
Dua Minggu Kemudian
"Cepatlah Anggi!" Seru Rashaad yang sedari tadi menunggu Anggi berkemas.
"Kamu bawel sekali sih? Siapa yang seenaknya merubah jam penerbangan tanpa memberitahuku? Aku kan tahunya kalau kita berangkat malam bukan siang seperti ini!". Anggi menyahut tak mau kalah seraya tangannya sibuk menutup kopernya.
"Aku hanya berpikir lebih baik kita sampai tengah malam saja. Aku ada jadwal meeting di pagi hari. Sangat mepet waktuku untuk bersiap-siap kalau kita mendarat selang dua jam sebelum aku meeting"
"Kau yakin sudah semua?" Tanya Rashaad memastikan.
Anggi mengangguk. "Kurasa sudah. Ayo!"
Rashaad meraih koper Anggi dan mendorongnya. Keduanya keluar dari apartemen Anggi dan segera menuju ke mobil yang sudah menunggu dari tadi. Tak membuang waktu lama mobil melaju menuju bandara.
Setibanya di bandara, seperti biasanya Rashaad di sambut oleh dua orang yang berprofesi pilot dan co-pilot lengkap dengan 2 orang pramugari yang akan melayani Rashaad maupun Anggi sepanjang penerbangan.
Anggi mengikuti langkah Rashaad menuju private jet miliknya. Tak ada rasa kagum lagi untuk Anggi saat menaiki sebuah private jet. Ia sudah terbiasa dan sangat biasa seperti menaiki pesawat komersial pada umumnya. Hanya saja Anggi merasa itu lebih pribadi.
Setelah duduk dan menunggu lepas landas, Anggi mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ia mencebikkan.bibirnya kala melihat tak ada satupun notifikasi masuk. Raut wajah Anggi yang kesal tak lepas dari penglihatan Rashaad hingga membuat pria itu tersenyum tipis.
"Dasar wanita. Di mana-mana semua sama saja. Daripada kau kesal sendiri menunggu sebuah telfon atau pesan, apa salahnya menghubungi duluan? Senang sekali menyiksa diri". Cibir Rashaad.
"Dia pasti sibuk makanya belum menghubungiku"
Rashaad mengibaskan tangannya ke udara. "Sudahlah.. Sang pria rekan bisnisku yang baik dan Sang wanita mantan tunanganku. Apa kalian berdua tidak memikirkan perasaanku, huh?"
"Rashaad... Berhentilah bergurau..." Ujar Anggi memalingkan wajahnya ke jendela pesawat.
Rashaad kini menatap Anggi dengan sangat serius. "Aku heran padamu. Kenapa kau masih saja membentengi dirimu? Hubungi dia, Anggi. Kau tahu? Kali ini lepaskan perasaanmu dengan baik untuknya. Kau tidak perlu takut! Tidak ada hal yang menghalangi kalian berdua saat ini". Ujar Rashaad menasehati.
Anggi tertegun. "Kau benar". Anggi mengetuk layar ponselnya hingga menyala dan menekan nomor Reynald. Terdengar nada sambung namun tidak kunjung ada jawaban hingga akhirnya Anggi mematikan sambungan telfon dan memutuskan untuk mengirim pesan singkat.
Rey...Aku dan Rashaad merubah jam penerbangan. Kami akan berangkat sekarang dan kemungkinan sampai Jakarta tengah malam.
Send! Pesan terkirim dan Anggi memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas kecilnya.
8 Jam Kemudian
Pesawat yang mengantarkan Anggi juga Rashaad menuju Jakarta baru saja mendarat dengan sempurna di landasan bandara Soekarno Hatta. Setelah Rashaad meminta kru private jet nya untuk pergi beristirahat ke hotel yang sudah di sediakan, Rashaad dan Anggi pun segera menuju titik penjemputan.
"Nona Anggi!" Seru seorang pria sambil melambaikan tangan.
Anggi dan Rashaad saling berpandangan. "Aku pikir asisten Reynald yang menjemput kita. Ternyata supir Ayahmu" Ujar Rashaad.
Anggi mengedikkan bahu. "Kukira juga begitu"
Keduanya pun melemparkan senyum hangat pada sang supir. "Maaf merepotkan ya sudah menjemput kami malam-malam, Pak" Sahut Anggi sopan.
__ADS_1
"Ah tidak repot, Non. Sudah tugas saya. Mari masuk ke dalam mobil.. Biar saya saja yang memasukkan kopernya ke bagasi" Ujar Sang supir.
"Kita langsung ke hotel ya?" Tanya Sang supir.
"Iya, Pak. Kita langsung saja ke hotel". Jawab Rashaad yang di angguki oleh sang supir.
Jalanan Ibu Kota malam-malam begini tentu saja sudah sepi. Sepanjang jalan Anggi hanya menatap risau pada ponselmya. Sejak tadi siang Reynald bahkan belum membalas pesannya apalagi menelfonnya. Kemana pria itu? Gumam Anggi.
Ia membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam. Anggi membukanya dan menatap sebuah cincin berlian yang indah memukau. Anggi menarik cincin itu dan memutarnya di bawah cahaya remang lampu malam yang mengintip melalui jendela sepanjang mobil berjalan.
Anggi lalu memakai cincin berlian tersebut di jari manisnya. Aku menerima lamaranmu, Rey... Sahut Anggi dalam hati seraya menatap cincin yang sudah melingkar di jarinya.
Tak terasa, akhirnya mobil pun berhenti di depan sebuah lobby hotel yang megah. Anggi dan Rashaad pun turun dari mobil dan segera melangkah masuk ke dalam hotel. Rashaad menghampiri resepsionis dan memperlihatkan sebuah bukti pemesanan hotel yang tertera di emailnya. 2 kamar hotel yang berbeda. Sang Resepsionis segera memprosesnya dan memberikan 2 kartu akses pada Rashaad.
Di lift Rashaad memberikan satu kartu akses pada Anggi. "Istirahatlah". Anggi mengangguk tanpa menjawab apapun karena tubuhnya memang sudah lelah dan hatinya pun tak karuan karena Reynald tak kunjung memberi kabar.
Tanpa membuang waktu, Anggi segera membersihkan dirinya sebelum tidur. Ia mengganti seluruh pakaiannya dan memilih memakai sebuah piyama satin warna burgundy. Anggi sekilas menatap kembali ponselnya dan nihil. Tak ada apapun. Akhirnya Anggi yang sudah kelelahan pun perlahan tertidur lelap.
•••
Tok! Tok! Tok!
Tok! Tok! Tok!
Ting Tong! Ting Tong!
Anggi mengerjapkan mata merasa terganggu dengan suara gedoran di pintu dan bel yang berbunyi terus menerus. Ia meraih ponselnya dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari yang artinya Ia baru saja tidur kurang dari 2 jam!
"Cepat ambil jaketmu. Kita harus pergi sekarang" Ujar Rashaad.
"Nanti kujelaskan. Sekarang kita harus pergi secepatnya" Timpal Renata yang seakan mengerti kebingungan Anggi.
Anggi lantas berbalik badan menuju kopernya dan meraih sebuah sweater. Dengan cepat Ia memakainya. Benaknya bertanya-tanya kenapa Rashaad dan Renata mengajaknya pergi tengah malam seperti ini. Pergi kemana? Batin Anggi.
Tak lama kemudian ketiganya pun menuju sebuah RS Swasta terkenal. Anggi yang baru saja turun dari mobil berdiri membeku. Pikirannya berkelana kemana-mana. Hatinya berkecamuk tak karuan. Ia menatap silih berganti pada Rashaad maupun Renata.
"Sekarang katakan padaku untuk apa kita kesini? Siapa yang sakit? Apakah Jessy?!" Cecar Anggi tak sabar.
Rashaad mengusap wajahnya yang terlihat kalut. Renata meraih lengan Anggi sembari menatap dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Bukan Jessy... Tapi Reynald..." Sahut Renata pelan hinga akhirnya wanita itu tak kuasa lagi menahan air mata.
Bak tersambar petir, seluruh tubuh Anggi terasa bergetar. Ia menatap Renata yang sedang menangis sesenggukan dan beralih menatap Rashaad yang menatapnya dengan tatapan yang entahlah...
"Rey-Reynald... Dia kecelakaan dalam perjalanan pulang ke Jakarta" Ucap Renata di sela tangisnya.
Anggi tak menjawab. Air mata mulai menggenangi pelupuk matanya.
__ADS_1
"Lebih baik kita ke dalam lebih dulu" Ajak Rashaad yang masih bisa menguasaj emosi.
Anggi melangkah dengan cepat menuju ruang operasi. Terlihat dari kejauhan seorang pria yang masih memakai kemeja kerja sedang duduk menunggu. Anggi berlari kecil hingga berhenti tepat di hadapan pria yang tak lain adalah Andre.
Menyadari kedatangan Anggi, Renata dan juga Rashaad, Andre segera berdiri dan menatap silih berganfi pada ketiganya.
"Bagaimana?" Tanya Rashaad.
Andre menggelengkan kepala pelan. Raut wajah pria itu sangat kalut dan sedih. "Cederanya sangat parah. Mobilnya terlempar hingga menabrak beton pembatas jalan tol. Tim dokter sedang mengusahakan yang terbaik" Ujar Andre sendu.
Anggi mengatupkan tangannya ke mulut. Ia menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang baru saja Ia dengar. Anggi lantas memukul dada Andre berulang kali. "Kamu bohong kan? Ini tidak benar kan?!"
"Bilang kalau semua yang kamu ucapkam tadi bohong!!! Bilang padaku!" Anggi berteriak tepat di depan Andre. Melihat itu Renata semakin menangis. Rashaad lantas menarik Anggi yang masih mencengkram kemeja Andre.
"Dia tidak.bilang apa-apa padaku. Dia selalu bilang setiap kali akan pergi. Kamu pasti bohong Andre.." Ujar Anggi menatap nanar.
Andre menitikkan air mata dan segera menghapusnya berusaha untuk kuat. "Reynald harus menghadiri pertemuan langsung dengan klien. Memang di luar jadwal yang seharusnya. Ia bersikeras untuk menyelesaikan segala hal yang mendesak agar ketika kau berada di Jakarta, dia mempunyai banyak waktu untukmu..."
"Aku dan Renata sudah memintanya untuk memakai supir. Namun Reynald bilang dia lebih leluasa menyetir sendiri. Aku pikir dia akan menginap semalam dan pulang esok pagi. Namun tiba-tiba dia menghubungiku kalau akan pulang malam ini juga ke Jakarta karena kau merubah jadwal penerbangan. Dia bilang ingin menjemputmu ke bandara tapi......"
Andre tak melanjutkan ucapannya dan hanya menatap penuh harap ke pintu ruang operasi. Lutut Anggi terasa lemas hingga Rashaad harus memapahnya untuk duduk.
Dua jam kemudian tepatnya pukul 4 pagi, pintu ruang operasi terbuka. Anggi, Renata, Rashaad dan juga Andre segera menghampiri seorang dokter. "Bagaimana dok?" Tanya Rashaad dan Andre bersamaan.
Sang dokter pun menghela napas pelan dengan raut wajah kecewa. "Kami tidak bisa menyelamatkannya". Ucap sang dokter pelan.
Sontak saja Renata menangis dengan keras seraya menutup wajahnya. Rashaad dan Andre mengusap wajahnya kasar tak percaya. Hanya Anggi yang diam membisu. Tubuhnya bergetar hebat. Jari jemarinya sangat dingin. Anggi lantas dengan cepat menerobos masuk ke dalam ruang operasi tak menghiraukan panggilang dari Rashaad maupun Andre.
Dokter yang tadi memberi kabar di luar pun segera mengintruksikan timnya beserta perawat untuk keluar sejenak. Hal-hal seperti ini sudah lumrah Ia alami.
Anggi menatap nanar tubuh Reynald yang terbujur kaku hanya di tutupi oleh kain berwarna hijau tua. Anggi membuka ujung kain yang menutup wajah Reynald.dengan tangan bergetar hebat hingga akhirnya Ia tak kuasa menahan tangis saat melihat wajah Reynald yang penuh luka.
Pandangan Anggi kabur karena derasnya air mata yang membanjiri wajahnya. Anggi menyentuh sisi wajah Reynald dengan hati-hati. "Rey... Bangun... Kau bercanda kan? Aku di sini... Aku sudah di sini. Di sampingmu.. Kumohon hentikan candaanmu, Rey...." Ujar Anggi di sela isak tangisnya.
Anggi menatap Reynald dengan penuh pengharapan namun tentu saja tak ada tanggapan apapun. Anggi lantas memperlihatkan sebuah cincin berlian yang melingkar indah di jari manisnya ke arah Reynald.
"Kau lihat? Cincin ini sudah melingkar di jariku. Itu artinya aku menerima lamaranmu. Ayo kita menikah...Kau sudah berjanji akan membahagiakanku...Kau bilang hanya akan ada senyum dan tawa menghiasi wajahku... Tapi lihat sekarang.... Kau malah membuatku menangis.."
"Kumohon bangun... Lihat aku... Penuhi janjimu" Anggi mengusap wajah Reynad dengan pelan. Air mata terus saja turun membasahi wajah.
"Maafkan aku butuh waktu lama... Maafkan aku jika sikapku kadang keterlaluan, aku... Aku....Hiikss.." Anggi memeluk tubuh Reynald. Air matanya ikut jatuh membasahi wajah Reynald.
"Aku mencintaimu Reynald. Aku mencintaimu.. Sungguh. Jadi hentikan sandiwaramu. Cepat buka matamu!"
Anggi menatap mata Reynald yang masih menutup mata dengan sempurna tak ada pergerakan. Merasa frustasi, Anggi pun menggoyang tubuh Reynald.
"Bangun Rey! Kumohon bangunlah! Kau tidak boleh seperti ini padaku! Tidak... Kumohon bangun!!!!!!"
__ADS_1
Brak! Anggi pun pingsan tak kuasa menahan kesedihan dan shock yang menerpa dirinya tiba-tiba.
•••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••