
Anggi berdiri di tepi tebing menyaksikan matahari terbenam di balik gelombang yang menari dan selalu membuatnya takjub. Matahari terbenam adalah favoritnya Reynald. Pria itu selalu menatap matahari terbenam dari balkon penthousenya maupun dari balik jendela kantornya.
Anggi menadahkan kepala ke atas menatap awan dengan semburat kemerahan yang pekat. Ia menghirup napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia menatap sebuah cincin berlian yang melingkar di jari manisnya. Tanpa sadar air matanya menetes jatuh ke pipi. Anggi segera mengusapnya dan tersenyum tipis.
Ia menatap kembali pada bulatan berwarna keemasan yang turun sedikit demi sedikit seolah menghilang pergi meninggalkannya menuju kegelapan. Anggi meremas dadanya seakan rasa sakit itu sangat nyata menghantam dirinya.
Apalah artinya kehilangan, jika tak mampu menggugah kesadaran? Anggi tertampar sedemikian kerasnya saat Ia melihat tubuh Reynald terbaring di atas meja operasi. Sekuat apapin dia berteriak, mata pria itu tetap terpejam hingga suatu hantaman dalam hatinya menyeruak begitu saja. Anggi sadar Ia tidak ingin kehilangan Reynald. Ia tak mampu hidup tanpa pria itu.
Anggi menyadari dalam hidup pasti setiap orang akan mengalami kehilangan baik itu karena berpisah, tidak berjodoh atau meninggal dunia. Satu-satunya jalan untuk bisa bertahan yaitu merelakan. Tapi tidak.... Anggi tidak pernah bisa rela kehilangan Reynald.
Pikiran Anggi menerawang kembali ke beberapa waktu yang lalu saat Ia menerima Reynald untuk kedua kalinya. Pria itu sangat bahagia hingga memeluk dan menciumnya berulang kali. Lagi-lagi hati Anggi seperti di remas.
"Aku tidak pernah tahu cinta yang aku rasakan padamu akan sedalam ini. Kau mengajariku cara untuk menghargai wanita, tidak ada lagi yang akan aku tutupi darimu... Aku dan Clara dahulu memang menganut gaya berpacaran bebas hingga terlahir Jessy tanpa di sengaja. Tapi setelah aku mengenalmu, aku menyadari apa arti cinta yang suci. Cinta tidak selalu harus di ungkapkan di atas ranjang apalagi kita belum menikah. Aku juga sangat ingin menjagamu... berusaha kuat untuk tidak menyentuhmu walau sebenarnya sangat ingin hehehehee"
"Aku sudah lama sekali tenggelam.. Mungkin sejak terakhir kali aku melangkah keluar dari rumahmu pada malam itu. Malam di mana aku jujur tentang apa yang menimpaku, tentang Clara dan juga Jessy. Sejak malam itu, aku tahu aku bukan Reynald yang dulu lagi. Tapi keadaan membawaku untuk menjauh darimu, melepaskanmu walau tak sesuai dengan hati nuraniku. Aku kehilangan diriku sejak malam itu. Aku tidak tahu apakah masih ada waktu yang cukup untukku menjadi diri sendiri? Apakah untuk menjadi seorang lelaki, aku harus mengorbankan perasaan-perasaanku sendiri?"
Anggi meremas dadanya kala mengingat ucapan Reynald yang selalu terngiang-ngiang di pikirannya. Anggi menyesal karena tidak memperlakukan Reynald dengan sepenuh hatinya saat mereka berdua kembali bersama. Anggi membentengi dirinya sendiri karena takut Ia akan kecewa lagi. Walau Reynald berbulan-bulan menghujaninya dengan seluruh cinta yang pria itu miliki, Anggi hanya membuka benteng hatinya sedikit.
Pernikahan, urusan perasaan, cinta, kebencian... Itu semua tidak sesederhana yang di lihat. Kadangkala tidak bisa di jelaskan, kadangkala di penuhi kesalahpahaman, kadangkala di penuhi kesedihan dan kemalangan.
Anggi mencintai Reynald. Sangat mencintai pria itu. Kini Ia lebih lantang menyuarakan perasaannya. Apa itu sudah terlambat? Anggi tidak peduli.
Suasana sudah cukup temaram karena matahari sudah tenggelam sempurna. Anggi menutup mata merasakan hembusan angin yang menerpanya tiada henti. Meresapi dan mendengarkan suara ombak yang menghantam batu karang. Itu semua seperti terapi untuknya. Sejak hari itu, laut adalah tempat pelariannya. Lagi-lagi karena Reynald menyukai lautan.
"Anggi..." Panggil seseorang dari belakang.
Anggi membuka matanya dan membalikkan badan. Bibirnya mengulas senyum tipis melihat Rashaad melangkah menghampiri dirinya.
Pria itu melepas jas yang di pakainya dan menyampirkannya ke bahu Anggi. "Kau bisa masuk angin".
__ADS_1
"Sejak kapan istilah masuk angin di kenal oleh orang asing?" Tanya Anggi terkekeh.
"Sejak aku bergaul dengan Andre dan Renata. Mereka berdua memang racun untukku" Rashaad tertawa melihat Anggi yang sedang melempar pandangannya ke arah laut.
"Kapan kau akan pulang ke Abu Dhabi? Kau sudah cukup lama meninggalkan perusahaanmu". Ujar Anggi beralih menatap Rashaad.
"Kau juga sudah cukup lama meninggalkan perusahaan mu di sana. Apa kau tidak kasihan dengan Mila?"
Anggi tertunduk lesu. "Aku tidak memiliki alasan apapun lagi untuk kembali ke sana, Rashaad. Dulu aku bekerja keras di sana untuk lari dari Reynald... Tapi sekarang......" Anggi menggantungkan ucapannya.
"Aku berencana akan meminta Mila meneruskan perusahaanku. Entahlah.. Aku belum bisa berpikir tentang itu lebih dalam saat ini" Lanjut Anggi.
Rashaad menganggukkan kepala memahami. "Untuk perusahaan mu di sana kau tidak perlu kuatir. Aku akan menempatkan orang kepercayaanku di sana. Saat ini yang penting adalah dirimu... Aku belum bisa pulang ke negaraku hingga aku memastikan kau baik-baik saja".
Anggi tersenyum. "Tentu aku baik-baik saja, Rashaad".
Anggi melemparkan tatapannya mengarah kembali ke lautan. "Aku...bahagia....."
"Aku mencarimu kemana-mana Anggi! Ternyata kau di sini". Sahut seseorang menginterupsi obrolan Anggi dan Rashaad.
Renata menatap wajah Anggi dengan seksama. Menelisik inci demi inci wajah Anggi hingga akhirnya wanita itu menghembuskan napas pelan. "Kau menangis lagi?"
"Aku sudah bilang jangan menangis.. Lihat matamu sembab! Berbulan-bulan kau seperti mayat hidup. Hidup segan mati tak mau!" Omel Renata.
"Jangan terlalu keras padanya. Pantas saja kau selalu sendiri. Mana ada pria yang tahan dengan mulutmu itu Renata" Cibir Rashaad.
Renata melotot ke arah Rashaad. "Diam! Aku juga kesal denganmu! Bukannya membawa Anggi ke dalam, kau malah menemaninya di sini"
Rashaad terkekeh pelan. "Terserahlah..." Ujar Rashaad seraya melangkah pergi meninggalkan Anggi dan juga Renata berdua.
__ADS_1
Renata lantas menatap Anggi dengan sorot mata tajam. "Mau sampai kapan kau seperti ini?"
Anggi tersenyum manis. "Aku janji hari ini adalah hari terakhirku seperti ini, Mbak. Aku janji..." Anggi mengangkat sebelah jari kelingkingnya pada Renata hingga membuat wanita itu terkekeh pelan.
"Ayo kita masuk" Ajak Renata seraya menarik pelan Anggi, memeluk bahu Anggi dengan sebelah tangannya.
Anggi melangkah masuk seraya mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ia menghela napas pelan dan menadahkan kepalanya kembali ke atas berusaha menahan air mata untuk turun membasahi wajahnya.
Renata memeriksa sekilas wajah Anggi dan menekan-nekan ujung tisu pada sudut mata Anggi agar air mata yang menggenang menghilang.
"Tersenyumlah Anggi.. Jangan keluarkan air matamu lagi. Sudah cukup berbulan-bulan kau menangis. Oke?"
Anggi mengangguk pelan dan melemparkan sebuah senyuman pada Renata. Renata lantas membuka sebuah pintu besar yang penuh dengan ukiran kayu.
Anggi melangkah masuk dengan pelan. Seluruh mata memandang ke arahnya. Anggi berusaha menenangkan diri dengan menarik napas dan sebisanya melemparkan sebuah senyuman terbaik di bibirnya.
Hingga sebuah tangan kekar menggenggam tangannya dengan lembut. Tangan yang hangat hingga mampu menyalurkan rasa tenang pada dirinya. Anggi menatap pada sang pemilik tangan tersebut. Matanya berkaca-kaca hingga tanpa sadar air mata lolos membasahi pipi.
Pria itu mengusap sisi wajah Anggi dengan penuh kelembutan. "Aku sudah bilang jangan menangis lagi sayang"
Mendengar ucapan dari pria itu bukannya membuat Anggi berhenti. Ia malah menangis semakin keras hingga membuat seluruh orang yang ada di dalam ruangan itu terkekeh geli.
"Aku sudah bilang ini tangisan bahagiaku.." Sahut Anggi seraya menyeka pipinya asal.
"Kapan aku mengucapkan janji suci jika mempelai wanitanya malah menangis seperti ini hmm?"
Anggi tertegun. Ya. Benar. Ia harus berhenti menangis agar acara pernikahannya dengan Reynald bisa segera dilangsungkan.
•••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••
__ADS_1