Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 77


__ADS_3

2 Minggu Kemudian, Abu Dhabi.


"APA?! MEREKA AKAN DATANG?????" Raut wajah Anggi sangat terkejut setelah mendengar ucapan Rashaad.


"Iya sayang. Kenapa kau terkejut seperti itu sih?". Tanya Rashaad keheranan.


Anggi mengerjapkan mata berusaha menetralkan kembali raut wajahnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengibaskan tangan ke arah Rashaad.


"Ah.. Tidak. Maksudku.. Hmm.. Hari apa mereka tiba di Abu Dhabi?".


Rashaad lalu melihat arloji mewah yang melingkar di pergelangan tangan sebelah kiri. "Hm.. Kurasa mereka sudah mendarat di bandara". Ujar pria itu.


"APA? KENAPA KAU BARU MEMBERITAHU AKU SEKARANG RASHAAD???". Anggi sungguh di buat syok jantung oleh Rashaad siang ini. Pria itu tiba-tiba datang ke perusahaannya dan meminta dirinya untuk menemaninya ke sebuah pertemuan pribadi terkait perjanjian kerja sama antara dua perusahaan.


Entah beruntung atau malah nasib buruk untuk Anggi saat Ia mendengar bahwa perusahaan yang akan menjalin kerja sama dengan perusahaan yang di kelola oleh Rashaad adalah Vankoch Company. Mendengar nama perusahaan itu saja sudah membuat tubuh Anggi mendadak panas dingin karena Ia tahu bahwa itu milik Reynald.


"Hey kau kenapa sebenarnya? Raut wajahmu seperti melihat setan saat aku bilang Reynald beserta istrinya akan datang".


"Bukankah kau sudah pernah bertemu dengan mereka? Jadi tidak perlu terkejut seperti itu. Mereka orang yang sangat baik, kan?".


Ya.. Ya.. Aku lebih baik melihat setan sekalian daripada aku harus melihat Reynald lagi.. Oh hatiku..


Anggi bermonolog dengan dirinya sendiri seraya memegang dadanya. Buat Anggi ini seperti dunia yang sangat sempit! Dari sekian banyak perusahaan yang tersebar di muka bumi, kenapa harus perusahaan Reynald?! Ini betul-betul mengerikan!


"Apa Vankoch Company yang mengajukan kerja sama dengan perusahaanmu?". Selidik Anggi.


"Tidak. Itu aku yang berinisiatif untuk mengajaknya bekerja sama. Perusahaan induknya di Jerman sangat bagus, dan setelah aku melihat laporan neraca keuangan perusahaan itu di bawah kepemimpinan Reynald, kenaikannya sangat signifikan".


"Itu artinya dia handal dalam memimpin perusahaan dan layak untuk di ajak kerja sama, bukan?".


Anggi memijit pelipisnya pening. "Oh Tuhan Rashaad.. Rashaad.. Kau...."


"Ada apa sayang? Apa kau tidak setuju aku bekerja sama dengan Reynald? Apa kau mengetahui sesuatu tentang pria itu?". Tanya Rashaad sedikit menundukkan kepalanya untuk menatap wajah Anggi.


Tentu saja aku sangat tahu tentang Reynald! Lelucon apa yang sedang semesta persiapkan untukku sebenarnya?


"Tidak. Aku setuju-setuju saja. Terserah padamu". Ujar Anggi akhirnya.


Rashaad menyunggingkan sebuah senyuman di bibir. "Baiklah kalau begitu! Nanti aku jemput kau pukul 7 malam. Berdandanlah yang cantik sayang". Ucap Rashaad seraya mengedipkan sebelah matanya pada Anggi dan berlalu pulang untuk mempersiapkan beberapa hal dengan sekretarisnya.

__ADS_1


Malam hari


Rashaad dan Anggi berjalan bersisian saat melangkah masuk ke dalam lobby sebuah hotel mewah yang letaknya di sebuah pulau buatan di tengah laut. Ah, apapun rasanya bisa menakjubkan untuk negara yang Anggi tinggali sekarang.


"Apa tamuku sudah datang?". Tanya Rashaad pada seorang pria yang berpakaian serba hitam seperti bodyguard yang di utus Rashaad untuk melayani Reynald dan Istrinya.


"Sudah, Tuan. Sejak 15 menit yang lalu". Jawab sang bodyguard.


"Ah.. Apa kita telat sayang?".


Anggi mengetuk layar ponselnya dan melihat jam yang tertera di layar. "Tidak. Mereka saja yang lebih awal datang". Jelas Anggi.


Rashaad lalu mengangguk dan segera melangkah kembali menuju ruang pertemuan di ikuti oleh bodyguard.


Saat di depan pintu yang besar dan megah dengan ukiran berwarna emas, Rashaad lantas mendorong pelan pintu tersebut hingga terbuka lebar.


Tak di sadari oleh Rashaad, Anggi menghela napas pelan saat pintu terbuka.


Ini akan menjadi pertemuan paling aneh malam ini... Bahkan setelah malam itu..


Anggi membatin namun tetap kakinya ikut melangkah sejajar di sisi Rashaad seraya menatap sepasang suami istri yang tidak di ragukan lagi betapa menawannya mereka.


Semoga saja Reynald tidak melihat tampang konyolnya yang terperangah tadi. Anggi menatap Reynald yang hanya terdiam sembari tatapannya menusuk tajam ke arahnya.


Anggi lantas beralih menyisir penampilan Clara yang tidak perlu di ragukan lagi. Sebuah gaun seksi berwarna merah tua senada dengan warna dasi Reynald membalut tubuh seksinya.


Anggi tersenyum tipis. Setidaknya Ia sudah tampil maksimal malam ini mendampingi Rashaad. Riasan yang teduh dan natural menghiasi wajahnya dengan lipstick berwarna magenta. Rambut panjangnya di blow natural memberikan efek seksi. Oh jangan lupakan dengan gaun hitam model backless yang memperlihatkan punggung mulusnya. Anggi benar-benar wanita dewasa saat ini!


"Hi. Maaf kami terlambat" Ujar Rashaad basa-basi membuka percakapan seraya berjabat tangan dengan Reynald.


Reynald mengulas senyum tipis. "Tidak...."


"Kalian tidak telat. Hanya saja suamiku yang menginginkan pergi lebih awal ke sini" Timpal Clara seraya melempar senyuman manis pada Anggi.


"Dimana anak kalian? Kenapa tidak di ajak gadis kecil menggemaskan itu?" Tanya Rashaad.


"Memang sengaja kami tidak membawanya"


"Karena kami ingin sekalian menikmati waktu berdua seperti dulu" Clara menatap Reynald dengan mesra sedangkan yang di tatap malah menunjukkan raut wajah yang dingin.

__ADS_1


"Bisakah kita mulai obrolan mengenai kerja sama nya?" Reynald menatap Rashaad dengan serius berusaha memendam kekesalan pada Clara yang bersikap berlebihan.


Rashaad sedikit terkejut dengan sikap diam dan dingin Reynald malam hari ini. Tapi Rashaad tak mengambil pusing. Bisa saja pria itu sedang dalam mood yang buruk karena mengurus perusahaan memang sangat melelahkan. Bahkan Rashaad pun terkadang mengalami mood buruk sama seperti Reynald malam ini. Begitulah kira-kira pemikiran Rashaad.


Cukup lama Rashaad dan Reynald mengobrol mengenai kerja sama antar kedua perusahaan mereka. Sesekali Anggi pun ikut larut ke dalam obrolan kedua pria itu karena Ia pun memiliki latar belakang bisnis dan paham bagaimana seluk beluk menjalankan perusahaan. Hanya Clara saja yang sedari tadi merasa di abaikan karena Ia tidak cukup memahami topik yang tengah diperbincangkan.


Waktu semakin berlalu dan malam semakin larut. Hingga akhirnya pertemuan bisnis sekaligus makan malam pun berakhir.


"Aku tunggu besok di kantorku. Kau bisa melihat langsung yang tadi kita bicarakan". Ujar Rashaad seraya berjabat tangan dengan Reynald.


Reynald menganggukkan kepala. "Tentu. Aku akan datang".


Reynald pun beralih mengulurkan tangannya pada Anggi. Sontak saja Anggi terkejut dan itu semua tak luput dari perhatian Clara.


"Terima kasih sudah datang malam ini". Sahut Reynald pelan.


Anggi dengan ragu menerima uluran tangan Reynald. Keduanya saling menatap tanpa kata. Tak lama Anggi pun melepaskan uluran tangan pria itu dan berpaling menatap ke sembarang arah.


"Baiklah kalau begitu. Kami pamit lebih dulu. Tunanganku yang cantk ini memiliki jam malam hehehehe". Rashaad melontarkan lelucon seraya mengusap punggung mulus Anggi yang terekspos sempurna.


'Ah benarkah? Anda pasti sangat menjaganya kalau begitu". Sahut Clara.


"Tentu saja. Anggi merupakan wanita baik-baik sebelum aku bertemu dengannya. Jadi dia selalu aku jaga" Ujar Rashaad.


"Sayang, apa kau tidak kedinginan?". Tanya Rashaad seraya tangannya masih berada di punggung Anggi.


"Hm? Apa?"


"Punggungmu sayang..." Bisik Rashaad.


"Oh tidak. Bisakah kita pulang sekarang?" Tanya Anggi menatap Rashaad. Sungguh terlalu lama berada dalam 1 ruangan dengan Reynald bisa membuatnya gila! Apalagi Anggi merasa bahwa tatapan mata pria itu bisa menghanguskan apapun yang ada di hadapannya.


Tak lama kemudian akhirnya Rashaad dan Anggi segera meninggalkan ruang pertemuan. Reynald menatap tangan Rashaad yang dengan bebas berada di punggung Anggi. Pria itu memandang tak suka dengan hati yang tak karuan.


"Lihatlah. Rey. Mereka tampak serasi. Apa kau ingin merusak kebahagiaan barunya tanpamu?"


Reynald melirik Clara dengan tatapan yang menghunus tajam. 'Diam kau".


"Malam ini kau benar-benar keterlaluan, Clara" Desis Reynald.

__ADS_1


•••••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••••••••


__ADS_2