
Acara makan siang di antara Reynald, Clara, Anggi, Rashaad beserta Jessy berlangsung dengan hangat. Sesekali terdengar tawa dan senda gurau di antara mereka. Sungguh siapapun yang melihatnya pasti akan mengira yang mereka lakukan adalah double date yang penuh sukacita.
Clara beranjak dari kursinya untuk mengambil makanan penutup di area pantry. Anggi meraih segelas jus jambu yang tinggal tersisa setengah gelas dan di minumnya hingga tandas.
"Apa kau mau tambah lagi jus nya?" Tanya Reynald seraya menatap gelas kosong di tangan Anggi.
"Ah.. Tidak perlu. Sudah cukup" Sahut Anggi.
Reynald pun mengangguk tipis dan melanjutkan makannya seraya sesekali menyuapi Jessy karena putri kecilnya hanya ingin di suapi sang ayah jika dirinya berada di penthouse sehari penuh.
"Naaaahh ini dia hidangan penutupnya.." Ujar Clara seraya melangkah dari pantry menuju ruang makan.
Clara di ikuti Mbak Husna membawa pudding cokelat dengan vla vanila juga cocktail buah yang terlihat menggiurkan. Clara lalu mengambil sebuah piring kecil dan segera memotong pudding cokelat menjadi bagian kecil dan menyiraminya dengan vla vanila.
"Suamiku sangat suka dengan pudding cokelat seperti ini. Terlihat simple ya? Hehehe.. Padahal semasa kami berdua berpacaran, dia tidak pernah mau memakan sesuatu yang berbau cokelat dan manis" Ujar Clara seraya memberikan piring kecil berisi pudding tersebut pada Reynald.
"Namun entah kenapa semenjak putri kecil kami lahir, Ia jadi suka dengan cokelat. Khususnya pudding seperti ini". Clara menatap Reynald seraya mengulas senyum hangatnya.
Anggi terkesiap mendengar penuturan Clara. Ia reflek menatap Reynald begitu saja yang ternyata tengah menatapnya dengan sorot mata yang tak terbaca.
Kenangan 5 tahun lalu menyeruak begitu saja dalam pikiran Anggi. Berbagai keributan kecil yang terjadi karena Anggi selalu mencekoki Reynald dengan pudding cokelat buatannya setiap kali pria itu datang ke rumah. Hingga akhirnya Reynald lah yang selalu meminta Anggi untuk membuatkannya pudding cokelat.
Anggi menundukkan kepalanya dan tersenyum miris.
Aah.. Ini tidak baik bagi kesehatan jiwaku. Rasanya aku ingin berteriak pada mereka semua. Rasanya rumit sekali berpura-pura tidak mengenal seseorang dari masa lalu. Anggi bermonolog dalam hatinya.
"Kenapa kau diam saja? Apa kau mau mencicipinya? Aku ambilkan ya..." Clara membuyarkan fokus Anggi.
Anggi menatap Clara dengan tersenyum kikuk. "Apa? Ah pudding ya.."
"Aku saja sendiri yang mengambilnya" Ujar Anggi meraih sebuah pisau plastik dari tangan Clara.
"Tunanganmu sangat manis. Anda beruntung Tuan Rashaad. Tidak akan ada yang menyangka bahwa wanita sukses yang mendirikan perusahaan di negaramu ini adalah wanita yang pendiam hehehehe". Clara terkekeh memuji Anggi seraya menatap Rashaad.
"Ya. Aku pria yang sangat beruntung bukan?" Timpal Rashaad seraya tertawa.
"Pudding buatanmu enak" Ujar Anggi tiba-tiba pada Clara.
"Benarkah?"
__ADS_1
"Kau dengar sayang?" Clara beralih menatap Reynald.
"Anggi bilang puddingku enak. Tapi kau selalu bilang itu kurang rasa"
Anggi tersenyum tipis mendengar keluhan Clara pada Reynald seraya memotong kecil pudding di piringnya. "Aku akan memberitahu resepnya dan aku yakin suamimu tidak akan protes lagi"
Seluruh mata yang berada di meja makan sontak saja menatap Anggi dengan raut wajah bingung kecuali Reynald yang terkejut.
"Maksudmu bagaimana?"
"Memangnya kau tahu resep pudding yang di sukai oleh suamiku?". Tanya Clara. Raut wajah wanita cantik itu tentu saja bingung dengan ucapan Anggi barusan.
Anggi mengerjapkan matanya seakan tersadar apa yang tadi Ia ucapkan. Ia menatap silih berganti pada setiap orang yang menunggu jawabannya.
"Ahh.. Itu maksudku... Aku tahu resep pudding yang di jamin enak dan itu aku dapat dari situs memasak dari internet dan sudah banyak review positif. Bukankah itu berarti enak? Kamu bisa melihatnya sendiri. Nanti aku berikan alamat situsnya". Ujar Anggi tenang.
Clara mengangguk-angguk mengerti. "Ya tentu saja. Aku tidak pernah melihat situs memasak di internet hehehe".
"Tunanganku sangat senang sekali berada di dapur. Dia senang bereksperimen dengan bahan makanan dan menjadikannya hidangan yang sangat lezat" Timpal Rashaad tersenyum menatap Anggi.
Anggi hanya terdiam tanpa menanggapi. Ia beralih melihat Jessy yang sudah terlihat bosan di meja makan. Namun sepertinya gadis kecil itu sungkan untuk mengganggu kedua orang tuanya yang sedari tadi sedang sibuk mengobrol.
Jessy mendongak menatap Anggi lalu beralih menatap kedua orang tuanya. Reynald mengangguk mempersilakan putrinya untuk pergi lebih dulu dari ruang makan untuk ikut dengan Anggi ke ruang tengah.
Anggi maupun Jessy akhirnya beranjak dari duduknya masing-masing dan melangkah menuju ruang tengah. Anggi mendudukkan dirinya di sofa seraya memegang sebuah bingkisan yang sudah diberikannya untuk Jessy.
"Kamu yang buka atau aku yang buka?". Tanya Anggi memeluk bingkisan tersebut.
Jessy terlihat berpikir. Mulut mungilnya di manyunkan ke depan. Sunguh terlihat menggemaskan di mata Anggi hingga Ia tak tahan untuk mencubit kecil pipi gadis kecil itu.
"Aku saja yang buka ya, Aunty". Ujar Jessy akhirnya. Anggi pun segera memberikan bingkisan itu pada Jessy.
Anggi lantas hanya melihat dan menunggu Jessy yang sedang berusaha membuka bingkisannya. Hingga beberapa saat kemudian, nampaklah sebuah kotak besar yang bergambar sebuah rumah barbie. Tak di pungkiri tatapan Jessy berbinar melihat isi di balik kertas kado yang membalut kotak besar itu.
Tangan gadis kecil itu dengan lincahnya membuka kotak tersebut dan berusaha mengangkat isi di dalamnya.
"Aunty bantu ya..." Ujar Anggi sambil mengangkat sebuah rumah barbie yang cukup besar.
"Waaaaa barbie! Barbie! Barbie!" Teriak Jessy kegirangan saat melihat rumah barbie yang seperti kastil beserta 4 boneka barbie yang cantik.
__ADS_1
"Kamu suka?" Tanya Anggi mengulum senyum menatap Jessy.
Jessy mengangguk-anggukkan kepalanya dengan antusias. "Aku suka! Aku senang sekali dengan boneka barbie, Aunty! Dan aku belum punya rumah barbie seperti ini"
"Apa Aunty Anggi mau melihat koleksi boneka barbie di kamarku?"
"Apa aku boleh melihatnya?" Tanya Anggi.
Jessy mengangguk. "Ayo Aunty! Kamarku di lantai bawah kok sebelah kamar Mom"
Anggi menautkan keningnya begitu saja. Kamar Mom? Namun Anggi tak memikirkannya lebih jauh dan mengikuti Jessy.
Anggi tertegun tatkala Jessy masuk ke dalam kamar yang dahulu Ia tempati saat menginap di penthouse Reynald. Anggi menyisir interior kamar itu yang ternyata susah berubah total menjadi khas kamar anak perempuan.
"Lihatlah Aunty. Boneka barbieku banyak sekali bukan?"
Anggi lantas melangkah mendekati deretan rak lemari yang semuanya berisikan boneka barbie dalam berbagai busana yang cantik. Anggi menyisir satu per satu seraya tersenyum. "Semua koleksi barbiemu sangat bagus".
"Lain kali aku akan memberikanmu barbie yang lebih banyak lagi ya"
Bila aku sempat... Ujar Anggi dalam hati menatap intens pada Jessy.
"Apa Aunty mau main barbie bersamaku? Selama ini aku hanya bermain sendiri atau dengan Mbak Husna"
"Mom selalu tidak sempat karena Ia sibuk syuting dan aku tidak mungkin meminta Daddy bermain barbie denganku kan? Dia lelaki, Aunty" Ujar Jessy cemberut.
Anggi tersenyum hangat dan menganggukkan kepala. "Baiklah. Ayo kita main barbie!"
"Hm.. Aku mau barbie yang mana ya..." Ujar Anggi menatap deretan barbie yang ada di rak.
"Tunggu! Rumah barbienya belum di bawa ke kamar, Aunty! Aku hanya membawa 4 barbie ini saja tadi" Ujar Jessy.
"Tunggu sebentar aku akan membawanya kemari" Anggi lantas melangkah keluar kamar Jessy dan menuju ruang tengah.
Tak lama Anggi pun kembali dengan memeluk rumah barbie ke dalam kamar. Jessy dan Anggi lantas duduk lesehan di karpet memulai permainan mereka.
Menit demi menit berlalu hingga tak terasa sudah satu jam Jessy dan Anggi bermain. Derai tawa mengisi kegiatan mereka hingga tak sadar jika ada sepasang mata yang menatap keduanya cukup lama.
Reynald berdiri seraya bersandar ke tembok menatap ke dalam kamar Jessy. Terbit sebuah senyuman di bibirnya kala menatap keakraban antara putrinya dengan Anggi.
__ADS_1
•••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••••