
Satu jam sebelumnya...
"Daddy sudah janji ke aku mau jalan-jalan ke mall!". Jessy, gadis kecil yang merupakan putri Reynald sedang merajuk pada Sang Ayah.
"Astaga Jes.. Daddy sedang sibuk. Coba lihat... Uncle Andre menaruh tumpukan berkas ini di mejaku. Itu artinya Daddy harus segera memeriksanya". Ujar Reynald berusaha memberi pengertian.
"Kalau gitu biar Uncle Andre saja yang kerjakan! Kenapa harus daddy?".
Reynald menghela napas perlahan. Ia membungkukkan tubuhnya dan memegang kedua sisi pundak gadis kecilnya.
"Maaf sayang. Daddy benar-benar tidak bisa jika sekarang. Kalau kau tetap ingin pergi ke mall, bagaimana jika perginya dengan Uncle Andre dan Aunty Renata saja?"
Jessy terdiam sejenak menatap Reynald namun sedetik kemudian gadis kecil itu menangis keras hingga memenuhi ke segala sudut ruangan.
"Daddy jahat!"
"Mommy juga jahat!"
"Daddy dan Mommy selalu saja sibuk!" Seru Jessy di sela-sela tangisnya.
Reynald mengusap wajahnya kasar. Ia menatap sekilas tumpukan berkas yang memang harus Ia periksa saat ini juga dan tatapannya beralih menatap putrinya yang tengah menangis tersedu-sedu.
Ia menutup salah satu berkasnya dan membuka jas hitam yang membalut tubuh gagahnya dan menyampirkannya ke bangku kebesarannya. Ia membuka kancing tangan kemeja dan menggulungnya hingga siku.
"Baiklah.. Bailah.. Ayo sekarang kita pergi ke mall! Waktuku hari ini khusus untukmu". Ujar Reynald sambll mengusap pipi Jessy dengan lembut.
•••
"Aunty Anggi?" Gumam Jessy saat sedang berjalan sembari memegang marshmallow di tangannya.
"Dad, itu Aunty Anggi kan? Aku panggil ya?"
Reynald memalingkan wajahnya menuju ke arah yang sedang di tunjuk oleh Jessy.
"Jangan Jes.. Ti-...."
"Aunty Anggi!" Teriak Jessy begitu saja.
"Tidak perlu....." Gumam Reynald melanjutkan ucapannya yang tertahan karena Jessy teriak begjtu saja memanggil Anggi.
Reynald mengusap wajahnya pelan saat melihat putrinya sedang berlari ke arah Anggi yang tengah berdiri menatap ke arah mereka.
"Hi Jessy..." Sapa Anggi tersenyum manis seraya membungkukkan badan.
"Aunty lagi apa di mall?"
"Ah.. Aku hanya sedang berjalan-jalan saja sekalian makan siang". Anggi terkekeh pelan.
"Aku juga belum makan siang".
"Dad, kita makan siang sama Aunty juga ya!" Ujar Jessy beralih menatap sang ayah.
__ADS_1
Anggi menegakkan tubuhnya kembali dan menatap Reynald.
"Aku tidak ingin mengganggu acara keluarga kalian. Lebih baik aku tidak bergabung" Sahut Anggi.
"Hanya aku dan Daddy! Mommy lagi syuting, Aunty"
"Mau ya Aunty?"
Anggi menatap pada Reynald berusaha meminta pria itu untuk membujuk Jessy. Reynald terlihat menggelengkan kepala seraya menggaruk tengkuknya dengan tatapan pasrah.
Anggi menghela napasnya perlahan dan mengukir sebuah senyuman kala beralih menatap Jessy.
"Baiklah. Aunty ikut".
Mendengar penuturan Anggi, sontak saja gadis kecil itu melompat kegirangan. Jessy lalu menarik tangan Anggi begitu saja dan berjalan tanpa menoleh pada sang ayah. Reynald yang tertinggal di belakang menatap Jessy dan Anggi yang jalan bergandengan tangan.
"Aunty, nanti kita ke toko mainan ya? Aku ingin membeli barbie lagi"
Anggi mengangguk. "Boleh. Nanti Aunty belikan".
"Jes, mainan barbiemu itu sudah banyak sekali" Timpal Reynald.
Jessy menekuk wajahnya. "Itu belum banyak, Dad!"
"Apanya yang belum banyak.. Apa dia tidak takut tidur di pandangi oleh deretan barbie. Siapa tahu barbie-barbie itu tengah malam hidup dan berkeliaran di kamarnya" Reynald bergumam pelan.
"Ppfftttt.. Hahahahaha" Anggi yang berjalan tepat di sisi Reynald tentu saja mampu mendengar gumaman pelan pria itu.
"Tidak.. Hanya lucu saja"
"Apa.yang lucu?" Tanya Reynald.
"Ternyata kau takut hantu".
"Kau mendengarnya?". Ujar Reynald terkejut.
"Tentu saja! Kau jalan di sisiku!".
Reynald manggut-manggut. "Aku tidak takut hantu"
"Hanya satu yang aku takutkan saat ini..."
"Aku takut kau menghilang lagi tanpa kabar" Ujar Reynald pelan sembari menatap Anggi dengan sorot mata yang sangat dalam.
Anggi memalingkan wajahnya begitu saja dan melangkah dengan cepat menarik pelan Jessy yang sedari tadi sedang asik mengunyah marshmallownya.
Begifu cepat waktu berlalu hingga tak terasa waktu sudah menjelang pukul 5 sore. Ketiganya melakukan berbagai aktifitas menyenangkan. Makan siang, menemani Jessy bermain di playground dan berbelanja. Reynald menatap tumpukan paperbag di kursi belakang mobllnya. Semua itu adalah mainan barbie pemberian dari Anggi.
"Aunty pamit ya kalau begitu, Jes. Kau harus patuh pada Daddy dan Mommy mu". Pesan Anggi seraya berjongkok di hadapan Jessy.
"Apa Aunty pulang ke negara Aunty beberapa hari lagi?"
__ADS_1
Anggi pun mengangguk pelan.
Jessy menatap Anggi dengan raut wajah sedih. Tak di pungkiri anak kecil selalu bisa merasakan ketulusan dari hati seseorang.
"Apa aku bisa bertemu dengan Aunty lagi?"
Anggi mendongak menatap Reynald yang sedang menatapnya dengan pandangan yang rumit. Anggi lalu beralih menatap Jessy. "Suatu hari kita pasti akan bertemu lagi". Ujar Anggi lembut.
"Bolehkah aku minta satu lagi permintaan pada Aunty?"
"Apa itu?" Tanya Anggi.
"Ayo main barbie lagi bersamaku malam ini!"
Anggi melongo begjtu saja mendengar permintaan gadis kecil itu.
•••
Satu jam kemudian di sinilah akhirnya Anggi berada. Ia menggelengkan kepalanya pelan saat menatap kamar Jessy yang sudah seperti kapal pecah karena di penuhi dengan tumpukan paperbag hasil dari belanjanya tadi siang di mall. Berbagai upaya sudah di lakukan Reynald maupun Anggi agar gadis kecil itu mengerti apabila Anggi tidak bisa ikut ke penthousenya, namun berbagai cara juga gadis kecil itu merajuk hingga membuat Anggi menyerah.
Cukup lama Anggi dan Jessy sibuk bermain dan menata kembali barbie pada tempatnya. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam dan terlihat Jessy pun sudah terlihat lelah. Anggi pun berinisiatif untuk membantu gadis kecil itu membersihkan diri sebelum tidur.
Tak lama kemudian karena kelelahan, Jessy pun tertidur lelap. Anggi yang duduk di sisi ranjang membelai pipi gadis kecil itu. "Kau punya dua orang tua yang lengkap, mereka bisa membelikan apapun yang kau mau, tapi kenapa aku merasa kau kesepian sama seperti aku waktu kecil dulu?" Lirih Anggi.
"Ehem" Suara dehaman membuyarkan fokus Anggi pada Jessy.
Anggi mendongakkan kepala menatap Reynald yang sedang berdiri seraya bersedekap dada di pintu kamar yang terbuka sejak tadi.
"Apa dia sudah tidur?" Tanya Reynald.
Anggi beranjak pelan dari kasur dan meraih tas miliknya yang berada di atas nakas lalu berjalan menghampiri Reynald.
"Putrimu sudah aman dan tidur nyenyak. Aku pamit pulang" Ujar Anggi.
"Tunggu dulu" Reynald menahan lengan Anggi.
"Apa kau tidak mau minum atau makan sesuatu? Dari tadi sampai di penthouseku kan kau langsung masuk ke kamar Jessy"
"Aku mau langsung pulang saja, Rey. Tidak enak jika istrimu pulang dan aku masih berada di sini". Sahut Anggi menepis tangan Reynald.
Anggi berlalu begitu saja meninggalkan Reynald menuju pintu utama. Reynald lantas menghadang tubuh Anggi dengan cekatan. Pria itu berdiri tepat di hadapan Anggi.
"Istriku.. Maksudku, Clara tidak akan pulang. Dia sedang syuting di luar kota selama satu pekan. Ayolah.. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu karena telah menuruti segala permintaan putriku hari ini"
"Permintaan terima kasihmu di terima. Jadi sekarang aku bisa pulang kan?" Ujar Anggi.
Reynald menghembuskan napasnya. "Baiklah. Bagaimana jika aku bilang, aku ingin meminta waktumu sebentar saja malam ini. Apa kau bisa?".
Mendengar permintaan Reynald, Anggi pun membatin dalam hati.
Mengapa Ayah dan anak sama saja?
__ADS_1
••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••