Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 45


__ADS_3

"APA?! Mbak Renata tidak bercanda, kan?". Tanya Anggi terkejut.


Renata terkikik geli. "Apa untungnya aku bercanda denganmu?".


"Reynald memang berulang tahun hari ini".


"Bagaimana ini... Aku bahkan tidak punya sesuatu yang bisa kuberikan padanya.. Aku benar-benar tidak tahu, Mbak. Tidak ada yang memberitahuku". Sahut Anggi dengan raut wajah pias.


"Mbak juga kenapa tidak memberitahuku!". Sesal Anggi.


Ah.. Kepalanya sangat pusing memikirkan hal ini. Yang tadinya Ia riang gembira setelah wisuda, sedetik kemudian Ia malah bingung bukan main karena tidak mengetahui kekasihnya ulang tahun.


"Yaaaa kupikir kau sudah tau.. Tidak apa-apa. Lagipula bukan acara besar seperti yang kau bayangkan. Ini hanya makan malam biasa saja di restoran dengan teman dekat". Ucap Renata.


"Benarkah?".


Renata mengangguk. "Benar. Kau tidak perlu kuatir dan tidak perlu membawa hadiah apa-apa".


"Bagaimana bisa begitu, Mbak. Apa kita masih sempat mencari hadiah?". Anggi bertanya seraya melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.


"Masih sempat sepertinya, Mbak. Ini baru jam 5 sore kok. Kita ke mall dulu ya?".


"Tidak akan sempat. Lagipula lihat dirimu..." Renata mengedikkan dagunya ke arah Anggi.


"Kau masih memakai kebaya. Rambutmu.. Riasanmu.. Sangat mencolok jika hanya untuk pergi ke mall. Kita akan membenahi penampilanmu lebih dulu lalu langsung ke restoran".


"Lagipula percaya padaku.. Kehadiranmu jauh lebih berharga di banding hadiah apapun untuk Reynald". Renata menarik lengan Anggi seraya melangkah menuju mobil.


Butik Farah


Lagi-lagi Anggi kembali ke butik untuk berganti pakaian serta menata rambutnya menjadi lebih casual. Anggi yang pasrah saja menuruti Renata, kini sedang duduk di meja rias. Menatap wajahnya yang seharian ini bak menjadi sebuah kanvas bagi seorang pelukis handal.


Renata dan Farah yang sedang berada di lantai 1 tengah sibuk memilih beberapa gaun simpel untuk di pakai oleh Anggi di malam ulang tahun Reynald.


"Ren.. Apakah Reynald benar-benar tidak ingin mempublikasikan hubungan asmaranya?". Tanya Farah sembari melirik Renata.


"Entahlah..." Renata mengangkat bahu.


"Aku juga bingung kenapa dia selalu menyembunyikan hubungan asmaranya dari publik".


Farah terlihat mengerutkan kening. "Selalu? Maksudmu sebelum gadis manis ini, Reynald pernah punya hubungan asmara juga?".


Renata menepuk bibirnya pelan seolah Ia telah salah ucap.


Melihat tingkah Renata, Farah terkikik geli. "Hey.. Tenang saja! Aku pandai menjaga rahasia".


"Ah tapi sudahlah itu tidak penting juga untuk kuketahui". Farah mengibaskan tangannya.

__ADS_1


Satu jam kemudian akhirnya Anggi sudah selesai di dandani. Farah dan Renata benar-benar terpukau melihat tampilan gadis itu saat ini.


Rambut yang tadinya lurus begitu saja terlihat membosankan, kini di curly dan di jepit setengah tepat di belakang kepala dan dibiarkan terurai.


Gaun berwarna hijau emerald dari bahan sutra benar-benar terlihat elegan membalut tubuh ramping Anggi.


"Hm.. Kurasa dia butuh sesuatu yang akan makin mempercantik tampilannya. Tunggu sebentar". Ucap Farah sambil berlalu.


Tak lama Farah kembali membawa sebuah kotak kecil yang berisi sebuah kalung berliontin kecil. Ia memakaikan pada Anggi dan mengulas senyuman lebar saat melihat Anggi telah sempurna.


"Ok. Kau siap untuk bertemu pujaan hati". Goda Farah hingga membuat Anggi menunduk malu.


Tak membuang waktu lama, Renata dan Anggi lantas segera menuju ke restoran di mana Reynald berada.


Hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit berkendara kini sampailah keduanya di sebuah restoran terkenal dan hanya restoran itu yang mendapatkan predikat michelin di Jakarta.


Renata memencet lantai teratas saat memasuki lift. Anggi mengedarkan pandangannya ke kaca lift yang langsung memperlihatkan pemandangan gedung-gedung di sekitar dengan gemerlapnya lampu malam hari. Sesuatu yang sangat Ia sukai.


Tak lama pintu lift pun terbuka dan seketika membuat Anggi tertegun karena Reynald sudah berdiri menunggu. Pria itu mengulas senyum manis dan menyisir tampilan Anggi dari atas hingga ke bawah.


"Kau cantik sekali. Aku di buat terpukau 2 kali olehmu hari ini". Ujar Reynald tersenyum.


"Rey.. Maaf aku tidak sempat membeli hadiah untukmu. Aku tidak tahu kalau kau sedang berulang tahun.. Maafkan aku". Ujar Anggi menatap Reynald dengan tatapan bersalah.


"Aku tidak perlu apa-apa darimu. Aku juga tidak memberi tahu tanggal ulang tahunku. Jadi itu tidak masalah". Sahut Reynald.


Namun baru satu langkah, Anggi tersadar akan suatu hal hingga berusaha menarik tangannya. Reynald menatap Anggi dengan raut wajah bingung.


"Tanganmu.. Lepaskan.. Ini di luar". Ucap Anggi pelan.


Reynald terkekeh. "Di sini restoran milik Gavin. Jadi tidak masalah". Ujarnya kembali menarik Anggi di ikuti oleh Renata.


Anggi mengedarkan pandangannya ke luar jendela menatap pemandangan gemerlap lampu gedung di malam hari. Ia sangat menikmati suasana hangat yang ada saat ini.


Benar kata Renata jika hanya ada Gavin, Andre, Renata, Dirinya dan tentu si pemilik acara ulang tahun. Reynald hanya ingin merayakannya dengan orang terdekat saja dan lebih kekeluargaan. Namun Reynald pasti selalu mentraktir seluruh karyawannya satu gedung keesokan harinya.


Tak terasa malam makin larut dan waktu sudah menunjukkan pukul 11. Anggi yang sudah sangat lelah hanya bisa diam menatap interaksi orang-orang yang berada satu meja dengannya. Sesekali menatap Reynald dengan penuh kekaguman.


"Kau mau pulang?". Tanya Reynald menyadari Anggi yang diam saja sedari tadi.


Anggi menggaruk tengkuknya. "Aku hanya sedikit mengantuk hehehe".


"Ya sudah ayo kuantar pulang". Ucap Reynald seraya beranjak berdiri.


"Aku bawa mobil.."


"Berikan kuncinya". Reynald menadahkan tangannya dan dengan cepat Anggi merogoh clutch silvernya dan mengeluarkan sebuah kunci mobil.

__ADS_1


Reynald lantas memberikan kunci mobil Anghi pada Andre.


"Kau pulang dengan mobilnya. Aku akan membawa mobilku untuk mengantarnya". Jelas Reynald yang langsung di angguki oleh Andre.


Setelah berpamitan, Reynald segera membawa Anggi pulang. Malam yang sudah larut dan banyak orang yang mungkin telah terlelap membuat jalanan sangat lancar hingga Reynald bisa memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Hanya dalam waktu 20 menit Reynald telah sampai ke rumah Anggi. Ia mematikan mesin mobil dan menatap Anggi yang sudah terbuai dalam alam mimpi. Reynald mengulum senyum sembari mengusap pelan kepala gadia itu.


"Aku merasa sudah mencintaimu..." Gumam Reynald pelan.


Reynald lantas menepuk lembut pipi Anggi hingga gadis itu mengerjapkan mata.


"Maaf aku ketiduran..." Ucap Anggi malu.


"Tak apa. Sekarang turunlah dan segera istirahat. Aku tidak masuk ya". Sahut Reynald.


Anggi pun mengangguk dan mengecup pipi Reynald singkat lalu segera turun dari mobil. Reynald memperhatikan Anggi hingga gadis itu benar-benar masuk ke dalam rumah dan segera melajukan mobilnya setelah memastikan semuanya aman.


Sepanjang jalan Reynald hanya mengulum senyum dan terkadang terkekeh pelan kala mengingat berbagai momen yang sudah di ukir selama 3 bulan dengan Anggi. Ia menyugar rambutnya dan membuka kaca mobil menikmati angin malam.


"Ah.. Kapan waktu yang tepat untuk mengumumkan hubunganku dengan dia ya? Hm..."


Reynald bermonolog dengan dirinya sendiri sembari menikmati perjalanan pulang. Ia memang sudah berniat untuk segera mengenalkan Anggi pada publik. Namun di sisi lain Ia pun ragu jika mengingat karakter Anggi yang tidak terbiasa dengan sorotan banyak orang. Belum lagi situasi Anggi dengan Ayahnya. Hal itu membuat Reynald cukup berhati-hati dalam melangkah dan mengambil keputusan.


Terlalu banyak lamunan hingga tanpa sadar kini Reynald telah sampai di penthouse dan segera masuk ke dalam parkiran. Ia dengan cekatan langsung memarkirkan mobilnya dan segera naik ke lantai teratas.


Tak di pungkiri, tubuhnya pun sangat lelah dan ingin segera beristirahat memeluk gulingnya. Reynald segera membuka pakaian yang membalut tubuhnya dan lekas masuk ke dalam kamar mandi.


Lima belas menit kemudian Reynald selesai melakukan rutinitas bersih-bersihnya dan segera memakai piyama tidur.


"Aah.. Akhirnyaaaa... aku lelah sekali". Ujar Reynald saat merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.


Semakin lama Reynald semakin memejamkan matanya dan benar-benar terlelap ke alam mimpi. Hingga baru sekitar 10 menit Ia terlelap tiba-tiba terdengar bunyi bel penthouse.


Reynald langsung saja membuka matanya dan terduduk karena terganggu.


"Sialan! Siapa yang datang tengah malam seperti ini!". Sungut Reynald.


"Akan aku lempar dari balkon jika itu Gavin dan Andre! Sial mengganggu tidurku saja!". Reynald terus saja mengumpat sembari melangkah turun menuju lantai 1.


Bunyi bel terus saja berbunyi hingga membuat Reynald kesal setengah mati.


"Sialan! Bisa tidak kau sabar! Ini berisik sekali!". Umpat Reynald sembari membuka pintu.


Deg!


"Kau........"

__ADS_1


__ADS_2