleh pada Reynald.


"Aku pikir kau akan membawaku ke penthousemu, Rey".


"Kenapa kau berpikir begitu?".Tanya Reynald


"Karena kupikir orang tuamu tinggal di penthousemu. Apa mereka di rumah seorang kerabat selama di Jakarta?".


Reynald menggelengkan kepala. "Tidak. Mereka di rumahnya sendiri".

__ADS_1


"Apa aku belum pernah bilang padamu?".


"Mereka memiliki rumah utama di Jakarta. Hanya saja jika mereka di Jerman, yang tinggal di rumah itu hanya beberapa pelayan saja yang mengurusnya".


Clara menganga terkejut. "Kenapa kau tidak pernah bilang? Lalu kenapa kau tidak tinggal di rumah saja di banding di penthouse, Rey?".


Reynald mengedikkan bahu. "Itu bukan hal penting. Lagipula aku lebih suka tinggal di penthouse". Ucapnya.


Tak lama keduanya pun telah sampai di sebuah rumah dengan gaya eropa. Satu-satunya rumah yang terbesar di area itu. Arsitekturnya sungguh menawan dan megah dengan ukiran yang detail di berbagai sudut tembok dan pilar yang menjulang tinggi.


Reynald dan Clara pun turun dari mobil dan segera melangkah masuk. Jika pemandangan dari luar saja sudah membuat mata berbinar, maka area di dalam rumah itu sungguh membuat siapapun akan melongo di buatnya.


Clara mengitari pandangannya ke seluruh penjuru dan menatap kagum akan interior rumah kedua orang tua Reynald.


Tak lama kemudian terdengar derap langkah dari arah belakang. Reynald dan Clara membalikkan badannya dan melihat sepasang paruh baya yang berjalan menghampiri mereka.


Reynald lantas menghampiri kedua orang tuanya dan mencium pipi kiri dan kanan mereka sedangkan Clara hanya mampu berdiri terpaku karena rasa gugup luar biasa.


Rose menghampiri Clara dan menatap Jessy yang berada dalam gendongan wanita itu.


"Astaga.. Ini cucuku.."


"Dave... Lihat kemari... Ini cucu kita". Ujar Rose beralih menoleh Dave, suaminya.


Dave pun segera melangkah mendekat dan melemparkan senyum tipis pada Clara lalu beralih menatap Jessy.


"Biarkan aku menggendongnya". Ujar Rose menatap Clara dengan tersenyum.


Dengan sigap Clara pun memberikan Jessy yang sedang terlelap ke dalam gendongan Rose.


Rose pun melangkah menuju ruang tengah yang di yakini Clara merupakan ruang keluarga. Reynald berjalan di sisinya tanpa bersuara. Namun pria itu seakan memberikan kekuatan pada Clara agar tidak gugup di hadapan kedua orang tuanya.


Mereka berempat pun duduk mengitari sofa. Jessy yang terlihat sudah bangun pun mengerjapkan mata. Bibirnya yang mungil sesekali menguap hingga membuat gemas siapapun yang melihatnya.


"Lihat Dave, matanya persis mata Reynald Hidungnya pun seperti itu. Astaga.. aku seperti melihat Reynald dalam versi perempuan". Ujar Rose tak henti menatap kagum pada cucunya.


"Apa namamu Clara?". Tanya Rose beralih menatap Clara.


Clara mengangguk. "Iya, Tante. Nama saya Clara".


"Selamat datang di keluarga kami, Clara. Terima kasih kau sudah melahirkan cucu yang cantik untuk keluarga kami". Sahut Rose seraya menatap Clara dengan pandangan teduh seorang Ibu.


Clara mengulas senyum hangat dan menunduk tersipu. Reynald menghela napas pelan melihat interaksi Clara dengan Ibunya. Kelegaan sekaligus kekalutan bercampur menjadi satu dalam dirinya.

__ADS_1


•••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••••••


__ADS_2