
Senja telah berganti pada keremangan malam dan semakin malam rasanya hanya ada keheningan dan kesunyian. Reynald berdiri termenung menatap pada langit yang gelap pekat tanpa ada bintang satupun atau sinar bulan yang mengintip hanya untuk menyapa dirinya malam ini.
Reynald selalu berdiri di balkon penthousenya setiap malam setelah menemani putrinya tertidur lelap. Rutinitas itu selalu di lakukannya selama 5 tahun ke belakang. Ia hanya menikmati kesunyian sendiri. Mungkin malam memang semakin sunyi, tapi justru yang bermalam dalam pikirannya semakin ramai.
Sebuah tangan tiba-tiba memeluknya dari belakang. Reynald menoleh sedikit dan menggeser tubuhnya perlahan menjauh ke samping.
"Kau belum tidur?". Tanya Reynald melirik Clara yang tiba-tiba saja datang ke balkon penthouse.
Clara mengulas senyum tipis. "Hmm.. hanya belum bisa tidur saja. Tadi aku ke kamarmu tapi kau tidak ada, jadi kupikir kau pasti sedang di balkon dan tebakanku benar hehe". Ujar Clara.
Reynald menatap Clara sekilas dan mengulum senyum hangat pada wanita yang masih berstatus istrinya.
"Kau tahu, Rey?"
"Kau selalu terlihat menyedihkan jika sedang berdiri di balkon tengah malam seperti ini".
Reynald menggelengkan kepalanya pelan seraya terkekeh. "Apa aku terlihat seperti itu?".
Clara mengangguk. "Ya. Tentu saja! Kau seperti seorang pria yang patah hati. Padahal kau pria beristri. Bukankah seharusnya aku yang patah hati?".
Reynald menatap Clara dengan menautkan kening.
"Kau mengabaikanku selama 5 tahun. Kita seperti bermain rumah-rumahan bukan rumah tangga yang normal! Aku sempat berpikir apakah tubuhku tidak menarik lagi setelah melahirkan Jessy? Tapi tidak, tubuhku masih bagus. Tapi kenapa suamiku sendiri tidak mau menyentuhku? Semua pertanyaan itu selalu bersemayam dalam benakku dalam 1 tahun pertama kita menikah, Rey".
Clara mengucap semuanya tanpa beban seakan Ia sudah terbiasa dengan keadaan.
"Maafkan aku, Clara". Lirih Reynald.
"Siapa wanita itu, Rey? Siapa wanita yang telah menggantikan posisiku di hatimu?". Tanya Clara seraya menatap jauh lurus ke depan.
"Aku sangat penasaran. Tapi aku pun bingung.. Dimana dia? Kenapa kau terlihat murung sejak menikah denganku? Apa feelingku benar? Kau seperti ini karena wanita? Jika iya, siapa dia?".
"Hentikan Clara..." Ujar Reynald pelan.
"Aku sudah menerima kenyataan ini. Kau tenang saja. Hatiku memang sakit saat kau mengabaikanku dan bahkan tidak pernah mau menyentuhku lagi sejak aku kembali"
"Hanya saja aku tahu... urusan hati dan perasaan tidak pernah bisa dipaksakan. Ketika cintaku ternyata sudah bertepuk sebelah tangan, maka aku perlu menerimanya dengan lapang dada. Hanya saja tidak selalu mudah untuk bisa move on, kau tahu itu..."
Clara menyeka air matanya yang jatuh begitu saja. Tidak ada yang mengetahui bagaimana biduk rumah tangga yang Ia jalani sebenarnya. Publik selalu menilai Reynald maupun Clara adalah pasangan yang serasi dan selalu terlihat hangat satu sama lain di berbagai kesempatan.
__ADS_1
Namun pada kenyataannya, baik Reynald maupun Clara tidak lebih seperti seorang rekan yang berada dalam satu rumah. Mereka memang masih meluangkan waktu bepergian bersama dengan Jessy. Menghadiri berbagai perhelatan besar bersama-sama. Reynald memperlakukan Clara dengan baik dan lembut. Tak pernah ada kemarahan atau sikap kasar yang di tunjukkan pria itu dalam 5 tahun pernikahan. Clara pun selalu berusaha menyiapkan keperluan Reynald sehari-hari jika Ia masih sempat sebelum pergi ke lokasi syuting.
Semua nampak normal dari luar, namun mereka tak pernah melewati malam panas sekalipun sebagai suami istri. Bahkan kamar tidur mereka pun terpisah hingga saat ini.
"Cukup hentikan, Clara. Aku sudah pernah bilang jangan membahas hal seperti ini lagi. Jangan kau mencari tahu. Kenyataannya aku di sisimu saat ini". Ucap Reynald oenuh penekanan.
Clara menoleh pada Reynald dengan tersenyum miris.
"Untuk apa kau di sisiku jika kita tidak bisa menjalani kehidupan dengan normal?"
Reynald menyugar rambutnya kasar dan menghembuskan napas dengan kasar. Ia menggenggam teralis besi balkon dengan kuat.
"Andai saja aku tidak pergi darimu dahulu... Aku yakin tidak akan seperti ini, kan? Kau akan selalu mencintaiku dengan hangat seperti di masa lalu. Ini memang kesalahanku". Ucap Clara.
"Sudah. Istirahatlah.." Reynald membelai rambut Clara pelan.
Clara lantas menatap Reynald dengan tatapan yang sangat dalam. Bibirnya mengukir sebuah senyuman.
"Jika kau sudah siap, beritahu aku. Biar aku saja yang akan melangkah. Karena baik kau atau aku yang bertindak, akhir dari semua ini akan tetap menyakitkan".
"Tapi aku tetap senang dengan satu hal Rey..."
"Kau sangat memanjakanku dengan limpahan uang dalam rekeningku setiap bulannya hehehehe" Clara tertawa pelan lalu mengecup pipi Reynald sekilas dan wanita itu pergi meninggalkan Reynald begitu saja ke dalam.
•••
Esok harinya...
"Dad, ayo cepat berangkat! Aku sudah telat!". Ujar Jessy pada Reynald yang masih santai mengunyah roti sebagai sarapan paginya.
"Dad!"
"Astaga bisakah kau tenang sedikit? Ini baru pukul setengah 7. Sekolahmu mulai jam 8 sayang". Ujar Reynald pada putrinya.
"Tapi Mom selalu bilang lebih cepat lebih baik, Dad. Jadi ayo kita berangkat!".
Pengasuh Jessy lalu menghampiri dengan tergopoh-gopoh ke arah ayah dan anak yang sedang berdebat.
"Non, benar kata ayah non Jessy. Ini masih terlalu pagi untuk berangkat ke sekolah. Nanti di sana non Jessy sendirian bagaimana?". Bujuk sang pengasuh.
__ADS_1
Gadis kecil yang berusia 5 tahun itu terlihat berpikir dan menatap Reynald.
"Baiklah, Dad. Jam 7 kita berangkat ya!". Ujar Jessy seraya melangkah menuju ruang TV. Reynald hanya tersenyum geli melihat tingkah putri semata wayangnya.
Dua jam kemudian...
Reynald yang baru saja sampai ke kantor segera memasuki ruang kerjanya. Ia mendudukkan diri di kursi kebesarannya. Pria itu lantas membuka laci meja kerjanya dan terlihat sebuah brankas besi berukuran sedang. Reynald memasukkan password dan memindai sidik jarinya.
Klik!
Brankas pun terbuka. Reynald lantas mengambil sebuah kotak kecil berwarna hitam. Ia membuka kotak itu dan mengeluarkan sebuah kalung berliontin bulat.
Reynald memutar-mutar liontin tersebut seraya tatapannya berlarian ke seluruh penjuru ruang kerjanya. Ia lalu membuka liontin tersebut dan tersenyum tipis saat melihat sebuah foto kecil di dalamnya.
Reynald masih menyimpan kalung milik Anggi. Walau gadis itu memintanya untuk membuang kalung berliontin bulat yang berisikan foto mereka, namun Reynald memilih untuk menyimpannya dengan baik di dalam brankas.
Reynald hanya menjalani hari-harinya monoton seperti biasa setelah perpisahannya dengan Anggi. Mungkin bagi sebagian orang ini terlalu berlebihan. Ia dan Anggi hanya menjalani hubungan tak lebih dari 3 bulan. Namun bagi Reynald, 3 bulan itu mengukir sebuah rasa yang terpatri sangat dalam di hati.
"Setiap hari kau selalu melihat kalung itu"
Reynald mendongakkan kepala seraya terkejut saat melihat Andre yang sudah berdiri di hadapannya dengan tumpukan berkas di tangan.
"Kapan kau masuk?". Tanya Reynald.
"Cukup lama hingga aku muak melihat kau tersenyum-senyum sendiri". Sahut Andre.
"Kenapa kau tidak mengetuk pintu lebih dulu?"
Andre memutar bola matanya kesal. "Aku bahkan sudah mengetuknya berulang kali!"
"Ini berkas yang harus kau periksa. Kabari aku jika sudah kau tanda tangani". Andre lantas menaruh tumpukan berkas ke atas meja.
"Kau sudah tahu di mana gadis itu. Kenapa kau tidak menemuinya saja daripada kau seperti orang gila dengan menatap sebuah kalung setiap pagi?". Tanya Andre menatap Reynald.
Reynald tersenyum simpul seraya mengangkat kalung milik Anggi tepat sejajar dengan wajahnya.
"Dia hidup dengan baik, itu saja sudah cukup untukku. Aku tidak mau merusak kehidupannya. Lagipula dia sudah menjadi wanita sukses saat ini, bagaimana mungkin dia masih mengingatku?".
"Dia baik-baik saja, aku sudah sangat bahagia mendengarnya". Ucap Reynald seraya tersenyum menatap kalung yang berada tepat di depan manik matanya.
__ADS_1
••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••••