
Reynald bersiul seraya merapihkan rambutnya dengan pomade di depan cermin. Tubuh gagahnya sudah terbalut rapih setelan tuxedo berwarna navy dengan kemeja putih di dalamnya. Pagi ini Ia akan menghadiri meeting penting dengan klien. Sudah 2 bulan Ia resmi menjadi duda dengan 1 anak. Proses perceraiannya dengan Clara begitu singkat. Hanya dalam 1 bulan pengadilan mengabulkan gugatan perceraian yang Clara layangkan beserta tuntutan di dalamnya yaitu uang 250 Miliar rupiah.
Perceraian Reynald dan Clara menjadi buah bibir di masyarakat bahkan hingga detik ini. Apalagi mereka selama 5 tahun ini di kenal pasangan yang serasi dan romantis. Tak pernah sekalipun media mencium konflik dalam rumah tangga yang mereka bangun.
Tak ayal saat sidang perceraian keduanya bocor ke publik, seluruh media memberitakan mereka dan menjadi headline di mana-mana. Reynald yang hampir minim masuk dalam portal media gosip, sempat merasa kesal dan jengah saat melihat nama dan fotonya berada di media gosip. Tapi Ia tahu itu resikonya menikah dengan seorang aktris seperti Clara.
Namun terlepas dari itu semua, Reynald tetap menjalankan aktifitasnya seperti biasa. Ia terlihat nyaman menjalani kesendiriannya yang sudah berjalan selama 2 bulan. Perpisahan kedua kalinya dengan Clara kali ini tidak membawa luka berarti bagi dirinya seperti dahulu kala Ibu dari anaknya pergi tiba-tiba. Kali ini memang lebih baik seperti sekarang. Berjalan masing-masing tanpa harus memaksakan kehendak satu sama lain yang akan selalu berakhir menyakiti.
"Dad? Aku masuk ya!"
Reynald menoleh ke arah pintu kamarnya. "Masuklah, Jes!"
Pintu kamar Reynald pun terbuka dan Jessy melangkah masuk dengan senyuman lebar. Gadis kecil itu nampak cantik dan menggemaskan dengan rambut yang di kepang dua dari kulit kepala hingga ujung rambut. Tubuh mungilnya terbalut kaus berwarna putih dengan bawahan rok tutu berwarna toska. Sungguh seperti princess!
"Dad, tadi Mom menelfonku...katanya Mom akan menjemputku pulang sekolah!"
Reynald duduk di sisi ranjangnya dan meraih Jessy ke atas pangkuan. "Oh.. Apa itu artinya Mommy sudah pulang ke Jakarta?"
Jessy mengangguk-anggukkan kepalanya. "Iya Dad! Mom bilang baru saja dia sampai di bandara!"
"Mommy ajak aku menginap di apartemennya. Boleh kan, Dad?"
Reynald mencubit kecil cuping hidung Jessy. "Tentu saja boleh! Dia Mommy mu. Kau jarang bertemu dengannya. Jadi nikmati waktumu nanti dengan Mom ya sayang.. Asal ingat kau jangan nakal. Oke?"
Alih-alih menjawab, Jessy malah langsung memeluk tubuh Reynald. "Apa Daddy tidak apa-apa aku tinggal sendirian?"
Reynald terkekeh geli mendengar nada sedih dari putrinya. "Aku tidak apa-apa. Pergilah ke tempat Mommy. Dia juga pasti sangat merindukanmu". Ujar Reynald seraya balas mendekap tubuh mungil Jessy.
•••
Sesampainya di kantor, Reynald segera menuju ruang kerjanya. Baru saja Ia masuk, Renata dan Andre sudah mengekorinya dari belakang. Reynald lalu duduk di kursi kebesarannya dan menatap silih berganti pada dua orang yang berdiri di depan meja kerjanya.
"Apa lagi?"
Renata menempatkan tumpukan file di atas meja kerja Reynald. "Ini semua yang harus kau periksa hari ini".
Andre pun menaruh sebuah Ipad dengan layarnya yang menyala ke arah Reynald. "Dan ini... Kau harus periksa email dari perusahaan cabang yang berada di Dubai".
Reynald mengerutkan kening menatap Andre. "Apa ada masalah di sana?".
"Tidak.. Tidak. Justru itu kabar bagus. Kau periksa saja sendiri". Ujar Andre seraya mengangkat dagunya mengarah ke Ipad yang tergeletak di meja.
__ADS_1
"Baiklah.. Kalian bisa pergi".
"Oh ya Rey, jangan lupa nanti kau ada meeting dengan Maverick Company". Sahut Renata mengingatkan.
"Ya.. Ya.. Aku ingat. Jadi keluarlah dulu kalian berdua agar aku bisa segera memeriksa ini semua" Reynald meletakkan kedua tangannya ke atas tumpukan file dan Ipad seraya matanya menatap tajam pada Renata dan Andre.
Keduanya pun melangkah pergi seraya terkikik geli melihar raut kesal di wajah Reynald. Namun tak di tampik kini Reynald memang sedang giat-giatnya bekerja. Jadwal apapun dan sebanyak apapun file yang harus Ia periksa dan setujui, Reynald akan menerimanya tanpa protes.
Menit demi menit berlalu hingga akhirnya tiba jam makan siang. Reynald merentangkan tangannya ke atas berusaha mengusir rasa pegal setelah berjam-jam duduk. Ia lantas berdiri dan membereskan tumpukan file dalam satu tumpuk dan mematikan PC.
Reynald meraih jas yang tersampir di kursinya dan segera keluar dari ruang kerja.
"Apa sekarang kau akan langsung ke Maverick Company?". Tanya Renata yang menghampirinya.
"Ya. Sekalian makan siang bersama"
"Oke. Apa kau akan langsung pulang ke penthouse setelah selesai dari sana atau kembali ke kantor?" Tanya Renata lagi.
"Hmm.. Aku belum tahu. Jessy tidak ada di penthouse selama beberapa hari. Jadi aku merasa sepi jika pulang cepat" Jawab Reynald terkekeh.
"Apa Clara pulang?"
Reynald mengangguk. "Ya. Tadi Clara pun sudah minta izinku untuk membawa Jessy"
Renata mendesis sebal menatap punggung sepupunya. "Dasar duda menyebalkan!" Umpatnya.
Maverick Company
"Mari Pak Reynald saya antarkan ke atas". Ujar salah seorang asisten CEO perusahaan yang sedang Ia datangi saat ini.
Reynald tak berkata apapun dan hanya mengikuti asisten seorang wanita muda yang Ia ketahui bernama Indah. Keduanya pun memasuki lift khusus direksi.
Tak berapa lama kemudian pintu lift pun terbuka di lantai teratas. Indah segera melangkah menuju ruang CEO dan mengetuk pintu yang terlihat kokoh sebelum membukanya.
"Pak, Tamu anda sudah datang". Ujar Indah melangkah masuk di ikuti oleh Reynald.
"Kau ini! Kau bisa langsung saja ke lantaiku, kenapa harus merepotkan asistenku terus untuk menjemputmu di bawah?" Cecar seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Hendra Wibrata.
"Aku malas ke resepsionis" Ujar Reynald acuh seraya mendudukkan dirinya ke atas sofa.
"Pergilah Indah.. Jangan lupa kau pesankan makan siang" Titah Hendra pada asistennya.
__ADS_1
"Kupikir makan siang sudah ada, tahu begini aku tidak perlu secepat ini kemari" Reynald menggerutu.
Hendra menyilangkan kakinya seraya terkekeh geli. "Tadi aku sedang ada meeting penting. Kau tahu kan aku baru saja menjalin kerja sama dengan perusahaan sahabatmu, Gavin. Terima kasih kau telah memberikan project besar itu pada perusahaanku alih-alih pada perusahaanmu".
Reynald mengedikkan bahu. "Perusahaanku lagi bosan mengerjakan project fantastis. Jadi aku sedang berbaik hati memberinya padamu"
Sungguh siapapun yang melihat raut wajah Reynald saat ini mungkin ingin sekali rasanya menimpuk Reynald dengan sesuatu saking angkuhnya pria itu. Namun Hendra justru tertawa pelan. Pria paruh baya itu sudah mengenal Reynald dengan baik selama perusahaannya menjalin kerja sama sejak bertahun-tahun lalu.
"Apa kita akan membicarakan bisnis lebih dulu sebelum makanan datang?" Tanya Hendra.
"Lebih baik begitu. Aku ingin menawarkan suatu project baru yang mungkin akan di ikuti oleh beberapa perusahaan lainnya. Namun aku yakin kau akan sangat antusias dan akan berusaha memenangkan tender dalam project ini"
Hendra mencondongkan tubuhnya ke arah Reynald merasa tertarik. "Berapa nilai projectnya?"
"Sekitar.........."
"Ayaaaaahhh!" Suara panggilan dari seorang wanita beserta suara pintu yang terbuka menginterupsi keduanya.
Hendra menadahkan kepalanya dan tersenyum lebar ketika melihat siapa yang datang. Hendra lantas berdiri menghampiri.
"Astaga Nak.. Kapan kau datang ke Jakarta? Kenapa kau tidak memberitahuku?". Tanya Hendra dengan raut wajah bahagia.
"Maaf Ayah.. Aku ingin memberimu kejutan hehehehe".
"Aku baru saja sampai tadi pukul 7 pagi lalu segera ke rumah untuk beristirahat sebentar". Ujar Anggi seraya terkekeh pelan.
Anggi beralih menatap seorang pria yang tengah duduk di sofa dengan posisi membelakangi. "Ah.. Maaf Ayah aku tidak sopan sekali.. Aku tidak tahu kalau kamu sedang ada tamu. Tadi Indah tidak ada di luar, jadi aku langsung masuk saja". Ujar Anggi sambil menggaruk tengkuknya merasa tidak enak hati.
Hendra tersenyum simpul dan memegang tangan putrinya. "Tak masalah..."
"Kalau begitu aku pergi dulu, nanti aku kembali lagi. Aku akan ke resto di gedung sebelah saja sekalian makan siang".
Hendra dengan cepat mencegah Anggi. "Makan sianglah di sini. Aku juga belum makan siang".
"Tapi Ayah.. Tamu nya...."
"Tidak apa-apa kan jika putriku bergabung makan siang di sini, Reynald?". Timpal Hendra beralih menatap Reynald yang masih diam duduk memunggungi mereka.
Sontak saja mendengar kata Reynald dari bibir Sang Ayah membuat hati Anggi mencelos begitu saja. Ia menatap seorang pria yang sedari tadi diam saja sejak kedatangannya. Semakin terkejut lagi saat mata Anggi melihat pergerakan tubuh pria itu yang berdiri dan berbalik badan menghadap ke arahnya.
"Tentu saja tidak masalah". Ujar Reynald seraya beradu pandangan dengan Anggi.
__ADS_1
••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••