Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 82 - POV of Anggi


__ADS_3

Aku berpikir selama ini sudah cukup mengenal Rashaad, pria yang menjadi calon suamiku. Bagiku Rashaad adalah seorang pria yang penyayang, penyabar, idealis, pintat dan hmm.. Tampan!


Sampai saat ini aku belum bisa menerima keputusannya untuk menunda rencana pernikahan dan menceritakan semua yang Reynald katakan pada dirinya ketika Rashaad berkunjung ke Jakarta untuk mengurus kerja sama kedua perusahaan mereka.


Keputusan Rashaad membuatku berada di posisi yang sangat sulit. Aku berusaha mengerti dan pada akhirnya Ya! Aku mengerti. Namun aku belum bisa menerimanya karena itu sangat menyakitkan. Keputusan Rashaad mengguncang kedua belah pihak keluarga. Rashaad berbicara 4 mata dengan Ayahku dan tentu saja dia pun menghadap kedua orang tuanya.


Setelah tragedi pembatalan rencana pernikahan malam itu, Rashaad tidak berbicara banyak lagi denganku. Aku pun mengambil sikap diam layaknya seorang wanita yang sedang marah. Aku marah sekali tentu saja! Hanya orang gila yang membatalkan rencana yang menyangkut dua orang namun tidak pernah di diskusikan denganku terlebih dahulu!


Rashaad pergi keesokan harinya untuk menjalankan perjalanan bisnis yang memang sudah terjadwal jauh-jauh hari sebelum terjadinya tragedi ini. Rashaad mengirimkan aku sebuah email namun hingga beberapa hari berlalu aku belum membukanya. Aku masih berharap dia menelfonku namun itu hanyalah angan kosongku.. Dia tidak memberi kabar apapun! Rashaad sialan!


Sekarang tepat pukul 1 dini hari dan aku masih terjaga. Ritme tidurku tiba-tiba berantakan semenjak hari itu. Kalian tahu kan.. Malam hari biasanya di mana berbagai memori menyeruak muncul begitu saja ke permukaan. Entah kenapa hari ini aku sangat ingin tahu kabar dari Rashaad namun aku pun gengsi untuk menghubunginya lebih dulu. Dia yang cari masalah kok!


Akhirnya aku memutuskan untuk membuka email yang dia kirimkan untukku. Aku menarik napas dalam-dalam menyiapkan diriku unuk membaca kata demi kata yang Ia tuangkan dalam email tersebut.


Sayang,


Aku minta maaf karena sudah membatalkan rencana pernikahan kita, aku minta maaf karena memberi tahu kamu harapan Reynald tentang kamu.


*Aku harap kau mengerti... Setelah aku mengetahui segalanya, aku merasa tidak akan adil untuk semuanya kalau aku memaksakan kehendakku sendiri. Untuk sekarang menunda adalah hal terbaik yang bisa aku pikirkan sampai kau merasa yakin dengan keputusanmu.


Sayang.. Seperti yang aku selalu bilang padamu, kau adalah satu-satunya wanita yang aku cintai dan bukannya aku tidak mau memperjuangkan hubungan kita.. Bukannya aku tidak mau memperjuangkan dirimu, tapi untuk urusan satu ini aku percaya dengan Tuhan.


Kalau kau memang untukku, pasti akan ada jalan lagi untuk kita tanpa aku harus egois memaksakan kehendak aku sendiri.. Tanpa aku harus berpura-pura menutup mata tentang hatimu yang belum tentu untuk aku*.


Aku seorang pria sayang... Aku bisa memahami dan sangat mengerti sekali dengan tindakan dan sikap Reynald. Aku tidak minta kau untuk mengerti tentang dia, bagaimana dia menjalankan kehidupannya setelah kalian berpisah, bagaimana sulitnya melawan dirinya sendiri dan bagi seorang pria menahan ego itu sangat sulit sayang. Ego adalah salah satu kebanggaan kami.. Kaum pria.


Dan... Tentang perasaan kau untuk Reynald yang umurnya sudah 5 tahun. Aku merasa ini semua tidak benar..

__ADS_1


Kau harus mengetahui tentang Reynald suka atau tidak suka. Kau harus cari tahu sendiri tentang dia. Aku tidak mau memberatkan keputusanmu. Aku tidak mau kau mengetahui segalanya setelah kita menikah dan yang tersisa mungkin hanya penyesalan karena tidak mencobanya dengan Reynald.


Aku ingin kau tahu bahwa pilihannya terbuka. Kau harus melakukan apa yang kau rasa benar. Tanyakan pada hatimu sendiri sayang.


Aku tidak mau ada penyesalan, tidak dariku, tidak juga darimu. Maafin aku...


With love,


Rashaad.


Wajahku benar-benar banjir air mata setelah aku selesai membaca isi email yang Rashaad kirimkan. Aku lantas segera mengambil ponselku dan menekan nomor Rashaad. Aku tidak peduli di negara mana sekarang dirinya berada dan pukul berapa di tempatnya. Yang aku inginkan saat ini adalah menelfon Rashaad!


"Halo..."


Terdengar suara Rashaad di speaker ponselku. Aku terdiam beberapa saat mencoba menghentikan tangisku yang tak juga reda. Aku menarik napas dan menghembuskannya berulang kali berusaha mengendalikan diri.


Rashaad tidak menjawab apapun.


"Ini tidak adil untukku, Rashaad. Kau tahu itu kan?"


Tidak terdengar jawaban apapun dari Rashaad. Aku menghirup napas lebih dalam agar pikiranku tetap jernih dan emosiku tetap terkontrol dengan baik.


"Bilang sama aku, aku harus apa supaya kita bisa melanjutkan rencana pernikahan ini? Apa sesusah itu untuk kamu terima kalau Reynald adalah masa lalu? Aku bahkan tidak pernah tidur dengan dia! Tidak ada yang spesial dari hubungan singkat itu!"


"Stop it sayang.. Kau tahu ini semua bukan tentang itu.."


Aku menjadi marah. Sangat marah!

__ADS_1


"Lalu apa hah? Apa kamu tidak bisa terima kalau ada pria lain yang mencintai aku hingga bertahun-tahun atau apa?Bilang sama aku! Ini hanya tentang ego kamu Rashaad! Kamu pikir aku barang?! Yang seenaknya kamu kasih ke pria lain??"


"Demi Tuhan Anggi! Aku harus bilang berapa kali kalau kita perlu berpikir jernih dengan segala hal ini. Tanya hatimu sekarang. Kenapa hingga 2 tahun ini aku mengajakmu menikah namun kau selalu diam seribu bahasa? Karena kau belum yakin denganku!"


"Setelah aku mengetahui semuanya, suka tidak suka aku harus mengakuinya! Sekalipun kau berusaha menetapkan hatimu untukku, kau akan selalu terganggu dengan Reynald! Bukan berarti dia mengganggumu, tapi alam bawah sadarmu akan selalu menuntunmu pada dirinya.Please sayang... Aku memberimu waktu dan gunakan baik-baik. Kenali perasaanmu sendiri"


Klik!


Sambungan telfon di putus begitu saja oleh Rashaad tanpa menunggu aku menjawab apapun lagi.


Entahlah, aku kesal, marah sekaligus sedih. Aku merasa tidak waras! Aku sangat marah pada semuanya. Pada keadaan, pada Reynald dan terutama pada Rashaad.


Untukku, selama ini Rashaad merupakan penyelamat hidupku. Dia hadir saat aku merasa sendirian di tengah-tengah dunia yang kejam. Di saat aku sedang berjuang untuk sembuh dari patah hati karena Reynald dan di saat aku berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.


Tapi pilihannya kali ini yang tidak memperjuangkan aku, membuatku merasa di buang begitu saja. Merasa di khianati. Aku menganggap Rashaad adalah seorang pahlawan untuk hidupku, namun ternyata aku di khianati begitu saja. Bagaimana rasanya?


Di sisi lain, aku sedikit memikirkan Reynald. Sedikiiiiittt.. Ya sedikit. Ah tak tahulah! Yang jelas aku hanya memikirkannya sekilas.


Semenjak pertemuan kami di pantai Corniche tempo hari yang sama sekali tidak di sengaja, aku tidak pernah lagi berkomunikasi dengannya. Benarkah istrinya itu menggugat cerai? Aku mengingat ucapannya terakhir kali saat di pantai... Dia hanya akan menjalankan kehidupannya dan memintaku untuk jangan memikirkan tentang dirinya.


Tapi kenyataannya aku bahkan seakan di tarik kembali ke arahnya. Dan istrinya itu yang hm... Entahlah kata apa yang pantas aku jabarkan untuk istrinya. Aku tentu terkejut pada akhirnya wanita itu menggugat cerai Reynald. Padahal terakhir kali aku bertemu dengannya, wanita itu bahkan terlihat marah dan cemburu padaku!


Lalu bagaimana dengan Jessy? Gadis kecil yang lucu itu? Anak sekecil itu pasti sangat sedih melihat kedua orang tuanya harus berpisah. Lalu.... Bagaimana dengan Reynald? Bagaimana dengan keadaannya?


Tanpa sadar tanganku meraba sisi kiri dadaku yang terasa nyeri saat mengingat pria itu.


•••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••

__ADS_1


__ADS_2