
Tiga Hari Kemudian
Reynald sedang duduk di balkon penthouse sembari menatap langit senja yang indah dengan semburat cahaya merah keemasan. Ia duduk santai melepas lelah setelah kembali bekerja dari kantor. Tak biasanya Ia sudah berada di penthouse di saat senja.
Reynald menyesap cappucino favorit nya. Lalu Ia melirik sebuah map berwarna cokelat yang berada di atas meja. Ia menghela napas pelan saat mengingat apa yang berada di dalam nya.
Benar-benar gadis yang menyedihkan...
Batin Reynald.
Map itu berisi laporan dari Andre mengenai seluk beluk kehidupan Anggi. Reynald sudah membaca baris demi baris kalimat yang tertuang di atas kertas dan melihat satu per satu foto yang terlampir di dalam nya.
Bagaimana bisa dia tinggal di rumah yang bahkan luas nya tidak sampai sebesar kamar tidur di penthouse ku padahal latar belakang keluarga nya mampu?
Dan... Benarkah pria tua itu Ayah dari gadis itu?
Reynald mengerutkan dahi nya berusaha mencerna segala nya. Ini bukan urusan nya. Namun Ia merasa gadis itu memiliki banyak perasaan terpendam dan kesulitan seorang diri.
Hal itu mengingatkan diri nya pada Clara.. Ya.. Clara.
Ting.. Tong..
Ting.. Tong..
Bunyi bel menginterupsi lamunan Reynald. Ia pun langsung saja melangkah masuk dan membuka pintu untuk seseorang yang sudah di tunggu nya.
Saat Reynald membuka pintu, langsung saja se-ember ayam goreng kriuk berada tepat di depan wajah nya. Reynald menghalau pelan ke samping.
"Kau!". Umpat Reynald pada Gavin.
Gavin hanya menyeringai kuda dan langsung menerobos masuk seakan Ia lah pemilik penthouse. Reynald lalu menutup pintu dan melangkah menuju pantry untuk mengambil beberapa kaleng coke dari kulkas.
"Kau yang mengundang ku ke penthouse mu, tapi aku juga yang membawa makanan. Dan lihat ini.. Kau akan di tertawakan orang bila melihat apa yang kau suguhkan untukku!".
"Se-ember ayam goreng kriuk dengan onion rings dan french fries! Hah! Ini makanan anak-anak, Bro!". Gerutu Gavin seraya menata makanan yang di bawa nya di atas meja.
"Bawel sekali kau.. Memang nya kau mau apa? Makan malam mewah hanya kita berdua? Dengan lilin aromatheraphy dan segelas wine tua yang nikmat?". Tanya Reynald seraya mengangkat sebelah alis nya menatap Gavin.
Gavin bergidik membayangkan situasi itu. "Aku masih pria normal sialan! Kenapa kau membayangkan situasi romantis untuk dua orang pria?".
Reynald menghempaskan tubuh nya ke sofa. Ia mengambil satu ayam goreng dan mengunyah nya begitu saja.
"Karena kita berdua normal, maka makanan dan suasana seperti ini yang paling pas!". Ujar Reynald di sela kunyahan nya.
__ADS_1
Gavin lalu membuka coke dan meneguk nya.
"Aku penasaran pada mu..."
"Apa kah di malam itu kau memakai waitress yang kau pilih?". Lanjut Gavin.
"Apa dia masih perawan?". Tanya Gavin lagi.
Reynald berdeham dan mengambil sekaleng coke di atas meja lalu meneguk nya hingga tandas
"Kenapa kau mau tau?". Tanya Reynald menatap Gavin.
"Aku hanya penasaran. Apa kah kau berhasil melepas bayang-bayang Clara dari pikiran mu dan menyentuh wanita lain?". Jelas Gavin.
"Aku tidak tidur dengan nya". Ucap Reynald.
Gavin membelalak kan mata dengan raut wajah terkejut.
"Kau serius?! Aku sudah memberikan uang 10 kali lipat pada David, Bro! Dan kau tidak memakai nya? Yang benar saja!". Ucap Gavin tak percaya.
"Aku serius. Aku tidak tidur dengan waitress itu".
"Apa karena kau tidak bisa melepas Clara dari pikiran mu?". Gavin menyipitkan mata nya menatap Reynald.
Reynald melempar sebuah tulang ayam yang sudah di gerogoti habis oleh nya ke arah Gavin.
"Aku sudah move on! Sejak pulang dari Lombok nama Clara sudah tidak menjadi prioritas ku lagi!". Gerutu Reynald.
"Lalu kenapa kau tidak meniduri waitres itu? Apa dia tidak cantik? Atau kurang menarik? Ah.. seingatku waitress itu tampak cukup menarik dan wajah nya.. Hmmmm..." Gavin terlihat sedang berpikir mengingat rupa Anggi di dalam ingatan nya.
"Aku mengenal nya. Maka dari itu aku tidak bisa. Lagi pula aku tidak terbiasa seperti itu!". Ujar Reynald.
Lagi-lagi Gavin di buat terkejut oleh Reynald.
"Hah? Kau mengenal nya? Bagaimana bisa kau mengenal seorang waitress Bro? Jangan bercanda!". Ucap Gavin tak percaya.
"Aku serius. Waitress itu seorang mahasiswi. Aku menjadi mentor nya selama dia mengerjakan skripsi". Jelas Reynald.
"Mahasiswi? Mentor? Kau?".
Reynald mengangguk. "Ya begitulah.."
Gavin terdiam sebentar dan nampak berpikir.
__ADS_1
"Ini membingungkan ku. Apa saja yang kau lakukan selama aku dua bulan di Rusia? Sejak kapan kau mau menjadi mentor? Sejak kapan kau membuka diri dengan orang asing? Kau cukup banyak berubah dalam waktu singkat".
Reynald mengedikkan bahu nya. Ia tak menjawab, malah mengambil lagi sepotong ayam goreng kriuk lagi dan mengunyah nya dengan nikmat.
"Kalau begitu...." Gavin menjeda ucapan nya.
Reynald melirik Gavin menunggu pria itu melanjutkan ucapan nya.
"Apa aku menghubungi David untuk minta dia menyiapkan mahasiswi itu menemaniku satu malam?".
Reynald mengetatkan rahang nya keras. Tatapan nya tajam menusuk ke arah Gavin.
"Kau jangan macam-macam! Dia gadis baik-baik!". Desis Reynald.
"Gadis? Apa itu artinya dia masih perawan? Ini hal bagus!". Ujar Gavin sumringah.
Reynald melempar beberapa kaleng coke pada Gavin hingga mengenai dahi pria itu.
"Hey Bro! Hentikan! Sial kau melukai dahi ku!". Umpat Gavin menghindar dari serangan kaleng coke.
"Jangan mengusik gadis itu! Dia wanita baik-baik!". Ujar Reynald tak suka.
"Tau dari mana kau dia wanita baik-baik? Jika dia wanita baik, maka dia tidak akan mungkin mau bekerja di club milik David".
Reynald lalu beranjak dari sofa dan melangkah menuju balkon untuk mengambil sebuah map di atas meja. Ia lalu melangkah masuk kembali dan melemparkan map itu pada Gavin.
"Kau bacalah itu!". Titah Reynald.
Gavin mengerutkan kening melihat map coklat yang ada di atas paha nya. Ia lalu segera membuka map tersebut dan membaca dengan teliti.
Tak berapa lama, Gavin menatap Reynald dengan raut wajah tak percaya dan penuh tanda tanya dalam pikiran nya.
"Kau menyelidiki gadis itu?".
Reynald mengangguk pelan sambil meneguk kembali coke nya.
"Aku meminta Andre untuk menyelidiki nya".
Gavin lalu melihat beberapa foto yang terlampir di dalam map.
"Kau lihat? Dia bukan wanita yang seperti kau pikirkan. Jadi buang jauh-jauh otak mesum mu itu!". Ancam Reynald.
Gavin mengangguk paham. "Aku mengerti. Bukan salah ku jika sebelum nya aku berpikir yang tidak-tidak kan?".
__ADS_1
••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••••••