Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 37


__ADS_3

Di hari yang sama, Malam hari.


Dubai, UEA


Reynald dan Andre yang baru saja sampai setelah menempuh penerbangan selama 8 jam dari Jakarta, langsung menuju gate penjemputan di mana seorang utusan perusahaan cabang sudah menunggu.


Andre melihat seorang pemuda yang terbiasa menjemput dirinya jika berkunjung ke negara ini.


"Terima kasih sudah menunggu kami". Ucap Andre mewakili Reynald yang hanya diam tak menyapa.


Pemuda tersebut pun menganggukkan kepala dengan sopan seraya melempar senyuman pada kedua bos di hadapannya saat ini.


Pemuda tersebut lantas dengan gesit memasukkan beberapa koper milik Reynald dan Andre ke dalam bagasi. Reynald memperhatikan mobil yang di pakai oleh pemuda itu ke bandara.


"Apa kau yang menyetir mobil ini?". Tanya Reynald pada sang pemuda.


"Tidak, Tuan. Saya hanya di tugaskan untuk menjemput anda berdua di bandara. Supir mobil ini sedang pergi ke toilet sebentar". Ucap Sang pemuda sopan.


Reynald manggut-manggut mendengar penuturan sang pemuda.


"Kenapa kau menanyakan hal tidak penting seperti itu?". Tanya Andre mengerutkan keningnya bingung.


"Tidak penting kau bilang? Aku tidak yakin mau masuk ke dalam mobil ini jika dia yang menyetir..."


"Kau lihat...." Reynald mengedikkan dagu ke arah mobil.


"Itu limousine. Tidak sembarang orang yang bisa menyetir mobil panjang seperti itu. Ada yang tidak terbiasa bukan?". Ucap Reynald.


Andre menggeleng-gelengkan kepala mendengar alasan sahabatnya itu. Reynald lantas segera masuk ke dalam mobil sesaat setelah sang supir telah kembali.

__ADS_1


Satu jam kemudian mereka telah sampai di hotel. Burj Al Arab adalah hotel pilihan Reynald untuk tinggal selama di Dubai. Ia suka dengan lokasi hotel tersebut yang letaknya bersisian dengan pantai.


Setelah masuk ke dalam kamar dan meletakkan kopernya di sisi lemari, Reynald langsung saja membuka seluruh baju yang membalut tubuhnya dan masuk ke kamar mandi. Ia memutuskan untuk berendam air hangat di jacuzzi dengan minyak aromaterapi yang tersedia di kamarnya. Ia cukup lelah dan ingin melenturkan otot-ototnya yang tegang sejenak.


Cukup lama Reynald berendam seraya menikmati siaran televisi kabel di sebuah layar yang tersedia di kamar mandi. Ia meneguk cairan wine terakhir dari gelasnya lalu langsung saja berdiri dengan telanjang bulat mengambil sebuah handuk yang tergantung di dekat washtafel dan segera mengeringkan tubuhnya.


Reynald lantas keluar dari kamar mandi dan membuka kopernya untuk mengambil piyama tidur. Ia tak berniat untuk makan malam. Toh di pesawat pun Ia sudah makan hingga dua kali.


Reynald lalu merebahkan diri di kasur putih yang sedari tadi sudah menggoda untuk di tiduri olehnya. Ia meraih ponselnya dan mengecek sekilas email dan beberapa pesan terkait pekerjaan.


Reynald melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ia berpikir sebentar dan menghela napas pelan.


"Hmm.. Di jakarta berarti sudah pukul 2 dini hari. Gadis itu pasti sudah tidur..." Gumam Reynald.


Ia lantas mengurungkan niatnya untuk menelfon Anggi dan memutuskan hanya mengirim pesan saja.


Reynald lantas segera menekan tombol send dan pesan pun sudah terkirim. Reynald lalu meletakkan ponselnya ke atas nakas dan segera menarik selimut untuk tidur. Ia perlu mengisi ulang tenaga nya dengan baik. Besok pagi hingga satu minggu ke depan Ia benar-benar akan sibuk di perusahaan cabang.


Keesokan harinya...


Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi, Anggi mengerjapkan mata menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam manik mata. Ia menggeliatkan tubuh dan dengan perlahan mendudukkan dirinya di atas kasur. Ia mengucek matanya lalu meraih ponsel yang berada di atas nakas tepat di samping tempat tidur.


Anggi mematikan mode pesawat yang selalu Ia aktifkan jika hendak pergi tidur. Tak lama sebuah pesan muncul. Sontak saja sebuah senyuman terbit di bibirnya kala melihat siapa yang mengirim pesan.


Anggi lalu mencoba menelfon namun dalam beberapa kali panggilan, telfon nya tidak di jawab sama sekali. Anggi mencebikkan bibirnya lalu menaruh asal ponselnya di atas kasur dan segera beranjak untuk membersihkan diri.


Hari ini Ia perlu datang ke Universitas untuk mengurus persiapan wisuda. Di Universitas tempat Anggi berkuliah, wisuda di laksanakan tiga kali dalam satu tahun. Beruntung Anggi bisa mengikuti wisuda terakhir di tahun ini yang akan di adakan 2 bulan lagi.


Sepanjang hari di lalui oleh Anggi dengan baik. Segala persiapan wisuda yang di urus olehnya berjalan lancar namun ada 1 hal yang mengganjal dalam hati. Ia tidak mungkin meminta Ayahnya untuk datang menemani di hari besarnya. Lagi-lagi Ia membayangkan mungkin saja Ia akan melewati hari itu seorang diri.

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel terdengar berbunyi menandakan ada panggilan masuk dari dalam tas. Anggi dengan cepat merogoh ponselnya berharap yang menelfon dirinya adalah Reynald. Pria itu sepanjang hari tidak mengabari dirinya atau bahkan membalas pesan.


Anggi sedikit kecewa tatkala melihat Caller Id menunjukkan jika Renata yang sedang menelfon. Anggi lantas saja langsung menerima panggilan tersebut.


"Halo Anggi....."


"Ya, Mbak Renata".


"Ada di mana sekarang?"


"Sekarang aku lagi di taman kota, Mbak. Kalau tadi pagi sampai siang aku di kampus". Ucap Anggi.


"Oh.. Begitu... Begini, Aku mau mengingatkan kalau besok kita harus mengurus SIM ya.. Nanti datang ke kantor pukul 9 pagi".


Anggi menganggukkan kepala. "Baik, Mbak. Besok aku pasti datang tepat waktu". Anggi mengulas senyum manis di bibir walau sadar Renata tak akan melihat.


Setelah Renata menutup telfon, Anggi memainkan ponselnya membuka sebuah aplikasi pesan singkat dengan logo pesawat kertas. Ia melihat pesan yang di kirim oleh dirinya tadi pagi bahkan belum di baca oleh Reynald. Anggi menghembuskan napas kasar. Ia terbiasa sendiri dan tak berharap pada siapapun. Namun sekarang ketika Reynald berada di sisinya, perasaan aneh dalam dirinya begitu mengganggu.


Waktu berlalu begitu cepat dan kini sudah malam hari. Tepatnya pukul 10 malam. Anggi sudah melakukan rutinitas bersih-bersih sebelum naik ke tempat tidur. Ia menyalakan TV 32 inch yang menggantung di dinding kamar tepat di depan kasur.


Ia memencet remote TV mencari saluran yang bagus namun dalam sekejap Ia mematikan kembali TV dengan wajah cemberut. Ah.. Mood nya sungguh kurang baik!


Beberapa menit dalam keheningan tiba-tiba Ia di kejutkan dengan nada dering dari ponsel. Ia dengan gesit meraih ponselnya dan sontak saja matanya melotot lengkap dengan hati yang gembira saat nama Reynald terpampang di layar.


Namun sedetik kemudian Ia menaruh ponselnya ke bawah bantal dan mencebikkan bibir.


"Huh! Kemana saja baru ingat padaku!". Anggi menggerutu tanpa berniat untuk mengangkat telfon dari Reynald.


•••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••

__ADS_1


__ADS_2