
Keesokan harinya...
Anggi yang sedang berada di dalam rumah mungil nya tengah bersiap untuk pergi ke rumah utama tempat di mana Ayah nya tinggal. Semalam tiba-tiba Ayah nya menelpon diri nya untuk meminta gadis itu datang ke rumah utama.
Anggi bercermin mematut penampilan nya yang terlihat sempurna. Rok dengan panjang 7/8 di padu dengan sweater tipis dan sneakers. Rambut panjang nya kali ini bebas dari kunciran yang mengikat dan di biarkan tergerai indah begitu saja.
Anggi lalu keluar kamar yang langsung mengarah ke ruang tamu. Rumah mungil itu hanya ada 2 kamar berukuran kecil dan 1 kamar mandi juga dapur. Ruang keluarga dan ruang tamu pun menjadi satu. Mungil namun Anggi merasa nyaman tinggal di rumah nya sendiri.
Anggi membuka pintu rumah lalu tertegun ketika melihat langit begitu gelap. Awan hitam tersebar seolah mengatakan hujan sebentar lagi datang. Gadis itu menghela napas pelan dan melihat sepeda motor milik nya yang terparkir di garasi tanpa kanopi.
Ia duduk sejenak menimbang-nimbang apakah Ia harus pakai taksi atau nekat pakai sepeda motor yang kemungkinan Ia akan terjebak hujan di tengah jalan. Lama berpikir, akhirnya gadis itu meraih ponsel nya dan memesan taksi online.
Sekitar 10 menit menunggu akhir nya taksi pesanan nya pun datang. Sepanjang jalan Anggi bernapas lega karena keputusan nya tepat karena hujan turun begitu deras.
Butuh waktu hampir 1 jam untuk sampai ke rumah Ayah nya karena lalu lintas cukup padat di tengah hujan dan jalanan sedikit banjir yang menyebabkan para pengendara melajukan kendaraan nya dengan pelan.
Sesampai nya di depan rumah utama Ayah nya, Anggi di payungi oleh seorang security dan di antar hingga depan pintu rumah.
Anggi segera masuk ke dalam dan di sambut dengan pemandangan yang menyejukkan mata. Tak di pungkiri, rumah Ayah nya begitu besar dan mewah. Anggi di sambut oleh seorang pelayan dan mempersilakan nya duduk di ruang tengah.
Anggi duduk menatap satu per satu foto di dalam pigura keemasana yang terpajang di sepanjang dinding berwarna krem. Anggi tersenyum tipis tatkala Ia sama sekali tidak melihat ada satu pun foto diri nya yang di abadikan di rumah Ayah nya ini.
"Ini teh dan kue nya non, silakan di nikmati. Bapak sebentar lagi turun". Ujar seorang pelayan seraya menaruh secangkir teh hangat dan beberapa toples kue kering.
Anggi tersenyum manis. "Terima kasih, Bik".
Anggi segera meraih cangkir teh nya dan meneguk perlahan.
Tap..
Tap..
Tap..
Derap langkah dari kejauhan membuat Anggi menoleh ke sumber suara dan melihat Ayah nya berjalan menuju diri nya berada.
__ADS_1
Anggi berdiri dan mengulurkan tangan tatkala pria itu sudah berada di hadapan nya. Ia pun mencium tangan dengan sopan dan kembali duduk setelah pria itu duduk.
"Ayah, aku senang akhirnya Ayah meminta ku datang ke rumah". Ucap Anggi dengan wajah berbinar.
"Di mana mama Linda?". Lanjut Anggi.
Pria tua yang masih terlihat bugar di usia nya itu mendengus.
"Aku meminta mu datang kemari bukan untuk berbasa-basi atau melepas rindu". Ucap pria itu menatap sinis.
Anggi sontak saja menunduk dan meremas rok nya dengan gugup.
Tenang Anggi.. Tenang..
Gadis itu membatin dalam hati agar tetap tenang.
"Untuk apa kau datang tengah malam ke rumah ku beberapa hari yang lalu?". Tanya pria itu.
Anggi mendongakkan kepala menatap Ayah nya.
"Itu.. Aku......."
"Aku.... Aku saat itu hanya.... Yang terpikir oleh ku hanya pulang ke rumah Ayah karena lokasi ku saat itu sangat dekat dengan rumah ini". Jelas Anggi terbata-bata.
"Rumah ini bukan rumah mu. Kau tidak berhak untuk seenaknya datang tanpa aku meminta mu untuk datang!". Tegur pria itu.
"Apa kau mau mengikuti jejak ibu mu hah? Tengah malam masih bersama pria!".
Anggi menggeleng pelan seraya menundukkan kepala tak berniat untuk menyanggah satu kata pun.
"Lalu kapan kuliah mu selesai?".
"Skripsi ku masih belum selesai, Ayah. Mungkin beberapa bulan lagi". Ucap Anggi pelan.
Pria itu mengusap wajah nya kasar.
__ADS_1
"Bibit Ibu mu benar-benar sangat kental! Tak ada yang bisa di banggakan dari diri mu! Aku sudah berbaik hati membiayai pendidikan mu hingga jenjang kuliah maka setidaknya kau perlu tau diri dan membuktikan pada ku". Ujar Ayah nya.
Kata demi kata pedas yang keluar dari mulut Ayah nya bukan lah hal yang asing. Anggi sudah terbiasa, bahkan Ia sudah menyiapkan hati sebelum datang kemari. Namun tetap saja itu menusuk relung hati nya.
"Aku sedang berusaha.Berikan aku waktu beberapa bulan lagi dan aku akan lulus dengan membanggakan". Ucap Anggi.
"Aku beri kau waktu 3 bulan lagi. Setelah itu tanggung jawab ku selesai". Ucap pria itu seraya berdiri melangkah pergi meninggalkan Anggi yang hanya bisa menatap sendu punggung pria paruh baya tersebut.
Anggi menarik napas dan menghembuskan nya perlahan.Ia berusaha menguasai sejuta emosi yang bergejolak dalam hati nya.
Anggi lalu beranjak berdiri dan melangkah keluar rumah. Ia melihat hujan yang begitu deras membasahi bumi tiada ampun. Ia tak di harapkan di rumah ini. Rumah di mana ada Ayah nya yang seharusnya menjadi sosok pelindung nya dari dunia yang kejam.
Anggi berjalan menembus hujan lalu seorang security pun berlari seraya membawa payung.
"Non Anggi, ini masih hujan deras. Kenapa tidak menunggu hujan reda?". Ucap sang security seraya memayungi Anggi yang terus berjalan ke arah pagar.
"Gak apa-apa, Pak. Saya mau cepat pulang". Ucap Anggi pelan.
"Kalau gitu saya pesanin taksi ya ,Non". Ujar sang security.
Anggi menggeleng pelan. "Gak perlu. Biar saya saja sendiri. Saya mau jalan kaki dulu sebentar. Sudah lama gak jalan di saat hujan seperti ini". Ujar Anggi seraya tersenyum tipis.
Security itu pun akhir nya membiarkan Anggi berjalan keluar pagar sembari memakai payung yang di berikan nya tadi.
Anggi berjalan tak tentu arah. Sneakers dan rok yang di pakai nya pun sudah basah. Hujan turun sangat deras dan petir menyambar saling bersahutan. Payung yang di pakai nya pun seakan tak sanggup melindungi dirinya dari guyuran air dari langit.
Anggi menghentikan langkah nya. Ia menghirup udara sebanyak-banyak nya untuk menetralisir sebuah beban berat yang terasa sangat mengganggu diri nya. Ia lantas saja berjongkok merosot memeluk dirinya sendiri. Payung nya pun terlepas begitu saja dari genggaman nya hingga membuat tubuh gadis itu dalam hitunga detik sudah basah kuyup.
"Hiks... Hikss.. Apa salah ku? Aku tidak meminta untuk di lahirkan ke dunia ini.. Tapi kenapa orang tua ku sendiri membenci ku.. Hikss.. Hikss.."
Pertahanan Anggi akhir nya runtuh. Ia menangis tersedu-sedu di bawah guyuran hujan. Anggi kian erat memeluk diri nya sendiri sambil berjongkok. Tak ada yang melihat. Tak ada juga yang peduli. Anggi melepaskan semua keresahan hati nya seorang diri.
Tiba-tiba sebuah tangan kekar menarik diri nya berdirì begitu saja dan membawanya ke dalam pelukan. Anggi tertegun tak sempat berpikir apapun ataupun berontak.
Ia mendongakkan kepala nya dan mata nya membulat terkejut tatkala melihat Reynald yang memeluk diri nya. Pria tampan itu menatap nya dengan tajam.
__ADS_1
"Apa kau anak kecil yang sedang bermain hujan-hujanan?".
•••••••••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••••••••••