
Dua Minggu Kemudian..
"Mil, apa penampilanku sudah sempurna?". Tanya Anggi seraya menatap Mila, sang asisten. Anggi bercermin di sebuah kaca besar dan memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan mengamati penampilannya yang terlihat anggun.
"Kau selalu cantik dan menarik. Tenang saja!" Ujar Mila seraya merapihkan beberapa high heels yang berserakan di lantai kembali ke tempatnya semula.
Hari ini adalah hari ulang tahun perusahaan milik keluarga Rashaad yakni Rajil Sahir Group. Acara akan di gelar secara tertutup hanya untuk para tamu undangan saja. Tentu seluruh relasi dan juga karyawan akan datang. Mengingat perusahaan keluarga Rashaad merupakan perusahaan besar dan tersohor di Abu Dhabi, maka orang-orang penting di negara yang Anggi tinggali saat ini pun akan turut hadir.
"Ayahmu sudah datang". Ujar Mila menginterupsi fokus Anggi bercermin.
"Benarkah?". Anggi membalikkan tubuhnya dan melangkah ke luar kamar.
Anggi tersenyum lebar tatkala melihat Sang Ayah terlihat sehat dan gagah dengan jas berwarna hitam serta kemeja putih membalut tubuhnya.
Anggi mencium tangan Hendra dan juga kedua sisi pipi Sang Ayah.
"Kau sehat?". Tanya Hendra sembari menatap putrinya.
Anggi mengangguk. "Tentu saja, Ayah".
"Kau sudah mempersiapkan diri untuk pertemuan dengan kedua orang tua Rashaad setelah acara?".
"Apapun keputusanmu, kau tahu aku akan mendukung". Lanjut Hendra menatap serius.
Anggi mengulas senyum manis dan merangkul lengan Hendra. "Ayah tenang saja. Aku sudah mengambil keputusan tentang hubunganku dengan Rashaad".
"Ayo sekarang kita berangkat". Anggi mengajak Hendra untuk segera pergi dari apartemen.
Hotel Corniche
Seorang petugas berpakaian serba hitam dengan sigap membukakan pintu mobil yang di tumpangi oleh Anggi dan Hendra.
"Terima kasih". Ucap Anggi yang di angguki oleh sang petugas.
Anggi dan Hendra pun segera masuk ke dalam lobby hotel yang luar biasa megahnya. Ia mengedarkan pandangannya melihat interior hotel yang katanya seluruh ornamen dan hiasan yang tersemat di seluruh dinding hotel terbuat dari emas murni.
"Nona Anggi". Sapa seorang bodyguard Rashaad tepat di depan pintu ballroom.
"Ah.. Ya..."
"Mari ikut saya. Tuan Rashaad ingin bertemu anda lebih dulu" Ujar sang bodyguard.
"Memangnya dia di mana?"
"Tuan masih di kamar lantai 31, Nona". Jawab sang petugas.
__ADS_1
"Tapi aku bersama dengan Ayahku". Sahut Anggi.
"Tuan Hendra akan di antarkan oleh rekan saya ke ruangan Tuan dan Nyonya besar. Jangan kuatir".
"Sudahlah kau datangi dulu Rashaad, aku akan ke ruangan yang di sebutkan dia tadi". Timpal Hendra.
"Baik kalau begitu. Ayah tunggu saja dengan kedua orang tua Rashaad. Jangan kemana-mana".
"Astaga. Kau pikir aku anak kecil atau pria tua yang sudah sangat renta hingga harus kau kuatirkan seperti itu?". Ujar Hendra pura-pura kesal hingga membuat Anggi terkekeh geli.
Tak lama Anggi pun segera di antar menuju lantai 31 di mana Rashaad berada. Sang bodyguard membunyikan bel di depan sebuah pintu kamar bernomor 3001. Hingga akhirnya pintu pun terbuka dan menampakkan Rashaad yang sudah terlihat gagah dengan setelah tuxedonya.
"Terima kasih. Kau bisa kembali bekerja". Ujar Rashaad pada sang bodyguard.
Sang bodyguard pun mengangguk dan segera pamit undur diri. Rashaad lalu menyisir penampilan Anggi dari atas hingga bawah dengan wajah terpukau.
"Kau sangat cantik sayang". Gumam Rashaad mengagumi penampilan Anggi.
"Apa aku akan di biarkan berdiri di luar seperti ini?". Sindir Anggi.
Rashaad terkekeh pelan hingga menampakkan barisan giginya yang rapih. "Maaf.." Rashaad pun menggeser tubuhnya memberi ruang untuk Anggi lewat.
"Kenapa kamu memintaku untuk datang ke sini dulu? Acaranya sudah mau di mulai kan?". Tanya Anggi keheranan.
Rashaad menghampiri Anggi dan mengusap pipinya dengan lembut seakan Anggi adalah porselen antik yang mudah pecah.
"Kau kenapa?"
Anggi menatap Rashaad dengan bingung. Rasanya Ia baik-baik saja. Tidak kenapa-napa.
"Kau terlihat sedih atau entahlah apa ya kata yang tepat? Murung! Ya itu!". Sahut Rashaad lagi.
"Benarkah?" Tanya Anggi tidak habis pkir. "Sepertinya aku tidak kenapa-napa".
Lain di mulut lain di hati. Anggi mulai berpikir mungkin ada yang salah dengan setelan aura dan mood nya. Memang beberapa minggu terakhir, orang-orang di sekitarnya selalu berkomentar kalau dirinya terlihat lesu. Namun Anggi merasa dirinya baik-baik saja.
"Apa kau sudah siap dengan pertemuan dengan orang tuaku untuk membahas tanggal pernikahan?". Rashaad mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Anggi mengangguk. "Aku siap, Rashaad". Jawab Anggi seraya tersenyum manis.
Rashaad menatap Anggi dengan diam. Entah apa yang di pikirkan oleh pria itu. Tapi Rashaad lantas meraih lengan Anggi dan menggenggam jemarinya dengan erat seperti tidak ingin melepaskannya lagi.
Lima belas menit kemudian, Rashaad dan Anggi sudah turun ke sebuah ballroom yang berukuran sangat luas. Anggi menaksir ukurannya hingga 3 kali lipat ukuran ballroom normal pada umumnya.
Suasana terlihat meriah dan mewah. Balon berwarna hitam dan emas menghiasi setiap sudut ruangan. Meja prasmanan yang di atasnya terdapat berbagai makanan yang sangat menggugah selera dan di susun dengan menarik.
__ADS_1
Anggi lalu mendapati sang ayah sedang bercengkrama akrab dengan salah seorang anggota keluarga Rashaad. Anggi mengulas senyum manis melihat sang ayah dan mengedarkan kembali pandangannya ke seluruh penjuru ballroom. Matanya benar-benar terpukau.
Keluarga sultan dari negara timur tengah memang beda...
Gumam Anggi dalam hatinya. Susunan acara di mulai dengan sangat apik dan sesuai jadwal. Berbagai pertunjukan di tampilkan dan Anggi sangat puas saat melihat penampilan dansa waltz dengan musiknya yang instrumental.
Tak terasa sudah berada di penghujung acara. Rashaad selaku anak tertua dari keluarga inti pemilik Rajil Sahir Group memberikan sepatah dua kata untuk para tamu undangan yang telah hadir.
Anggi melihat Rashaad dan tersenyum simpul. Kurasa Tuhan sayang padaku.. DIA mengirimkan seseorang yang luar biasa mengagumkan seperti Rashaad.
Tak berselang lama, satu jam kemudian setelah acara berakhir. Rashaad mengajak Anggi dan Hendra menuju ke sebuah ruangan private untuk bertemu kedua orang tuanya. Tak di pungkiri hati Anggi terasa tak karuan dan berdebar tak menentu. Ia sungguh gugup bertemu kedua orang tua Rashaad walau ini bukanlah pertemuan pertama baginya.
Rashaad lantas mempersilakan Anggi dan Hendra untuk masuk terlebih dulu ke dalam ruangan.
"Silakan duduk". Ucap Tuan Rajil, Ayah dari Rashaad.
"Kita sudah bertemu tadi. Sekarang bertemu lagi membahas anak-anak hehehe"
Hendra pun terkekeh pelan. "Ya. Benar. Hingga setua ini mereka masih membutuhkan arahan dari kita bukan?". Kelakar Hendra pada Rajil.
"Kemari Anggi..." Sahut Nyonya Almeera meminta Anggi untuk duduk di dekatnya.
Anggi menghampiri Almeera dengan gugup.
"Kau cantik sekali. Putraku memang pintar mencari pasangan". Puji Almeera hingga membuat Anggi tersipu.
Rashaad yang sedari tadi masih berdiri memperhatikan interaksi kedua orang tuanya dengan Anggi dan juga Hendra terlihat menghela napasnya pelan. Ia lantas segera mengambil tempat duduk di samping Anggi.
Rajil lalu menginterupsi semuanya. "Ayo kita bicarakan hal baik untuk kedua anak kita".
"Anggi, aku mendengar dari Rashaad bahwa kau sudah siap untuk melanjutkan ke jenjang pernikaha, benarkah begitu?". Tanya Rajil beralih menatap Anggi.
Anggi tertegun sejenak dan melirik Rashaad yang terlihat mengeraskan rahang. Anggi melihat kedua tangan Rashaad yang terkepal hingga memperlihatkan urat-uratnya.
"Nak...".Panggil Hendra pelan.
Anggi menoleh pada Hendra dan menatap silih berganti pada Rashaad, Rajil maupun Almeera. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Aku........"
"Aku membatalkan rencana pernikahan ini Ayah, Ibu dan Ayah Hendra". Sahut Rashaad tiba-tiba memotong ucapan Anggi.
Sontak saja semua yang berada di ruangan tersebut terkejut bukan main. Tak terkecuali Anggi yang menganga tak percaya dengan apa yang telah di dengarnya.
"Apa maksudmu?!". Tanya Rajil dan Hendra serempak. Sedangkan Almeera hanya mengelus dadanya syok dengan ucapan putranya.
__ADS_1
"Aku akan menjelaskan nya nanti pada kalian. Biarkan aku dan Anggi yang akan menyelesaikan permasalahan ini berdua terlebih dahulu". Ujar Rashaad seraya beranjak berdiri dan meraih tangan Anggi untuk segera mengikutinya keluar.
••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••