
Selepas kepergian Hendra, Anggi pun segera memesan taksi online untuk mengantarkannya ke bandara. Ia hilir mudik keluar masuk rumah mendorong tiga kopernya yang berukuran besar.
Anggi pun mengunci pintu teras dengan baik. Walau rumahnya tak berpagar, namun lingkungan perumahan itu tergolong aman dan security tersedia 24 jam saling berganti shift untuk berkeliling. Lagipula Reynald dahulu telah memasang sistem pengamanan yang baik untuk rumah Anggi. Bila seseorang merusak paksa smart key di daun pintu, maka itu akan cepat terdeteksi ke bagian sistem perusahaan penyedia dan akan segera terhubung pada pihak kepolisian.
Anggi menatap mobil yang diberikan Reynald padanya. Tidak ada satupun orang suruhan pria itu yang datang untuk mengambil mobil sport dua pintu ini. Anggi pun telah mengganti nomor ponselnya jadi baik Renata maupun Andre tidak ada yang akan bisa menghubunginya.
"Udah mau berangkat ya, Mbak?". Sapa salah seorang tetangga.
Anggi menoleh dan mengulas senyum pada seorang Ibu paruh baya yang menyapanya.
"Iya, Bu. Saya titip rumah ini ya, Bu". Ujar Anggi.
"Iya, Mbak. Toh kita kan sebelahan. Pasti saya kelihatan terus sama rumah di sebelah saya hehehe".
Anggi tersenyum manis. "Terima kasih, Bu".
"Tapi ini mobil di tinggal gitu aja, Mbak? Sayang banget loh bagus begini". Ujar sang tetangga sembari melihat mobil yang terparkir di garasi.
"Nanti ada yang mengambilnya, Bu".
Tak lama sebuah mobil jenis MPV berhenti tepat di dekat mereka. Anggi melirik plat nomor mobil tersebut dan yakin bahwa mobil itu adalah taksi online yang sudah Ia pesan.
"Bu, saya pamit ya. Taksinya udah datang". Ujar Anggi seraya mengulurkan tangan pada sang tetangga untuk mencium tangannya.
Lalu sang supir taksi pun turun dengan sigap membantu Anggi memasukkan ketiga kopernya ke dalam mobil. Hingga tanpa membuang waktu, mobil berjenis MPV yang di tumpangi Anggi itu pun melaju menuju bandara.
•••
Di sisi lain, Reynald yang tengah menyetir menuju kantornya dengan cekatan membelokkan arah mobilnya begitu saja berlawanan arah. Ia ingin sekali melihat Anggi. Sudah dua hari Ia tak bisa tidur dengan baik, Ia mengabaikan Clara dan Ia hanya menghabiskan waktunya di kamar Jessy.
Setelah menikah, Reynald memutuskan untuk membawa Clara dan putrinya untuk tinggal di penthousenya. Walau Dave dan Rose meminta Ia untuk tinggal di rumah utama karena ingin dekat dengan cucu, namun Reynald menolaknya dengan halus.
Ia tak ingin kedua orang tuanya melihat dirinya masih terlihat kalut dan belum bisa menerima takdir yang harus di jalani olehnya.
Selama dua hari ini Ia bahkan selalu bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Kemana rasa cinta yang ada untuk Clara? Semuanya terasa hampa dan sirna begitu saja walau wanita itu telah kembali. Kini Reynald hanya merasakan sakit yang teramat sangat dalam hatinya. Dan Ia tidak bisa mengeluarkan rasa sakit itu pada siapapun. Ia memilih untuk menyimpannya sendiri. Karena jika Ia berbagi rasa pada siapapun, Reynald tahu semua orang tidak bisa melakukan apapun untuk membantunya pulih karena kehilangan Anggi.
Reynald merasa menjadi pria yang brengsek. Ia sudah menghamili pacarnya hingga kini telah menikah, namun ternyata perasaannya pada Ibu dari anaknya telah tergantikan sempurna dengan seorang gadis.
Reynald menekan pedal gas lebih dalam dan mobil melaju dengan cepat. Hingga hanya butuh waktu sekitar 40 menit, Ia sudah berada di depan rumah Anggi.
Reynald menatap nanar ke arah rumah itu. Rumah yang sedikit banyak memiliki kenangan untuknya. Masa-masa Reynald sering berkunjung hingga malam dan menunggu seorang tukang nasi goreng yang melewati rumah Anggi. Reynald tersenyum kala mengingat berbagai momen yang Ia ukir dengan gadis itu. Waktu yang singkat namun membawa banyak perubahan dalam kehidupannya.
Reynald pun turun dari mobil. Belum sempat Ia menginjakkan kaki di garasi rumah Anggi, seorang ibu paruh baya menghampirinya tiba-tiba.
"Rumahnya kosong, Mas". Ucap Ibu tersebut.
Reynald mengerutkan dahi tak mengerti. "Maksudnya Anggi lagi pergi?".
"Mbak Anggi memang sudah pergi dari rumah ini. Mungkin sekitar 1 jam yang lalu deh seingat saya. Dia bawa koper besar-besar masuk ke dalam mobil".
Deg!
Rasanya sebuah beton menimpa jantungnya begitu saja saat mendengar Anggi pergi dari rumahnya.
__ADS_1
"Apakah yang jemput dia tadi masih muda?". Tanya Reynald.
"Yang jemput taksi online kok, Mas."
"Eh.. Tapi tunggu, Sepertinya pas tadi saya nyapu halaman pagi-pagi sih ada seorang bapak yang mampir ke rumahnya".
Reynald semakin mengerutkan keningnya kebingungan.
"Seorang bapak? Bagaimana ciri-cirinya?".
Sang Ibu yang merupakan tetangga sebelah pun terlihat berpikir.
"Saya tidak terlalu memperhatikan sih, Mas. Seingat saya bapak itu pakai mobil mewah. Beberapa kali saya pernah melihatnya datang berkunjung kesini juga kok, Mas."
Apa yang di maksud pria itu adalah Hendra Wibrata? Ayahnya?
Hanya 1 nama itu yang terlintas di pikiran Reynald. Karena Ia tahu Anggi tidak memiliki banyak kenalan di kota ini.
Setelah mengucapkan terima kasih pada Ibu tersebut, Reynald pun segera pergi melajukan mobilnya. Hanya 1 tempat yang menjadi tujuannya saat ini yaitu kantor Hendra Wibrata.
•••
Reynald berjalan tegap melalui lobby untuk menuju resepsionis. Ia bisa saja langsung naik ke atas, namun tentu saja Ia harus memberi tahu Renata lebih dulu untuk menghubungi sekretaris pria itu. Reynald sedang tak ingin mendengarkan berbagai ceramah dari sepupunya yang bawel itu.
"Aku ingin bertemu dengan Hendra Wibrata. Di lantai berapa ruangannya?". Ucap Reynald tanpa basa basi pada resepsionis.
Resepsionis itupun sontak saja terkejut melihat sesosok pria tampan nan menawan berada di hadapannya.
"Ma-maaf, Nama anda siapa?".
Dengan sigap sang resepsionis segera mengabari Anita, sekretaris Hendra dan akhirnya Reynald pun di berikan akses untuk naik ke lantai atas.
Seperti pada Anggi sebelumnya, Reynald pun di sambut oleh Anita di depan lift. Wanita muda itu dengan sopan mengantarkan Reynald hingga ke depan pintu ruangan Hendra.
"Silakan masuk, Pak". Ucap Anita seraya membungkukkan badannya sedikit pada Reynald.
Reynald lantaa segera membuka pintu dan langsung terlihat Hendra Wibrata yang sudah duduk di sofa.
"Dimana Anggi?". Tanya Reynald to the point.
Hendra mengulas senyumnya. "Duduklah dulu". Ucapnya.
Reynald pun segera duduk di depan Hendra dan menatap Hendra dengan seksama.
"Kenapa kau menanyakan Anggi padaku?". Tanya Hendra menatap Reynald.
Reynald menghela napas kasar. Ia sungguh tidak mempunyai mood untuk sekedar berpura-pura saat ini!
"Tidak perlu basa-basi. Jawab saja kemana anda menyembunyikan Anggi".
Hendra terkekeh seraya menggelengkan kepalanya Entah apa yang di rasa lucu oleh pria paruh baya itu.
"Kau mengingatkanku pada masa mudaku".
__ADS_1
"Aku persis seperti dirimu. Jatuh cinta pada seorang gadis saat aku telah memiliki istri". Hendra kini tertawa kecil mengingat masa lalunya.
Reynald mengusap wajahnya frustasi dan menatap tepat ke dalam manik mata Hendra.
"Aku tidak memiliki waktu untuk mendengarkan nostalgia anda. Yang aku butuhkan hanyalah jawaban dari pertanyaan yang aku tanyakan tadi".
Hendra lantas mencondongkan tubuhnya ke depan. Pria paruh baya itu menyisir penampilan Reynald yang rupawan seperti biasanya namun dengan pancaran mata yang tak memiliki sinar.
Terdengar helaan napas Hendra.
"Aku sepertinya tidak perlu menanyakan bagaimana kau tahu hubunganku dengan Anggi kan? Karena kau sudah pasti tahu".
Hendra lantas menautkan jari jemarinya dan menatap Reynald dengan serius.
"Namun aku minta padamu, lupakan putriku dan jalani hidup kalian masing-masing".
"Aku sudah tau semuanya tentang kalian berdua karena putriku sendiri yang datang meminta bantuanku".
Reynald tersenyum miring meremehkan. "Putriku?".
"Sejak kapan anda menganggapnya putri anda?".
Hendra lalu menghela napasnya pelan dan menyandarkan dirinya ke sofa. Ia menatap langit-langit kantornya seakan berpikir sesuatu.
"Aku memang selama ini memperlakukannya tidak adil. Tidak seperti putriku dari pernikahan yang sah. Namun darahku tetap mengalir di tubuhnya".
"Dia gadis yang baik dan lugu". Tatapan Hendra menerawang melihat ke atas.
"Entah apakah dia bisa menjalani hidupnya sendiri di sana". Gumam Hendra.
Semakin lama Reynald semakin frustasi. Ia di hantui rasa penasaran yang amat besar tentang keberadaan Anggi.
"Tolong katakan padaku di mana dia". Lirih Reynald.
Bukan saatnya Ia merasa arogan saat ini di hadapan Hendra. Ia hanya butuh jawaban kemana Anggi pergi!
"Aku tidak bisa mengatakannya".
"Satu hal yang kau perlu tahu... Kau maupun Anggi sudah memilih jalan yang benar. Jika kau memaksakan kehendakmu, maka kau hanya akan memberikan banyak penderitaan untuknya. Sama seperti perilaku ku terhadap mendiang ibunya".
Reynald mengusap wajahnya kasar. Ia menggeleng lemah tak berdaya. Mengapa semua orang berkata bahwa jalan yang di pilihnya saat ini benar? Mengapa tak ada yang mengerti perasaannya?!
Ingin rasanya Reynald berteriak dengan kencang saat ini untuk meredakan segala beban yang terasa menghimpit hatinya.
"Putriku terlihat sangat mencintaimu. Itulah alasannya Ia pergi. Cintanya dan rasa sakitnya sangat besar terhadapmu hingga Ia tidak sanggup untuk berada di satu tempat denganmu".
Reynald membeku seketika. Ia tahu sekeras apapun Ia menekan Hendra, pria paruh baya itu tidak akan membuka mulutnya. Merasa tidak akan mendapatkan apapun, Reynald lantas segera pamit pada Hendra.
Selepas keluar dari ruangan Hendra, Reynald tidak langsung menuju lift. Ia melangkah ke tepi jendela yang membentang luas dan menampakkan pemandangan Ibu kota di siang hari
Reynald memasukkan kedua tangannya ke saku celana seraya menatap jauh ke depan.
Suatu hari kita akan bertemu lagi, Anggi. Aku berjanji padamu. Dan kau akan lihat bagaimana keseriusanku menjaga rasa cinta ini untukmu. Hanya untukmu....
__ADS_1
••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••
Setelah bab ini, kita bareng2 pergi naik roket ke masa depan ya!😘