
Tiga Bulan Kemudian...
Sejak malam di mana Anggi membaca email dari Rashaad, sejak itu pula terakhir kalinya mereka tidak pernah berkomunikasi lagi. Rashaad ternyata tidak pernah menelfonnya sejak malam itu. Tidak esok harinya, tidak di hari-hari yang lain. Hingga akhirnya tidak terasa sudah 3 bulan.
Ada masanya Anggi merasa ingin menelfon Rashaad dan menanyakan kabarnya, tapi kemudian rasa marah dan kecewa pada pria itu mencegahnya. Anggi pun punya prinsip, Ia berpikir Rashaad lah yang harus menelfonnya dan memperjuangkannya.
Tapi ada waktunya pula Anggi merasa sangat rapuh dan labil. Hingga akhirnya hari ini Ia meyakinkan dirinya sendiri untuk bertemu dengan Rashaad.
Anggi meraih ponselnya yang ada di atas meja dan segera menekan nomor Rashaad. Terdengar nada sambung namun tidak di angkat. Anggi mematikan sambungan telfon dan menatap layar ponselnya sejenak hingga Ia mencoba lagi menelfon Rashaad untuk kedua kalinya, tidak di angkat dan yang ketiga kali juga tidak.
Anggi menghela napasnya dan merasa bodoh. Apa yang dia harapkan? Mungkin saja Rashaad sudah move on. Apalagi Anggi tidak mendengar kabarnya selama tiga bulan.
Anggi lantas segera mengambil tas tangannya sekaligus kunci mobil. Ia tidak peduli! Hari ini Ia harus bertemu dengan Rashaad!
Hanya butuh waktu perjalanan sekitar 45 menit menuju kantor Rashaad dari kantornya. Anggi lantas segera masuk dan meminta resepsionis menyampaikan pesan bahwa dirinya datang ingin menemui Rashaad. Namun mungkin hari ini bukanlah hari keberuntungan Anggi karena ternyata Rashaad sedang meeting di luar kantor.
Anggi berjalan pelan menuju kembali ke parkiran dan entah apakah dewi fortuna sedang mendampinginya, Anggi melihat mobil yang biasa di pakai oleh Rashaad terlihat baru saja memarkirkan mobilnya di area khusus yang di mana area itu hanya di peruntukkan bagi para petinggi perusahaan.
Anggi lantas melangkah dengan cepat menuju mobil Rashaad dan sesuai dugaan, Rashaad keluar dari mobil tersebut.
"Rashaad..." Anggi memanggil pelan.
Rashaad membalikkan badannya dan terlihat terkejut. Ekspresinya seperti melihat hantu di siang bolong. Namun dengan cepat Rashaad merubah ekspresinya dan menatap Anggi dengan ekspresi yang sulit di artikan.
"Anggi.."
"Kenapa tidak bilang kalau mau kesini?". Tanya Rashaad.
Anggi mengulas senyum kecil. "Tadi aku sudah telfon kamu, tapi tidak di angkat" Sahut Anggi berusaha bersikap biasa saja.
Rashaad dengan cepat merogoh ponselnya dari dalam saku jasnya. "Ah Ya ampun.. Maaf aku lupa, tadi habis meeting dengan relasiku dan ponsel aku silent".
__ADS_1
Anggi tersenyum mendengarnya. "Aku mau bicara sama kamu kalau memungkinkan sekarang" Ujar Anggi to the point.
Rashaad lalu menatap bodyguard dan supirnya. "Kalian pergilah lebih dulu. Aku akan kembali ke mobil"
"Masuklah. Apa kau tidak keberatan kita mengobrol di mobil? Karena jika ke ruanganku akan membutuhkan waktu, sedangkan aku lihat kau sudah tidak sabar" Ujar Rashaad berusaha melontarkan guyonan.
Anggi menatap Rashaad sejenak dan mengangukkan kepala. "Tidak masalah. Mobilmu sudah sangat nyaman" Sahut Anggi seraya masuk ke dalam mobil.
Beberapa menit hanya ada keheningan di dalam mobil hingga Anggi merasa sangat kesal.
"Rashaad, aku kemari hanya untuk bertanya beberapa hal padamu" Ujar Anggi memecah keheningan.
"Tanyakanlah..."
"Pertama, sebenarnya status kita sekarang ini apa? Aku lelah Rashaad. Kamu seperti menghilang begitu saja dariku atau mungkin menghindar? Entahlah.. Hanya kamu yang tahu pasti. Aku ingin move on kalau ternyata semuanya sudah jelas. Aku lelah dengan situasi yang tidak jelas seperti ini...."
"Anggi.. Segalanya udah berubah". Ucap Rashaad dengan hati-hati.
"Kamu sudah sama orang lain?"
"Oh..Tidak.. Tidak seperti itu." Sanggah Rashaad cepat. "Kau tahu kalau aku tidak mudah untuk jatuh cinta... Dan aku masih sangat mencintaimu"
"Tapi?" Anggi menyela dengan tidak sabar.
Rashaad menghela napasnya sebelum melanjutkan.
"Bukannya aku tidak mau beri kabar atau apapun...tapi semenjak aku memutuskan untuk menunda rencana pernikahan kita, aku lebih banyak berpikir. Tentang kita... Dan jujur aku juga tidak tahu bagaimana harus memulai lagi"
Anggi semakin mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan Rashaad".
"Keadaannya sudah beda. Aku berubah. Jujur... Semenjak malam itu aku bekerja seperti kuda. Aku butuh pelarian. Semua ini juga tidak mudah untukku".
__ADS_1
"Anggi.. Aku salah.. Aku pengecut dan aku malu karena kau yang datang menemuiku untuk masalah kita. Harusnya aku...Tapi kau tahu? Sebenarnya bukan karena aku tidak mau menghubungimu, tapi aku terlalu takut untuk tahu kabarmu. Takut kalau yang aku pikir ternyata benar-benar terjadi dan aku belum siap untuk mengetahuinya". Ujar Rashaad dengan ekspresi sangat serius dan tatapan yang sedih.
"Apa kamu berpikir ketika kamu pergi, aku langsung berbalik mengejar Reynald? Kamu salah Rashaad. Ternyata kamu tidak mengenalku sama sekali..."
"Aku juga seperti tidak mengenalmu. Rashaad yang aku tahu tidak mungkin berpikir seperti itu" Ujar Anggi dengan raut wajah kecewa.
"Aku tahu.. Aku tahu.. Aku bodoh kan? Aku merasa di butakan oleh ketakutanku sendiri karena perasaanku padamu" Sahut Rashaad pelan.
"Aku bertemu dengan Reynald minggu lalu. Kami berdua tidak membicarakan hal pribadi... hanya untuk bisnis. Tapi jujur... Aku tidak bisa..."
"Aku tidak berubah Rashaad".
"Tapi aku berubah..." Timpal Rashaad cepat. "Perasaanku padamu belum berubah sedikitpun hanya saja... Aku tidak ingin ke arah sana lagi".
Anggi bergeming. Berusaha mencerna perkataan Rashaad.
"Ah.. Aku mengerti" Ujar Anggi pelan.
"Kamu benar. Mungkin kita tidak perlu ke arah sana lagi. Kamu benar...nama Reynald memang masih ada dalam sudut hatiku. Tapi apa kamu juga tahu kalau aku belajar Rashaad. Di saat aku belajar mencintai kamu, kamu melakukan semua hal konyol hingga seperti sekarang akhirnya".
Entah bagaimana Anggi mendeskripsikan perasaannya saat ini. Namun Anggi merasa bahwa ceritanya dengan Rashaad sudah berakhir di sini.
Namun Anggi tidak menyesal datang menemui Rashaad hari ini. Setidaknya Ia sudah mencoba dan Ia tidak memang tidak berharap lebih. Anggi justru akan sangat menyesal jika tidak melakukannya dan terus bertanya-tanya tentang Rashaad. Setidaknya kini Ia mulai berjalan lagi, walau hanya dengan satu langkah kecil.
"Anggi.." Panggil Rashaad pelan.
Anggi menatap Rashaad dengan mengulas senyum. "Aku mengerti".
Rashaad lantas memeluk tubuh Anggi dengan erat cukup lama. Anggi tahu jika Ia akan merasa sangat kehilangan Rashaad namun tiga bulan ke belakang adalah persiapan. Anggi sudah mulai terbiasa.
Rashaad menatap tajam pada manik mata Anggi. Tatapan Rashaad bicara banyak hal.. Anggi tahu itu. Keduanya sama-sama tahu jika inilah waktunya. Waktu untuk keduanya saling melepas. Benar-benar melepas satu sama lain dan kembali berjalan masing-masing.
__ADS_1
•••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••