Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 40


__ADS_3

Soekarno Hatta International Airport, Terminal 3.


Reynald dan Andre yang baru saja mendarat dengan selamat di Jakarta, keduanya kini sedang menunggu koper mereka yang sepanjang perjalanan di taruh dalam bagasi pesawat.


Andre berdiri menatap satu per satu koper yang berjalan di atas eskalator datar yang memutar. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya muncul koper milik dirinya dan Reynald lalu tanpa buang waktu lagi keduanya segera melangkah menuju ke gate penjemputan.


Pak Yudi, supir pribadi Reynald lantas segera berlari kecil menghampiri Reynald dan Andre yang baru saja keluar. Dengan sigap Pak Yudi meraih dua koper dari tangan keduanya dan mendorongnya ke arah mobil.


Tak lama saat Pak Yudi hendak membukakan pintu belakang untuk Reynald. Namun tiba-tiba ponsel pria itu yang berada di saku celana terdengar berbunyi nyaring. Reynald merogoh ponselnya dan melihat jika Gavin yang menghubunginya.


"Ada apa?". Tanya Reynald tanpa basa basi tepat ketika Ia menjawab panggilan telfon Gavin.


"Kau sudah sampai di Jakarta atau masih di pesawat ,bro?"


"Aku baru sampai Jakarta. Saat ini masih di bandara. Ada apa?". Tanya Reynald lagi.


"Mmm.. Bagaimana aku bilangnya ya.."


Suara Gavin terdengar bingung. Andre dengan gelagatnya meminta Reynald untuk segera masuk ke dalam mobil namun Reynald hanya mengangkat tangan ke arah Andre meminta sahabatnya itu untuk menunggu.


"Cepat katakan ada apa! Kau aneh sekali!". Reynald menggerutu kesal melalui telfon.


"Mmmm... Begini bro... Apa kau tau kekasih mu ada di mana saat ini?"


Reynald mengerutkan kening heran. Kenapa Gavin tiba-tiba bertanya tentang Anggi, pikirnya.


"Mana ku tau! Aku belum menghubunginya". Ucap Reynald.


"Aku bertemu kekasih mu di Club David. Dia sedang bekerja sekarang. Apa kau masih mengizinkan kekasih mu itu bekerja di club?"


"Aku hanya heran saja...."


Klik!


Reynald langsung saja memutus sambungan telfon dengan sepihak tanpa mendengar Gavin bicara apapun lagi. Ia lalu menghampiri Pak Yudi yang masih setia berdiri tepat di bagian pintu belakang yang belum di buka untuk sang bos besar.


"Mana kunci mobilnya?". Tanya Reynald seraya menadahkan tangan.


Pak Yudi menatap Reynald tak mengerti.


"Cepat serahkan kunci mobilnya!". Ujar Reynald dengan nada satu oktaf lebih tinggi.


Andre meraih lengan Reynald hingga pria itu menghadap ke arahnya.

__ADS_1


"Apa maksudmu meminta kunci mobil?". Tanya Andre.


"Aku harus segera pergi ke club David. Gavin memberitahuku jika Anggi sedang berada di sana". Jelas Reynald.


"Apa dia pesta di sana?". Tanya Andre dengan raut wajah terkejut. Setahunya kekasih Reynald kali ini adalah gadis polos yang tidak pernah macam-macam.


"Tentu saja tidak! Gavin bilang dia sedang bekerja!". Reynald menjawab dengan kesal.


Ia lantas mengambil dengan cepat kunci mobil dari tangan sang supir dan segera melangkah menuju kursi kemudi.


"Hey! Bagaimana dengan kami berdua?!". Ucap Andre sedikit berteriak.


"Kalian pakai saja taksi!". Ujar Reynald lalu menutup pintu mobil cukup kencang dan segera melajukan mobilnya hingga terdengar decitan ban yang menggesek aspal.


Andre dan Pak yudi hanya terdiam saling menatap dengan raut wajah bingung kala melihat mobil yang di kendarai Reynald meninggalkan mereka berdua di bandara.


•••


Reynald memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Mengingat hari ini adalah malam minggu yang di mana banyak orang yang keluar untuk menikmati hari libur dari padatnya aktifitas di hari kerja.


Lalu lintas terlihat cukup padat di beberapa ruas jalan hingga membuat Reynald kesal dan membunyikan klakson berulang kali dan menimbulkan polusi suara yang tentu saja membuat banyak pengendara kesal.


Seseorang yang mengendarai motor mengetuk kaca mobilnya dengan kencang. Reynald melirik sekilas dan membuka kaca mobil kursi penumpang depan.


"Hey kau membuat banyak orang risih dengan membunyikan klakson terus menerus!". Ucap sang pengendara motor.


"Cih! Kau sombong sekali!". Balas sang pengendara motor.


"Aku memang sombong! Lalu kau mau apa hah?". Teriak Reynald sengit seraya melotot pada pengendara motor tersebut hingga membuat sang pengendara motor terlihat geleng-geleng kepala dari gerakan helm yang di pakainya.


Tak lama karena banyak orang yang bergantian mengklakson mobil Reynald dan motor yang berhenti begitu saja hingga membuat laju tersendat, Reynald menatap kaca spion tengah mobilnya dan segera melajukan mobilnya kembali.


Malam makin larut namun pengunjung club David malah kian ramai. Anggi yang sedari tadi sibuk makin di buat sibuk. Entah sudah berapa kali Ia naik turun tangga mengantar berbagai pesanan ke ruang VIP dan juga melayani pesanan untuk orang-orang yang membuka table di lantai dasar.


Anggi menghembuskan napas kasar. Kakinya sangat lelah mengingat saat ini Ia sedang memakai high heels setinggi 7 cm.


Gavin yang sedari tadi duduk di table 5 tak melepaskan pandangan nya pada Anggi atas perintah Reynald. Ia yang berniat ingin bersenang-senang dan membooking satu wanita penghibur dari club ini untuk menemani malam minggunya terpaksa harus mengurungkan niatnya.


"Sial.. Harusnya aku bersenang-senang di atas kasur dengan wanita saat ini. Malah harus melihat kekasih orang!". Gerutu Gavin seraya menyesap tequilla.


Tak lama Gavin di kagetkan oleh Reynald yang begitu saja duduk di sebelahnya.


"Mana kekasih ku?". Tanya Reynald tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Kau datang-datang bukannya menyapaku dulu malah langsung menanyakan kekasihmu!".


"Dia di sana". Tunjuk Gavin pada Anggi yang sedang berdiri di meja bar menunggu bartender menyiapkan orderan dari tamu.


Reynald segera beranjak dari sofa dan melangkah ke arah Anggi. Gavin hanya menggelengkan kepala dan segera meninggalkan meja. Tugasnya sudah selesai, pikir pria itu.


Tepat di depan bar Ia segera menarik tangan Anggi hingga membuat gadis itu membalikkan badan dan terkejut saat melihat siapa yang berani menarik tangannya begitu saja.


Reynald menatap Anggi dengan tatapan tajam. Menyisir tampilan gadia itu dari atas hingga bawah.


"Ikut aku". Ucap Reynald dengan nada dingin.


"Tapi aku sedang bekerja". Tolak Anggi cepat.


"Tinggalkan saja! Mulai malam ini kau berhenti bekerja di sini!". Ucap Reynald tak menerima bantahan.


Mau tak mau ketika melihat tatapan tajam Reynald yang seakan sanggup menghancurkan dirinya berkeping-keping. Anggi pun menurut dan segera menitipkan orderan yang harus segera di antarkan kepada salah seorang waitress lain.


"Masuk". Ucap Reynald seraya membuka pintu mobil.


"Motorku...."


"Aku yang urus". Ujar Reynald singkat.


Anggi lantas segera masuk ke dalam mobil di susul oleh Reynald. Tanpa menunggu lama Reynald segera melajukan mobilnya keluar dari parkiran club.


Setelah sekitar 20 menit berkendara, Reynald menghentikan mobilnya di taman kota yang sepi dengan pencahayaan temaram.


Reynald membuka seatbelt dan merubah posisi duduknya menghadap Anggi. Pria itu menatap tajam ke arah kekasih yang terlihat gugup.


"Kenapa kau tidak menggubris seluruh pesan dan telfon dari ku?". Cecar Reynald.


Anggi hanya diam menunduk tak menjawab apapun.


"Apa aku melakukan suatu kesalahan?". Tanya Reynald dengan dahi berkerut.


Anggi menggelengkan kepalanya tanpa menatap ke arah Reynald.


"Lalu kenapa kau diam saja selama satu minggu ini?".


"Tidakkah kau tau kalau aku merindukanmu?".Tanya Reynald.


Anggi sontak saja menoleh dengan raut wajah tak percaya.

__ADS_1


"Benarkah? Kau merindukan ku?". Tanya Anggi dengan nada skeptis.


••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••••


__ADS_2