Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 14


__ADS_3

Reynald berdeham untuk menetralkan suasana yang mendadak hening. Ia lalu segera duduk di sofa yang sebelum nya di duduki oleh Renata.


"Lupakan yang tadi. Aku hanya ingin kau berhenti memanggil ku dengan embel-embel bapak di depan nama ku". Ucap Reynald seraya bersedekap dada.


"Apa kah anda tidak masalah jika saya memanggil anda hanya dengan nama?" Tanya Anggi ragu.


"Bukan kah aku yang menyuruh mu begitu? Jadi santai saja".


"Dan... Lebih rileks lah sedikit. Sikap mu.. Ucapan mu.. Benar-benar seperti kanebo kering. Kaku sekali!". Gerutu Reynald.


Anggi menatap ke arah Reynald. Pandangan nya menelisik lebih jauh pada pria tampan di depan nya saat ini.


Benarkah ini Reynald Sang CEO yang cool dan berkharisma?


Apakah dia memang bawel seperti ini?


Begitu banyak pertanyaan di benak Anggi hingga tak sadar Ia hanya menatap Reynald cukup lama.


"Hei! Kau datang ke sini untuk menatap wajah ku saja atau perlu bimbingan dari ku?". Reynald membuyarkan lamunan Anggi.


Anggi menggaruk tengkuk nya dengan canggung. "Maaf, Pak.."


"Eh.. Maksud saya.. Rey.. nald.." Ujar Anggi terbata-bata.


Reynald menepuk tangan sekali seraya menganggukkan kepala. "Bagus".


"Oke.. Jadi, kita bisa mulai sekarang?". Lanjut Reynald.


Anggi mengangguk semangat. Ia pun lalu mengeluarkan beberapa modul dan revisi skripsi dari tas nya yang sejauh ini sudah Ia kerjakan dengan maksimal. Anggi menyusun dan memberikan nya pada Reynald.


"Silakan di lihat dulu.. Minggu lalu saya bertemu dengan dosen pembimbing lagi tapi hasil nya bisa anda lihat sendiri". Jelas Anggi.


Reynald menyandarkan punggung nya ke sofa. Ia menatap Anggi dengan seksama. "Hm.. Sebelum di mulai, ku rasa kita perlu membuat beberapa peraturan personal". Ucap Reynald.


Anggi mengerutkan dahi. "Bukan kah beberapa peraturan sudah jelas tertulis di surat perjanjian yang anda buat sebelumnya?". Tanya Anggi heran.


Reynald mencondongkan tubuh nya ke depan seraya menautkan kedua tangan nya.

__ADS_1


"Ini peraturan personal antara kita berdua saja". Ucap Reynald.


"Peraturan seperti apa?". Anggi menatap Reynald dengan penasaran.


"Satu, kita berkomunikasi secara santai saja. Bukan saya atau anda. Lebih enak di dengar dengan Aku dan kamu saja. Kamu bukan klien ku atau rekan bisnis ku. Kedua, kau jangan pernah bertanya tentang kehidupanku. Semua yang kau lihat di ruangan ku dan yang kau dengar, tidak boleh kau bicarakan lagi ketika kau keluar dari ruangan ini. Kau mengerti?". Reynald menjelaskan dengan singkat dan padat.


Anggi terdiam sejenak mencerna perkataan Reynald. Lalu menganggukkan kepala seraya tersenyum tipis. "Aku mengerti". Ucap nya.


Reynald tersenyum lalu segera mengambil tumpukan modul dan revisi skripsi di atas meja. Ia melihat nya dengan cermat dan membaca bagian-bagian yang di koreksi oleh dosen pembimbing Anggi di kampus nya.


"Di catatan mu ku lihat kau sudah mengadakan kuisioner untuk tambahan penelitian mu, boleh ku lihat kuisioner itu?". Ucap Reynald masih memeriksa beberapa hal tanpa menoleh pada Anggi.


"Emmm.. Itu.... Ada di rumah ku.. Minggu depan pasti aku bawa kemari". Ucap Anggi.


"Apa kah kau menyebarkan kuisioner itu secara random pada orang asing atau menitipkan pada teman untuk di sebarkan kembali atau bagaimana?". Tanya Reynald kini menatap pada Anggi.


"Aku lebih banyak menitipkan pada teman".


Reynald mengangguk-anggukkan kepala nya lalu menaruh semua berkas milik Anggi kembali ke atas meja.


"Kau punya media sosial?". Tanya Reynald.


"Kalau begitu, kau buat kuisioner dalam googleform dan tautkan link nya di bio media sosial mu. Kau masuk ke dalam akun-akun bisnis dan izin untuk meminta warganet yang berkomentar di akun-akun tersebut untuk mengisi kuisioner yang di tautkan di bio mu. Mereka bisa langsung mengkliknya secara otomatis". Ucap Reynald memberi intruksi pada Anggi.


"Kau harus tau lebih banyak tentang perusahaan ku dari sudut pandang masyarakat luas. Namun yang ku lihat secara keseluruhan dalam revisi skripsi mu, kau belum paham betul di bagian itu sehingga kau tidak bisa menjelaskan secara rinci". Lanjut Reynald.


Anggi terdiam mendengar penuturan Reynald.


"Apa kah aku perlu melakukan itu?". Anggi memberanikan diri bertanya.


Reynald mengangguk. "Tentu saja kau perlu. Lakukan saja dalam 1 minggu. Lalu nanti kau rekap hasil kuisioner itu pada ku di pertemuan selanjutnya".


Anggi menghela napas pelan. Kepala nya berdenyut pusing. Benar-benar pusing karena Ia belum sempat sarapan tadi pagi dan pusing karena Ia harus mundur selangkah dalam tugas skripsi nya.


"Baiklah akan ku lakukan..." Ucap Anggi pelan.


Tok..

__ADS_1


Tok..


"Masuk!". Ucap Reynald saat mendebgar seseorang mengetuk pintu ruangan nya.


Lalu masuk lah Andre seorang diri dengan membawa 2 buah paper bag yang bertuliskan dari resto terkenal.


"Ini makan siang mu". Ucap Andre tanpa basa basi.


"Kenapa kau yang kemari? Mana Renata?". Tanya Reynald.


Andre mengedikkan bahu. "Dia bilang ada urusan sebentar jadi dia meminta aku yang mengambil makanan mu di resto". Ucap Andre.


Reynald manggut-manggut seraya mengeluarkan makanan dari paper bag dan menyerahkan nya pada Anggi yang sedari tadi hanya diam menatap interaksi antara dua pria tampan di dekatnya itu.


Andre menatap Anggi dengan seksama. Menyisir penampilan gadis itu dari atas hingga bawah. Ia lalu beralih pada Reynald. "Itu mahasiswi yang minta kau menjadi mentor nya? Aku baru melihat nya hari ini".


Reynald mengangguk tipis. "Ya benar".


"Anggi, kenalkan ini Andre asisten sekaligus sahabat ku". Ucap Reynald menginterupsi sikap diam gadis itu.


"Kau mungkin akan berinteraksi dengan dia juga jika Renata sedang berhalangan hadir seperti sekarang". Lanjut Reynald.


Anggi tersenyum ke arah Andre sambil menunduk sedikit. Sedangkan yang di beri senyuman tetap dengan ekspresi datar hingga membuat Anggi canggung.


"Hiraukan saja sikap nya. Dia memang sangat dingin seperti di kutub utara". Ucap Reynald seraya melirik Andre.


"Ayo kita makan siang saja".


"Kau seharusnya membawa makanan mu kemari jadi kita bisa makan bersama.. Atau kau mau berdua denganku?". Lanjut Andre seraya tersenyum menggoda.


Andre pun segera bangkit dari duduk nya. "Aku pergi". Ucap nya seraya melangkah keluar ruangan.


"Bagaimana dia bisa punya kekasih jika sikap nya selalu begitu?". Gerutu Reynald menatap pintu yang tertutup oleh Andre.


Ia lalu melirik ke arah Anggi yang sedang menatap ke arahnya dengan tatapan bingung.


"Sudah lah.. Kita makan saja".

__ADS_1


•••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••


Beri dukungan nya yaaa!🥰


__ADS_2