Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 66


__ADS_3

"Maaf aku telat".


Sebuah suara dari arah pintu sontak saja menyita perhatian setiap orang yang ada di dalam ruangan kecuali Gavin yang langsung menunduk melihat ponselnya.


Anggi yang menyadari siapa pria yang baru saja datang bergabung membuat tubuhnya tak bergeming. Raut wajah terkejut tak bisa terelakkan darinya saat ini. Ia menyisir tampilan pria yang selama 5 tahun tidak pernah di temuinya lagi.


Rambut yang di tata rapi dengan pomade, rahangnya yang tegas serta tatapan matanya yang tajam. Anggi merasakan aura yang sedikit berbeda dari pria itu. Aura yang lebih dewasa dan maskulin. Tentu saja, pria itu sudah menjadi seorang ayah. Sedikit banyak pasti akan mengalami perubahan.


"Kenalkan ini sahabat sekaligus relasi bisnisku, Reynald dari Vankoch Company". Sahut Gavin tiba-tiba memecah kecanggungan antara Reynald dan Anggi.


Rashaad pun berdiri dan berjabat tangan dengan Reynald seraya melempar sebuah senyuman.


"Senang berkenalan dengan anda, Tuan Reynald" Ujar Rashaad.


Reynald pun menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis.


"Vankoch Company.... Apakah pemiliknya Dave Zaynvankoch dari Jerman?". Tanya Rashaad.


"Ya. Aku putranya".


"Wow! Ini sebuah malam yang mengejutkan! Aku bertemu dengan dua penerus perusahaan yang sangat bonafit". Sahut Rashaad.


"Ah Ya.. Perkenalkan ini Anggi, tunanganku". Ujar Rashaad.


Reynald menatap Anggi dengan tatapan yang sulit di artikan. Rasa rindu, terkejut sekaligus senang berbaur dalam hatinya.


Reynald mengulurkan tangan ke arah Anggi. Gavin yang sedari tadi memperhatikan interaksi ketiga orang di dekatnya hanya bisa mengusap wajahnya seraya menghembuskan napas pelan.


Anggi menerima uluran tangan Reynald dan mengulas senyum di bibir.


"Anggi" Ucapnya.


Reynald menganggukkan kepala tipis namun mulutnya terkatup rapat.


"Ayo.. Ayo.. Cepatlah duduk. Kita mulai saja makan malamnya". Ujar Gavin memecah kecanggungan.


Rashaad, Anggi maupun Reynald pun duduk di tempatnya masing-masing. Gavin yang duduk di sebelah Reynald sedikit menyenggol tangan pria itu.


"Bro.. Aku tidak tahu jika Anggi akan datang! Kau jangan marah padaku". Bisik Gavin.


Reynald menoleh sekilas pada Gavin. "Tidak apa". Ucap Reynald singkat.


Tak lama dua orang waitress memasuki ruangan seraya mendorong sebuah troli yang berisikan makanan yang mereka pesan.


Satu per satu makanan di hidangkan di atas meja beserta minumannya. Rashaad dengan cekatan mengambil menu fettucini dan menempatkan makanan tersebut di hadapan Anggi.


"Aku sedang tidak mau makan fettucini". Ucap Anggi pelan.


"Apa kau mau salad? Nanti aku pesankan". Sahut Rashaad menoleh pada Anggi.

__ADS_1


"Tidak perlu, Rashaad. Aku minum saja". Ujarnya seraya mengambil segelas orange juice.


"Kau belum makan sayang". Bujuk Rashaad.


Anggi menghela napasnya pelan. Sebenarnya Ia tadi merasa lapar, namun tiba-tiba rasa lapar yang dirasakannya hilang begitu saja ketika melihat Reynald. Bukan karena Ia tak ingin melihat pria itu, namun rasa yang sulit Ia jabarkan membuat dirinya jadi tidak bersemangat.


"Kau terlihat sangat perhatian pada tunanganmu" Ujar Reynald yang sedari tadi melihat interaksi keduanya.


Rashaad menoleh dan mengulas senyum. "Ya tentu saja. Dia tunanganku. Bukankah aneh jika aku tidak peduli pada tunanganku?" Sahut Rashaad terkekeh pelan.


Reynald menatap Anggi yang membuang tatapannya ke sembarang arah.


"Sudah berapa lama kalian berdua bertunangan?"


"Satu tahun" Ujar Rashaad.


"Wow itu cukup lama untuk sebuah pertunangan! Apa kalian berencana menikah dalam waktu dekat?". Timpal Gavin.


Namun sedetik kemudian Gavin menepis mulutnya sendiri saat melihat raut wajah Reynald yang dingin.


Rashaad menatap Anggi dengan tatapan penuh cinta dan beralih menatap Reynald serta Gavin. "Kami akan menikah secepatnya" Ujar Rashaad seraya menggenggam tangan Anggi yang hanya diam membisu.


"Ngomong-ngomong, apa kalian berdua masih sendiri?"


"Maksudmu single? Tidak punya pasangan?" Sahut Gavin.


Rashaad mengangguk. "Ya maksudku apa kalian berdua sudah menikah atau mungkin bertunangan?".


Rashaad menatap Reynald dengan raut wajah tak percaya. "Benarkah?"


Reynald mengangguk. "Ya. Aku sudah menikah". Ujar Reynald.


"Apa kau sudah punya anak?"


"Aku mempunyai 1 putri yang berusia 5 tahun saat ini" Reynald menjawab pertanyaan Rashaad namun matanya terkunci menatap pada Anggi yang sedang menatapnya pula.


"Kau sangat beruntung. Semoga aku pun bisa segera menyusul langkahmu" Sahut Rashaad.


Reynald hanya mengangguk tanpa menjawab apapun.


Makan malam pun di lalui dengan damai. Anggi akhirnya mau tak mau harus menikmati makanan yang sudah di hidangkan. Percakapan di ruang private itu lebih banyak di dominasi oleh obrolan bisnis antara Reynald, Rashaad dan Gavin.


Ketiganya saling bertukar pikiran dan informasi yang bermanfaat di dunia bisnis. Anggi diam-diam sedari tadi melirik Reynald yang asik bercengkrama dengan tunangannya. Tidak ada kecanggungan dari gestur tubuh pria itu. Anggi menghela napasnya.


Apa yang kau harapkan? Anggi bermonolog dalam hati.


Apa Ia berharap Reynald memasang wajah cemburu? Kesal? Marah? Kenyataannya, Pria itu terlihat santai saat ini. Di awal perkenalan mungkin terasa dingin. Namun sekarang pria itu bahkan bisa tertawa pelan saat mengobrol dengan Rashaad.


Tanpa sadar waktu pun semakin larut. Satu per satu pengunjung resto telah pulang. Anggi melirik arloji yang melingkar di tangan kanannya dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.

__ADS_1


"Kurasa sebaiknya aku lebih dulu kembali ke kamar". Ucap Anggi menatap Rashaad yang masih asik mengobrol.


Rashaad mengalihkan fokusnya pada Anggi dan menyisir raut wajah wanita itu.


"Astaga aku lupa..pasti kau lelah"


"Maaf aku harus undur diri lebih dulu saat ini.. Tunanganku....."


"Kau.di sini saja. Nikmati waktumu mengobrol dengan mereka". Anggi memotong ucapan Rashaad pada Reynald dan Gavin seraya menggenggam tangan pria itu.


Rashaad menelisik raut wajah Anggi dengan seksama.


"Serius tidak apa-apa?".


Anggi tersenyum manis. "Iya.. Kamu di sini saja atau pergi kemanapun malam ini. Kamu harus menikmati malammu selagi di Jakata".


"Ya sudah aku antar lebih dulu ke kamar" Ujar Rashaad hendak berdiri.


Namun dengan cepat Anggi menahan Rashaad untuk berdiri. "Aku bisa sendiri" Ujarnya.


Anggi lantas beranjak dari duduknya dan menatap Reynald serta Gavin silih berganti.


"Terima kasih untuk jamuan makan malamnya. Aku sangat menikmatinya. Kalau begitu aku izin undur diri lebih dulu" Ujar Anggi seraya membungkukkan kepala sedikit.


Reynald hanya diam menatap Anggi tak menyahut Gavin menyikut lengan Reynald pelan dan beralih menatap Anggi dengan wajah kikuk.


"Ahh.. Ya.. Ya.. Terima kasih juga kau sudah menyempatkan diri untuk hadir". Ujar Gavin.


Anggi pun mengulas senyum tipis di bibirnya dan mengangguk pelan. Tak lama wanita itu pun melangkah keluar ruangan.


Anggi berjalan pelan menuju sebuah lift yang akan mengantarkannya ke lantai di mana kamar hotelnya berada.


Hingga tak lama pintu lift pun terbuka di mana Anggi sedang berdiri. Ia lantas segera masuk dan jarinya membeku di udara saat hendak memencet deretan angka yang harus Ia tekan. Sedikit berpikir Anggi lalu menekan lantai teratas dari hotel. Tujuannya adalah rooftop.


Ting!


Pintu lift pun terbuka dan Anggi segera berjalan keluar dari lift. Ia mendorong sebuah pintu besi yang tidak terkunci. Angin malam tanpa permisi menerpa wajahnya begitu saja. Anggi melangkah menuju sudut rooftop dan menatap gemerlapnya kilau lampu dari gedung-gedung sekitar hotel.


Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Sebulir air mata jatuh menetes begitu saja di pipinya. Dengan cepat Ia menyekanya. Bibirnya menyunggingkan senyum miris pada dirinya sendiri.


"Kenapa aku harus menangis sih.." Ucap Anggi bermonolog.


"Aku dan dia sudah memiliki kehidupan masing-masing. Tapi kenapa dadaku rasanya......." Anggi menggantungkan ucapannya. Ia meremas bajunya dengan kuat menahan rasa tersiksa yang dulu ada kini menguar kembali menyapa dirinya.


Anggi menangkupkan kedua.tangannya ke tembok dan menundukkan kepalanya. Ia menangis tersedu-sedu mengeluarkan sebuah rasa asing yang begitu membebaninya malam ini.


"Kau sudah berjanji padaku untuk selalu tersenyum. Tapi apa yang sedang kulihat sekarang?"


Deg! Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari balik tubuhnya. Anggi dengan cepat menyeka air matanya dan membalikkan badan menatap seorang pria yang menjadi penyebab tangisnya saat ini.

__ADS_1


"Rey...."


•••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••


__ADS_2