Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 49


__ADS_3

Waktu kini sudah menunjukkan pukul 7 malam. Namun Reynald masih setia di dalam ruang kerjanya. Ia hanya duduk memandang ke arah luar melalui jendela kantor. Menatap turunnya matahari saat senja dan berganti ke dalam gelapnya malam. Duduk termenung sembari menyesap bercangkir-cangkir cappucino yang Ia pesan dari pantry.


Sejak keributan antara Renata dan Andre tadi siang, akhirnya Reynald hanya meminta mereka berdua untuk segera keluar dari ruangannya dan membiarkan Ia sendiri. Pikirannya yang sedang rumit rasanya semakin pusing jika harus mendengar pertikaian orang lain walau itu tentang masalah pribadinya.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar sebuah ketukan di pintu, namun Reynald tak bergeming. Tak lama pintu terbuka dan Renata menyelipkan kepalanya masuk lewat celah pintu yang di bukanya sedikit.


"Rey, kau belum mau pulang?". Tanya Renata.


Reynald diam tak menjawab.


Terdengar helaan nafas dari Renata. "Baiklah.. Aku pulang lebih dulu kalau begitu".


Tanpa menunggu jawaban dari Reynald, Renata segera menutup kembali pintu dengan rapat.


Reynald menyugar rambutnya kasar. Pakaian kerjanya yang sudah berantakan namun tidak membuat tampilan pria itu lusuh. Auranya justru semakin menawan dengan kemeja yang dilipat hingga ke siku, dua kancing teratas yang terbuka serta beberapa rambutnya yang menjuntai di dahi.


Reynald meraih ponselnya dan membuka galeri foto. Ia tersenyum kecil saat melihat foto-foto kebersamaannya dengan Anggi. Ia selalu membidik Anggi diam-diam dan mengabadikannya dalam sebuah jepretan kamera ponselnya.


Reynald terkekeh kecil saat melihat bajunya yang basah kuyup saat Ia bermain di sebuah curug yang berada di Kota Bogor bersama dengan Anggi. Reynald pun mengusap layar ponselnya saat memandang foto Anggi yang tampil menawan dalam balutan kebaya yang di kirimkan oleh Renata di hari gadis itu akan di wisuda.


"Apa yang harus aku lakukan padamu". Gumam Reynald menatap lekat pada foto Anggi yang sedang tersenyum manis.


Tiba-tiba dering ponsel Reynald yang berbunyi sedikit membuatnya terkejut. Semakin terkejut lagi saat Ia melihat nama yang terpampamg di layar.


Clara. Batin Reynald.


Reynald mengusap wajahnya kasar hingga akhirnya Ia menerima panggilan telepon dari wanita itu.


"Halo".


"Rey... Kenapa kau tidak ada kabar?" Seru Clara terdengar lembut.


Reynald terdiam sejenak. Ia memang belum menghubungi baik Clara ataupun Anggi. Ia hanya butuh memikirkannya sendiri dengan tenang.


"Maaf..."


"Bisakah kita bertemu sekarang?". Tanya Clara.


"Aku sedang sibuk saat ini. Jadi tidak bisa". Ucap Reynald.


Terdengar helaan nafas Clara dari seberang telefon.

__ADS_1


"Baiklah.. Aku menunggumu untuk datang, Rey".


Reynald tak menjawab apapun dan segera memutuskan sambungan telefonnya dengan Clara.


Otaknya berpikir kesana kemari dan hanya satu orang yang ingin Ia temui saat ini. Reynald lantas beranjak dari duduknya dan segera mengambil sebuah kunci mobil dari atas meja kerjanya. Tanpa membuang waktu lama Ia segera keluar dari ruangan kantornya.


•••


Lalu lintas yang masih cukup padat tidak membuat Reynald kesal malam ini. Ia justru malah lebih banyak melamun sehingga para pengendara di belakang mobilnya harus berkali-kali membunyikan klakson untuk meminta Reynald segeta melajukan mobil.


Setelah hampir dua jam perjalanan, Reynald memarkirkan mobilnya tepat di depan garasi. Ia tersenyum tipis saat melihat sebuah mobil sport berwarna putih bertengger manis di garasi rumah tersebut. Itu menandakan bahwa pemiliknya sudah berada di rumah.


Reynald segera turun dari mobilnya dan melangkah masuk melalui garasi. Ia memencet bel yang berada tepat di dinding teras hingga tak lama kemudian pintu rumah itu terbuka dan nampaklah Anggi yang kelihatannya baru saja mandi.


Raut wajah gadis itu terlihat sangat terkejut saat mendapati Reynald yang datang.


"Kamu...."


"Kemana saja? hampir dua hari ini kamu sangat sulit di hubungi!". Anggi memukul pelan lengan Reynald.


Reynald terkekeh kecil. "Aku baru saja datang. Kenapa kau memarahiku?".


"Masuklah.." Ucap Anggi seraya memberi Reynald ruang untuk berjalan masuk ke dalam rumah.


Reynals menggelengkan kepala. "Aku belum lapar".


"Kemarilah.." Reynald meraih tubuh Anggi masuk ke dalam dekapannya.


Anggi yang belum siap hanya berdiri kaku saat Reynad memeluknya dengan erat. Pria ifu menyelipkan wajahnya ke ceruk leher Anggi dan menghisap aroma tubuh Anggi yang Ia rindukan.


"Kau sudah wangi.. Jadi jangan menyiapkan makanan apapun untukku". Ucap Reynald pelan.


Anggi berusaha melepaskan diri dari dekapan Reynald, namun pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Biarkan tetap seperti ini sebentar saja.. Aku hanya ingin memelukmu". Sahut Reynald.


Anggi terdiam dan mengaitkan kedua tangannya ke punggung Reynald. Membalas pelukan pria itu.


"Kamu merindukanku?". Tanya Anggi.


"Tentu saja. Aku sangat merindukanmu..."


"Kalau kamu merindukanku, kenapa kamu tidak ada kabar sejak kemarin?". Ujar Anggi.

__ADS_1


Deg!


Jantung Reynald berpacu kencang. Ia tidak ingin membohongi Anggi namun di sisi lain Ia juga takut menyatakan kebenaran yang ada pada gadis itu.


Reynald mengulur pelukannya. Ia menatap lekat wajah gadis itu. Tangannya mengusap pipi Anggi dengan lembut.


"Kau tahu kan kalau pacarmu ini adalah CEO? Aku sangat sibuk.." Reynald terpaksa berbohong.


Anggi mengulas senyuman manis di bibir. "Aku mengerti. Itu tidak masalah". Ujarnya.


"Kau duduk dulu. Aku akan buatkan teh hangat untukmu". Lanjut Anggi seraya melangkah ke dapur.


Reynald pun segera duduk di sofa dan memperhatikan gerak gerik Anggi dengan seksama. Ia seperti merekam semua tentang gadis itu ke dalam ingatannya.


Tak lama Anggi kembali dengan membawa secangkir teh hangat dan menaruhnya di atas meja.


"Kita tunggu tukang nasi goreng yang lewat saja kalau begitu ya? Terakhir kali kamu sangat menyukai nasi gorengnya". Tawar Anggi yang segera di angguki oleh Reynald.


"Duduklah di sampingku. Kenapa kau malah duduk di sana?". Reynald mengernyitkan dahi saat Anggi duduk jauh darinya.


Gadis itu terkekeh pelan. "Aku hanya canggung saja hehe". Sembari mendekat pada Reynald.


Reynald segera menarik Anggi duduk di atas pangkuannya hingga membuat gadis itu melotot terkejut.


"Kapan rasa canggungmu itu hilang saat berada di dekatku hmm?".


Anggi menunduk malu.


"Kita bahkan sudah berciuman entah sudah tak terhitung berapa kali. Kau juga sudah mahir bertukar saliva denganku dan menikmatinya. Buat apa masih canggung denganku?". Tanya Reynald seraya menatap lekat Anggi.


"Ish kenapa kau vulgar sekali sih!". Anggi mencubit kecil lengan Reynald.


"Hehehehe.. Aku hanya berkata apa adanya". Reynald terkekeh.


Anggi semakin malu dengan godaan dari Reynald.


Reynald tediam menatap lekat wajah Anggi dengan pipinya yang bersemu merah. Tangannya melingkar menjaga tubuh gadis itu yang sedang berada di pangkuannya.


Rasanya aku tidak mampu untuk melepasmu...


Batin Reynald kala melihat Anggi yang tengah tersenyum manis ke arahnya.


•••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••

__ADS_1


__ADS_2