Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 62


__ADS_3

"Kau mau makan apa?".


Anggi lantas melihat daftar menu yang semuanya terdiri dari nama makanan asing. Jika Ia dulu tidak mengerti dan bahkan tidak tahu mengenai bahan komposisi dari setiap menu yang ada, sekarang makanan seperti itu sudah biasa Ia makan. Tentu saja sebagai pengusaha, Ia perlu upgrade dirinya karena pasti selalu menghadiri berbagai perhelatan mewah yang di adakan oleh relasi bisnisnya.


"Aku mau pesan Truffle tagliolini dan Ice cream pistacchio saja". Ujar Anggi seraya menutup buku menu.


"Kalau aku pesan Brioche french, Egg benedict dan Maze salad serta mineral water." Timpal Hendra.


Anggi mengerutkan kening menatap sang ayah. Ia berpikir kenapa ayahnya memesan 3 menu sekaligus.


"Apa itu semua akan habis?"


"Aku sangat lapar! Kau tahu aku tidak selera dengan sajian makanan di pesawat walau aku memesan kursi utama sekalipun". Sahut Hendra.


Anggi manggut-manggut mengerti. Ia hanya takut jika ayahnya akan sakit perut jika terlalu banyak makan, karena seperti itulah yang biasanya akan terjadi.


"Kamu mau makan apa?"


Anggi menoleh pada seorang pria yang sedari tadi sibuk membulak-balik buku menu.


"Banyak yang aku inginkan. Ini resto favoritku. Semua makanan di sini enak!". Ujar sang pria.


"Hot pastrami reuben atau Confit de Canard menurutmu?". Tanya pria itu pada Anggi.


"Kau pesan juga Steak tartare. Nanti kita makan berdua. Aku ingin mencoba itu juga sebenarnya". Timpal Hendra.


Anggi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa memutuskan untuk makan lama sekali?, Pikirnya.


"Ya sudah. Aku pesan Confit de Canard, Steak tartare, dan minumnya caramel macchiato."


"Ah! Mineral water juga!". Sahut sang pria seraya menutup buku menu dan memberikannya pada seorang waitress.


Sang waitress pun segera berlalu untuk memproses makanan yang sudah di tentukan. Ketiganya pun terdiam sejenak sembari mengedarkan ke seluruh penjuru ruangan menikmati atmosfir di resto tersebut.


Anggi diam-diam melirik pria yang duduk di hadapannya. Menatapnya dengan senyum yang terukir di bibir. Ia tidak tahu bagaimana mengekspresikan rasa syukurnya karena di pertemukan dengan pria ini ketika di negeri asing. Ia mengulum senyum kala mengingat pertemuan pertamanya dengan pria itu.


"Makanan apa ini? Aku belum pernah melihatnya."


"Apa ini aman untuk di makan? Tidak beracun kan?"

__ADS_1


Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan konyol yang pria itu tanyakan ketika Anggi pertama kali datang menawarkan produk olahan yang Ia buat.


Satu tahun pertama setelah menjalani usahanya di Abu Dhabi, Anggi berniat untuk memperluas target pasarnya. Ia nekat mendatangi satu per satu perusahaan-perusahaan dengan tujuan mencari klien agar Ia bisa menjadi pemasok utama di acara-acara berbagai perusahaan yang ada di Abu Dhabi.


Banyak penolakan yang terjadi dengan alasan kualitas kemasan yang belum higienis maupun dapur produksi yang belum memenuhi standar kesehatan dan keamanan.


Namun hanya 1 perusahaan yang akhirnya meninjau lebih dalam usaha kuliner yang di miliki oleh Anggi. Yakni perusahaan milik pria yang ada di hadapannya saat ini.


Walau Anggi harus meladeni berbagai pertanyaan konyol mengenai produknya dan selalu mengulang-ngulang bahan komposisi di dalamnya, namun tanpa pria itu yang memberikan kepercayaan padanya dan menjembatani usaha Anggi di Abu Dhabi, Anggi tidak akan menuai kesuksesan yang cepat dalam kurun waktu hanya 5 tahun. Ada tangan dingin pria itu di baliknya yang selalu menyebarkan produk dari perusahaan Anggi pada seluruh relasinya.


Rashaad, Nama pria itu. Sudah 1 tahun Anggi menjalani pertunangan dengannya.


Rashaad adalah seorang pria asli Abu Dhabi. Dengan perawakan yang gagah, para kaum hawa akan selalu meleleh melihatnya. Wajah dengan rahang tegas, alis yang tebal juga hidung yang mancung. Ah jangan lupakan rambut-rambut tipis yang tumbuh di bagian dagu hingga sedikit pipinya sungguh membuat jantan tampilan pria itu. Rashaad merupakan incaran kaum hawa di negaranya.


Bagaimana tidak, Rashaad memang berasal dari keluarga pebisnis yang sukses. Orang tuanya merupakan pendiri Rajul Sahir Group yang memiliki bisnis di sektor makanan, ritel, konstruksi serta real estate. Rashaad sendiri mendirikan Wasim bank di luar sektor bisnis yang kedua orang tuanya jalani. Dari sana jugalah sumber kekayaannya berasal selain dari Rajil Sahir Group.


Hebatnya lagi, dua tahun lalu Rashaad mendonasikan sepertiga dari kekayaannya ke sebuah yayasan resmi yang di naungi oleh pemerintah negaranya untuk kepentingan pendidikan dan anak-anak pengungsi dari wilayah konflik di beberapa negara.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?". Tanya Rashaad memecah lamunan Anggi.


Anggi mengerjapkan matanya lalu menundukkan kepala malu karena terciduk sedang menatap pria itu.


Hendra berkata tiba-tiba seraya menatap silih berganti pada Anggi dan Rashaad.


"Tentu saja niat! Untuk apa aku bertunangan jika tidak ingin ke pernikahan?".


"Lagipula kau tahu Ayah? Di tradisi keluargaku bahkan tidak ada yang namanya pertunangan! Pria dari keluargaku selalu langsung menikahi gadis pilihan kami." Ujar Rashaad sembari menggenggam tangan Anggi.


Rashaad mengulas senyum hangat pada Anggi. "Tapi aku mengikutinya saja hingga dia siap. Entah apa yang membuat putrimu selalu menunda pernikahan jika aku mengutarakannya".


Anggi menatap Rashaad dengan diam membisu. Anggi menggenggam kembali tangan Rashaad yang tengah menggenggamnya dengan satu tangannya yang lain.


Hendra yang mendengar penuturan Rashaad lantas menatap putrinya dengan tatapan yang dalam dengan berbagai pikiran yang berlarian di otaknya.


•••


Sepulanng dari resto, Anggi dan Hendra kini susah berada di sebuah hotel mewah yang berlokasi di pusat kota Abu Dhabi. Keduanya pun melangkah masuk ke sebuah kamar presidential suite.


"Ayah, bukankah lebih baik kamu menginap di apartemenku selama di sini? Kenapa selalu di hotel?". Tanya Anggi seraya menaruh tasnya di atas kursi.

__ADS_1


Hendra melepas jasnya dan menyampirkannya ke kursi. Pria paruh baya itu pun segera mendudukkan tubuhnya.


"Bukannya aku tidak mau. Tapi aku lebih senang tinggal di hotel selama aku bepergian. Tidak ada seorangpun yang menggangguku hehehe" Hendra terkekeh pelan seraya membuka kancing teratas kemejanya.


Anggi tersenyum menatap sang ayah.


"Apa kau belum bisa melupakannya?" Tanya Hendra tiba-tiba.


Sontak saja Anggi diam membeku. Ia tahu siapa yang di maksud oleh sang ayah. Anggi menundukkan kepalanya.


Terdengar helaan napas Hendra. Pria paruh baya itu menatap putrinya yang hanya diam membisu.


"Aku tahu melupakan seseorang yang kau cintai itu sangat sulit."


"Aku pun hingga saat ini masih selalu memikirkan ibumu. Ya. Wajah ibumu selalu hadir dalam ingatanku. Mungkin yang dia rasakan juga sama sepertiku".


Anggi menatap sang ayah dengan kening bertaut.


"Bagaimana bisa?"


"Apa? Aku yang selalu mengingat ibumu?" Tanya Hendra yang di angguki oleh Anggi.


Hendra terkekeh pelan. "Tentu saja aku selalu ingat. Dia seorang wanita yang memberikan warna berbeda dalam kehidupanku. Satu-satunya yang berbeda. Itu yang selalu membuatku ingat".


"Dan kurasa kau pun memberikan warna yang berbeda dalam kehidupannya. Tebukti hingga namamu beredar di mana-mana dia langsung menghubungiku. Itu artinya dia selalu menunggu kabar dirimu"


"Mungkin dia hanya penasaran bagaimana aku menjalani hidupku". Sahut Anggi pelan.


Hendra mengangguk. "Ya. Maafkan aku membahas dia denganmu. Tapi aku tidak pernah mengungkit pria itu selama ini kan? Baru malam ini saja. Itu karena aku memikirkan perkataan Rashaad yang bilang kau belum berniat ke jenjang pernikahan".


"Tebakanku apa kau masih memikirkan Reynald?"


Anggi menatap sang ayah tepat ke dalam manik matanya. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Aku tidak melupakannya tentu saja. Karena aku tidak amnesia, Ayah."


"Aku hanya perlu berpikir lebih dalam lagi sejenak. Lagipula Ayah tahu aku tidak pantas memikirkan pria yang sudah menikah! Kurasa pernikahannya bahagia kan?"


"Tentu saja bahagia.. Istrinya sangat cantik dan artia terkenal. Siapapun yang memiliki istri seperti itu akan merasa bahagia". Anggi bergumam menjawab pertanyaanya sendiri seraya melemparkan pandangannya ke jendela yang menyajikan pemandangan menakjubkan kota Abu Dhabi di malam hari.

__ADS_1


•••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••


__ADS_2