
"Aku salut denganmu. Kau mampu mengembangkan Wasim Bank ini menjadi perusahaan yang besar". Ujar Reynald ketika Ia sudah selesai berkeliling di kantor utama milik Rashaad.
Rashaad berjalan menuju sofa dan mendudukkan dirinya sendiri hingga di ikuti oleh Reynald. Keduanya saling duduk berhadapan. Rashaad membuka sebuah toples kecil yang berada di atas meja marmer di tengah sofa. Ia mengambil sebuah cokelat kecil yang terbungkus seperti permen.
"Kau mau? Ambilah". Tawar Rashaad yang di tanggapi oleh sebuah gelengan kepala dari Reynald.
"Tidak. Terima kasih". Tolak Reynald halus.
Rashaad menghela napasnya perlahan dan menatap Reynald dengan serius.
"Perusahaan ku ini masih di bawah wewenang perusahaan induk yaitu Rajil Sahir Group. Itu artinya masih ada campur tangan dari kedua orang tuaku. Sama saja tak ada yang hebat hehehe".
Reynald mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang kerja Rashaad.
"Tapi tetap saja kepemimpinan mu dalam perusahaan tak di ragukan lagi".
Rashaad terkekeh pelan. "Bukankah sama saja denganmu? Kau juga hebat!".
"Hmm Ya.. Ya.."
"Tapi sampai kapan kita akan saling melempar pujian seperti ini? Sampai salah satu dari kita memiliki rasa kagum berlebihan?". Tanya Reynald melemparkan sebuah lelucon.
Rashaad tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya. "Hahahahha.. Di balik ekspresi dingin mu di wajahmu, ternyata kau punya selera humor yang baik!".
"Banyak yang bilang seperti itu. Tapi gairah humorku sudah menghilang sejak 5 tahun yang lalu". Ujar Reynald pelan membuang tatapannya ke sembarang arah.
Rashaad menatap Reynald dengan seksama. Sangat dalam hingga menyadari perubahan raut wajah Reynald yang sekejap menjadi murung. Rashaad lalu menyunggingkan sebuah senyuman kecil di bibirnya.
"That's life. Segala hal terkadang tidak berjalan sesuai dengan yang kita rencanakan, bukan?".
Reynald menatap Rashaad seraya bersandar ke sofa. "Ya. Itulah kehidupan".
"Baiklah kita ganti saja topiknya!" Ucap Rashaad seraya beranjak berdiri dari sofa menuju ke sebuah brankas besar yang terletak di sudut ruangan.
Rashaad lantas memasukkan sebuah sandi dan memutar brankas tersebut hingga terbuka. Ia mengambil sebuah file cokelat dan menutup kembali brankas.
Rashaad melangkah kembali menuju sofa dan memberikan file yang tadi di ambilnya pada Reynald.
"Kau bacalah itu. Sekretarisku sudah membuat founders agreement". Ujar Rashaad.
__ADS_1
Reynald mengerutkan kening menatap Rashaad. "Founders Agreement? Apa ini artinya kau sudah fix untuk bekerja sama denganku?"
"Tentu saja! Kita sudah satu visi dan misi. Itu adalah hal utama untuk rekan bisnis kan? Aku juga sangat suka caramu dalam menjalankan perusahaan. Tapi tentu saja ada poin-poin yang harus kita patuhi untuk kebaikan bersama kan?". Ujar Rashaad.
Reynald membaca sekilas isi berkas yang di berikan oleh Rashaad dan menaruhnya kembali ke atas meja.
"Kau benar. Bahkan untuk keluarga pun bisnis tetap bisnis. Kau membuat founders agreement ini untuk mengurangi risiko di kemudian hari. Aku mengerti. Tentu saja kita harus melakukannya".
"Siapa yang akan membuat perjanjian tertulis? Kau atau aku? Tentu saja kita tidak bisa percaya hanya dengan perjanjian lisan walau kedua perusahaan kita sudah dipercaya dengan kredibilitas baik kan? Perjanjian tertulis dengan dasar hukum." Reynald menatap Rashaad dengan serius menunggu jawaban pria itu.
"Kurasa nanti kita rundingkan itu lagi dengan tim legal kedua perusahaan saja. Nanti kita tentukan waktunya agar mereka bisa bertemu secara langsung".
Reynad mengangguk setuju. "Baiklah kalau begitu. Kurasa tak ada lagi yang perlu kita perbicangkan".
Reynald beranjak dari sofanya dan merapihkan jasnya. "Kalau begitu aku permisi".
"Hey kau tidak mau makan siang bersama? Sebentar lagi tunanganku akan datang kemari. Telfon istrimu untuk menyusul kesini juga dan kita bisa pergi makan siang". Sahut Rashaad seraya berdiri berhadapan dengan Reynald.
Raut wajah Reynald seketika itu juga mengeras tatkala mendengar bahwa Anggi akan datang. Hal itu tak luput dari pengamatan Rashaad hingga pria itu terlihat bingung.
"Apa kau sedang terburu-buru?". Tanya Rashaad.
"Ah.. Benar. Aku harus kembali pulang ke Jakarta sore ini"
"Aku harus melakukan perjalanan bisnis lagi besok. Aku pun tidak tenang meninggalkan putriku terlalu lama".
Rashaad mengangguk paham seraya bibirnya mengulas senyum. "Baiklah tidak apa. Aku paham. Sayang sekali kau dan istrimu tidak bisa makan bersama dengan tunanganku siang ini".
Reynald tersenyum kecil. "Sampaikan saja salamku untuknya".
Rashaad mengangguk dan mengulurkan tangannya ke arah Reynald. Keduanya pun berjabat tangan dengan erat.
"Aku tunggu kau di jakarta dengan tim legalmu. Kabari saja kapan kau akan datang pada asistenku". Sahut Reynald sembari menatap Rashaad yang di segera di angguki oleh pria itu.
Di sisi lain....
Dua wanita dengan penampilan yang menawan dan berparas cantik terlihat saling menatap satu sama lain. Keduanya kini sedang berada di sebuah resto mewah yang terletak di sekitar Corniche Beach.
"Apa ada suatu hal hingga kamu memintaku bertemu di sini?". Tanya Anggi.
__ADS_1
Seorang wanita yang tak lain adalah Clara pun menyunggingkan senyum. "Tentu saja ada".
"Apa?"
"Sampai kapan kau mau pura-pura di depanku dan tunanganmu?" Tanya Clara.
Anggi mengerutkan kening kebingungan.
"Maksudmu apa sebenarnya?".
Clara mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap Anggi dengan tajam.
"Sampai kapan kau mau berpura-pura bahwa kau dan Reynald tidak saling mengenal?".
Sontak saja Anggi terkejut mendengar penuturan Clara. Namun dengan cepat Ia merubah kembali raut wajahnya dengan tenang dan melemparkan sebuah senyuman tipis pada Clara.
"Ah.. Kamu sudah tahu..." Gumam Anggi.
Anggi menatap Clara tepat ke dalam manik matanya. "Lalu apa masalahnya? Aku maupun Reynald hanya bersikap biasa saja".
Clara tersenyum miring. "Biasa saja? Sampai kau datang malam-malam ke penthouse ketika aku tidak ada di sana. Apa itu wajar?".
"Aku minta maaf untuk hal itu. Namun putrimu sama sekali tidak mengizinkan aku untuk pulang dan berteriak di mall. Jika kau melihatnya, maka aku yakin kau pun akan memintaku untuk ikut ke penthouse. Lagipula tidak terjadi apa-apa malam itu".
"Tapi fakta mengenai kau dan Reynald memiliki masa lalu bersama tidak akan hilang. Dan itu sangat menggangguku!" Ujar Clara penuh penekanan.
Anggi menautkan keningnya sambil melihat Clara dengan tatapan bingung.
"Apa aku mengganggumu? Tidak kan? Apa aku mengganggu suamimu? Kurasa juga tidak".
"Aku dan Reynald memiliki kehidupan masing-masing saat ini. Benar kami pernah bersama. Tapi itu di masa lalu. Sudah 5 tahun berlalu" Ucap Anggi dengan tenang.
"Tapi suamiku tidak pernah melupakanmu! Setelah aku tahu penyebabnya adalah karena kau, wanita yang hanya sebentar mengisi hari-harinya. Aku sangat tidak terima!".
"Itu masalahmu. Bukan masalahku. Kurasa ini sudah masuk ke ranah pernikahanmu dengan Reynald di mana aku tidak bisa memasukinya. Apa kamu berharap aku membujuk Reynald untuk melupakanku? Itu sudah kulakukan. Dan kamu tahu pula jika hati seseorang tidak bisa kamu setir seenakmu".
"Jika kamu tidak terima bahwa wanita itu adalah aku, lantas apa yang harus ku lakukan? Aku sudah pergi sejauh mungkin saat kamu kembali padanya. Kami tidak saling kontak bertahun-tahun. Namun ternyata aku di pertemukan kembali dengannya tanpa sengaja, apa itu juga salahku?".
Anggi lalu beranjak berdiri dan menunduk menatap Clara.
__ADS_1
"Kurasa obrolan kita sampai di sini saja. Aku permisi".
••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••••