
"Kenapa kau bersikap seperti tadi, huh?". Reynald menatap Clara dengan tajam ketika keduanya sudah berada di kamar hotel.
"Apa yang salah? Kita suami istri, bukan hal aneh untuk tampil mesra bukan?".
Reynald menarik dasi sutera merah yang melingkari kerah kemeja dan melemparnya dengan asal ke sembarang arah. Ia membuka juga jas hitamnya dan melemparnya pula ke lantai. Reynald lantas membuka kancing pergelangan tangan kemeja hitamnya dan menggulungnya hingga ke siku.
Reynald menatap Clara dengan seksama. Tatapan matanya memancarkan rasa kesal tiada tara pada wanita yang masih berstatus istrinya.
"Kau membuatku jengah Clara! Sejak kau tahu tentang Anggi, sejak itu pula hingga detik ini kau bersikap berlebihan! Kau memata-mataiku seperti aku ini seorang penjahat! Kau menginterogasi Andre kemana saja aku dalam satu hari dan kemana aku pergi dalam urusan bisnis!".
"Apa aku tidak berhak melakukan itu semua? Aku istrimu, Rey! Kau pikir istri mana yang bisa tenang ketika mengetahui suaminya masih mencintai wanita lain, hah? Aku melakukan semampuku untuk mempertahankanmu! Aku berusaha menyelamatkan pernikahan ini kau tahu!". Sungut Clara menatap Reynald dengan mata memerah menahan amarah dan tangisan.
Reynald mengusap wajahnya dengan kasar. Ia mendongakkan kepala menatap lampu kristal sejenak dan menghembuskan napas.
"Apa yang berusaha kau pertahankan sebenarnya dari semua ini? Bahkan sejak 5 tahun lalu tidak pernah ada lagi 'kita' dalam pernikahan ini."
"Kau bilang kalau akan melepaskanku ketika harinya tiba. Kau dulu memberikanku pilihan siapa yang akan mengakhiri semua hal semu ini. Lalu kenapa sekarang kau bersikap seolah ingin memperjuangkan pernikahan?". Reynald menatap Clara dengan tajam. Ia sungguh lelah menghadapi perubahan sikap Clara sejak dua minggu terakhir.
"Kau brengsek, Rey. Kau-... Apa salahnya untuk mencoba kembali dari awal? Pikirkan Jessy!". Ujar Clara yang mulai menangis.
"Ya. Aku memang brengsek. Aku pria brengsek yang sudah membuatmu mengandung anakku! Tapi apa kau berpikir semua kejadian ini hanya kesalahanku? Apa kau tidak bosan membahas hal yang sama setiap hari?"
"Kau ingin mempertahankanku dengan alasan Jessy? Begitu maumu? Kau orang tua egois! Bahkan seorang anak bisa merasakan ketidakbahagiaann pada kedua orang tuanya, melihat kita bertengkar, melihat kita saling diam dan sibuk satu sama lain. Apa kau pikir itu bagus untuk mentalnya? Tanyakan pada dirimu Clara... Apa kau bisa seumur hidup menghadapi semua itu?".
"Jika kau tetap ingin berada dalam pernikahan ini, baiklah... Kita hidup dalam neraka bersama-sama!"
Reynald mengeluarkan segala amarahnya pada Clara. Ia menatap Clara dengan raut wajah yang rumit untuk dijabarkan. Tak lama Reynald pun melangkah meninggalkan Clara begitu saja menuju ke pintu kamar hotel.
"Rey kau mau kemana?!" Clara dengan sigap menahan lengan Reynald.
__ADS_1
Reynald menepis tangan Clara yang menahannya tanpa menoleh sedikitpun pada wanita itu dan melanjutkan langkahnya.
"Rey!"
"Reynald!!!"
BRAK!
Reynald menutup pintu kamar hotel dengan keras tanpa menghiraukan sama sekali teriakan Clara. Ia merasa butuh sendiri malam ini. Sungguh Ia jenuh dengan perdebatan yang tiada henti dengan istrinya itu. Wanita yang pernah merajai relung hatinya selama bertahun-tahun namun sekarang rasa itu sudah raib entah kemana. Sudah berulang kali Ia mencoba untuk menumbuhkan benih-benih cinta itu namun tak pernah berhasil.
Entahlah... Mungkin hatinya sudah tandus dan mengering. Tapi jika begitu, bagaimana bisa nama Anggi selalu tumbuh subur dan terjaga?
Reynald berjalan keluar hotel. Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru dan menyadari bahwa hotel yang Ia tempati saat ini berada di pulau buatan yang tak terlalu jauh dari daratan. Namun tetap saja di sekelilingnya saat ini hanya ada pantai.
Reynald lantas menunduk melihat pakaian yang masih membalut tubuhnya. Kemeja, celana bahan dengan sepatu pantofel.
Reynald merutuki dirinya sendiri dalam hati.
Namun Ia tetap melanjutkan langkahnya menuju ke pantai. Reynald memandang sejauh mungkin ke arah lautan yang gelap. Debur ombak dan semilir angin pantai benar-benar sebuah irama yang menenangkan pikirannya untuk sekarang.
"Siapa yang pergi ke pantai dengan sepatu pantofel?". Suara seseorang menginterupsi lamunannya.
Reynald lantas membalikkan tubuhnya dan terkejut saat melihat Anggi sedang berada di belakang. Berdiri menatap ke arahnya. Anggi melangkah mendekat dengan pelan. Semilir angin pantai menghempas rambut panjangnya hingga berantakan namun itu malah terlihat cantik di mata Reynald. Tentu saja Reynald tidak berkedip sama sekali menatap Anggi.
"Kenapa malam-malam kamu berada di sini bukannya di kamar dengan istrimu?". Tanya Anggi saat keduanya sudah berdiri berhadapan.
Reynald mengerjapkan matanya mengembalikan kesadaran.
"Kau kenapa di sini? Bukannya sudah pulang dari tadi?". Reynald malah membalas pertanyaan Anggi dengan pertanyaan lagi.
__ADS_1
"Aku hanya mengikuti Rashaad. Dia ingin menginap di hotel ini". Ujar Anggi seraya tersenyum tipis.
Reynald mengangguk pelan dan memalingkan wajahnya menatap kembali ke arah lautan.
Keduanya hanya berdiri membisu menikmati suara debur ombak. Tak ada yang bersuara. Tak ada satupun topik yang bisa mereka perbincangkan jika hanya berdua. Karena hanya masa lalu yang akan menghantui keduanya.
"Kenapa kita harus bertemu lagi, Rey?" Ujar Anggi tanpa menoleh pada Reynald begitupun juga dengan Reynald ya g tidak menoleh pada Anggi. Mata mereka hanya terpaku menatap pekatnya malam hingga tak terlihat garis laut.
"Aku juga tidak tahu". Ucap Reynald pelan.
"Setelah sekian lama kita tidak saling kontak, dan aku pergi jauh darimu, kenapa kita bertemu lagi?". Gumam Anggi. Entah ucapan itu di tujukan langsung untuk Reynald atau Ia berbicara dengan dirinya sendiri.
"Waktu yang tepat mungkin?" Tanya Reynald melirik Anggi.
Anggi menggelengkan kepalanya perlahan seakan tidak setuju dengan kesimpulan yang Reynald buat.
"Waktu yang tepat untuk apa? Kamu sudah menikah, aku memiliki tunangan dan mungkin akan segera menikah juga.Buatku ini bukan waktu yang tepat". Anggi sedikit emosi dengan Reynald, Ah.. lebih tepatnya pada keadaan yang selalu tidak berpihak padanya.
"Aku marah. Sangat marah. Kenapa kamu harus ada di hadapanku lagi setelah susah payah aku menata hatiku? Ketika Rashaad sudah masuk ke dalam hidupku? Ketika hati nuraniku pun tidak mengizinkan ini terjadi?".
Reynald terlihat bingung dan tidak tahu harus bersikap apa. Ia hanya menghela napas dan menatap Anggi dengan sangat dalam.
"Jangan pedulikan aku. Jalani hidupmu seakan kau tidak mengenalku di masa lalu. Kehidupanmu cerah bersama Rashaad. Aku pun hanya akan menjalani kehidupanku yang membosankan"
Seperti di neraka.... lanjut Reynald bergumam dalam hati.
Keduanya saling bertatapan satu sama lain. Saling melempar asa yang tak bisa terucap lewat mulut. Hingga keduanya tak menyadari jika ada seseorang yang melihat keduanya sedari tadi.
•••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••
__ADS_1