Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 30


__ADS_3

Keesokan harinya.....


Pukul 7 pagi kala mentari sudah menyinari dengan sinar hangat nya ke bumi. Anggi masih betah berlama-lama di atas kasur. Gadis itu enggan beranjak dari singgasana ternyaman nya karena memang Ia tidak cukup tidur tadi malam.


Tentu saja Ia tidak cukup tidur. Semalaman Ia berguling-guling kegirangan seraya memeluk guling karena Reynald datang ke rumah nya tanpa pemberitahuan sama sekali. Layaknya seorang gadis yang baru mengenal cinta, hatinya selalu berdegup kencang kala mengingat betapa hangat sikap kekasih nya dan seolah melindungi dirinya.


Ya.. Anggi merasakan sosok pelindung di diri Reynald. Sejak kecil Ia tidak pernah merasakan kehadiran sosok lelaki yang menjadi pelindung dalam hidupnya. Memiliki Ayah namun seperti tidak punya. Memiliki saudara tiri namun tak pernah sekalipun dalam 23 tahun hidup nya Ia berjumpa.


Ayo terus.. Terus.. Sedikit lagi.. Ke kanan.. Stop!


Suara berisik di luar mengganggu Anggi dan membuat gadis itu mengerjapkan mata. Ia menggeliatkan tubuh nya lalu melirik jam weker yang berada di atas nakas kecil. Ia terlonjak kaget saat melihat waktu sudah pukul 7.


Suara bergemuruh seperti suara dari mesin truck tepat di depan rumah membuatnya membuka gordyn sedikit dan mengintip ke luar jendela. Ia mengerutkan kening saat melihat sebuah truck parkir tepat di depan rumah. Anggi lantas bergegas turun dari kasur lalu mengambil sebuah ikat rambut berwarna hitam dan langsung mengikat asal rambutnya.


Ia lalu keluar kamar tidur menuju kamar mandi untuk membasuh muka. Setelah selesai Ia pun mengambil sebuah gelas bersih dan mengisinya dengan air mineral dari galon yang berada di dapur.


Anggi lalu segera membuka kunci pintu rumah nya dan menghampiri sang supir truck.


"Pak.. Maaf ya.. Bisa tolong pindahkan truk nya sedikit ke depan? Rumah di sebelah saya tidak ada orangnya kok. Kalau bapak parkir tepat di depan rumah saya, itu menghalangi keluar masuk motor saya lho..." Ujar Anggi dengan pelan berharap tak menyinggung sang supir truk.


Sang supir truk lantas melihat Anggi dan tersenyum.


"Maaf Mbak, nanti saya pindahkan. Tapi ini benar rumah Mbak Anggi ya?".


Dahi Anggi berkerut heran. Tau dari mana orang ini. Pikirnya.


"Ya benar, Pak. Tapi bapak tau dari mana saya Anggi?" Tanya gadis itu keheranan.


"Ini lho Mbak.. Saya mau pasang kanopi di teras rumah Mbak.. Sekaligus nanti rekan-rekan saya yang lain juga akan datang untuk merenovasi sedikit rumah Mbak".


Anggi melongo mendengar penuturan sang supir truk. Raut wajah nya terkejut bukan main dan Ia sangat takut kalau sang supir di hadapan nya adalah orang-orang jahat yang berkedok sebagai tukang bangunan. Anggi lalu mundur beberapa langkah antisipasi.

__ADS_1


"Tapi saya tidak pernah memesan jasa pemasangan kanopi atau bahkan merenovasi rumah, Pak! Mungkin Bapak salah rumah!". Sahut Anggi dengan nada takut.


Sang supir truk lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Melihat nomor yang terpasang di dinding rumah lalu melihat sesuatu di ponsel nya.


"Tapi ini bener lho, Mbak. Coba Mbak lihat.. Ini rumah Mbak kan? Nomor rumah nya juga sama kok". Sahut sang supir seraya memperlihatkan layar ponselnya pada Anggi.


Anggi menyipitkan mata saat melihat sebuah foto yang terpampang jelas di itu adalah rumah nya. Anggi mengerutkan kening bingung.


"Tapi saya benar gak pesan, Pak". Ucap Anggi bersikeras.


Tiba-tiba sebuah sedan mewah berwarna hitam berhenti tepat di belakang truk. Anggi dan sang supir mengalihkan perhatian nya pada seseorang yang baru saja turun dari mobil mewah tersebut.


Sang supir tiba-tiba menunjuk pria yang baru turun dari mobil itu.


"Nah itu lho Mbak yang minta saya untuk memasang kanopi dan merenovasi rumah Mbak ini". Sahut sang supir.


Anggi menganga kaget tatkala Ia mengenali siapa pria itu.


"Reynald meminta ku untuk membawamu ke tempatnya. Mari ikut aku". Ucap Andre, sahabat sekaligus asisten Reynald tanpa basa basi.


"Apa Reynald di balik semua ini?". Tanya Anggi mengerutkan kening seraya menatap Andre.


Andre mengangguk namun tak menjawab.


Anggi pun hanya bisa menghela napas pasrah. Mau menolak pun rasanya tak kuasa Ia lakukan. Bagaimana bisa? Pikirnya.


"Tunggu sebentar aku mandi dulu". Ucap Anggi seraya melangkah ke dalam rumah.


"Tidak perlu mandi. Ayo langsung saja. Reynald tak suka menunggu lama. Kau bawa saja ponsel dan dompetmu". Ujar Andre melangkah pergi kembali ke mobil.


Anggi tertegun melihat sikap Andre yang dingin.

__ADS_1


"Mbak pergi aja.. Saya yang akan jadi mandor juga di sini. Tenang saja rumah Mbak aman". Ucap sang supir truk.


Anggi tersenyum seraya menganggukkan kepala. Anggi lalu segera masuk ke dalam rumah untuk mengambil ponsel dan dompetnya. Tak lupa Ia memakai sebuah sweater berwarna merah muda.


"Titip rumah ya, Pak!". Ujar Anggi yang di angguki oleh sang supir. Anggi pun segera berjalan ke sedan mewah di mana Andre sedang menunggu.


•••


Penthouse Reynald


Pagi ini termasuk kedua kalinya Anggi menginjakkan kaki di penthouse Reynald. Pertama kali suasana cukup temaram karena saat itu malam hari. Namun kali ini cahaya matahari pagi menerangi setiap sudut penthouse Reynald yang semakin membuat kagum Anggi akan interior tempat tinggal sang kekasih.


"Astaga... kau belum mandi?". Suara bariton dari balik punggungya terdengar.


Anggi membalikkan tubuh dan melihat Reynald yang tengah melangkah ke arahnya.


Harum semerbak mengurai di indera penciuman Anggi saat pria itu berhenti tepat di hadapan nya. Anggi menundukkan kepala malu dan meraih kedua ujung sweater yang di pakainya lalu meremasnya dengan kuat.


"Asisten mu menyuruh ku untuk tidak perlu mandi karena katanya kau tidak suka menunggu lama". Ucap Anggi pelan.


Reynald mengusap wajah nya kasar. "Astaga Andre benar-benar... Tunggu sebentar. Kau duduk lah dulu". Ucap Reynald seraya mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celana.


Anggi pun segera duduk di sofa ruang tengah mengamati Reynald yang tengah menelpon seseorang. Tak lama setelah selesai menelfon, pria itu pun menuju pantry.


Anggi hanya diam dan canggung berada di penthouse kekasih nya itu. Reynald lalu menghampirinya lagi dengan membawa secangkir teh hangat dan memberikan nya pada Anggi.


"Kau minum lah dulu.. Renata nanti akan kemari membawa pakaian dan sarapan untukmu".Ujar Reynald sambil duduk di sebelah Anggi.


Anggi menggeser sedikit menjauh dari Reynald membuat dahi pria itu berkerut heran.


"Kenapa kau menjauh?". Tanya Reynald.

__ADS_1


Anggi menggelengkan kepala pelan. "Aku belum mandi... Pasti tubuhku mengeluarkan bau tak sedap". Cicit Anggi tak mampu menatap Reynald.


••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••


__ADS_2