Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 12


__ADS_3

Sepanjang perjalanan kembali ke airport, Reynald bungkam seribu bahasa setelah Ia puas mengeluarkan segala makian dan sumpah serapah pada Andre, kedua bodyguard dan detektif yang di sewa nya.


Tadi nya Reynald berniat mencari ke seluruh area Rumah Sakit jika tidak menemukan Clara di Poli Gigi. Ia yakin Clara berada di sana namun sial nya orang-orang yang bersama nya saat ini justru membawa paksa dirinya begitu saja keluar dari Rumah Sakit Melrose.


Aura mencekam sangat jelas terasa di dalam mobil. Namun hanya Andre yang mampu bersikap santai. Ia sudah terbiasa menghadapi Reynald yang seperti ini. Apa jadi nya jika dia tidak segera membawa Reynald pergi? Pasti saat ini desas desus tentang Reynald Sang CEO yang terkenal cool dan berkharisma akan menjadi bahan perbincangan publik.


Andre sangat menjaga privasi yang di bangun sendiri oleh Reynald walau terkadang Reynald kadang tidak sadar kalau tingkah nya yang frustasi dan arogan ketika mencari Clara bisa menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.


"Kau ingat janji mu kan?". Ucap Andre seraya melihat sekilas pada Reynald.


"Apa?". Reynald bertanya ketus.


"Haruskah aku laporkan semua ini pada Ayah mu sekarang?".


Bugghh!


Reynald meninju headrest kursi di depan nya hingga membuat kepala seorang bodyguard yang duduk di kursi tersebut terpental ke depan.


"Sial! Aku tau! Aku tau! Tidak perlu kau ingatkan! Kenapa semua orang mengancam ku dengan Ayah ku hah?". Maki Reynald dengan geram.


"Karena hanya Ayah mu yang bisa menghentikan tingkah konyol mu ini. Kau bisa merusak reputasi mu sendiri jika di biarkan seperti ini". Jelas Andre dengan sabar.


"Aku tidak tau bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang ku cintai. Aku belum pernah merasakan nya dan semoga tidak pernah ku rasakan. Bukan nya aku tidak empati kepada mu. Tapi sudah cukup kau membuang-buang waktu! Kalau Clara di takdirkan untuk mu, dia akan kembali membawa seribu alasan kepada mu!". Lanjut Andre menatap pada Reynald yang bersedekap dada.


Reynald hanya diam membisu menatap ke arah luar melalui jendela mobil nya.


Andre menepuk bahu teman semasa kecil sekaligus bos nya itu. "Mulai saat ini, jalani kehidupan mu yang baru tanpa Clara. Aku yakin kau bisa!".Ujar Andre tersenyum tipis.


Jakarta, Tiga jam kemudian.


Penthouse Reynald.

__ADS_1


Ting.. Tong..


Ting.. Tong..


Terdengar bel penthouse berbunyi lalu seseorang memasukkan sandi di smart lock pintu masuk penthouse Reynald.


Seseorang itu adalah Renata yang sengaja datang untuk melihat kondisi sepupu nya. Ia sudah di beritahu oleh Andre bahwa mereka gagal menemukan Clara. Walau Renata tidak begitu suka jika Reynald menjalin hubungan dengan Clara dan memilih tidak peduli, namun Renata tetap mengkhawatirkan keadaan Reynald saat ini.


Renata mengedarkan pandangan nya ke segala arah. Ia memasuki satu per satu ruangan di dalam penthouse dua lantai tersebut. Di lantai dasar Ia tidak menemukan Reynald. Lalu Renata pun segera menaki tangga menuju ke lantai dua.


Renata membuka ruang kerja dan kosong tidak ada siapapun. Ia membuka ruang baca sekaligus perpustakaan mini milik Reynald, juga nihil tak terlihat batang hidung sepupu nya. Renata menatap ke arah pintu terakhir yang belum Ia buka yaitu kamar pribadi Reynald.


Dengan pelan Renata membuka pintu dan mengedarkan pandangan nya ke kamar yang bernuansa abu putih. Sangat maskulin. Renata menganga seketika ketika Ia melihat betapa berantakan nya kamar tersebut. Baju-baju berserakan di atas kasur, di lantai. Hingga beberapa koper pun tergeletak begitu saja di lantai. Renata melangkah pelan-pelan lalu Ia berhenti ketika melihat banyak sekali pigura foto yang pecah di lantai. Renata berjongkok dan mengambil sebuah foto Reynald dan Clara yang tersenyum manis berpelukan. Ia lalu mengedarkan pandangan nya ke beberapa foto lain nya. Semuanya adalah foto Reynald dan Clara.


"Kau datang rupanya". Ujar Reynald yang sedari tadi berdiri menenangkan diri di balkon penthouse.


Renata mendongakkan kepala dan segera berdiri.


Reynald mengedikkan bahu. "Apa aku terlihat baik saat ini?". Reynald balik bertanya.


"Jika kau datang hanya untuk menegaskan janji ku, kau tidak perlu takut. Aku selalu menepati janji ku". Lanjut Reynald.


Renata menggelengkan kepala pelan. "Aku kemari hanya ingin melihat keadaan mu. Andre sudah memberitahu semua padaku tadi".


Reynald tersenyum miring. 'Ingin melihat keadaan ku yang menyedihkan?".


"Aisshh kau ini menyebalkan sekali! Aku benar-benar kuatir pada mu!". Ucap Renata.


Reynald mengibaskan tangan nya dan segera duduk di sofa. "Tenang saja. Aku masih hidup. Aku sempat berpikir ingin loncat dari balkon namun aku sudah merinding duluan melihat ketinggian nya".


Renata meraih sebuah bantal dari atas kasur dan melemparnya ke arah Reynald. "Kau gila!". Umpat Renata.

__ADS_1


Reynald tertawa terbahak-bahak melihat kekesalan Renata.


"Selagi kau di sini, bantu aku untuk merapihkan kekacauan ini semua". Ujar Reynald.


Renata melotot. "Apa? Kenapa harus aku?!".


"Karena kau berada di sini". Ujar Reynald lugas.


"Kau bisa hubungi cleaning service yang selalu membersihkan penthouse ini". Balas Renata.


Reynald diam sejenak dan menatap Renata. "Ini semua barang-barang pribadi Clara yang Ia taruh di wardrobe. Selama aku pergi, wardrobe selalu aku kunci hingga cleaning service pun tidak pernah memasuki ruangan itu. Jika aku menghubungi nya saat ini dan melihat semua ini, menurutmu apa yang akan terjadi?".


"Kau jangan pura-pura polos dan suci. Kau tinggal beri dia uang tutup mulut seperti yang biasa yang kau lakukan pada banyak orang". Renata memutar bola mata nya kesal.


"Kali ini aku tidak mau menyogok nya. Sudah jangan banyak bicara. Bantu aku!". Ujar Reynald seraya beranjak berdiri dari sofa.


"Tapi ini banyak sekali Rey!". Protes Renata.


"Kenapa wanita itu bahkan sudah pergi pun masih saja merepotkan orang!". Lanjut Renata masih mengomel namun tangan nya mulai mengambil satu per satu foto-foto Reynald dan Clara yang berserakan.


"Mau di kemanakan foto-foto ini?!". Tanya Renata dengan nada sedikit tinggi.


"Terserah kau. Kau robek menjadi bagian-bagian kecil atau langsung bakar saja". Ucap Reynald yang sibuk memasukkan baju-baju Clara ke dalam koper.


Renata termenung sejenak menatap lembaran foto di tangan nya lalu menatap ke arah Reynald. "Kau yakin?".


Reynald berhenti dari aktifitas nya dan menatap Renata seraya menghela napas pelan. "Apa kah aku punya pilihan lain?".


"Yang aku lakukan sekarang adalah membuang segala barang kenangan ku dan Clara. Lalu setelah ini tugas ku selanjutnya adalah mengubur kenangan ku dan Clara dalam pikiran ku". Lanjut Reynald seraya tersenyum.


••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••••

__ADS_1


Like, komen dan tambahkan ke favorit yaa! 😘🙏


__ADS_2