
Reynald berdiri di balkon penthouse sedang menatap bulan penuh yang sangat indah bagi siapapun yang melihatnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam namun Reynald dan Clara sedang duduk bersama dalam keheningan.
Setelah memastikan Jessy tertidur lelap, Clara yang memiliki banyak pertanyaan dalam benaknya memutuskan untuk menghampiri Reynald.ke balkon. Sudah satu jam berlalu keduanya diam membisu dan hanya menikmati pemandangan malam Ibu Kota.
Terdengar helaan napas Clara saat menatap punggung Reynald. Ia seperti memiliki jarak yang sangat jauh dengan pria itu. Bertahun-tahun lamanya Reynald seperti menciptakan batasan yang tak kasat mata di antara mereka berdua.
Tidak ada lagi Reynald yang selalu cerewet tatkala Clara melakukan sesuatu hal yang mungkin sedikit di luar batas, tidak ada lagi Reynald yang sering protes pada Clara agar jangan terlalu intim saat berakting dengan lawan jenis di sebuah film, tidak ada lagi Reynald yang selalu memberikan sebuah buket bunga mawar setiap akhir pekan dan berkata 'aku mencintaimu'.
Reynald berubah. Clara menyadarinya namun sisi egonya mengatakan bahwa Ia harus bertahan dan mengembalikan keadaan seperti semula. Segala daya upaya sudah di lakukan olehnya, namun Reynald benar-benar menutup rapat dirinya.
Bagi Jessy, Reynald adalah seorang Ayah yang baik. Namun sebagai suami, bisa di katakan semua hanyalah ilusi.
"Apa kau tidak merasa berhutang penjelasan padaku, Rey?" Clara memecah keheningan karena rasa penasaran semakin membludak.
"Apa yang harus aku jelaskan? Jessy sudah memberi tahu semuanya padamu". Ujar Reynald tanpa membalikkan badan.
Clara menatap punggung Reynald dan menghela napasnya pelan. Ia pun segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Reynald. Berdiri tepat di samping pria itu.
"Aku tahu Jessy sudah menceritakannya secara garis besar. Namun banyak yang mengganjal di pikiranku".
Reynald menggeser tubuhnya hingga Ia menatap langsung Clara. "Baiklah. Kau mau menanyakan apa? Tanyakan saja".
Clara menatap lekat mata Reynald. Terdiam sejenak berusaha berpikir dari mana Ia akan melontarkan pertanyaan.
"Bagaimana bisa kau dengan Anggi bermain di mall?".
"Aku hanya bertemu dengannya secara tidak sengaja. Jessy sudah terlanjur memanggilnya saat itu, jadi mau tak mau aku mengikuti kemauan Jessy". Ujar Reynald.
"Lalu kau membawanya ke penthouse?".
"Saat aku tidak ada?".
Reynald menatap Clara tepat ke dalam manik matanya. Menangkap raut wajah tidak suka pada wanita itu.
"Sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan?"
"Jawab saja pertanyaanku, Rey" Sanggah Clara cepat.
__ADS_1
"Ya. Dia memang berada di penthouse hingga malam hari namun dia berada di kamar Jessy. Menemaninya bermain boneka barbie"
"Dia tunangan orang lain dan kau adalah suamiku. Apakah pantas kau membawanya saat aku tidak ada di rumah?" Tanya Clara.
Reynald menghela napas. "Apa kau cemburu?".
"Tentu saja aku cemburu! Aku istrimu!" Ujar Clara dengan intonasi yang lebih tinggi.
"Apakah pernikahan yang kita jalani layak di isi dengan rasa cemburu? Sudahlah jangan membahas ini. Tidak terjadi apapun. Kau jangan berpikir berlebihan" Ucap Reynald seraya beralih kembali melemparkan pandangannya ke seluruh sudut kota yang terjangkau oleh netra matanya.
Sejenak tercipta keheningan kembali di antara mereka. Semilir angin malam sesekali menerpa hingga Clara menatap Reynald dengan sangat serius.
"Apa dia wanita itu, Rey?"
"Apa Anggi yang aku temui adalah wanita yang membuatmu berubah?". Tanya Clara tiba-tiba.
Reynald diam seribu bahasa tidak menanggapi bahkan tidak menoleh sedikitpun ke arah Clara.
"Reynald!!!" Panggil Clara dengan kesal.
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?". Jawab Reynald akhirnya.
Reynald memalingkan wajahnya dari Clara.
"Ya. Dia memang wanita itu".
Sontak saja tanpa permisi air mata turun membasahi pipi Clara begitu saja. Tak di pungkiri walau dalam beberapa tahun terakhir Ia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi hari seperti ini. Namun ternyata sekeras apapun Ia berusaha, kenyataannya Ia tidak pernah siap. Hatinya di selimuti rasa cemburu, gelisah, kecewa dan berbagai hal yang menyesakkan dada.
"Bagaimana bisa?" Lirih Clara.
"Aku bertemu dengannya pertama kali di sebuah Universitas saat aku mengisi seminar dan aku menjadi mentor pribadinya".
Reynald menghembuskan napas perlahan. "Seiring intensitasku bertemu dengannya, entah bagaimana aku mulai mencintainya... Kehadirannya membantuku mengobati luka yang di akibatkan oleh kepergianmu" Lanjut Reynald seraya melirik Clara.
"Semakin hari rasa cintaku semakin besar. Dia memberikan sentuhan yang berbeda dalam kehidupanku. Sesuatu yang berwarna dan membuat hidupku lebih ceria"
"Lalu tiba-tiba kau datang kembali..." Gumam Reynald seraya jari jemari tangannya menggenggam erat teralis besi penyangga balkon penthouse.
__ADS_1
"Kau tahu bagaimana rasanya di posisiku saat itu Clara? Kau tidak akan pernah tahu dan memahaminya. Kau datang kembali dengan membawa Jessy, tentu saja aku harus bertanggung jawab padamu. Tapi kenyataannya, hatiku sudah berada di tempat lain. Tidak ada satupun orang yang bisa memahami perasaanku saat itu. Tidak ada".
Hati Clara terasa diremas tatkala mendengar penuturan jujur dari Reynald. Ia menyeka pipinya berulang kali berusaha menghapus jejak air mata yang terus terun membasahi.
"Rey.. Aku tahu ini salahku. Semua ini terjadi karana aku. Andai saja aku tdak pergi dan lebih memilih dirimu. Ini tidak akan terjadi bukan? Karena kau sangat mencintaiku"
"Tapi, Rey... Tidakkah kau mau memperbaiki lagi semuanya denganku dari awal? Aku akan membuatmu jatuh cinta lagi kepadaku seperti dulu. Lupakan wanita itu. Kalian hanya bersama sebentar. Dia hanya sekedar pelarianmu untuk melupakanku bukan?".
"Jika dia hanya pelarianku untuk melupakanmu, tidak mungkin rasa ini bertahan hingga bertahun-tahun". Ujar Reynald penuh penekanan.
Clara meraih tangan Reynald dan menggegamnya dengan erat. Menatap mata pria itu dengan wajah yang masih berlinang air mata.
"Rey, dulu kamu pernah bilang kalau kamu menjadi orang yang paling bahagia di dunia karena kamu akhirnya bertemu belahan jiwamu, cinta dalam hidupmu. Ingatlah saat-saat kegembiraan yang penting itu, Rey. Ingatlah rasa itu untukku".
"Bahkan jika hatimu dipenuhi dengan luka dan menderita karena aku, mereka masih ada di sana, hanya menunggu untuk ditemukan kembali dalam hatimu. Kumohon jangan menyerah denganku. Kita sudah ada Jessy..." Clara menatap Reynald dengan tatapan nanar serta frustasi.
Reynald menatap wajah Clara. Benar kata wanita itu. Dulu Ia pernah menjadikan Clara ratu dalam hatinya. Menerima segala kekurangan serta kelebihan Clara. Menyayangi setulus hati dan tidak pernah berpaling.
Reynald menyugar rambutnya kasar.
"Apa kau pikir aku bertahan selama 5 tahun tidak berusaha sekalipun untuk menumbuhkan kembali perasaanku padamu? Aku berusaha Clara! Bahkan berulang kali!"
"Tapi aku sadar.. aku tidak bisa" Ucap Reynald menghunus tajam Clara tepat ke pupil matanya.
Clara menyeka wajahnya dengan asal saat air mata tumpah terus menerus. Ia menghirup udara sebanyak mungkin dan menghembuskannya perlahan. Clara berusaha menguasai dirinya kembali agar tenang.
"Kau-... Aku selama ini berusaha mempersiapkan diriku jika kenyataan datang padaku. Tapi ternyata ini sangat menyakitkan, Rey" Clara terus menyeka pipinya hingga dadanya naik turun karena menangis tersedu-sedu.
"Aku telah mempersiapkan diri akan melepaskanmu dari belenggu pernikahan semu ini. Tapi ternyata aku-... Aku tidak bisa"
Reynald tertegun saat mendengar penuturan Clara. Ia ingin meraih Clara ke dalam pelukannya untuk menenangkan wanita itu, namun entah mengapa tangannya terasa berat.
"Aku sadar jika aku terlalu erat dalam menggenggammu dalam pernikahan ini, aku hanya memiliki ragamu saja. Karena pada saatnya nanti yang aku genggam itu akan lepas. Entah kau yang melepaskan diri atau aku yang harus rela melepaskanmu pergi".
"Tapi untuk saat ini, aku tidak bisa melakukannya".
"Clara....." Lirih Reynald.
__ADS_1
"Jangan berusaha membujukku, Rey. Selamat malam".Clara lantas segera berlalu meninggalkan Reynald begitu saja.
•••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••••