Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 47


__ADS_3

Keesokan paginya, Reynald yang baru saja selesai mandi segera masuk ke dalam ruang pakaian pribadinya. Ia memilih sebuah polo shirt berwarna putih dan celana baggy warna krem. Ia menggosok pelan rambutnya yang masih lembab dengan handuk seraya berjalan menuju tempat tidurnya.


Ia mendudukkan diri di sisi dan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Reynald dengan cepat menelfon Andre.


Cukup lama menunggu hingga beberapa kali panggilang barulah telfon Reynald tersambung.


"Aku tidak bisa datang ke kantor. Tolong kau handle segala pekerjaanku untuk hari ini". Ucap Reynald tanpa basa basi.


"Kau ada meeting penting. Dia klien kita dari Perancis yang tempo hari ku bicarakan padamu. Kau harus bertemu langsung dengannya".


Reynald menghela napas pelan.


"Aku benar-benar tidak bisa. Ada hal mendesak yang harus aku lakukan hari ini juga".


"Apakah hal mendesak itu menyangkut tentang kekasihmu?"


"Tidak.. Tidak.. Bukan tentang Anggi. Sudah! Aku harus segera pergi. Kau atur dengan baik hari ini".


Klik!


Reynald segera memutus sambungan telfon begitu saja dan menyimpan kembali ponselnya ke atas nakas.


Ia menghembuskan napasnya dengan kasar dan meremas rambutnya tak karuan. "****". Desis Reynald pelan.


Sungguh semalaman bahkan Ia tak sanggup tidur dengan nyenyak. Reynald memikirkan banyak hal sejak awal kepergian Clara sepuluh bulan yang lalu.


Ia mengingat kembali sikap Clara dengan segala pertanyaannya yang tidak masuk akal waktu itu. Bagaimana bisa Reynald mengetahui jika Clara hamil saat itu? Usia kandungan 5 minggu rasanya bahkan belum terlihat perbedaan sama sekali pada tubuh seorang wanita.


Apakah benar bayi itu adalah anaknya?


Apakah benar kini dia menjadi seorang ayah dari bayi perempuan itu?


Terlalu banyak pertanyaan dalam benak Reynald saat ini. Ia melirik jam dinding dan waktu sudah menunjukkan pukul 9. Reynald lantas segera meraih ponsel dan dompetnya lalu turun ke lantai 1.


Di lantai 1, Reynald tertegun kala melihat Clara sedang menyusui bayinya di sofa ruang tengah. Reynald memalingkan wajahnya dan segera berjalan menuju dapur untuk mengambil sebotol air mineral dan meneguknya hingga tersisa setengah bagian.


Clara yang nampaknya telah selesai menyusui menghampiri Reynald ke dapur sembari menggendong bayinya.


"Rey.. Apa baju-bajuku di ruang pakaian dalam kamarmu masih ada? Aku perlu mengganti baju.." Ujar Clara menatap punggung Reynald.


Reynald lantas membalikkan badan menghadap ke arah Anggi.


"Semua tentangmu yang ada di penthouse ini sudah kubuang. Tidak ada yang tersisa". Ucap Reynald dingin.

__ADS_1


Clara menunjukkan raut wajah terkejut namun dengan cepat wanita itu mengulas senyum di bibir.


"Ya sudah tak apa. Aku pakai baju ini lagi saja. Aku lupa membawa baju ganti semalam". Ujar Clara.


Reynald menatap Clara dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Kau sudah siap? Kita pergi sekarang karena aku sudah buat janji dengan temanku pukul 10".


Clara menganggukkan kepala. "Baiklah.. Ayo". Sahut Clara yang segera melangkah ke ruang tengah dan menaruh sang bayi ke stroller. Tak lupa wanita itu pun memakai masker dan topi untuk menutupi wajahnya.


Tak berapa lama kemudian keduanya pun segera berangkat menuju rumah sakit.


•••


Rumah Sakit Korban Suami


Clara yang baru saja turun dari mobil mengedarkan pandangannya ke sekitar. Kuatir Ia akan di kenali oleh orang lain. Namun beruntung kondisi rumah sakit masih cukup lengang pagi ini.


Reynald menatap Clara yang terlihat waspada dan Ia sudah terbiasa dengan hal itu. Reynald lantas berjalan lebih dulu di ikuti oleh Clara di belakang sembari menggendong sang bayi.


Tak lama tepat di depan sebuah ruangan, Reynald mengetuk pelan dan membuka pintu tersebut. Terlihat sesosok pria dengan jas putih khas dokter yang membalut tubuhnya.


"Kupikir kau tidak jadi datang. Aku hampir saja mau membuka jadwal praktekku". Ucap pria itu yang di ketahui bernama Mike.


Mike tersenyum tipis mengerti keadaan Reynald karena pria itu sudah menjelaskan duduk perkaranya.


Mike segera berdiri dan melangkah menuju sebuah sudut yang sudah terdapat berbagai jarum suntik hingga botol-botol kaca berukuran kecil yang masih kosong. Mike segera memasang sarung tangan latex pada tangannya.


"Baiklah kita ambil sample darahmu dulu". Ucap Mike mengarah pada Reynald.


Mike dengan hati-hati menusukkan jarum tepat ke nadi Reynald dan mengambil cukup banyak darah hingga memenuhi jarum suntik. Setelah selesai Mike segera memasukkan nya ke dalam sebuah botol kecil dan menamainya.


Lalu Mike beralih menatap ke arah Clara yang masih memakai topi dan masker. "Sekarang giliran bayi ini. Tunjukkan saja bagian mata kakinya". Ucap Mike.


Tak lama Clara melakukan intruksi Mike dan dengan cepat Mike mengambil sample darah bayi itu. Namun tetap saja sang bayi mungkin merasakan sakit hingga bayi itu menangis keras. Clara lantas berdiri dan segera menimang-nimang bayi itu dengan lembut. Semua itu tak lepas dari perhatian Reynald.


"Hasilnya akan keluar besok bro". Ucap Mike.


"Bisakah kau buat hasilnya keluar dalam waktu 6 jam saja?".


"Tapi...."


"Aku akan bayar berapapun biayanya. Aku hanya ingin hasilnya keluar dalam hitungan jam. Bukan besok. Apa kau bisa memenuhinya?". Reynald memotong ucapan Mike.

__ADS_1


Mike terlihat berpikir sejenak dan tak lama Ia pun mengangguk.


"Baiklah. Aku akan segera mengurusnya".


"Terima kasih. Kau selalu bisa ku andalkan. Kabari aku jika hasilnya sudah keluar". Ujar Reynald sembari berdiri dan segera keluar ruangan.


Reynald dan Clara pun segera berjalan kembali menuju parkiran tanpa membuang waktu lebih lama.


"Aku harua mengantarmu kemana?". Tanya Reynald saat di dalam mobil.


"Antarkan saja ke apartemenku, Rey.." Ucap Clara dan Reynald pun segera menstarter mobilnya.


Enam jam kemudian...


Reynald segera kembali menuju rumah sakit saat Ia di hubungi oleh Mike kalau hasil tes DNA nya sudah keluar. Ia berjalan dengan langkah cepat dan jantung yang berdegup kencang.


Reynald segera masuk tanpa mengetuk pintu. Untung saja hari sudah sore dan jam praktek pun sudah usai dari tadi.


"Mana hasilnya?". Tanya Reynald tanpa basa basi.


Mike menyerahkan sebuah map berwarna cokelat pada Reynald dan dengan cepat membukanya. Reynald membaca dengan teliti hasil tes di tangannya dan seketika matanya melotot.


Ia beralih menatap ke arah Mike. "Jadi bayi itu......."


"Dia anakmu bro. Struktur DNA kalian berdua 99,9% cocok". Ucap Mike.


Reynald menyugar rambutnya kasar. Ia menyandarkan punggungnya ke bangku.


"Oh Tuhan.. Bagaimana ini..." Ucap Reynald mendongakkan kepala sembari kedua tangannya menarik rambutnya kasar.


"Terima kasih atas bantuanmu hari ini. Kalau kau membutuhkan bantuan apapun padaku, hubungi aku bro". Ucap Reynald akhirnya dan segera berdiri mendekap erat Mike.


Reynald segera keluar ruangan Mike dan melangkah pelan sepanjang koridor rumah sakit. Hingga tak lama kemudian Ia segera masuk ke dalam mobilnya dan memukul stir dengan kuat.


Bugh! Bugh!


"Apa yang harus aku lakukan sekarang argh sial!". Umpat Reynald.


Jika saja Reynald tak berhubungan dengan siapapun, maka hal ini tidak akan menjadi masalah untuknya. Namun kali ini ada hati lain yang harus Ia jaga. Hati yang masih murni dan suci tak ternoda. Hati milik seorang gadis yang tiga bulan ini memberi warna baru dalam kehidupannya.


Aku harus bagaimana? Reynald bermonolog dengan dirinya sendiri.


•••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••••

__ADS_1


__ADS_2