Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 73


__ADS_3

Bagaimana jika aku bilang, aku ingin meminta waktumu sebentar saja malam ini. Apa kau bisa?".


Mendengar permintaan Reynald, Anggi pun membatin dalam hati.


Mengapa Ayah dan anak sama saja?


Anggi menghela napasnya dan menatap Reynald dengan sangat serius.


"Seharian ini waktuku hanya dengan kamu dan putrimu, lalu harus sebanyak apa lagi waktu yang harus aku berikan sampai kamu masih meminta waktuku lagi?".


Reynald menatap Anggi dengan lekat. Keduanya berdiri berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.


"Sebentar saja. Oke?"


Anggi menelisik raut wajah Reynald yang terlihat memohon padanya. Ia menghela napas kasar menyadari tak mampu menolak permintaan pria yang sedang menatapnya dengan sungguh-sungguh.


"Baiklah. Sebentar saja".


Sontak saja senyuman lebar terukir di wajah Reynald. Pria itu lantas mempersilakan Anggi untuk duduk di balkon penthousenya. Reynald tahu bahwa Anggi sangat menyukai pemandangan malam dan balkon penthousenya menyajikan salah satu pemandangan terbaik Ibu Kota dari ketinggian.


"Kau mau capuccino?".


Anggi mengangguk tipis menjawab tawaran Reynald. Pria itu pun dengan cepat melangkah menuju area pantry dan membuatkan dua cangkir capuccino untuk mereka berdua. Hingga beberapa saat kemudian Reynald kembali ke balkon dengan membawa capuccino buatannya.


"Hati-hati panas". Ujar Reynald seraya meletakkan cangkir capuccino milik Anggi di dekatnya.


Reynald pun segera duduk di sisi Anggi. Keduanya cukup lama terdiam tanpa ada percakapan apapun. Hanya menikmati pemandangan malam Ibu kota dan semilir angin yang sesekali menerpa tubuh mereka.


Reynald melirik Anggi diam-diam. Ia mengulas senyum tipis. "Anggi.." Panggil Reynald memecah keheningan yang cukup lama tercipta di antara mereka.


"Hmm". Anggi menyahut tanpa menoleh pada Reynald.


"Apa kau bahagia?"


Mendengar pertanyaan yany di lontarkan oleh Reynald lantas membuat Anggi menatap pria itu tepat ke dalam manik matanya.


"Apa kamu bahagia?"


Bukannya menjawab pertanyaan Reynald, Anggi justru membalikkan pertanyaan tersebut untuk pria itu.


"Kenapa kau malah menanyakan aku?"


Anggi mengedikkan bahunya. "Entahlah. Kurasa pertanyaan itu lebih tepat ditujukan untukmu daripada untukku"


Reynald terdiam sesaat.


"Apa aku terlihat tidak bahagia?"


"Tidak tahu. Aku tidak melihatmu sejak 5 tahun terakhir. Jadi aku tidak bisa menyimpulkan tentang itu" Ujar Anggi.


"Apa kamu hanya akan mengobrol hal remeh seperti ini denganku? Kalau begitu aku lebih baik pulang, Rey" Anggi beranjak dari duduknya namun dengan sigap Reynald menahan bahu Anggi dengan satu tangannya.


Reynald menghela napasnya kasar. Ia menyugar rambutnya ke belakang hingga nampak berantakan.


"Sial. Ini sangat sulit untukku 5 tahun terakhir"


"Apa kau akan menikah dengan tunanganmu?" Tanya Reynald tiba-tiba.


"Mungkin saja. Aku sedang memikirkannya. Dia pria yang baik" Sahut Anggi seraya menatap jauh ke depan.


"Apa kau mencintainya?"


"Cinta...." Anggi menggumam pelan.


"Aku nyaman dengannya. Jadi kurasa itu sudah termasuk cinta, kan?" Anggi menatap Reynald dengan tatapan bertanya.


Reynald memalingkan wajahnya menghindari tatapan Anggi. "Jangan kau paksakan untuk masuk ke dalam pernikahan jika kau belum yakin".

__ADS_1


"Rasanya... Sangat rumit dan melelahkan untuk mempertahankan sesuatu yang tidak berasal dari hatimu" Lirih Reynald.


Anggi terdiam membisu menatap Reynald dengan sangat dalam. Ia bisa merasakan nada frustasi dari pria itu terlebih lagi saat melihat raut wajah Reynald.


"Apa kamu sedang berusaha curhat denganku tentang pernikahanmu?"


Reynald terkekeh pelan. "Anggap saja begitu. Aku hanya memberikan sedikit saran sebagai orang yang sudah lebih dulu terjun ke dunia pernikahan".


Anggi memutar bola matanya. "Ya. Ya. Terima kasih atas saranmu"


Anggi lalu mengambil cangkir capuccino di atas meja dan menyesapnya perlahan. Ia lantas teringat sesuatu dan melirik Reynald.


"Kamu sering datang ke rumahku ya?"


"Rumahmu?"


Anggi mengangguk seraya meletakkan kembali cangkir capuccino miliknya ke atas meja.


"Tetanggaku bilang kalau ada seorang pria tampan yang hampir setiap hari berhenti tepat di depan rumahku dan selalu menunggu tukang nasi goreng yang lewat"


Raut wajah Reynald berubah terkejut namun pria itu segera menutupinya dengan tertawa pelan.


"Hahaha.. Apa sekarang kau sedang memujiku tampan? Hanya karena tetanggamu bilang ada pria tampan yang datang ke rumahmu, lalu kau menduga itu aku?"


"Karena jika kamu siapa lagi? Hanya ayahku dan kamu saja pria yang aku bawa ke rumah. Selebihnya tidak ada. Karena aku tidak punya teman". Ujar Anggi.


"Aku sangat tersanjung karena hanya aku pria muda yang kau bawa masuk rumahmu"


Anggi mengedikkan bahu acuh. "Tentu saja. Karena baik aku atau rumahku, keduanya sangat terjaga" Sahut Anggi ambigu.


"Memangnya kamu.. Yang tiba-tiba saja di datangi mantan pacar dengan bayi milik kalian" Anggi menggumam sangat pelan seraya berdiri melangkah menuju tepi balkon. Namun sayang gumaman itu tertangkap oleh indera pendengaran Reynald.


Pria itu tersenyum miris. "Maafkan aku. Aku memang pria brengsek"


Anggi membalikkan tubuhnya menatap Reynald dengan menautkan kening. "Kenapa kamu tiba-tiba bilang seperti itu?"


"Aku memang pria brengsek kan? Kini aku sudah yakin. Kau berhak mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dariku".


"Boleh aku memelukmu untuk terakhir kali?".


Raut wajah Reynald terlihat kalut di bawah temaramnya lampu balkon penthouse. Gestur tubuhnya pun terlihat kaku. Rahanghya mengeras seakan mencoba menahan gejolak emosi.


Anggi tersenyum hangat pada Reynald dan memeluk tubuh pria itu begitu saja tanpa beban.


Reynald mendekap tubuh Anggi dengan erat. Pria itu menyusupkan kepalanya ke ceruk leher gadis itu. Reynald menghirup aroma tubuh Anggi yang masih tercium wangi parfum bercampur keringat.


"Dulu kamu selalu bilang aku menyedihkan. Tapi kenapa sekarang malah kamu yang terlihat menyedihkan, Rey" Ucap Anggi.


"Aku berpikir kamu akan sangat bahagia"


Reynald menggeleng pelan dari balik tubuh Anggi. "Aku bahagia. Tapi tidak lengkap karena tidak ada kau di sisiku"


Anggi mengulur pelukannya dan melangkah mundur menjauh sedikit dari pria itu. "Sudahlah jangan bercanda. Aku tidak mungkin bisa di bandingkan dengan istrimu itu"


Anggi lantas mengulurkan tangannya ke arah Reynald dan menatap pria itu dengan lekat.


"Aku tidak ingin jadi orang ketiga dalam hubungan orang lain. Tidak akan pernah. Walau aku ingin egois tapi tidak akan kulakukan. Jadi kuharap ini pertemuan terakhir kita yang terakhir kalinya jika untuk berdua seperti ini"


Reynald menatap uluran tangan Anggi yang mengajaknya berjabat tangan. Silih berganfi Ia menatap tangan Anggi dengan wajah gadis itu.


"Sial! Aku tidak bisa" Lirih Reynald seraya menarik Anggi secepat kilat kembali ke dalam dekapannya dan mencium bibir gadis itu begitu saja.


Anggj yang tak siap tentu saja terkejut. Ia melotot tatkala merasakan bibir Reynald menempel dengan lembut di bibirnya. Anggi berusaha mendorong tubuh Reynald menjauh namun apa daya, tubuh Reynald yang tegap bukanlah tandingannya.


Reynald m3lum4tnya dengan lembut seakan menyalurkan segala rasa rindu yang sudah tak terbendung sekian lama. Merasa tak ada perlawanan lagi dari Anggi, Reynald tersenyum miring dan berbisik sesuatu di sela-sela ciumannya.


"Maaf aku egois" Lirih Reynald seraya mengecup seluruh sisi wajah Anggi dengan sangat lembut.

__ADS_1


Tubuh Anggi meremang. "Rey le-....pas hmmpppttt"


Reynald m3lum4t kembali bibir Anggi dengan mesra. Perlahan tapi pasti Ia menyisir rongga mulut Anggi dalam pertukaan saliva keduanya. Salah satu tangan Reynald menahan tengkuk leher Anggi hingga Ia bisa memperdalam lumatannya.


Tak sadar Anggi pun ikut terbuai oleh permainan Reynald. Bagi pria dewasa, Reynald sudah sangat luar biasa menahan keinginan alamiahnya selama sekian tahun tanpa menyentuh wanita. Reynald mendekap tubuh Anggi dengan erat. Keduanya tanpa sadar berjalan selangkah demi selangkah masuk ke dalam meninggalkan balkon.


Reynald memutus ciumannya dan beralih menyisir leher Anggi yang jenjang. Menyusuri leher gadis itu dengan cuping hidungnya yang mancung dan memberikan kecupan-kecupan kecil penuh gairah hingga membuat tubuh Anggi semakin terasa seperti tersengat listrik.


"Mmmhh..." Anggi menutup mulutnya rapat berusaha menahan kenikmatan yang baru Ia rasakan.


"M3nd3s4hl@h jika kau merasa nikmat" Bisik Reynald tepat di telinga Anggi.


Reynald memberikan kecupan kecil di telinga Anggi hingga akhirnya entah siapa yang memulai, keduanya berakhir terbaring di sofa.


Reynald mengungkung tubuh Anggi dengan tubuh kekarnya. Ia tidak memberikan banyak kesempatan pada gadis itu untuk tersadar dari buaian mesra yang kini mereka lakukan.


Kecupan demi kecupan menggerayangi wajah Anggi hingga turun ke leher. Tak dipungkiri Reynald sangat piawai menemukan titik sensitif wanita.


Hingga akhirnya.....


Pletak!


"AWWWWWW!!!" Reynald berteriak kesakitan seraya memegang sisi kepalanya.


Ia beranjak dari atas tubuh Anggi begitu saja. Kesempatan itu di pakai Anggi untuk segera beranjak menjauh dari Reynald.


"Kenapa kau memukulku?!" Tanya Reynald melirik Anggi sekilas.


"Karena kau gila! Kau mau melecehkanku???"


"Awww ini sakit sekali.. kau keterlaluan!". Ujar Reynald.


Pletak!


Anggi memukul kembali tubuh Reynald tepat di bahunya. "Kau yang keterlaluan, Rey! Tidakkah kau sadar apa yang telah kau lakukan? Bukankah kau sendiri yang menyuruhku untuk memukulmu atau melakukan apapun saat kau hilang kendali?!"


"Oke. Oke. Stop memukulku. Aku minta maaf" Ujar Reynald beranjak berdiri mendekat.


Anggi mundur menjauh hingga membuat Reynald tertegun.


"Apa kau tidak memikirkanku? Andai saja...."


"Andai saja kita hilang kendali tadi, lalu apa yang akan terjadi, Rey?"


"Kau tetap memiliki keluarga kecil yang bahagia. Lalu aku? Aku tetap sendiri dan meratapi nasibku! Apa itu maumu? Hah??" Ujar Anggj dengan nada 1 oktaf lebih tinggi.


Reynald berusaha melangkah mendekat ke arah Anggi dengan pelan.


"Tidak. Anggi. Maafkan aku.. Aku-"


"Kau memang pria brengsek. Kau memiliki istri yang cantik namun kau juga ingin meniduriku! KAU GILA!"


"Aku tidak pernah menyentuhnya!!!" Sahut Reynald frustasi.


"Aku tidak pernah menyentuh Clara sejak kami menikah. Aku berjanji dengan diriku sendiri setelah melepaskanmu". Ujar Reynald menatap Anggi dengan lekat.


Ia menatap Anggi yang berdiri membeku menatapnya dengan pandangan yang rumit. Reynald melangkah dengan perlahan mendekati Anggi.


Tangan pria itu mengusap air mata yang jatuh ke pipi gadis itu yang sedari tadi sudah membasahi wajahnya.


"Maafkan atas kekhilafanku malam ini".


"Aku tidak akan menjadikanmu orang ketiga. Tidak akan pernah" Ujar Reynald seraya menggenggam bahu Anggi dan menatapnya tajam.


"Karena aku akan menjadikanmu satu-satunya".


•••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡○••••••••

__ADS_1


__ADS_2