
Keesokan harinya tepat di ruangan kerja Reynald, pria itu sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Ia hanya bisa menatap kosong pada tumpukan berkas yang berserakan di atas meja kerjanya.
Semakin Ia berusaha untuk fokus, pikirannya malah semakin berlarian ke dalam seluruh kilas balik kehidupannya selama 10 bulan ke belakang. Banyak sekali perkataan 'andai saja.....' dan 'andai saja' lainnya yang muncul dalam otaknya. Namun ibarat nasi sudah menjadi bubur, Ia tidak bisa kembali ke awal masa Clara menghilang. Kini Ia hanya bisa menghadapi kenyataan dan memikirkan jalan terbaik bagi semuanya.
"Aaarrrgggghhhhh!". Reynald menghempaskan seluruh berkas ke lantai begitu saja.
Pikirannya begitu kalut. Terlebih lagi Anggi sempat menghubunginya sejak kemarin malam namun Reynald memilih untuk mengabaikan gadis itu. Ia masih belum mampu untuk bersikap biasa saja di hadapan kekasihnya yang polos. Dan juga Reynald merasa situasi yang ada menjadi tidak adil bagi Anggi.
"Astaga Reynald!".
Renata yang masuk begitu saja ke dalam ruangan Reynald sangat terkejut melihat banyak kertas-kertas berserakan di lantai. Ia beralih memperhatikan sepupunya yang siapapun bisa menyadari bahwa pria itu tampak kalut.
"Kenapa kau seperti ini? Apa kau bertikai dengan Anggi?". Tanya Renata sembari berjalan menghampiri Reynald yang masih duduk di belakang meja kerjanya.
Reynals terlihat menggelengkan kepalanya pelan.
"Lalu ada masalah apa?".
Reynald hanya diam dan menangkup kedua tangannya menutupi wajah hingga hanya terdengar helaan nafasnya yang kasar berulang kali.
"Ada masalah apa, Rey?". Renata mengulangi pertanyaannya.
"Kau tidak mau memberitahuku?".
Reynald lantas menatap Renata dengan matanya yang memerah karena banyaknya gejolak emosi yang sedang pria itu rasakan.
"Aku bingung..
"Bingung dalam hal apa?". Renata mengerutkan dahi.
Reynald menghela napasnya dan menyandarkan punggungnya ke bangku. Pria itu menatap Renata dengan serius.
"Clara...." Ujar Reynald pelan.
Renata melotot terkejut. "Kenapa kau menyebut nama wanita yang bahkan sudah kau lupakan?".
"Dia kembali, Renata. Clara telah kembali..."
"APA?! Kau sedang tidak bercanda kan?!".
Reynald menggelengkan kepala. "Untuk apa aku bercanda saat ini? Clara sudah kembali. Dia menemuiku".
Renata terdiam sejenak berusaha mengendalikan rasa terkejutnya. Ia menatap Reynald dengan tajam.
"Lalu kenapa jika dia kembali? Apa hubungannya denganmu? Apa kau goyah?".
"Ingat Rey.. Kau sekarang memacari Anggi. Gadis polos yang baik hati seperti dia tidak pantas kau tinggalkan begitu saja karena masa lalumu yang datang kembali". Renata mengingatkan Reynald.
"Andai saja semua itu bisa sangat sederhana. Aku tidak akan pusing seperti sekarang". Ucap Reynald kalut.
__ADS_1
"Situasinya tidak mudah, Ren".
Renata mengerutkan dahinya bingung. Apanya yang tidak mudah? Sepupunya hanya tinggal abaikan saja keberadaan Clara, itu beres! Pikir Renata.
"Kau masih cinta dengan dia makanya kau pusing? Begitu? Lalu selama ini kau memacari Anggi hanya main-main? Begitu?!". Cecar Renata.
Braakkk!
Reynald memukul meja dengan keras. "Aku dan Clara memiliki bayi kau tahu! Ini tidak mudah untukku sialan!". Umpat Reynald.
Renata ternganga dan melotot terkejut mendengar penuturan Reynald. Pikirannya berhenti begitu saja.
"Clara datang ke penthouseku di malam hari ulang tahunku. Dia datang membawa seorang bayi perempuan dan mengatakan bahwa itu anakku". Jelas Reynald.
"Dia menjelaskan seluruh alasan kenapa dia meninggalkanku begitu saja sepuluh bulan yang lalu, Ren". Reynald menatap Renata yang masih diam membisu.
Renata mengerjapkan matanya berusaha berpikir jernih.
"Oh Tuhan. Tunggu.. Tunggu sebentar.."
"Aah Ini benar-benar gila. Tidak.. Tunggu.. Aku harus memanggil Andre kesini. Kau tunggu sebentar". Renata meracau sembari melangkah keluar dari ruangan Reynald.
Reynald hanya terdiam menatap Renata yang begitu saja pergi dari ruangannya untuk memanggil Andre. Reynald menghembuskan napasnya perlahan. Ya. Lebih baik orang-orang terdekatnya tahu jadi Ia tidak menghadapinya sendirian. Reynald bermonolog dengan dirinya sendiri.
Tak lama pintu ruangannya terbuka dan nampak Andre dengan Renata yang melangkah masuk.
"Clara kembali?"
"Kalian mempunyai anak?".
Andre langsung saja memborbardir dengan beberapa pertanyaan yang di angguki oleh Reynald.
Andre mengusap wajahnya pelan. "Apa kau sudah memastikan bahwa itu benar anakmu?". Tanya Andre.
"Aku sudah melakukan tes DNA dan hasilnya 99,9% cocok denganku". Sahut Reynald.
Renata ternganga dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Ia ikut pusing dengan situasi yang di hadapi sepupunya.
"Apa kemarin kau melakukannya saat kau bilang tidak bisa hadir ke kantor?". Tanya Andre yang segera di angguki oleh Reynald.
"Apa kau yakin hasilnya bro? Maksudku, Aku takut hasilnya di manipulasi kau tahu".
Reynald menatap Andre dengan seksama. "Aku tidak bodoh. Aku melakukannya di rumah sakit yang perusahaanku menjadi donatur terbesar di sana. Mereka akan mendapatkan masalah besar jika berani mengelabuiku".
"Dan kau sangat mengenal Mike, bukan? Dia orang yang sangat menjaga sumpahnya sebagai seorang dokter dan tidak pernah mengecewakanku. Kau sangat tahu betul tentang hal itu".
Andre mengangguk-anggukkan kepalanya. "Oh kau melakukan tes itu dengan Mike rupanya. Kalau begitu aku tidak kuatir".
Ketiganya lantas terdiam tak sejenak sibuk dengan pikirannya masing-masing.
__ADS_1
"Kalau begitu kau nikahi saja Clara". Ujar Andre lugas memecah keheningan di dalam ruangan kantor yang dingin menusuk.
"Ndre!". Renata terkejut dan protes dengan ucapan Andre.
Andre menoleh pada Renata. "Kenapa? Benar kan kataku?".
"Mau tidak mau dia harus menikah dengan Clara. Ada anak di antara mereka yang membutuhkan status sah di depan hukum negara ini". Ucap Andre sembari melirik Reynald.
"Kita bisa pikirkan cara lain. Tidak harus seperti itu! Aku tidak setuju!". Ujar Renata.
"Kau tidak bisa naif, Ren. Jika situasinya Clara kembali tidak membawa seorang anak, maka itu sederhana saja. Tapi di sini kita perlu memikirkan kebaikan pada anaknya Reynald!". Sahut Andre.
"Bagaimana dengan Anggi? Kau tidak bisa mengabaikan keberadaan gadis itu. Dia sudah seperti adikku sendiri. Aku tidak mau jika dia diperlakukan tidak adil karena situasi ini!".
Andre mengusap wajahnya bingung. Pria itu lantas melirik Reynald yang diam termangu menatap kosong ke arah jendela kantornya.
"Apa kau sudah meniduri gadis itu?". Ucap Andre pada Reynald.
"Tidak. Aku sangat menjaganya". Ujar Reynald dengan nada sendu.
"Kau dengar itu? Gadis itu tidak di rugikan jika dia harus berpisah dengan Reynald. Patah hati mungkin saja akan di alaminya sebentar namun aku yakin gadis itu akan bahagia setelahnya daripada harus bertahan dengan pria brengsek seperti dia". Ujar Andre menyinggung Reynald.
"Aku tidak setuju. Ini tetap tidak adil bagi Anggi!".
"Kau mencintainya bukan? Katakan padaku!". Desak Renata pada Reynald.
Reynald beranjak dari kursinya dan melangkah mendekat ke jendela kantornya. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sembari menatap jauh ke depan.
"Tentu saja. Aku mulai mencintai Anggi. Aku sudah nyaman dengannya..." Ujar Reynald sembari mengulas senyum kala mengingat wajah manis kekasih polosnya itu.
"Kalau begitu kau nikahi saja dua-duanya!". Ujar Andre tiba-tiba.
Renata memukul bahu Andre dengan sangat keras hingga pria itu mengaduh. "Kau gila hah?!". Teriak Renata melotot pada Andre.
"Lantas harus seperti apa lagi?! Keberadaan Clara dan anaknya tidak bisa di abaikan begitu saja kau tahu! Di sisi lain, Reynald sudah mulai mencintai kekasihnya yang baru. Jadi menikahi mereka berdua adalah hal terbaik!". Ujar Andre.
"Tidak!". Renata menolak keras usul Andre.
Reynald yang memiliki masalah hanya diam membisu mendengar pertikaian antara sepupu dan sahabatnya sembari tatapannya menerawang ke segala penjuru gedung-gedung bertingkat di sekitar gedung kantornya.
•••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••••
Hi, Readers kesayangan..
Banyak yg kecewa kenapa aku memilih konflik yg berat😅
Baiknya aku jelaskan disini, sebelum memulai aku sudah menentukan konfliknya. Karena sesuai sinopsis yg aku jabarkan kalau Reynald akan melewati badai yang tidak pernah dia prediksi. Badai tidak pernah ringan bukan? 🙈
Aku sangat berterima kasih pada kalian semua yg selalu setia menunggu karyaku ini. Sungguh berbagai komentar yg masuk selalu membuatku semangat lho hehe 🥰😘
__ADS_1