Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 32


__ADS_3

"Aku tidak mau!". Ujar Anggi bersikeras.


"Memangnya kau mau tidur dengan kondisi rumah yang berantakan?". Tanya Reynald.


Keduanya kini sedang berdebat di sela-sela sarapan yang tengah mereka nikmati di lantai bawah penthouse Reynald. Pria itu mengutarakan usul pada Anggi untuk menginap sekitar dua hingga tiga hari di penthouse nya namun Anggi menolak.


"Yang penting pintu rumah ku masih bisa di kunci rapat, itu aman untuk ku. Yang kamu renovasi kan hanya atap dapur dan memasang kanopi. Artinya kamar tidur ku masih aman untuk di tiduri". Ujar Anggi.


Reynald mengusap wajah nya kesal. "Astaga.. Satu hal lagi yang aku baru tau mengenai diri mu. Ternyata kau juga keras kepala!". Ucap Reynald.


Anggi memberengutkan bibir. "Aku hanya menyampaikan pikiran ku. Tidak salah kan? Aku takut kalau menginap di penthouse kamu.." Ujar Anggi.


Reynald mengerutkan kening bingung.


"Takut? Takut dengan apa? Penthouse ku justru lebih aman daripada rumah mu. Disini ada security 24 jam, sistem keamanan yang ketat dan canggih. Tak ada seorang pun yang bisa masuk tanpa kartu akses". Jelas Reynald.


"Bukan itu..." Anggi menundukkan kepala.


"Lalu apa?". Tanya Reynald bingung.


"Kita hanya berdua di sini. Hanya ada aku dan kamu. Aku takut..." Ucap Anggi.


Reynald diam sejenak lalu tersenyum geli. "Apa kamu takut dengan ku?". Tanya Reynald.


Anggi hanya diam tak menjawab.


"Kau takut pada ku hmm?". Tanya Reynald lagi seraya mencondongkan tubuh nya mendekat ke arah Anggi.


"Ten... Ten..tu saja!". Ucap Anggi seraya menggeser tubuhnya ke samping.


"Kenapa kau takut pada ku?". Tanya Reynald semakin menggoda.


"Kamu... Selalu mencium ku..." Ucap Anggi.


Sontak saja Reynald tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Anggi yang terlampau terus terang. Ia bahkan sampai menitikkan air mata di sela tawanya.


"Aku hanya mencium mu. Sebagai pasangan kekasih itu hal yang wajar kan?". Tanya Reynald terkekeh.


Anggi menggeleng pelan. "Entah.. Aku belum pernah berhubungan dengan pria manapun. Jadi aku tidak bisa menjawab nya". Ujar Anggi.


"Ciuman mu itu.... Hmm.. Seperti... sengatan listrik ke tubuh ku. Jadi aku tak terbiasa". Lanjut Anggi.


Mendengar itu Reynald lantas dalam sekejap menarik Anggi ke dalam pelukan nya. Pria itu terkekeh pelan seraya mengusap lembut rambut panjang gadis itu yang terurai panjang.

__ADS_1


"Entah apa yang merasuki ku hingga aku bisa merasa nyaman dengan gadis polos seperti mu hehehe". Ucap Reynald terkekeh.


Anggi membalas pelukan Reynald. "Apa kah aku bukan kriteria mu?". Tanya Anggi.


"Hm.. Setidak nya aku tau kalau kriteria ku pada seseorang bisa berubah. Itu saja yang perlu kau tau". Ujar Reynald seraya mengendurkan pelukan nya.


"Kenapa aku merasa kamu menutup rapat kehidupan mu dari ku.." Ujar Anggi pelan.


"Apa kah perjanjian saat kamu menjadi mentor ku masih berlaku saat ini?".


Reynald menyipitkan mata menatap kekasih nya. "Perjanjian yang mana?". Tanya Reynald.


"Perjanjian yang menyebutkan bahwa aku tidak boleh bertanya apapun tentang kehidupan mu dan semua yang aku dengar juga lihat tentang mu, tidak boleh tersebar kemanapun".


"Apa kah semua hal itu masih berlaku?". Tanya Anggi memberanikan diri menatap Reynald.


Pria itu memegang kedua bahu Anggi dengan erat seraya tatapan nya jatuh tepat ke manik mata Anggi.


"Dengarkan aku baik-baik....."


"Kau kekasih ku saat ini. Tentu saja aku akan terbuka dengan mu dalam berbagai hal. Namun ada hal yang lebih baik kau tidak perlu mengetahuinya..."


"Bukan karena aku ingin menutupinya darimu, hanya saja itu tidak penting juga untuk kau ketahui.. Kau mengerti maksud ku kan?".


"Lalu.. Hm.. Bagaimana aku mengucapkan nya padamu ya.."Lanjut Reynald bergumam sembari menatap Anggi.


"Mengenai hubungan kita, aku ingin kita menutupinya dari publik. Hanya orang-orang tertentu saja yang boleh tau. Nanti pada saat yang tepat, aku akan mengungkapkan nya pada publik".


"Kau tidak apa-apa kan?".


Anggi diam membisu menatap intens. Otaknya berusaha mencerna seluruh penjelasan dari kekasih nya. Berbagai dugaan buruk muncul mencoba menggoda akal sehat dirinya.


"Kamu bukan pria beristri kan sebenarnya?".


"Aku bukan selingkuhan mu kan?".


"Aku bukan perebut suami orang kan?".


"Atau... Jangan-jangan aku malah merebut kekasih orang?".


Pertanyaan demi pertanyaan Anggi lontarkan pada Reynald. Semua itu adalah dugaan buruk yang muncul begitu saja di otaknya manakala mendengar segala penuturan pria itu.


Reynald melongo mendengar segala pertanyaan tak masuk akal yang di tujukan pada dirinya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu padaku?'. Tanya Reynald dengan tatapan tak percaya.


Anggi menundukkan kepala. "Maaf kalau aku menyinggung mu..." Cicit Anggi.


Reynald lantas menyandarkan tubuh nya ke sofa seraya bersedekap dada.


"Tentu saja aku tersinggung!". Reynald menggerutu.


Anggi mendongakkan kepala menatap Reynald yang tengah memasang raut wajah dingin. Gadis itu lantas mendekat dan menggenggam tangan kekar Reynald.


"Maafkan aku.. Kamu jangan marah.. Itu semua hanya dugaan ku". Ucap Anggi lembut.


Reynald masih diam bergeming tak menanggapi apalagi menoleh.


Anggi menghela napas pelan. "Baiklah.. Aku akan menginap di penthouse mu hingga rumah ku selesai di renovasi". Ujar Anggi.


Mendengar itu Reynald lantas menoleh pada Anggi dengan tatapan terkejut.


"Benarkah? Kau tidak bisa menarik ucapan mu lagi!".Ancam Reynald.


Anggi mengangguk. "Iya.. Aku akan menuruti mau kamu untuk menginap di sini".


Yes! Akhirnya... Ternyata membujuk gadis sepertinya tidak terlalu sulit..


Reynald bersorak girang dalam hati.


Reynald lalu beranjak berdiri. "Ayo aku tunjukkan dimana kamar mu selama tinggal di penthouse ku". Ucap Reynald.


Anggi lantas berdiri mengikuti Reynald ke sebuah kamar di lantai satu dekat dengan balkon penthouse. Anggi mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar yang luas dengan dominasi warna putih dan coklat. Ada satu lemari kaca tiga pintu yang berada di sudut dekat jendela dan kasur berukuran king size. Aksen kayu di dinding sekitar kasur menambah kesan hangat pada kamar tersebut.


"Kurasa setiap kamar di penthouse mu memiliki ciri khas masing-masing. Jika kamar pribadi mu mencerminkan maskulinitas, kamar ini mencerminkan kehangatan... Aku jadi penasaran kamar yang berada di sebelah kamar ini memiliki ciri khas bagaimana hehehe". Anggi terkekeh seraya menatap kagum dengan segala interior yang tercipta di penthouse.


"Apa kamu memakai jasa desain interior?". Tanya Anggi seraya menatap Reynald.


Raut wajah pria itu sontak saja terkejut. Ia menggaruk tengkuk yang bahkan tidak gatal sama sekali. Ia melirik Anggi dengan ekor matanya.


"Itu.. Hmm. Ya. Aku memakai jasa seperti itu. Tentu saja". Ucap Reynald yang di tanggapi Anggi dengan tersenyum manis.


Maafkan aku membohongi mu.. Semua interior di penthouse ku Clara yang mengaturnya...


Reynald membatin seraya menatap Anggi dari samping.


•••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••

__ADS_1


__ADS_2