Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 46


__ADS_3

"Kau....."


Reynald mematung saat melihat seseorang yang kini berada di hadapannya. Lidahnya kelu tak mampu berucap apapun. Efek kejut dari orang di hadapannya sukses membuat dirinya membeku seketika.


"Rey...."


Suara ini........


Suara yang sudah 10 bulan tidak Ia dengar. Reynald menatap wajah wanita itu yang tidak banyak perbedaan sejak terakhir mereka bertemu. Reynald menepuk pipinya pelan berusaha menyadarkan dirinya bahwa ini bukan mimpi. Ia mengingat beberapa bulan lalu mengenai mimpinya. Ia takut jika ini memang sama seperti mimpi waktu itu namun tidak....... Reynald sadar ini nyata dan Clara benar-benar ada di hadapannya.


"Boleh aku masuk?".


Reynald menggeser tubuhnya ke samping memberikan Clara ruang untuk melangkah masuk ke dalam.


Namun belum hilang efek kejut karena kehadiran Clara yang tiba-tiba, Reynald kembali di kejutkan karena Clara mendorong sebuah stroller yang sejak tadi berada di belakang pintu hingga tak terjangkau oleh penglihatan Reynald.


"Tunggu". Ucap Reynald.


"Kenapa kau tiba-tiba membawa bayi ke sini?".


Clara tersenyum manis pada Reynald. "Aku ceritakan di dalam ya?". Ucapnya seraya melangkah masuk.


Reynald pun menutup pintu penthouse dan menatap punggung Clara dengan sejuta pertanyaan yang muncul di benaknya.


Reynald lalu duduk di sofa yang bersebrangan dengan Clara. Ia berusaha menjaga jarak pada wanita dari masa lalunya itu. Reynald menatap tajam ke arah Clara namun wanita itu tidak bergeming sedikitpun.


Clara yang sudah paham karakter Reynald tak pernah merasa terintimidasi oleh sikap pria itu.


"Kau dingin sekali.. Apa kau tidak merindukanku?". Tanya Clara seraya tersenyum.


"Rindu?". Tanya Reynald dan sedetik kemudian Ia menyeringai.


"Apa yang kau harapkan dari seorang pria yang 10 bulan kau tinggal begitu saja? Kau pasti tahu jika tidak ada rindu lagi yang tersisa".


Terdengar helaan napas dari Clara. Wanita itu melirik sesosok bayi yang sedang tertidur lelap di stroller.


"Rey.. Aku minta maaf padamu".


"Aku tahu aku salah sudah pergi begitu saja dan menghilang tanpa kabar. Tapi aku punya alasan, Rey.."


Reynald berdecih. "Alasan?".


"Alasan apa yang mendasari perbuatanmu itu padaku, hah?".

__ADS_1


Clara menatap sendu ke arah Reynald. Wanita itu terlihat menarik napas dan menghembuskannya berulang kali sebelum menjelaskan segala hal pada Reynald.


"Saat itu aku hamil..."


Reynald terkejut bukan main mendengarnya.


"Hamil?!". Ucap Reynald dengan nada 1 oktaf lebih tinggi.


Clara mengangguk pelan. "Ya. Aku hamil dan aku bingung harus bagaimana saat itu".


"Siapa pria yang menghamilimu?!".


Clara menatap tepat ke manik mata Reynald. "Kau..."


"Kau tahu aku hanya berhubungan denganmu. Bagaimana bisa kau bertanya seperti itu, Rey?".


Lagi-lagi Reynald di buat terkejut. Jika saja jantungnya tidak kuat, mungkin Ia sudah pingsan kali ini.


"Apa kau berharap aku percaya?".


"Kau menghilang sudah 10 bulan lamanya dan tiba-tiba kau datang padaku membawa seorang bayi lalu mengatakan itu adalah bayiku? Sinetron macam apa yang sedang berusaha kau buat, Clara?". Cecar Reynald menatap tajam wanita itu.


"Demi Tuhan ini adalah bayimu, Rey!!! Aku tidak berbohong padamu!". Ucap Clara sedikit terisak.


"Lihatlah.. Dia putrimu, Rey. Putri kita..." Ucap Clara menoleh pada Reynald yang terdiam.


"Aku....."


"Maafkan aku...."


"Aku... Hiks...."


Clara berusaha berkata sesuatu namun Ia tak bisa membendung kesedihan sekaligus rasa bersalahnya pada Reynald.


"Saat aku tahu sedang hamil. Saat itu usia kandunganku baru 5 minggu. Pikiranku kalut.. Aku berpikir banyak hal.. Karirku.. Karirmu.. Masyarakat di luar sana. Akan terjadi kegemparan jika aku memberitahumu saat itu..."


"Lalu agensi ku tahu mengenai kehamilanku. Aku di tekan oleh mereka dan mereka bertanya siapa ayah dari anak yang ku kandung..."


"Aku memberitahu mereka dan akhirnya mereka memberiku pilihan, Rey..."


Clara beralih menatap Reynald yang masih terdiam. Aura dingin sangat terasa dari pria itu. Clara menghela napas pelan dan melanjutkan penjelasannya.


"Agensiku memberiku pilihan antara kau atau karirku di dunia hiburan. Aku terikat kontrak yang melarangku untuk menikah hingga tiga tahun ke depan dan jika publik tahu mengenai skandal ini. Aku dipastikan tidak akan bisa lagi tampil di dunia hiburan. Aku tahu karaktermu.. Kau pasti akan langsung menikahiku jika tahu aku hamil. Kau penting dalam hidupku, Rey.. Tapi karirku juga penting. Kau tahu kan?".

__ADS_1


"Maka dari itu agensiku mengatur segalanya dan membuatku vakum selama satu tahun".


"Kau gila.. Kau wanita gila!". Desis Reynald dengan tatapan menusuk pada Clara.


"Rey...." Clara berusaha menggenggam tangan Reynald namun dengan cepat Reynald berdiri menghindar dari wanita itu.


"Kau sudah membuat pilihan kan? Kau memilih karirmu daripada aku. Maka pergilah! Untuk apa kau datang kembali hah???". Umpat Reynald seraya menunjuk Clara.


Sontak saja Clara yang duduk di sofa langsung terduduk bersimpuh di lantai.


"Kumohon.. Maafkan aku, Rey... Aku minta maaf padamu". Clara berurai air mata sembari memegang dadanya.


"Aku pun melalui waktu yang sulit. Selama hamil aku sangat merindukanmu.. Aku ingin di temani olehmu dalam menjalani masa kehamilan namun kenyataannya aku harus menghadapinya sendirian. Setiap malam aku menangis ingin di peluk olehmu.. Hingga saat aku melahirkannya pun aku ingin melihatmu dan ditemani olehmu..."


Clara menangis dengan keras hingga meremas dadanya seakan di situlah rasa sakit yang teramat sangat berasal.


Reynald mengusap wajahnya kasar.


"Kau tahu, Clara... Kau membuat hidupku berantakan dengan keputusan sepihak darimu!".


"Kau..... Argh Sial!!!!!". Teriak Reynald frustasi.


Semua ini berada di luar pikirannya. Ia tak pernah menyangka akan terjadi hal seperti ini.


Reynald menghembuskan napasnya kasar. Ia menatap Clara yang masih bersimpuh di lantai dan tatapannya beralih pada bayi yang terlihat masih saja nyaman terlelap tanpa merasa terganggu dengan pertikaian antara Reynald dan Clara.


"Jika bayi ini memang benar anakku, kau tentu tidak akan keberatan jika aku mengambil tes DNA bukan?". Tanya Reynald.


Clara terlihat mengusap air matanya dan segera berdiri.


"Silakan.. Aku tidak keberatan jika kau mau melakukannya. Aku paham kenapa kau harus mengambil tes itu. Lakukanlah tes itu jika dari ucapanku saja tidak cukup untuk meyakinkanmu". Ucap Clara menatap Reynald dengan matanya yang sembab.


Reynald mengangguk tipis. "Baik. Besok kita segera melakukannya di rumah sakit pilihanku".


"Aku lelah. Kita lanjutkan saja besok". Ujar Reynald seraya melangkah pergi meninggalkan Clara.


"Rey...." Panggil Clara.


Reynald menoleh ke belakang menatap Clara.


"Boleh kan aku dan putri kita tidur di sini sekarang? Ini sudah sangat larut". Tanya Clara.


Reynald melirik stroller bayi dan mengangguk. "Kau bisa pakai kamar mana saja di lantai 1". Ucap Reynald dan segera berlalu begitu saja meninggalkan Clara.

__ADS_1


__ADS_2