Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 22


__ADS_3

"Pergi lah keringkan tubuh mu.. Apa kamu bawa baju ganti?". Tanya Anggi seraya menyerahkan sebuah handuk bersih pada Reynald.


Reynald mengangguk. "Ada di mobil ku. Sebentar aku ambil". Reynald beranjak dari ruang tamu menuju garasi.


Rintik kecil masih terasa di kulit nya. Kini pria tampan itu tengah berada di rumah mungil Anggi. Ia memutuskan mengantar gadis itu pulang di banding membawa nya ke penthouse walau tentu saja Ia perlu menempuh kemacetan lalu lintas yang luar biasa padat di saat hujan yang mengguyur sangat deras.


Reynald mengambil sebuah polo shirt berwarna hitam dan celana jeans selutut dari dalam tas yang selalu Ia taruh di bagasi mobil.


Reynald pun melangkah masuk kembali ke dalam rumah Anggi dan menuju kamar mandi yang hanya satu-satu nya di rumah itu.


Tak berapa lama kemudian Reynald pun sudah berganti dengan pakaian kering dan memasukkan pakaian basah nya ke dalam plastik.


Anggi memberikan secangkir teh hangat pada pria itu seraya duduk di sofa kecil memanjang yang hanya khusus untuk dua orang. Mau tak mau mereka pun duduk bersebelahan walau tetap menjaga jarak.


"Ehm.. Terima kasih sudah mengantarku ke rumah". Ucap Anggi seraya tersenyum tipis.


"Tak masalah. Aku hanya takut kau di culik". Ujar Reynald asal.


"Hehehe.. Siapa pula yang mau menculik ku? Tidak ada untung nya. Aku tak punya apapun yang berharga hehe". Anggi terkekeh hingga menampakkan barisan gigi nya yang rapih.


Reynald diam tak menanggapi dan hanya menatap Anggi dengan intens. Tatapan pria itu tak terbaca sedikitpun hingga membuat Anggi salah tingkah.


"Mmm.. Apa ada sesuatu di wajah ku?". Ucap Anggi sambil meraba wajah nya.


Reynald memalingkan wajah nya dan meraih secangkir teh hangat yang di buat oleh Anggi tadi. Ia menyeruput nya dengan pelan.


"Kenapa tadi kau berjongkok di pinggir jalan seperti itu? Di tengah hujan deras pula.. Apa yang ada di pikiran mu, huh?". Tanya Reynald akhir nya mengeluarkan uneg-uneg yang dari tadi di tahan.


Anggi menggaruk tengkuk nya gugup. Ia tidak tau harus menjawab apa.


"Apa kau dari rumah orang tua mu?".


"Kenapa kau tidak di antar oleh supir atau seseorang dari rumah itu?".


"Kalau bukan aku yang melihat mu, bagaimana jadi nya nasib mu? Lain kali kau harus lebih memperhatikan diri mu sendiri".


Reynald terus saja berbicara hingga membuat Anggi hanya bisa diam membisu. Gadis itu berpikir keras alasan apa yang masuk akal untuk di sampaikan pada pria di hadapan nya saat ini.

__ADS_1


"Itu.... Aku...."


"Dan....kenapa kau menangis di tengah hujan deras seperti itu..." Ujar Reynald pelan namun masih bisa terdengar oleh Anggi.


"Kata siapa aku menangis?". Tanya Anggi berpura-pura.


Reynald menoleh pada Anggi. "Saat aku menarik mu berdiri dan menatap mu, siapa pun akan tau kalau kau sedang menangis. Mata mu berwarna merah darah tadi hehe". Reynald berusaha bercanda agar suasana cukup santai di antara mereka.


"Aku tidak menangis!". Ucap Anggi memberengut.


Reynald tersenyum kecil dan mengibaskan tangan nya.


"Ah.. Sudah lah! Selagi aku di sini, bagaimana kalau aku menjadi mentor mu saja?Aku ingin lihat perkembangan skripsi mu sekarang". Ujar Reynald mengalihkan topik percakapan.


"Benarkah?".


"Kalau begitu tunggu sebentar!". Ucap Anggi dengan nada sumringah dan segera bangkit menuju kamar.


Tak lama Anggi pun keluar kamar dengan membawa beberapa modul dan hasil kuisioner yang Ia lakukan sesuai dengan arahan Reynald tempo hari.


"Lihat lah".


"Apa dosen pembimbing mu sudah meninjau hasil revisi terakhir ini?". Ucap Reynald seraya mengangkat sebuah tumpukan kertas yang tebal di tangan nya.


"Belum. Jadwal nya besok aku bertemu dengan dosen pembimbing". Ucap Anggi.


Reynald terdiam sebentar nampak berpikir.


"Kalau begitu kau kerjakan ulang hasil revisi mu sekarang sebelum di serahkan pada dosen pembimbing besok".Ucap Reynald akhirnya.


Mendengar itu Anggi pun melongo. Raut wajah nya pucat pasi. Yang benar saja! Umpat nya dalam hati.


Reynald menelisik gestur keberatan dari gadis di hadapan nya saat ini.


"Kenapa? Kau tidak mau?". Tanya Reynald.


"Bukan begitu.. Tapi kenapa harus di kerjakan ulang lagi? Aku yakin itu sudah sempurna". Ucap Anggi.

__ADS_1


Reynald melempar tumpukan kertas itu ke atas meja dan menatap Anggi dengan tajam.


"Apa kau merasa aku mempersulit mu?".


Anggi menunduk takut tak mampu menjawab. Dalam sekejap suasana terasa mencekam untuk dirinya.


"Aku tau kau sudah memperbaiki itu, tapi saat aku melihat ada ketidak jelasan dalam penyampaian mu dan masih perlu di perdalam lagi, kau berpikir aku mempersulit mu".


"Aku memberikan saran dan kritik yang membangun untukmu. Namun sepertinya kritik dari ku kau anggap hinaan dan saran dari ku kau anggap upaya ku untuk mempersulit mu".


"Apa kau berpikir skripsi itu terserah pada mu saja? Tidak peduli itu bagus atau tidak, tidak peduli jelas atau tidak, tidak peduli apapun dan tugas dosen hanya sekedar memberi tanda tangan saja?".


"Kalau kau tidak bisa menyelaraskan cara mu dengan cara ku dan merasa keberatan dengan saran ku. Lebih baik aku akhiri di sini saja bimbingan ini".


Reynald berbicara dengan tatapan tajam dan tangan bersedekap di dada. Sungguh dalam hati sebenarnya pria itu tak tega berkata sedemikian rupa pada gadis yang di anggap nya menyedihkan. Namun Reynald ingin membantu sepenuh hati. Entah kenapa.


"Bagaimana? Aku tidak ingin memiliki anak didik yang tidak bisa berjalan beriringan dengan ku".


Anggi menggeleng cepat. "Tidak.. Jangan.. Aku membutuhkan mu untuk menjadi mentor ku. Aku harus menyelesaikan skripsi ku dalam 3 bulan". Ucap Anggi dengan raut wajah cemas.


Reynald tersenyum tipis. "Aku jamin jika kau mengikuti seluruh saran ku dengan baik, bulan depan kau sudah bisa sidang".


Reynald lalu menepuk tangan nya sekali dan menatap pada Anggi. "Kalau begitu cepat lah kau kerjakan! Tunggu apa lagi?".


Anggi mengerutkan kening tak mengerti. "Apa kamu akan tetap di sini selama aku merevisi nya lagi?".


Reynald mengangguk. "Tentu saja. Aku juga tidak punya kegiatan apapun di penthouse. Jadi lebih baik aku gunakan waktu dengan bermanfaat untuk membimbing mu langsung kan?".


Mendengar itu raut wajah Anggi berbinar. "Terima kasih!". Ucap Anggi sambil tersenyum lebar.


Namun tiba-tiba Reynald mengangkat tangan nya ke udara.


"Tapi sebelum kita mulai......."


Reynald menjeda ucapan nya membuat Anggi mengerutkan kening.


"Tiidak ada kah tukang nasi goreng yang lewat di perumahan ini? Perut ku lapar sekali!".

__ADS_1


•••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••••••


__ADS_2