Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 52


__ADS_3

Keesokan harinya.....


Anggi yang baru saja selesai sarapan pagi, di kejutkan oleh kehadiran Reynald yang tiba-tiba datang ke rumahnya. Ia menyisir penampilan pria itu pagi hari ini. Reynald datang hanya memakai polo shirt dan celana berwarna biru denim. Sangat santai untuk ukuran seseorang yang harusnya pergi bekerja ke kantor.


"Sudah puas memperhatikanku hmm?". Reynald menyunggingkan senyuman geli.


Walau Anggi tergolong wanita yang bertubuh tinggi, namun tetap saja jika di sandingkan dengan Reynald yang memiliki tinggi 180 cm, perbedaan antara keduanya cukup signifikan hingga Anggi mendongakkan kepalanya menatap Reynald dengan mengerutkan dahi.


"Kamu tidak ke kantor?".


"Kok malah ke rumahku? Gak bilang-bilang pula..."


Reynald terkekeh sembari melangkah masuk ke dalam rumah.


"Aku pemilik perusahaannya, tentu saja aku bisa mengatur waktuku kapan aku ingin ke kantor dan kapan aku ingin bersantai hehe".


"Dan.... Apa aku perlu mengabari lebih dulu jika ingin ke rumah kekasihku?". Ujar Reynald sembari mendudukan dirinya di sofa.


Anggi menghampiri Reynald dan duduk di sisi pria itu.


"Bukan seperti itu. Maksudku, kalau aku sudah berangkat kerja bagaimana? Kamu sia-sia datang ke sini".


"Semua tentangmu tidak pernah menjadi sia-sia". Ucap Reynald pelan hampir berbisik.


Anggi mengernyitkan dahi. "Tadi kamu bicara apa?".


Reynald menggeleng pelan dan tersenyum simpul. "Tidak ada".


Anggi lantas menatap jam yang berada di dinding ruang tengah. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Seharusnya sejak 30 menit yang lalu Ia sudah berangkat ke kantor agar tidak telat namun alih-alih segera berangkat, Ia justru beranjak dari sofa menuju meja dapur.


Anggi meraih ponselnya dan terlihat mengetikkan sesuatu. Tak lama Ia menyimpan kembali ponselnya dan kembali duduk di sisi Reynald. Semua gerak geriknya tak lepas dari perhatian Reynald.


"Apa yang kau lakukan?". Tanya Reynald.


"Aku hanya mengirim pesan pada atasanku bahwa aku akan datang telat ke kantor". Anggi mengulas senyum.


"Atasanmu pria atau wanita?".


"Pria". Sahut Anggi.


"Masih muda?". Selidik Reynald lagi.


Anggi menatap Reynald dengan tatapan bingung dan sedetik kemudian Ia mengulum senyum di bibir.


"Apa kau sedang cemburu?".


"Untuk apa aku cemburu? Aku hanya menanyakan atasanmu itu pria atau wanita? Masih muda atau sudah tua? Tampan atau buruk rupa?". Sahut Reynald non stop.

__ADS_1


Sontak saja Anggi tertawa mendengar rentetan pertanyaan dari pria itu.


"Kalau masih muda bagaimana? Kalau tampan? Ah.. Itu penyegaran untukku di kantor, kan?". Ucap Anggi jahil.


Reynald lantas dengan cepat mengurung Anggi dengan tubuhnya hingga Anggi beringsut menyandar di sofa. Reynald memandang Anggi dengan lekat. Menatap tepat ke manik mata gadis itu.


"Jawab pertanyaanku dengan benar". Sahut Reynald menggeram.


Tentu saja Anggi menjadi gugup tak karuan. Tangannya yang berada di antara dadanya dan dada Reynald Ia tautkan.


"Itu... Aku hanya bercanda, Rey". Cicit Anggi.


"Kau belum menjawab pertanyaanku".


"Atasanku itu pria tua dengan tubuh gemuk dan sudah beruban! Tidak ada menariknya sama sekali. Percayalah!"


"Kalau tidak percaya, mudah bagimu untuk mencari informasi seluruh rekan kerja di departemenku kan? Apalagi perusahaan tempatku bekerja tidak ada apa-apanya jika di banding dengan perusahaanmu".


Reynald terdiam mendengar penjelasan Anggi.


"Aku jujur padamu. Aku tidak berbohong..." Lanjut Anggi seraya menatap Reynald.


Reynald menundukkan kepalanya dan menyeringai bodoh. Lalu Ia kembali menatap lekat kekasihnya.


"Aku seperti orang bodoh karena kau". Ujarnya tertawa kecil hingga menampakkan barisan giginya yang rapih dan putih.


"Lepaskan aku dulu.."


Reynald menggeleng pelan. "Aku tidak mau melepaskanmu".


"Lalu kamu mau mengurungku seperti ini terus?". Tanya Anggi dengan raut wajah bingung.


"Jika itu perlu dilakukan, aku akan melakukannya". Ucap Reynald menatap Anggi.


"Sampai kapan?".


Reynald mengernyit bingung. "Sampai kapan apanya?".


Anggi menaik turunkan bola matanya. "Ini.. Seperti ini. Kamu mengurungku mau sampai kapan?".


"Selamanya. Jika hanya itu yang bisa kulakukan agar kau selalu di sisiku. Aku akan mengurungmu selamanya. Aku tidak mau melepaskanmu". Ujar Reynald ambigu hingga membuat Anggi kebingungan.


"Kamu aneh sekali sih! Cepatlah angkat tubuhmu dariku, Rey!". Anggi memberontak kecil.


Reynald terkekeh dan mendaratkan sebuah kecupan singkat di dahi gadis itu hingga akhirnya Ia menarik dirinya dan kembali duduk dengan benar.


Anggi menghembuskan napasnya dan merapihkan kemeja yang sedikit kusut karena himpitan tubuh Reynald tadi.

__ADS_1


"Tuh lihat.. Gara-gara kamu kemejaku kusut. Aku harus menggantinya!". Anggi menggerutu sembari menarik-narik kemejanya berusaha meluruskannya kembali.


Reynald mengulum senyum melihat raut wajah kekasihnya yang kesal dan sedang mengikat rambut panjangnya.


"Anggi..." Panggil Reynald pelan.


"Hmmm.." Sahut Anggi tanpa menoleh pada Reynald karena Ia sedang mencepol rambutnya.


"Apa kau percaya padaku?".


Anggi lantas melirik Reynald. "Maksudmu?".


"Aku hanya bertanya.. Apa kau percaya padaku?". Ulang Reynald lagi.


"Tentu saja aku percaya padamu".


"Dalam hal apapun?". Tanya Reynald.


Anggi terlihat berpikir sejenak.


"Hmm.. Bisa di bilang seperti itu. Aku selalu percaya padamu". Ujar Anggi seraya tersenyum hangat.


Reynald menggenggam tangan Anggi dan menatap gadis itu dengan tatapan yang teramat kalut.


"Berjanjilah padaku, apapun yang terjadi nanti kau akan selalu berada di sisiku. Aku tidak pernah berniat untuk menyakitimu.. Hanya saja dalam hidup ini ada hal-hal yang tidak pernah bisa kita duga".


Anggi tertegun mendengar penuturan Reynald. Keduanya saling menatap dengan sangat dalam.


"Apa kamu mempunyai masalah? Kamu bisa cerita padaku". Ucap Anggi.


Reynald memutus tatapan di antara mereka dan beralih menatap genggaman tangan mereka berdua yang terjalin.


"Aku....."


Seakan ada beton di lidah, Reynald tak mampu meneruskan ucapannya. Ia tidak sanggup untuk mengakui apa yang sedang terjadi. Ia tidak ingin Anggi pergi dari sisinya. Mengingat karakter gadis itu, Reynald sudah bisa menerka jika Anggi tidak akan mungkin menerimanya.


"Rey... Apa ada masalah besar?". Tanya Anggi hati-hati.


Reynad menghela napas pelan. Niat hatinya Ia ingin berbicara empat mata pagi ini dengan Anggi namun kenyataannya Ia terlalu pengecut untuk mengakui situasi rumit yang terjadi. Walau hubungannya dengan Anggi baru berjalan 3 bulan, tapi rasa yang ada untuk gadis itu sudah sukses berakar di hatinya.


"Tidak.. Tidak.. Hanya saja, berjanjilah padaku kau selalu di sisiku apapun yang terjadi".


Anggi menatap ke dalam manik mata Reynald seakan mencari sesuatu yang sedang pria itu sembunyikan. Banyak dugaan yang muncul di pikiran gadis itu. Namun Ia memilih untuk tidak menyampaikannya pada Reynald karena melihat tatapan Reynald yang begitu kalut.


"Aku berjanji". Ujar Anggi tersenyum pada Reynald.


•••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••

__ADS_1


__ADS_2