Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 58


__ADS_3

"Rey, Ayo bangun". Ujar Clara seraya membuka gorden.


Sinar matahari pagi langsung saja menyorot ke arah kasur dan membuat Reynald yang sedang terlelap mengerjapkan mata karena silau.


"Jam berapa sekarang?". Tanya Reynald dengan suara serak.


"Sudah jam 9 pagi. Ayo cuci muka dulu dan sarapan bersama".


"Astaga benarkah?". Reynald langsung beranjak dari kasur dan melangkah menuju wardrobe.


Clara menautkan kening melihat Reynald yang terburu-buru. Sudah 2 malam sejak hari pernikahan mereka, Reynald dan Clara justru melewati malam dengan tidur begitu saja. Tidak ada ritual pasangan suami istri yang mereka lakukan sejak mereka resmi menikah.


Malam setelah pernikahan berlangsung, Clara berpikir mungkin karena Reynald kelelahan karena Ia tahu bahwa pria itu tidak tidur semalaman. Clara tersenyum geli mengingat bahwa Reynald mungkin dilanda kegugupan akut sebelum menikahi dirinya hingga tak bisa tertidur.


Namun tadi malam, mereka lagi-lagi melalui malam begitu saja. Clara yang sudah memakai sebuah dress seksi dan menantang, tidak di hiraukannya oleh Reynald dan pria itu malah tidur di kamar Jessy, putrinya dan baru pindah ke dalam kamar utama entah pukul berapa Clara tak mengetahuinya.


Tak lama kemudian, Reynald keluar dari kamar mandi dengan tubuhnya yang segar. Ia menggosok-gosokkan rambutnya yang basah dengan handuk. Clara yang sejak tadi duduk di tepi kasur lantas berdiri dan mengekori Reynald menuju wardrobe.


Ia melihat Reynald sedang memilih kemeja dan celana lengkap dengan jas-nya. Clara mendekat dan berhenti tepat di sisi pria itu.


"Kau mau ke kantor?". Tanya Clara seraya mengerutkan kening.


Reynald mengangguk. "Ya. Pekerjaanku menumpuk karena dua hari ku abaikan". Ujarnya seraya membuka sebuah laci kaca yang berisi dasi dengan berbagai warna, bahan dan motif.


Clara menyentuh lengan Reynald pelan membuat pria itu menoleh ke arahnya.


"Kita baru saja menikah, Rey. Apa kata orang jika melihat kau sudah sibuk bekerja lagi?".


Reynald menghela napasnya pelan dan menatap Clara tepat ke dalam manik matanya.


"Apa kau lupa jika orang lain di luar sana menganggap kita berdua ini sudah melalui 1 tahun pernikahan?".


Clara terdiam menyadari kebodohannya. Ia tak mengingat hal itu karena pada kenyatannya mereka tentu saja baru menikah dua hari yang lalu.


"Ah ya. Aku lupa dengan hal itu". Clara tersenyum.


"Tapi, apa kau tidak berniat untuk melakukan bulan madu? Orang lain pasti hanya akan menganggap kita berdua sedang berlibur biasa saja. Kita bisa pergi kemanapun sebelum aku aktif lagi di dunia hiburan, Rey".


Reynald diam sejenak terlihat berpikir.


Tiba-tiba tangan Clara menyentuh wajah Reynald. Clara perlahan tapi pasti mendekatkan wajahnya ke arah Reynald hingga Ia berhasil mengecup bibir pria itu dengan lembut.

__ADS_1


Reynald yang bergeming tentu di manfaatkan oleh Clara. Ia melingkarkan kedua tangannya di belakang leher Reynald dan *****4* bibir pria itu. Clara menarik kecil bibir bawah Reynald berusaha memancing pria itu hingga akhirnya tak lama Reynald pun menarik pinggang Clara lebih mendekat ke tubuhnya.


Clara bersorak girang dalam hati. Keduanya berciuman dengan lembut hingga Clara melepas tautan bibir keduanya dan sedikit memiringkan wajahnya untuk mengecup leher Reynald berusaha terus membangkitkan gairah pria itu di pagi hari.


Namun belum sempat bibir Clara mendarat di leher Reynald, Reynald segera mundur selangkah menjauh. Clara sontak saja menatap Reynald dengan pandangan penuh tanda tanya dan kekecewaan.


"Kenapa, Rey?". Tanya Clara.


"Apa kau tidak ingin melakukannya?".


Reynald mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menggelengkan kepalanya pelan dan menatap Clara dengan pandangan yang rumit.


"Aku terburu-buru, Clara. Maafkan aku". Ucap Reynald mengecup dahi istrinya dan berlalu begitu saja keluar dari kamar.


•••


Sementara itu di sisi lain, Anggi sedang sibuk mengepak seluruh keperluannya. Dua hari waktu yang Ia butuhkan untuk merapihkan seisi rumahnya dan menutup semua perabotan dengan kain. Untung saja tidak banyak barang yang Ia miliki dalam rumah tersebut hingga Ia mampu melakukannya seorang diri.


"Ah.. Akhirnya selesai!". Anggi menepuk pelan koper terakhir yang akan Ia bawa pergi.


Anggi lalu berjalan keluar kamar untuk mengambil air minum hingga sesudahnya Ia mengangkat galon air tersebut dan segera membuang isinya yang masih tersisa seperempat ke dalam washtafel. Ia membuka kulkas yang sudah kosong dan Ia cabut listriknya. Anggi pun lantas membuka lemari tempat Ia menyimpan stok makanan dan tak terlihat ada satupun makanan kering karena Ia sudah membagikannya pada tetangga sekalian berpamitan.


Tiba-tiba sebuah ketukan terdengar di pintu, Anggi segera melangkah ke ruang tamu untuk membuka pintu dan tak lama nampaklah Hendra Wibrata, sang ayah yang bertamu.


Hendra pun segera melangkah masuk dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah.


"Sudah rapi semuanya?". Tanya Hendra.


Anggi mengangguk kecil. "Sudah. Semuanya sudah aman jika di tinggalkan. Nanti kunci rumah ini kukembalikan pada Ayah".


Hendra melangkah menuju sofa yang sudah di tutupi oleh kain dan mendudukkan dirinya di sana.


"Tidak perlu. Aku membeli rumah ini memang untukmu sejak awal". Ujar Hendra.


Hendra lantas memberikan sebuah map cokelat pada Anggi yang sudah duduk di dekatnya.


"Ini keperluanmu".


Anggi membuka map cokelat itu dan melihat sebuah paspor juga visa beserta tiket pesawat yang Ia perlukan untuk meninggalkan negara ini.


Anggi menatap Hendra dengan mata berkaca-kaca. Ia terharu karena sang ayah benar-benar membantunya untuk pergi.

__ADS_1


"Terima kasih, Ayah. Aku akan mengganti semua ini sesuai janjiku".


Hendra berdecih. "Apa kau pikir aku miskin hingga kau perlu menggantinya?".


"Tidak... Bukan begitu..."


"Maaf..." Lirih Anggi menundukkan kepala.


"Tegakkan kepalamu!". Ucap Hendra dengan nada 1 oktaf lebih tinggi hingga membuat Anggi terkejut.


"Bagaimana bisa kau hidup di negeri asing jika sikapmu lemah seperti ini? Bagaimana bisa kau meraih segala hal yang kau impikan jika sedikit-sedikit saja kau menangis karena terharu?"


"Kau mirip dengan ibumu! Lemah!".


Anggi menatap Hendra dengan sedikit takut. Pria paruh baya itu menatap tajam ke arah Anggi.


"Kau memang hadir karena keegoisanku dan ibumu di masa lalu, hingga membuat istri dan putriku yang lainnya marah besar padaku".


"Tapi kau tetap darah dagingku. Aku tetap memberikanmu pendidikan agar kau bisa menjalani hidup lebih baik walau tanpa aku di sisimu. Itu tujuanku. Aku pun takut jika kau mengikuti jejak ibumu dan hidup dalam penderitaan karena memilih cintanya".


"Aku tak bisa memilih pada saat itu. Namun mendengar kau mengalami hal yang sama, aku cukup lega karena kau maupun CEO muda itu telah memilih jalan yang benar".


Anggi sontak saja menangis mendengar penuturan Hendra. Setidaknya sebelum Ia pergi, Ia bisa sedikit lega bisa mengobrol lebih banyak dengan sang ayah.


Hendra lalu memberikan sebuah map kecil berwarna cokelat yang terlihat tebal pada Anggi.


"Ini uang cash untukmu. Aku tidak bisa memberikan kartu karena istriku bisa melacaknya. Tapi total uang ini sangat besar untuk biaya 6 bulan pertamamu di sana. Kau bisa mampir ke bank untuk menyetorkannya ke dalam rekeningmu sebelum ke bandara".


Anggi menatap nanar pada map cokelat yang berisi uang tunai itu. Dengan tangan gemetar Ia menerimanya.


"Terima kasih, Ayah. Terima kasih". Ujar Anggi terisak.


Ia sama sekali tak berpikir bagaimana keadaannya di negara orang jika hanya mengandalkan uang tabungannya yang mungkin hanya cukup untuk 2 minggu di sana.


Namun dengan bantuan Hendra yang tidak Ia sangka, setidaknya Ia bisa lebih leluasa saat mencari pekerjaan di sana yang tentu saja tidak mungkin akan di dapatkannya dalam hitungan hari.


"Manfaatkanlah itu dengan baik. Dan raih mimpimu di sana. Aku akan menunggu hingga namamu terdengar ke seluruh penjuru negeri dan membanggakanku". Ucap Hendra.


"Aku tak bisa mengantarmu ke bandara". Ucap Hendra lagi seraya beranjak dari sofa dan pergi begjtu saja tanpa menoleh pada Anggi.


Bila biasanya Anggi menatap punggung sang ayah dengan tatapan nanar terbalut kesedihan, namun kali ini Anggi menatap punggung sang ayah dengan tatapan bahagia dengan senyuman yang terukir di bibir.

__ADS_1


•••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••


__ADS_2