
Malam hari tepat pukul 8, Reynald memutuskan untuk pergi ke apartemen Clara. Sejak Ia melakukan tes DNA tempo hari, Reynald belum bertemu lagi dengan wanita itu. Bukan Ia menghindar, Ia hanya perlu memikirkan matang-matang langkah yang akan Ia tempuh selanjutnya.
Setelah kedatangan tiba-tiba kedua orang tuanya dari Jerman, dan mendapatkan berbagai petuah. Reynald akhirnya mau tidak mau dan suka tidak suka, Ia memang harus segera menyelesaikan segalanya dengan Clara demi kebaikan bayi itu, seorang bayi perempuan yang berasal dari benihnya.
Reynald diam sejenak di belakang kemudi saat dirinya baru saja memarkirkan mobilnya di basement apartemen Clara. Matanya menerawang ke depan. Ia menarik napas dalam-dalam dan akhirnya keluar dari mobil.
Reynald dengan cepat menuju lift dan menekan angka 39, lantai di mana unit apartemen Clara berada. Tak lama kemudian pintu lift pun terbuka. Unit Clara yang tak berada jauh dari lift segera terlihat saat Reynald melangkah.
Reynald segera menekan bel sekaligus mengetuknya perlahan. Cukup lama Reynald menunggu hingga Ia mengira bahwa Clara sedang tidak berada di dalam. Namun baru saja Ia hendak melangkah pergi, pintu apartemen pun terbuka dan terlihat Clara yang sedang menggendong bayi sembari di tutup oleh selendang tipis. Sepertinya wanita itu sedang menyusui.
"Reynald..." Gumam Clara terkejut.
"Ayo masuk..." Lanjutnya seraya tersenyum tipis.
Reynald melangkah masuk ke dalam apartemen Clara dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
Tidak banyak yang berubah...
Reynald bergumam dalam hati saat melihat suasana apartemen Clara yang dulu sering di datanginya semasa pacaran dengan wanita itu.
"Duduklah Rey.. Maaf aku tadi sedang menyusui Jessy di kamar". Sahut Clara sembari duduk di sofa.
Reynald menatap Clara dengan bingung. "Jessy?".
Clara mengangguk. "Aku memberi putri kita dengan nama Jessy Zaynvankoch". Ujarnya seraya mengulas senyum.
"Apa kau keberatan?".
"Tidak.. Tidak.. Terserah kau saja. Hmm.. Jessy nama yang bagus". Ujar Reynald cepat.
Clara tersenyum mendengarnya.
Hening.
Keduanya terdiam cukup lama tidak ada yang mau membuka suara lebih dulu. Rasa canggung menyelimuti mereka berdua. Situasi yang ada sungguh asing untuk Reynald. Dulu Ia merasa bisa membicarakan apa saja pada wanita di hadapannya saat ini. Namun sekarang Reynald tak tahu harus memulai dari mana.
"Mmmmm..."
Reynald melirik Clara yang bergumam berusaha membuka percakapan.
"Rey... Apa kau mau mencoba menggendong bayinya?". Tanya Clara menatap harap pada Reynald.
__ADS_1
Reynald terlihat berpikir sejenak dan menganggukkan kepala.
Clara pun segera berdiri dan melangkah mendekat. Ia memberikan bayi itu kepada Reynald dengan hati-hati.
Reynald menerimanya dengan sigap dan dengan luwes menggendong bayi itu dalam dekapannya. Reynald menyisir wajah bayi mungil tersebut. Terbesit secercah rasa asing dalam hatinya. Rasa yang tidak bisa Ia jabarkan. Seperti rasa sayang dan suatu ikatan yang muncul secara tiba-tiba kala bayi tersebut dalam dekapannya.
"Apa sejak lahir kau menyusuinya langsung?". Tanya Reynald menoleh pada Clara.
"Tentu saja. Sejak hari pertama Jessy lahir ke dunia, aku berusaha dengan keras menyusuinya hingga rasanya sakit sekali dan lecet". Ucap Clara tanpa jeda.
Namun sedetik kemudian Clara terdiam menunduk malu dan Reynald hanya bisa terkekeh kecil mendengar Clara begitu antusias menceritakan pengalaman pertamanya menyusui bayi mereka.
"Andai saja kau memberitahuku lebih awal dan tidak menghilang dariku..."
"Situasinya tidak akan begitu rumit untukku, Clara". Ucap Reynald tanpa menatap ke arah Clara.
Jari telunjuk Reynald mengusap lembut pipi gembul putrinya yang bersemu pink menggemaskan.
"Aku mencarimu selama 5 bulan tanpa lelah sampai akhirnya aku berpikir kau memang ingjn melepaskan diri dariku dan aku menerima kenyataan itu".
"Namun tiba-tiba kau hadir kembali dengan membawa bayi mungil ini kepadaku, hidupku seperti di sambar petir kau tahu? Rasanya aku ingin membencimu dan marah kepadamu tapi aku tidak bisa.. Kau telah mengecewakanku tapi aku tidak bisa membencimu. Itu rasanya... Menyebalkan". Reynald terkekeh kecil.
Mendengar luapan perasaan Reynald, sontak saja membuat Clara bersimpuh di kaki Reynald seraya menangis.
"Aku terdesak.. Aku menyesal".
"Jika kau mencintaiku, kau seharusnya jujur padaku. Kita bisa mencari solusinya bersama. Tapi sudahlah itu semua sudah berlalu. Sekarang sudah ada bayi mungil ini di antara kita". Ucap Reynald menatap lekat putrinya yang sedang terlelap di gendongannya.
Reynald lantas beralih menatap Clara. Ia menatap tepat ke dalam manik mata wanita itu. Mencoba mencari sebuah perasaan yang cukup lama sempat terkubur dalam hatinya. Reynald menghela napasnya perlahan.
"Menikahlah denganku. Bayi ini memerlukan kedua orang tuanya". Ucap Reynald akhirnya.
Clara ternganga dan menangis keras seperti anak kecil yang gagal mendapatkan mainan favoritnya.
"Rey... Aku..."
"Hiks.. Aku..."
"Huaaaa Rey.. Maafkan aku hiks". Clara berusaha bicara di sela tangisnya.
"Hey. Kau sudah punya anak, lihat..."
__ADS_1
"Anakmu saja tenang seperti ini, tapi kenapa malah ibunya yang menangis seperti anak kecil?". Ucap Reynald berusaha menenangkan Clara.
Clara mengusap air matanya dan menatap Reynald.
"Aku bahagia karena kau memaafkanku. Aku tahu kalau kau selalu mencintaiku". Ucap Clara sembari mengulas senyum.
Reynald tertegun.
Selalu mencintaimu? Hatiku sudah terbelah dua Clara...
Reynald bermonolog dengan dirinya sendiri sambil menatap Clara yang mengembangkan senyum lebar ke arahnya.
"Tapi aku punya sebuah persyaratan". Ujar Reynald.
"Apa?".
"Aku harap setelah kita menikah, kau lebih fokus pada Jessy di banding karirmu. Kau harus bisa memilahmana yang menjadi prioritasmu". Sahut Reynald menatap serius pada Clara.
Clara tentu saja langsung mengangguk cepat menyetujui usul Reynald. Karena sudah cukup selama 10 bulan Ia menyiksa dirinya sendiri jauh dari Reynald. Pusat dari segala kebahagiaannya.
Reynald tersenyum simpul.
"Besok kita bertemu orang tuaku. Mereka ingin melihat cucunya". Sahut Reynald.
Tak di pungkiri mendengar itu membuat Clara menjadi gugup. Tak terbayangkan olehnya akhirnya bisa bertemu dengan Dave dan Rose.
"Apa mereka akan menerimaku?". Tanya Clara tak yakin.
Reynald mengangguk tipis. "Tentu saja. Orang tuaku selalu menerima wanita yang menjadi pilihanku. Apalagi kau telah memberi mereka cucu'.
Clara menatap Reynald dengan tatapan berbinar bahagia. Pria yang selalu mengisi relung hatinya.
Reynald terlihat nampak asik menatap Jessy. Menyentuk hidung kecilnya, bibir merah mungilnya, kelopak matanya yang tertutup hingga pipi gembul dengan semburat pink.
"Dia cantik". Ucap Reynald tiba-tiba.
Clara mendekat ke arah Reynald dan bersisian menatap buah hati mereka. Hingga jarak wajah keduanya amat dekat dan Clara terlihat ingin mengecup pipi pria itu. Namun Reynald menghindar begitu saja menggeser pelan tubuhnya sembari berdeham.
Clara sempat terkejut membeku hingga akhirnya wanita itu memberikan senyuman manis ke arah Reynald.
"Aku sangat senang kau memutuskan untuk menikahiku, Rey. Itu artinya kau selalu mencintaiku kan?". Clara terkekeh pelan menatap Reynald.
__ADS_1
"Aku menikahimu karena aku harus bertanggung jawab pada putri kita". Ucap Reynald menoleh pada Clara dengan tatapan yang rumit.
••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••