
Sidang Skripsi, Universitas Tribisnis
Anggi yang baru saja memarkirkan sepeda motornya dan membenahi sedikit tampilan busana dan rambutnya, kini menatap gugup ke arah gedung B, tempat di adakannya ujian skripsi yang akan di hadapi sebentar lagi.
Ia berjalan dengan langkah pelan mencoba mengulur waktu walau tentu saja jika telat Ia akan di cap tidak memiliki kredibilitas yang baik oleh dewan penguji.
Ia berjalan seorang diri tak ada seorang pun yang menemani hari ini. Teman? Anggi bahkan tidak memiliki seorang pun teman dekat. Ia hanya mengenal teman kelas di kampus sekedarnya saja. Tak ada yang benar-benar mengetahui seluk beluk kehidupan nya. Anggi juga merasa rendah diri untuk bergaul di kampus karena rata-rata mahasiswa dan mahasiswi yang kuliah di kampus tersebut adalah anak-anak orang kaya. Sedangkan dirinya bukanlah siapa-siapa.
Anggi lantas berjalan menuju tempat duduk tepat di depan sebuah ruangan yang tertutup rapat. Ia membenahi lagi kemeja putih dan rok panjang hitam yang membalut tubuhnya. Ia sisipkan rambutnya ke belakang telinga yang menjuntai di kedua sisi pipinya. Ia menarik napas dalam-dalam berusaha mengusir segala ketegangan yang meliputi dirinya.
'Jawab setiap pertanyaan dengan lugas dan bisa di pahami. Kalaupun kau ada yang tidak mengerti dengan pertanyaan yang di berikan, tunjukkan bahwa kau memiliki alternatif pemahaman lain yang relevan dengan pertanyaan yang di ajukan'.
Anggi mengingat pesan Reynald tadi pagi saat pria itu menelfon nya. Reynald tak bisa hadir menemani dirinya karena bertepatan dengan rapat direksi yang harus di pimpin pria itu.
Seorang pengawas di pintu masuk lalu memanggil namanya untuk segera masuk ke dalam. Anggi segera berdiri dan melangkah masuk ke dalam ruangan.
Di dalam Ia menatap satu per satu dewan penguji yang terdiri dari 4 orang. Dalam regulasi kampus tempatnya berkuliah, dosen pembimbing pun turut hadir pada saat pelaksanaan ujian dengan tujuan untuk memberi bantuan-bantuan pada mahasiswa yang di bimbingnya.
Anggi mulai memperkenalkan dirinya dengan percaya diri. Tak lama Ia pun di persilakan untuk mempresentasikan skripsi yang telah di buatnya. Anggi mempresentasikan skripsi di hadapan dewan penguji dalam bentuk power point selama beberapa menit untuk menjelaskan hal-hal yang substansial dalam skripsi dari bab I hingga bab VI.
Anggi menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan ketika dirinya selesai mempresentasikan. Kini tiba saatnya Ia harus menghadapi berbagai pertanyaan dari dewan penguji.
Dewan penguji mengajukan pertanyaan demi pertanyaan untuk menguji keorisinilan dan keabsahan skripsi yang telah di buat oleh Anggi.
Satu per satu pertanyaan bisa di jawab Anggi dengan mulus. Ia memang mempersiapkan diri mempelajari materi skripsi dengan serius.
"Bagaimana teknik pengumpulan data dalam penelitian saudara?". Tanya salah seorang dewan penguji.
"Saya memakai teknik.............." Anggi secara rinci menjelaskan bagaimana Ia bisa memperoleh data yang akurat dan tepat. Tentu saja Ia melakukannya atas saran Reynald saat itu.
60 menit kemudian Anggi pun keluar dari ruang sidang dengan perasaan yang bergemuruh. Kakinya lemas tak berdaya untuk menopang berat tubuhnya. Ia segera duduk di kursi dan menangkup kedua tangannya menutupi wajah. Badannya gemetar tak sanggup menahan rasa yang sedang menyelimuti dirinya.
__ADS_1
Ia dinyatakan lulus oleh dewan penguji. Ini adalah hal yang paling di tunggu-tunggu olehnya. Bahkan Ia pun tidak mendapatkan banyak catatan dari dewan penguji untuk merevisi skripsinya. Ia hampir sempurna!
Ia menangis sesenggukan. Tangis penuh kebahagiaan namun terselip kesedihan karena lagi-lagi Ia merasa miris karena tidak ada seorang pun yang menemaninya saat ini.
Anggi mengusap air mata di wajahnya dan menghembuskan napas kasar. Namun tiba-tiba Ia menyipitkan mata ke ujung lorong manakala melihat seseorang berjalan melangkah ke arahnya.
Lambat laun sosok yang melangkah tegap ke arahnya itu terlihat jelas. Hatinya berdegup kencang saat melihat betapa indah ciptaan Tuhan pada pria itu. Badan yang tegap dan kekar yang selalu menggoda untuk masuk ke dalam dekapannya. Garis rahang yang tegas dan senyuman yang terukir di bibirnya selalu sukses membuat hati meleleh.
Anggi berdiri tatkala Reynald hanya tinggal berjarak beberapa meter dari dirinya berada.
Pria itu lalu memberikan sebuah buket bunga mawar merah dan putih yang di kemas dengan indah. Anggi menerima buket bunga dari tangan Reynald dan mencium harum bunga-bunga tersebut.
Reynald mengulurkan tangannya mengusap pipi Anggi yang masih basah karena air mata.
"Dugaanku benar.. Kau pasti terlihat menyedihkan seorang diri di sini...." Ucap Reynald tersenyum menatap ke dalam manik mata Anggi.
"Mulai sekarang kau tidak boleh terlihat menyedihkan seperti ini.. Aku di samping mu. Kau harus ingat itu". Lanjut Reynald.
Anggi mengulas senyuman manis sembari menatap Reynald.
"Sudah seharusnya aku datang menemui kekasihku". Ujar Reynald.
"Tapi kamu bilang harus memimpin rapat di kantor...." Gumam Anggi pelan.
"Aku pemimpin nya. Tentu saja aku bisa mengakhiri rapat lebih cepat sesuai keinginanku". Reynald terkekeh pelan.
Pria itu lantas menggenggam tangan Anggi dan menariknya pelan. "Ayo.. Kedua kalinya kita perlu merayakan hari ini".
"Tidak perlu merayakan nya lagi. Tempo hari kita sudah merayakannya setelah skripsiku lulus revisi". Anggi menolak halus usul Reynald.
Reynald berhenti dan menghadap tepat ke arah Anggi.
__ADS_1
"Walau seribu kali merayakannya pun aku akan melakukannya. Nanti setelah wisuda pun kita harus merayakannya". Ucap Reynald bersikeras.
"Kamu tidak mau di sanggah kan?". Tanya Anggi pelan.
Reynald mengulum senyum. "Itu kau tau... Jadi jangan menolak!". Ujarnya seraya melangkah kembali menuju parkiran sambil menggenggam tangan Anggi.
Seperti biasa Reynald akan menitipkan motor milik Anggi pada security kampus dan meminta supir kantor untuk mengambilnya.
"Kurasa aku akan membelikan mu mobil saja agar kau lebih nyaman dalam beraktifitas. Aku tidak nyaman jika mengingat kekasihku menembus lalu lintas dengan sepeda motor". Ucap Reynald seraya memasang seat belt.
"Tidak perlu! Aku nyaman-nyaman saja memakai sepeda motor. Aku tidak membutuhkan mobil". Tolak Anggi seraya menatap tajam.
Reynald mengangkat bahu acuh. "Aku yang tidak nyaman. Kau tau aku tidak suka dengan penolakan". Ujarnya seraya menstarter mobil.
••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••
Halo semuanya!
Sebelumnya aku mau ucapkan terima kasih untuk pembaca setia yg selalu menunggu tiap bab terbaru disini.
Hingga bab ke 34 ini, aku ingin tanya sama kalian semua..
Apakah kalian merasa alurnya lambat atau kecepatan atau tepat?
Aku berusaha untuk membangun chemistry antara dua tokoh utama dengan baik dan senatural mungkin. Tidak tiba2 langsung vulgar atau hal2 lainnya hehehe. Tapi aku pun sangat senang untuk menerima saran atau kritik yg "membangun" untuk pengembangan karyaku.
Hingga bab ini, aku akan mulai memunculkan konflik.
Btw, pagi ini aku juga merasa surprised saat melihat level author ku naik menjadi silver dan karyaku ini naik level. Aku gak berekspektasi apa-apa sebenernya sama seperti saat aku menulis karya pertamaku yg true story. Menulis adalah kegiatanku untuk menghilangkan kepenatan dari rutinitas pekejaanku dan aku menikmatinya kala otakku dan jari2ku bisa selaras mengeluarkan dalam bentuk tulisan.
Tapi gak di pungkiri aku senang🙈🥰 walau like nya hanya puluhan saja sampai membuat aku bertanya2, berdasarkan apa karyaku ini bisa naik level😅😅
__ADS_1
Aku tunggu feedback dari pembaca semua yaa..
Salam hangat dariku 😘