Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 65


__ADS_3

Pagi hari tepat pukul 9 di sebuah kamar hotel mewah yang terletak di pusat Ibu Kota. Anggi sedang berdiri menatap pemandangan kota melalui jendela. Matanya memandang jauh ke depan namun pikirannya berlarian kemana-mana.


Kota ini tidak memberikan banyak kenangan baik untuknya. Ia tidak memiliki teman, tidak pula memiliki kekasih di sini. Ia pun tidak memiliki keluarga selain Ayahnya yang belum lama ini sudah menjalin hubungan baik dengannya karena sang Ayah lah yang mencari keberadaan dirinya selama dia pergi. Selebihnya, kota ini hanya memberikan Anggi kenangan akan berbagai kesulitan yang Ia alami seorang diri. Kota ini juga memberikan kenangan tentang cinta pertama yang manis sekaligus perpisahan yang menyakitkan.


Anggi menghela napas pelan seraya berjalan menuju ruang tengah mengambil tas kecil berwarna royal blue dan segera keluar kamar hotelnya menuju lokasj pertemuan.


Sepanjang perjalanan Ia melihat ke sekitar. Sebuah senyuman terbit di bibirnya saat melihat berbagai pedagang kaki lima. Ia sungguh merindukan makanan-makanan yang di jajakan oleh deretan pedagang di sana.


"Aku akan menikmati itu semua selama di sini..." Anggi bermonolog dengan dirinya sendiri.


Tiba-tiba dering ponsel Anggi berbunyi nyaring. Ia segera membuka tasnya dan mengambil ponsel.


"Kau selesai jam berapa dari forum bisnis itu?" Terdengar Rashaad berbicara dari seberang telfon.


"Mungkin pukul 3 sore. Kamu benar tidak mau ikut aku?".


"Tidak sayang. Aku di minta datang ke kantor ayahmu sekarang setelah itu aku mau bertemu relasiku di sini"


"Relasimu? Siapa? Kau tidak bilang padaku jika kau punya relasi di Jakarta" Ujar Anggi bingung.


"Ah.. Apa aku belum bilang? Dia dari Pratama Group. Nanti aku kenalkan"


Anggi manggut-manggut. "Baiklah. Kabari aku jika kamu tersesat di sini hehehe"


"Tidak mungkin sayang.. Ayahmu mengirim supirnya untukku. Lagipula jika aku tersesat, aku akan dengan mudah masuk media nasional negaramu dengan judul "Pria tampan Abu Dhabi tersesat di Jakarta" hahahahha"


Anggi terkekeh geli mendengar guyonan dari Rashaad. Pria itu memang humoris dan itu membuat Anggi selalu tertawa sekaligus nyaman. Keduanya pun segera memutuskan sambungan telfon dan tanpa sadar mobil yang Anggi tumpangi kini sudah berhenti tepat di depan sebuah gedung kementrian.


Anggi lantas turun dari mobil dan Ia sudah di sambut oleh seorang pria yang sepertinya sudah menunggu kedatangannya. Pria itu memberikan arahan pada Anggi untuk mengikutinya ke dalam gedung.


Di sisi lain...


"Rey, kau yakin tidak mau datang?" Renata bertanya sekali lagi meyakinkan Reynald.


"Sudah kubilang aku sibuk. Kau saja dengan Andre".


Renata cemberut menatap sepupunya. "Kau benar-benar keras kepala!" Sahutnya seraya berlalu begitu saja keluar ruangan.


Reynald menatap pintu yang tertutup dengan cukup keras oleh Renata. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke jendela.


Jika aku bertemu dengannya, lalu setelahnya apa? Tidak ada kan? Maka lebih baik aku tidak menemuinya atau bertemu dengannya.


Satu jam kemudian acara forum pun di mulai. Anggi sudah duduk di tengah panggung bersama beberapa narasumber lainnya. Ia menatap seluruh orang yang hadir dan tersenyum tipis.


Jika dulu Ia yang berada di antara penonton, maka lihatlah dirinya sekarang. Ia bahkan yang menjadi narasumber utama dalam forum bisnis yang di selenggarakan oleh kementrian perdagangan dan himpunan pengusaha

__ADS_1


Acara demi acara bergulir dengan baik dan tiba giliran Anggi untuk berbicara. Dengan penuh percaya diri dan santai, Anggi membagikan berbagai pengalaman yang telah dilaluinya saat membangun usaha di Abu Dhabi.


Ia pun memberikan roadmap bagaimana para pengusaha muda bisa bersinergi dan berkontribusi dalam ekonomi nasional hingga internasional. Begitu lancarnya Anggi berbicara hingga mematri sepasang mata yang menatapnya lekat di antara para penonton hingga tak bisa melepaskan pandangannya pada Anggi.


Mata yang menatapnya dengan penuh kekaguman, kebanggaan sekaligus mata yang memancarkan jutaan rasa rindu yang menggebu.


Tak lama kini tibalah di penghujung acara, Anggi beserrta para narasumber pun saling berjabat tangan dan berfoto.


"Anggi!".


Terdengar sebuah suara yang memanggil. Anggi mengedarkan pandangannya mencari sumber suara. Ia lantas mengembangkan senyum lebar kala melihat dua orang yang tengah menghampiri dirinya.


"Mbak Renata.. Ya Tuhan...." Anggi sontak saja memeluk Renata dengan erat.


"Aku rindu sekali padamu, Mbak!". Ujar Anggi seraya mengulur pelukannya.


"Halo Andre..." Sapa Anggi menoleh pada Andre yang berdiri di sebelah Renata.


Andre menganggukkan kepala seraya tersenyum tipis.


"Kenapa selama ini kau sama sekali tidak mengabariku? Apa kau tidak tahu kalau aku kuatir?". Cecar Renata.


Anggi terkekeh pelan. "Maafkan aku, Mbak! Yang penting sekarang aku baik-baik saja bukan?".


Anggi tertawa pelan seraya matanya mengedarkan pandangan ke sekitar.


"Kau mencarinya? Reynald tidak hadir. Jadi kami berdua yang mewakilinya". Ucap Renata saat melihat Anggi seperti mencari keberadaan seseorang.


Anggi menggaruk tengkuknya kikuk. "Ah.. Ya.. Begitu ya..."


"Cepat berikan aku nomormu! Jika kali ini kau mengganti nomor, aku akan segera menyusulmu ke Abu Dhabi!". Ancam Renata berusaha mengalihkan topik percakapan hingga membuat Anggi tertawa.


Malam hari


"Apakah aku benar-benar harus ikut bertemu dengan relasimu?". Tanya Anggi pada Rashaad.


Keduanya kink sedang berada di kamar hotel yang di tempati oleh Anggi. Rashaad maupun Anggi memesan dua kamar hotel yang berbeda namun tetap berada di 1 hotel dan lantai yang sama.


"Ayolah sayang temani aku ya?" Bujuk Rashaad.


Anggi menghela napasnya seraya berpikir.


"Aku janji tidak akan lama. Relasiku ini seorang pria paruh baya. Kita hanya akan malam saja tidak ada pesta apapun. Ayolah sayang.." Rashaad terus saja berusaha membujuk sang pujaan hati.


"Baiklah.. Di resto hotel ini kan?" Tanya Anggi memastikan.

__ADS_1


Rashaad mengangguk. "Iya sayang. Kalau begitu ayo kita segera turun!" Ujar pria itu dengan tersenyum lebar.


Beberapa saat kemudian Rashaad dan Anggi pun sudah sampai di lantai 5. Rashaad berjalan menuju sebuah meja resepsionis seraya menggenggam tangan Anggi.


"Reserved atas nama Pratama Group" Ujar Rashaad pada sang resepsionis.


Dengan cekatan resepsionis itu pun segera mengantarkan Rashaad dan Anggi ke dalam sebuah ruangan private. Dua orang yang sedari tadi menunggu kedatangan mereka lantas berdiri saat melihat pintu terbuka.


Anggi seketika itu pula langsung diam membeku kala melinat siapa yang berada di hadapannya saat ini. Begitupun pria itu menatap Anggi dengan pandangan penuh tanda tanya.


"Ah Anda pasti Rashaad dari Rajil Sahir Group?" Tanya pria itu yang segera di angguki oleh Rashaad.


"Maaf, tapi dimana Tuan Tama? Dan.. Anda siapa?" Tanya Rashaad kebingungan.


"Perkenalkan Aku Gavin, putra dari Tuan Tama. Ayahku tiba-tiba harus dilarikan ke rumah sakit karena suatu hal, dia memintaku untuk mewakilinya makan malam dengan anda dan menyampaikan permintaan maafnya"


"Ya Tuhan. Beritahu aku nanti di mana Tuan Tama di rawat. Aku akan menjenguknya jika itu tidak mengganggu". Sahut Rashaad.


Gavin mengulas senyum. "Tentu saja itu tidak mengganggu. Beliau akan senang di jenguk oleh Anda".


Gavin lantas menyisir penampilan Anggi hingga atas sampai bawah dan menatap gadis itu dengan raut wajah kebingungan. Rashaad yang menyadarinya pun segera memperkenalkan Anggi.


"Maaf aku lupa memperkenalkan wanita di sampingku ini"


"Dia Anggi, tunanganku" Ujar Rashaad yang berhasil membuat Gavin melongo begitu saja.


Gavin menatap dua orang di hadapannya silih berganti berulang kali dengan raut wajah terkejut.


"Oh. Ha-Hai.. Aku Gavin" Ujar Gavin seraya mengulurkan tangannya pada Anggi.


Anggi pun menerima uluran tangan Gavin dengan tersenyum.


"Baiklah mari silakan duduk". Gavin segera mempersilakan Rashaad dan Anggi untuk duduk.


Sesaat setelah mendudukkan dirinya, Gavin berbisik pada sang asisten. "Berikan ponselku cepat!".


Sang asisten pun segera mengeluarkan sebuah ponsel berlogo apel kepada Gavin. Dengan cekatan Gavin terlihat mengetik sebuah pesan pada seseorang. Namun belum sempat Ia menekan tombol send. Terdengar sebuah seruan dari arah pintu yang terbuka.


"Maaf aku telat".


Gavin tidak menoleh sedikitpun ke sumber suara. Ia malah menggelengkan wajahnya samar seraya membaca pesan yang tadi belum sempat terkirim.


Bro... Kau jangan datang ke resto! Aku berubah pikiran. Kau tidak perlu berkenalan dengan sultan Abu Dhabi itu!


•••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••

__ADS_1


__ADS_2