
Dua Minggu Kemudian.....
Akhir pekan yang selalu di tunggu banyak orang untuk sekedar bersantai di rumah atau berjalan-jalan lengkap dengan cuaca yang cerah benar-benar membuat Reynald bersemangat menyambut hari libur nya.
Belakangan ini Ia benar-benar sibuk dan melakukan perjalanan bisnis ke beberapa negara hanya untuk memantau langsung beberapa cabang perusahaan nya yang tersebar di sana. Belum lagi persiapan untuk penambahan cabang baru lagi di Malaysia yang akhirnya akan di eksekusi atas perintah nya.
Reynald mematut diri nya di depan cermin. Melapisi rambut nya dengan sedikit pomade agar terlihat rapih dan maskulin. Ia bersiul seraya jari jemari tangan nya menata rambut. Mood nya sungguh membaik dalam beberapa waktu ini. Ia kembali fokus lagi pada perusahaan dan menutup rapat segala kenangan tentang Clara.
Reynald tak menampik, sebenarnya kenangan itu akan selalu ada kecuali jika dia amnesia maka baru lah dia bisa melupakan segala nya. Hanya saja saat ini Reynald menyimpan rapi segala kenangan tentang Clara jauh di sudut memori otak nya seakan sudut itu adalah sudut yang paling tak terjamah dalam struktur otak milik nya.
Selesai menata rambut nya Ia segera meraih dompet dan ponsel nya beserta kunci mobil berlogo B. Tak buang waktu Reynald pun segera keluar dari penthouse dan menuju basement, letak parkiran mobil para penghuni gedung.
•••
Ting..
Tong..
Ting..
Tong..
Reynald terus memencet bel rumah seseorang. Sesekali Ia mengintip melalui jendela namun tak terlihat kehidupan di dalam.
Reynald terus menekan bel tak sabar.
"Tuan Reynald?". Seseorang dari belakang menginterupsi.
Reynald membalikkan badan dan melihat seorang wanita yang berusia sekitar 40-an dengan postur tubuh yang mungil berada di belakang diri nya. Reynald memperhatikan kedua tangan wanita itu yang penuh dengan kantung plastik belanja.
"Bik Maya... Kemana semua orang? Saya bel dari tadi tidak ada yang keluar satu pun". Ujar Reynald.
"Satpam lagi ke lapangan RW, Tuan. Ada penyuluhan keamanan dari polsek. Kalau Saya dan Marni habis dari pasar". Jelas Bik Maya pada Reynald.
"Lalu di mana Tuan rumah ini? Dia ada di dalam kan?".
"Ada, Tuan. Sebentar Bibi buka dulu pintu nya". Ujar Bik Marni.
Setelah pintu terbuka, Reynald langsung saja masuk di ikuti oleh Bik Maya dan Marni, anak nya.
"Saya panggil kan Tuan Andre dulu ke atas". Ucap Bik Marni.
__ADS_1
"Tidak perlu, Bik. Biar saya saja yang langsung ke kamar nya". Cegah Reynald lalu segera melangkah menuju lantai atas.
Tepat di depan kamar asisten sekaligus sahabat nya, Reynald langsung saja membuka pintu kamar yang tidak di kunci. Reynald segera menuju ke arah jendela dan membuka gordyn lebar-lebar hingga cahaya matahari menerangi seluruh penjuru ruangan.
Andre yang masih terlelap sedikit terganggu karena cahaya matahari langsung menyorot ke arah tempat tidur nya. Pria itu mengerjapkan mata dan terkejut tatkala melihat Reynald berdiri di hadapan nya sembari berkacak pinggang.
"Pantas saja kau jomblo akut! Hari libur kau jadikan tidur!". Cecar Reynald.
Andre mengusap wajah nya seraya menghela napas kasar. "Kau pun jomblo jadi sesama jomblo jangan menghina". Ucap nya dengan nada parau.
"Ada apa kau kemari?".
Reynald duduk di kursi kecil samping nakas. "Tak ada apa-apa. Aku hanya bosan sendirian di penthouse saat libur".
Andre terkekeh pelan. "Kau lihat? Kau pun sama seperti aku. Tidak punya pasangan yang menemani saat hari libur. Jadi tidur sepanjang hari adalah yang terbaik".
Reynald mendengus.
"Kau tunggu di bawah, aku mau mandi". Ujar Andre seraya beranjak dari kasur dan masuk ke dalam kamar mandi.
Reynald pun berdiri dan segera keluar dari kamar Andre menuju lantai bawah. Bik Marni segera menyuguhkan beberapa potong kue brownies dan secangkir cappucino.
15 menit kemudian Andre yang sudah terlihat segar turut bergabung dengan Reynald yang sedang menikmati kudapan yang sudah di sediakan.
Reynald mengedikkan bahu. "Aku lupa. Kau lihat lah di kartu undangan nya".
"Entah di mana aku menyimpan nya. Nanti saja aku tanya Gavin".
"Kau mau datang dengan siapa? Temani aku, kita datang bersama ke sana". Ucap Reynald di sela mengunyah sepotong brownies di mulut.
Andre menampilkan ekspresi ngeri. "Tidak. Aku tidak mau orang lain semakin berpikir kalau kau benar-benar pasangan ku".
"Gara-gara kau menyembunyikan status romansa mu pada publik dan terlihat sering bersama ku. Kita berdua di sangka dua terong yang memadu kasih!". Lanjut Andre menggerutu.
"Apa kita wujudkan saja prasangka orang-orang? Bagaimana?". Ucap Reynald menoleh pada Andre seraya mengangkat sebelah alis nya.
"Sialan kau!". Andre sontak saja meninju lengan Reynald hingga membuat pria itu tertawa puas.
•••
Keesokan hari di sebuah ballroom hotel bintang 5 di Jakarta, tengah di adakan resepsi pernikahan putri seorang konglomerat. Jika bulan lalu pesta besar di adakan untuk perayaan ulang tahun, maka malam ini pesta khusus resepsi pernikahan.
__ADS_1
Reynald menatap ke seluruh penjuru ballroom. Dekorasi pesta malam hari ini di dominasi dengan warna putih dan emas. Nuansa elegan nan mewah terasa sangat kental di pelupuk mata.
"Bro!". Tepuk seseorang di pundak nya.
Reynald menoleh dan melihat Gavin yang tengah tersenyum lebar.
"Terima kasih kau sudah datang". Ujar Gavin mewakili anggota keluarga yang mengadakan pesta.
Reynald mengangguk.
"Kau lihat Andre atau Renata?". Tanya Reynald.
"Kurasa mereka berdua belum datang. Kau duduk lah dulu di meja mu. Acara sebentar lagi di mulai". Ucap Gavin.
Reynald segera menuju barisan meja bundar yang tersebar di sisi kanan dan kiri ballroom. Ia melihat nomor meja di kartu undangan dan segera duduk di kursi yang sudah tertera nama nya.
Tak berapa lama, lampu ballroom pun meredup. Andre dan Renata yang datang telat pun segera duduk di meja yang sama dengan Reynald.
"Kalian dari mana saja?". Cecar Reynald pada keduanya.
"Maaf, mobil ku mogok dan beruntung Andre melewati ku. Kita berdua menunggu mobil ku di bawa ke bengkel". Jelas Renata.
Tiba-tiba alunan piano nan merdu di mainkan oleh seorang pianis. Lagu Mariage d'Amour di mainkan dengan sempurna hingga membuat suasana terasa romantis.
Kedua mempelai berjalan pelan ke arah panggung panjang yang di lapisi oleh karpet hitam dengan kedua sisi nya bertabur bunga. Hanya sang raja dan ratu semalam itu lah yang tersorot oleh lampu.
"Gina cantik sekali". Lirih Renata.
Reynald dan Andre hanya diam tak berkomentar. Lampu ballroom seketika terang kembali dan gemuruh tepuk tangan terdengar membahana dari para tamu.
Suasana pesta yang kebanyakan tamu nya terdiri dari para pengusaha, pejabat serta para artis membuat banyak sekali ragam topik yang di bicarakan ataupun sekedar saling menambah relasi.
Reynald menghela napas bosan. "Aku ke toilet dulu". Ucap Reynald seraya berdiri.
Pria itu mau tak mau melewati banyak orang yang tentu saja berusaha menyapa dirinya.
Dari kejauhan netra matanya menangkap seorang pria yang Ia kenal tengah menarik seorang perempuan yang di rasa familiar menuju sebuah pintu khusus tangga darurat. Reynald lantas langsung saja berpamitan pada rekan bisnis yang tadi menyapa nya.
Saat Ia membuka pintu tangga darurat, tak terlihat siapa pun di sana. Reynald menoleh ke arah bawah dan memutuskan untuk menuruni tangga.
Sayup-sayup suara terdengar oleh nya. Reynald segera melangkah cepat ke sumber suara hingga akhirnya dua orang yang sedang berbicara itu terkejut melihat kehadiran Reynald.
__ADS_1
••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••