
Anggi kini berdiri di depan lobby gedung apartemen mewah yang 5 tahun lalu selalu Ia sambangi untuk bertemu Reynald. Ia menghela napasnya dan melangkah masuk melalui portal keamanan bersama Rashaad. Ya. Siang ini Ia memutuskan untuk memenuhi undangan Reynald pada Rashaad untuk makan siang bersama sebelum Rashaad kembali ke Abu Dhabi.
Keduanya berjalan masuk ke lift dan Anggi dengan reflek menekan angka 60. Rashaad tentu saja mengerutkan kening melihat Anggi dengan yakin menekan lantai yang harus mereka tuju.
"Sayang, tahu dari mana jika kita harus ke lantai 60?". Tanya Rashaad.
Anggi tersentak seketika. Ia menyadari kesalahannya. Ia menoleh sekilas pada Rashaad lalu beralih menatap deretan angka di bagian sisi lift.
"Umh itu...."
Anggi beruaha merangkai alasan yang relevan bagi Rashaad. Sedetik kemudian Ia lalu menoleh dan tersenyum hangat.
"Bukankah tadi di mobil kamu bilang kalau Reynald tinggal di penthouse?"
"Biasanya penthouse selalu di lantai teratas, dan lihat... lantai teratas gedung ini hanya di lantai 60". Anggi menjelaskan seraya menunjuk deretan angka tersebut di lift.
Rashaad manggut-manggut setuju. "Oh. Ya.. Ya.. Kau benar hehehe"
Anggi pun tersenyum lega melihat reaksi Rashaad. Belum saatnya Ia bercerita pada Rashaad, bagaimana hubungannya dengan Reynald. Ia masih memikirkan opsi apakah harus bercerita atau tidak sama sekali pada Rashaad.
Tak berapa lama kemudian pintu lift pun terbuka dan hanya ada satu-satunya pintu mewah di lantai 60. Keduanya pun melangkah ke depan pintu tersebut dan menekan bel.
Hingga pintu pun terbuka dan nampaklah seorang wanita yang terlihat seperti asisten rumah tangga mempersilakan Anggi dan Rashaad untuk masuk ke dalam penthouse.
Wanita tersebut memberikan dua buah sandal bulu yang biasa di pakai di dalam rumah pada keduanya. Setelah mengganti alas kaki, keduanya pun segera di persilakan duduk di ruang tengah.
"Tuan dan Nona masih ada di atas. Tolong tunggu sebentar". Ujar sang wanita yang di ketahui bernama Mbak Husna.
Anggi maupun Rashaad pun menganggukkan kepala seraya tersenyum hangat. Mbak Husna pun undur diri untuk lekas menyiapkan makanan yang akan di hidangkan.
Anggi membalikkan badannya mengarah pada jendela panjang membentang yang memperlihatkan pemandangan langsung ke gedung-gedung pencakar langit di sekitar.
Anggi beranjak dari duduknya dan mengitari sofa untuk berdiri tepat di sisi jendela. Ia menatap cahaya mentari yang bersinar dengan terik hari ini. Anggi melipat kedua tangannya di dada dan menikmati sinar hangat yang menerpa tubuhnya.
Ia memejamkan matanya berusaha menenangkan segala keributan yang muncul dalam otaknya sejak kemarin. Ia hanya merasakan bagaimana tubuhnya menjadi hangat karena terpaan sinar matahari.
__ADS_1
Anggi membuka matanya perlahan dan menyipitkan matanya berusaha menatap sebuah bulatan yang menyilaukan di langit. Matahari tidak pernah benar-benar pergi meninggalkan bumi. Dia hanya menjauh sementara untuk kembali lagi. Apakah Anggi harus seperti matahari?
Namun di sisi lain Ia pun menyadari bahwa setiap pertemuan yang hangat akan menemui sebuah perpisahan yang indah. Seperti matahari yang menyinari dengan terik di siang hari dan harus pergi memancarkan keindahan dengan semburat jingga kekuningan di langit saat Ia harus pergi.
"Sayang, kulitmu bisa gosong jika kau berjemur di tengah hari seperti ini". Rashaad menginterupsi lamunan Anggi.
Anggi menoleh pada tunangannya, "Aku hanya menikmati kehangatan ini". Ujarnya seraya melangkah kembali menuju sofa.
Namun belum sempat Ia mendudukkan dirinya kembali, terdengar sebuah langkah kaki dari lantai atas. Anggi maupun Rashaad menatap ke arah tangga dan melihat Reynald turun dan di ikuti oleh Jessy dari belakang.
"Maaf kalian harus menunggu. Aku harus membujuk putriku dulu agar mau turun. Dia sangat pemalu". Ujar Reynald seraya melangkah menghampiri Anggi dan Rashaad.
"Tidak apa-apa. Kami mengerti". Sahut Rashaad.
Tatapan Rashaad pun beralih melihat Jessy yang bersembunyi di balik tubuh Reynald.
"Hai princess, kau tidak mau berkenalan denganku?" Ucap Rashaad mencoba menyapa Jessy.
Anggi sedari tadi hanya diam terpaku sejak kedatangan Reynald maupun Jessy. Tatapannya tak lepas dari Jessy, putri Reynald. Benar seperti dugaannya, Gadis kecil itu terlihat cantik dan menawan seperti kedua orang tuanya.
Gadis kecil itu pun mengintip menatap Rashaad lalu beralih menatap Anggi yang sedang menatapnya. Anggi melemparkan senyuman hangat pada Jessy dan melangkah maju mendekat pada gadis kecil yang masih bersembunyi di balik tubuh ayahnya.
"Hi.. Namamu Jessy kan?". Sapa Anggi seraya membungkukkan badan.
Jessy mengangguk takut-takut pada Anggi.
Anggi lantas mengulurkan tangan ke arah Jessy. "Kenalkan namaku Anggi. Kamu bisa panggil aku Aunty Anggi".
"Aunty Anggi? Apakah itu sama seperti Aunty Renata?". Tanya Jessy pelan.
"Ah iya benar! Aunty Renata adalah temanku juga. Jadi kamu bisa memanggilku Aunty Anggi dan dia Uncle Rashaad". Ujar Anggi seraya menunjuk Rashaad yang tengah duduk tersenyum menatap Jessy.
"Maaf, dia memang seperti ini pada orang baru. Tapi jika sudah kenal, dia akan sangat merepotkan". Sahut Reynald terkekeh.
Anggi lantas menegakkan kembali tubuhnya dan menatap Reynald dengan tersenyum. "Tidak apa-apa. Anak-anak pasti seperti itu".
__ADS_1
Reynald hanya diam menatap Anggi tepat ke dalam manik matanya. Anggi lantas memutuskan tatapan mereka dan berlalu menuju Rashaad. Ia mengambil sebuah bingkisan besar yang sudah di siapkan untuk Jessy.
"Ini untukmu dari Aunty dan Uncle". Ujar Anggi seraya memberikan bingkisan tersebut pada Jessy.
Jessy terlihat melirik Reynald untuk meminta persetujuan, Reynald pun mengangguk tipis seraya membelai lembut rambut gadis kecilnya.
"Perkenalkan dirimu dulu dengan benar pada Aunty dan Uncle". Titah Reynald.
Jessy pun lantas menatap Anggi dan Rashaad silih berganti. "Hi Aunty.. Uncle. Aku Jessy".
Singkat, padat dan jelas. Anggi terkekeh dan gemas melihat tingkah malu-malu gadis kecil itu.
"Jes, taruh dulu bingkisannya. Nanti kita buka bersama. Sekarang kita makan siang dulu, oke?". Ucap Reynald pada putrinya yang segera di angguki oleh Jessy.
"Mari kita ke ruang makan". Reynald mengajak Anggi dan Rashaad.
Mereka pun lalu melangkah menuju ruang makan yang di desain hangat. Meja makan dari marmer panjang untuk 6 orang berada di tengah ruangan dengan lampu kristal tepat menghiasi plafon atasnya.
Masing-masing menempati tempat duduk mereka. Sudah nampak deretan makanan yang menggugah selera di atas meja. Tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu penthouse seseorang tengah memasukkan kata sandi.
"Rey... Makan siangnya belum mulai kan?". Sahut seseorang dari arah pintu.
Semua mata tentu saja tertuju pada seseorang yang berjalan masuk menghampiri ruang makan.
"Oh astaga sudah datang tamunya. Maaf aku terlambat". Sahut Clara menatap bergantian pada Anggi maupun Rashaad.
Clara lantas menghampiri Reynald dan menyampirkan tangannya ke atas pundak pria itu. "Maaf sayang tadi syutingku selesainya mepet sekali. Aku lalu terburu-buru untuk pulang". Jelas Clara dengan lembut.
Reynald memegang tangan Clara yang berada di pundaknya dan mendongakkan kepala. "Tidak apa. Makannya pun belum dimulai, kau bersihkan dulu dirimu". Ujar Reynald.
Clara pun segera pamit sejenak untuk membersihkan dirinya dan berganti baju.
"Dia istrimu?" Tanya Rashaad menatap Reynald.
"Ya. Dia Clara, istriku". Jawab Reynald seraya menatap Anggi yang sedari tadi mengamati dirinya.
__ADS_1
•••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••