Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 57


__ADS_3

Keesokan harinya tepat pukul 10 pagi Anggi sudah berdiri tepat di depan sebuah gedung. Ia memandang sebuah gedung pencakar langit yang berdiri megah yang berada di kawasan pusat bisnis Ibu Kota. Anggi mengedarkan pandangannya ke sekitar dan menatap sebuah gedung lain yang tertangkap oleh matanya.


Gedung tersebut hanya berbeda dua blok dari tempatnya berada sekarang. Ia tersenyum kecut kala mengingat siapa pemilik gedung itu. Anggi merapihkan sedikit pakaiannya dan melangkah masuk menuju lobby dan melewati portal security.


"Pagi, Mbak." Sapa Anggi setelah Ia berada di bagian resepsionis.


"Saya sudah buat janji dengan CEO disini. Bisakah antarkan saya ke ruangan beliau?".


Sang resepsionis pun mengerutkan keningnya menatap Anggi.


"Nama anda siapa?"


"Anggi. Anggi Wibrata".


Sang resepsionis mengangguk kecil lalu segera menelfon seseorang yang Anggi duga mungkin sekretaris CEO yang ingin di temuinya.


Tak lama sang resepsionis menutup telfonnya dan menatap Anggi.


"Mari saya antar ke atas". Ucap sang resepsionis.


Anggi pun mengekori sang resepsionis masuk ke dalam lift hingga sampai di lantai yang mereka tuju yakni lantai 50. Di depan pintu lift sudah terlihat seorang wanita muda yang di taksir Anggi mungkin sebaya dengan dirinya.


"Terima kasih sudah mengantarkan nona ini". Ucap wanita muda itu pada sang resepsionis yang segera di angguki dan pamit turun kembali ke lobby.


"Halo. Saya Anita. Mari saya antarkan ke ruang CEO". Ucap wanita itu menatap Anggi.


"Saya Anggi". Ucapnya yang di angguki oleh Anita.


Keduanya pun segera berjalan melewati beberapa ruangan tertutup yang Anggi yakini mungkin ruangan beberapa petinggi perusahaan yang sedang Ia sambangi saat ini.


Anita terlihat mengetuk pelan sebuah pintu dan membukanya perlahan.


"Pak, tamu anda sudah datang". Ujar Anita pada seseorang di dalam ruangan tersebut.


"Baiklah. Kau suruh masuk."


Anita pun menoleh pada Anggi dan membuka pintu lebar-lebar setelah diberi izin oleh pemilik ruangan. Anggi pun melangkah pelan masuk ke dalam.


Ia bersitatap dengan seorang pria paruh baya yang sudah cukup lama tidak Ia dengar lagi kabarnya setelah kunjungan pria itu terakhir kali ke rumahnya.

__ADS_1


"Ayah...." Sapa Anggi pelan menatap sang ayah yang tengah duduk dengan gagahnya di balik meja kerjanya yang terlihat megah.


Hendra menatap Anggi sejenak dan melepas kacamatanya. Pria paruh baya itu lantas berdiri dari singgasananya dan berjalan menghampiri Anggi.


"Duduk". Ujar Hendra mempersilakan Anggi untuk duduk di sofa yang berada di ujung ruangan.


"Ada apa kau menghubungiku? Bukankah aku bilang kita jangan berhubungan lagi setelah kau lulus kuliah?".


Anggi menundukkan kepala. Rasa gugup tiba-tiba saja menyelimuti dirinya. Ia menarik napas dalam-dalam berusaha mengumpulkan keberanian.


"A-aku..."


"Aku butuh bantuanmu, Ayah". Ujar Anggi akhirnya.


Hendra terlihat mengerutkan dahi. "Bantuanku? Aku rasa kau tidak berhak meminta bantuanku setelah aku memutuskan hubungan denganmu. Tidakkah kau mengingatnya?".


Anggi sontak saja merosot dari sofa dan duduk bersimpuh di hadapan Hendra. Kedua tangannya Ia tangkupkan di depan dada. Sikap Anggi yang seperti itu tentu saja membuat Hendra terkejut.


"Aku mohon Ayah. Aku butuh bantuanmu untuk terakhir kalinya. Aku janji ini terakhir kalinya aku meminta bantuanmu. Aku tidak akan mengganggumu lagi setelah ini". Ucap Anggi seraya menatap sendu pada sang ayah.


Hendra diam tak berucap sepatah katapun.


Hendra menatap Anggi dengan tatapan yang rumit untuk di jelaskan. Pria paruh baya itu menghela napasnya pelan.


"Kau butuh bantuan apa dariku?". Tanya Hendra.


"Aku ingin pergi sejauh mungkin dari kota ini Ayah. Tidak.. Maksudku, Aku ingin pergi dari negara ini dan memulai kehidupan baru di suatu tempat".


Hendra cukup terkejut mendengar penuturan Anggi. Banyak pertanyaan yang mampir di benaknya begitu saja.


"Apa kau sedang menghindari seseorang?". Selidik Hendra.


Anggi diam tak menjawab. Ia lantas menunduk dan menghapus setetes air mata yang jatuh begitu saja ke pipi.


"Bagaimana kau berharap aku akan membantumu, jika kau saja tidak menjelaskan padaku". Ucap Hendra.


Anggi diam sejenak berpikir dari mana Ia harus menjelaskan pada sang ayah. Apakah dari awal mula perkenalannya dengan Reynald? Atau darimana? Anggi berusaha merangkai kata demi kata yang tepat untuk di sampaikan pada sang ayah.


Anggi pun meghembuskan napas kasar dan menatap sang ayah yang sedari tadi menatapnya menunggu Ia menjelaskan situasi yang tengah di hadapinya.

__ADS_1


Dengan pelan Anggi pun mulai menceritakan segalanya dari awal. Semua yang Ia alami hingga kemarin malam, semua Ia ceritakan pada sang ayah tanpa ada yang di tutupinya. Ia tidak memiliki teman satupun yang bisa di jadikan tempat berkeluh kesah. Ia pun tak memiliki orang tua yang bisa di jadikannya tempat berlindung dan meminta saran. Namun kali ini pikirannya sangat buntu dan nekat berlari pada sang ayan dengan harapan pria itu bisa membantu dirinha untuk terakhir kali.


Anggi menghela napasnya dan meremas roknya dengan kuat tak berani menatap pada Hendra setelah selesai Ia menjelaskan segalanya.


Keheningan tercipta di ruangan itu. Tak ada yang bersuara di antara keduanya. Terdengar helaan napas dari Hendra.


"Bagaimana bisa kau berharap aku percaya begitu saja pada ceritamu? Ini seperti dongeng di siang hari". Ujar Hendra.


Anggi lantas menguarkan beberapa foto kebersamaan dirinya dengan Reynald dan memberikannya pada Hendra. Sontak saja raut wajah Hendra terkejut melihat foto kebersamaan putrinya dengan CEO muda itu.


"Aku sangat mencintainya, Ayah. Dia sangat baik padaku. Bahkan dia menjaga diriku dengan baik. Dia melindungiku, dia selalu hadir saat aku butuh pertolongan, dia menemaniku saat aku kesepian, dia menjadikan aku seolah ratu dalam hatinya".


"Tapi... Kenyataan kembali membuatku terhempas begitu saja. Jika aku egois, aku mungkin akan mengikuti jejak ibu... menjadi kekasih gelapnya. Menjadi orang ketiga dalam hubungan seseorang. Tapi aku tidak mau seperti itu, Ayah."


"Hatiku... Sangat sakit sekali. Rasanya aku ingin marah dan berteriak padanya jika keadaan ini tidak adil untukku. Tapi aku tidak mungkin egois seperti itu, kan? Aku berharap dia tidak menyakitiku, tapi pada akhirnya dia menyakitku walau aku tau dia tidak berniat seperti itu. Tapi ini sangat menyakitkan ,Ayah"


Anggi menatap sang ayah dengan tatapan nanar saat meluapkan segala rasa yang menyelimuti hatinya saat ini. Ia menghapus air mata yang mengalir turun tanpa henti. Pertama kali dalam hidupnya Ia menangis depan sang ayah.


"Apa kau sedang membutuhkan seseorang yang menyakitimu untuk datang padamu dan berkata 'aku menyakitimu dan aku minta maaf'?." Tanya Hendra seraya mengangkat sebelah alisnya menatap Anggi.


"Kau tidak bisa berharap apapun pada seseorang yang telah menyakitimu. Dia yang menyakitimu tidak bisa menyembuhkanmu. Kau yang harus menyembuhkan dirimu sendiri".


"Jangan kau berharap seseorang yang menghancurkanmu hingga berkeping-keping datang kepadamu dengan semua kepingan itu dan berkata 'aku akan memperbaikinya'." Hendra mengusap wajahnya pelan masih menatap Anggi yang diam membisu.


"Kau tidak bisa berharap padanya untuk melakukan itu. Jika itupun bisa dilakukan, kenapa kau harus memilih cara itu? Ingatlah, seseorang yang memiliki kekuatan untuk menghancurkanmu dan Ia menggunakan kekuatan itu, bagaimana mungkin kau percaya jika dia bisa mengembalikan hatimu dengan utuh?".


Anggi lantas menangjs tersedu-sedu. Ini adalah kalimat terpanjang yang Ia dengar dari sang ayah sepanjang hidupnya.


Hendra hanya diam menatap Anggi. Pikirannya berkelana ke puluhan tahun silam. Ia tak menyangka situasi yang di hadapi kekasih gelapnya yakni Ibu dari Anggi di masa lampau malah menimpa pada putrinya juga.


Namun tersirat rasa lega dan bangga dalam hatinya saat Ia mengetahui jika Anggi memilih jalan yang berbeda dari mendiang ibunya. Setidaknya Hendra sangat tahu jika Anggi mengikuti perasaannya pada Reynald, gadis itu hanya akan banyak hidup dalam penderitaan.


Hendra mencondongkan tubuhnya ke depan mendekat pada Anggi yang masih duduk bersimpuh dan menangis tersedu-sedu. Hendra lantas menarik bahu Anggi untuk segera duduk kembali di sofa.


Pria paruh baya itu menatap Anggi yang sedang berusaha meredakan tangisnya.


"Katakan.. Bantuan semacam apa yang kau butuhkan? Aku akan membantumu".


•••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••••••

__ADS_1


__ADS_2